NovelToon NovelToon
WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:888
Nilai: 5
Nama Author: aina susiyanti77

Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.

Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.

karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.

Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.


Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.

Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?

Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan di Gazebo

"Mardi Kakak kandung Prilia?" ulang ku pelan.

​Lidahku terasa kelu menyebut nama itu, sementara koin kuno milik Mas Prasetyo di genggamanku terasa begitu dingin.

​"Apa benar dia itu Mardi, Pak?" tanyaku lagi, menatap Pak Baskoro dengan ragu.

​Pak Baskoro menghela napas panjang lalu menggeleng pelan. "Kalau soal wajahnya, Bapak jujur kurang ingat, Maya. Sudah terlalu lama."

​Beliau memijat pangkal hidungnya, lalu menatapku lekat-lekat. "Tapi coba kamu ingat-ingat lagi... siapa lagi orang yang paling ingin kamu jatuh dan berambisi merebut seluruh aset perusahaan ini? Selama ini cuma keluarga ibunya Prilia yang selalu bermasalah dan punya dendam sama kamu."

​"Nggak salah lagi, Mbak Maya," sahut Rijal menimpali yakin. Matanya masih menatap pintu ruang rapat yang baru saja tertutup rapat. "Dulu waktu Mas Prasetyo masih aktif ngurus pabrik, Mardi beberapa kali datang sebagai tamu pribadi. Bahunya yang tegap, badannya yang tinggi, sama cara berjalannya itu khas banget."

​Rijal berhenti sejenak, mengarahkan pandangannya padaku. "Tapi kenapa dia harus menyusup ke kantor kita pakai kemeja lusuh kayak pekerja kasar?"

​Pak Baskoro mengangguk-angguk setuju. "Kalimat soal 'akar' yang dia ucapkan tadi jelas bukan gertakan kosong, Maya. Saya paham betul bagaimana tabiat Halimah istri pertama Pak Hendra, ibunya Prilia dan Mardi."

​Beliau menggelengkan kepala dengan raut tegang. "Dari dulu dia itu dalang di balik layar yang sangat licik dan ambisius. Kalau Mardi sampai turun tangan menyusup begini, artinya Halimah lagi mengerahkan semua orang terkuatnya."

​"Kalau gitu kita nggak boleh cuma diam dan nunggu diserang, Pak," kataku tegas sambil mengepalkan tangan. "Pak Pendi, Bu Rahma, sama Pak Herman memang sudah kita usir dari ruang rapat. Tapi mereka bertiga belum resmi kita jebloskan ke penjara sebelum bukti fisiknya lengkap."

​Aku menatap ke arah koridor luar. "Pria tinggi besar yang kita duga Mardi itu baru saja keluar... kita harus tahu dia mau ke mana dan ketemu siapa!"

​"Setuju, Mbak," timpal Rijal cepat. Tangannya cekatan membuka aplikasi di ponselnya. "Saya sudah minta tim keamanan pantau mobilnya dari kamera CCTV parkiran. Mobilnya baru saja jalan ke luar arah jalan raya!"

​Tanpa membuang waktu, kami bertiga bergegas menuju area parkir. Rasa penasaran dan naluri bertahan hidup mengalahkan rasa lelah di pundakku.

​Kami menaiki mobil sedan hitam milik Pak Baskoro, dengan Rijal yang mengambil alih kemudi. Dari petunjuk arah dan pantauan jarak jauh, kami mulai membelah lalu lintas kota yang padat, membuntuti kendaraan itu dari jarak aman.

​Mobil yang kami ikuti bergerak meninggalkan kawasan bisnis menuju daerah pinggiran kota yang lebih lengang. Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, kendaraan itu melambat lalu berbelok masuk ke pelataran restoran keluarga bergaya pendopo Jawa. Tempatnya cukup luas, dikelilingi pepohonan rimbun dan gazebo-gazebo kayu di atas kolam ikan.

​Rijal memarkirkan mobil di bawah naungan pohon asam yang rindang, sekitar lima puluh meter dari gerbang restoran. Dari balik kaca mobil yang gelap, kami mengamati suasana di area taman belakang.

​Namun, pemandangan di salah satu gazebo utama membuat napas ku tertahan seketika.

​Tiga mantan kepala divisi kami Pak Pendi, Bu Rahma, dan Pak Herman duduk berkumpul di gazebo besar itu. Wajah mereka masih pucat dan diliputi kecemasan. Tapi yang membuat dadaku makin terasa dag dig dug adalah orang-orang yang duduk bersama mereka.

​Di sana ada Prilia, tampil mewah dan anggun seperti biasa, dengan raut wajah angkuh yang tak pernah hilang. Di sampingnya duduk Bu Salma ibu mertuaku sendiri yang kelihatan gelisah sambil meremas-remas tas tangannya.

​Dan di ujung meja, duduk seorang wanita paruh baya yang sangat anggun. Kebaya modern warna gelap dan tatanan sanggulnya tampak rapi. Wajahnya tenang, tapi memancarkan cahaya dingin.

​"Itu Ibu Halimah," bisik Pak Baskoro lirih. Tangannya yang memegang tepi sandaran kursi tampak gemetar pelan.

"Istri pertama almarhum Pak Hendra. Saya nggak akan pernah lupa tatapan matanya yang penuh perhitungan itu, Maya."

​Pak Baskoro mengembuskan napas berat. "Dulu waktu Pak Hendra masih ada, Halimah selalu main halus di balik layar. Dia jarang muncul di depan umum, tapi dialah otak dari setiap keputusan besar keluarga Hendra."

​Aku menatap wanita itu tanpa berkedip. Jadi, inilah sosok Bu Halimah yang selama ini menjadi misteri di balik kekacauan keluarga ku dan keluarga Mas Prasetyo.

​Ada satu hal yang janggal. Di sekitar gazebo itu, ada tiga pria berbadan tegap yang berdiri siaga mengawasi keadaan. Anehnya, lelaki tinggi besar berkaos kusam yang kami ikuti tadi pria yang kami duga Mardi justru tidak kelihatan di sana.

​"Ke mana pria tadi, ya?" gumam Rijal sambil memandang ke sekeliling restoran. "Tiga orang itu jelas pengawal."

​Ia menggaruk tengkuknya heran. "Tapi pria yang dari kantor tadi kok nggak ada?"

​"Mungkin dia mengawasi dari tempat lain, atau ada tugas lain dari ibunya," sahut Pak Baskoro cemas. "Yang jelas, berkumpulnya mereka di tempat terpencil begini makin membuktikan kalau penggelapan dana kantor memang diatur oleh kelompok Halimah."

​"Tapi masalahnya, jarak kita terlalu jauh, Pak," ucapku sambil menatap nanar ke arah gazebo. "Restoran ini sepi. Dari balik kaca mobil, kita cuma bisa lihat gerak-gerik tubuh mereka tanpa bisa dengar sepatah kata pun."

​Rijal mengetuk-ngetuk kan jarinya di lingkar kemudi, berpikir keras. Matanya memperhatikan sekeliling area restoran, lalu teringat sesuatu dan menoleh ke arah Pak Baskoro.

​"Pak Baskoro, seragam pelayan sama celemek yang kita pakai buat memantau pergerakan Pak Pendi minggu lalu di rumah makan daerah perkotaan itu... masih ada di bagasi mobil, kan?" tanya Rijal memastikan.

​Pak Baskoro mengerutkan kening sejenak, mengingat-ingat. "Oh, yang kita sewa dan beli dari staf restoran sepupu kamu itu? Ada, Rijal. Masih terbungkus rapi di kantong plastik bagasi belakang. Memangnya kenapa?"

​"Model bajunya mirip banget sama seragam pegawai restoran pendopo ini, Pak—sama-sama batik cokelat dan celemek hitam," jawab Rijal dengan mata berbinar. "Kita butuh bukti obrolan mereka kalau mau seret Halimah sama Bu Salma sekalian. Biar saya pakai seragam itu dan menyusup ke dekat gazebo mereka."

​"Rijal, itu berbahaya!" potongku cepat. "Lihat tiga pengawal di luar gazebo itu. Mereka kelihatan terlatih. Kalau kamu ketahuan, bisa bahaya."

​"Tenang, Mbak Maya. Restoran ini kan konsepnya terbuka dengan banyak gazebo dan tanaman rimbun," balas Rijal mantap dan percaya diri. "Saya nggak akan berdiri nempel di gazebo mereka."

​Ia menunjukkan sebuah benda kecil dari saku kemejanya. "Saya punya mikrofon perekam mini sebesar kancing baju yang nyambung ke HP lewat Bluetooth. Saya tinggal pura-pura jadi pelayan yang ngantar pesanan ke gazebo sebelah, terus selipkan perekamnya di celah kayu gazebo mereka."

​Pak Baskoro menatap Rijal sebentar, lalu mengangguk pelan. "Usul Rijal masuk akal. Seragam itu memang sengaja Bapak simpan di bagasi buat jaga-jaga kalau kita butuh penyamaran lagi. Tanpa rekaman suara, dugaan kita ke Halimah dan Bu Salma bakal gampang dipatahkan di depan hukum."

​Pak Baskoro lalu menepuk bahu Rijal. "Tapi ingat Rijal, tetap hati-hati. Begitu alatnya terpasang, langsung balik ke mobil."

​"Siap, Pak," jawab Rijal tegas.

Bersambung

Jangan lupa tinggalkan jejak ya, terima kasih.

1
Night Watcher
pak burhan?
Aina Senja: Trimakasi kk koreksinya🙏🙏😍
total 1 replies
Night Watcher
satu halaman diulang😇
Aina Senja: iya salah kirim kk, mau perbaikan tapi lagi di audit jadi belum berani kotak katik dulu, sebelum turun kontrak🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
kok nasi?
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
Aina Senja: hoho iya iya😍😍trimaksi kk
total 1 replies
Night Watcher
tadi pas prilia yg menyeret langkah kakinya mundur, lantainya kayu.
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇
Aina Senja: trimakasi kk, ini dia yg ku tunggu komen yg membangunkan tidurku 😍😍😍
total 1 replies
Night Watcher
mulai bosan,
Night Watcher
ngapain masih ngurusin karung bangkai yg nyimpen & ngelindungi para penyakit itu mayaaa..?!!
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kamu kuat maya. kamu tidak salah. mereka sendiri yang mengundang mu. kamu datang dengan niat tulus
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kasihan kamu. padahal kamu datang bukan sebagai pelakor
Aina Senja: trimakasi kk sudah mau mampir😍
total 1 replies
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
oh akhirnya aku paham. memang tak selamanya istri kedua itu di utamakan
Aina Senja: begitulah nasib istri ke dua🥲🥲
total 1 replies
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kok bisa Thor. aku masih belum paham?
Aina Senja: yg mana kk?
total 1 replies
Night Watcher
jangan kelamaan susahnya.. mulai trik² menjatuhkan lawan & nikmati sedikit² kebahagiaan.
Aina Senja: siap bosku
total 1 replies
Night Watcher
coba mampir... mudah²an cerita sengsaranya gak kesuwen..
Aina Senja: sangat tersanjung dengan hadirnya dirimu😍😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!