Sebuah kecelakaan membuat Alya terbangun di Dinasti Shue, ratusan tahun sebelum zamannya, dalam tubuh Shen Yueli, seorang putri bangsawan yang telah menikah dengan Pei Chanqing, jenderal dari kediaman militer.
Sebagai mahasiswi Sastra China, Alya memang mengenal sejarah negeri itu. Namun hidup di dalamnya adalah perkara berbeda.
Terlebih, pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan sebuah pernikahan politik antara dua kediaman militer.
Kini Alya harus belajar menjadi pengantin dari zaman kuno, sementara sang suami sama sekali tidak berniat mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 — Dapur Kediaman Barat
Siang telah beranjak naik, menghangatkan pelataran kediaman halaman barat dengan pendar cahaya matahari yang menyusup di antara tiang-tiang kayu berukir. Setelah merapikan urusan di kamarnya, Yueli melangkah keluar dengan anggun. Di belakangnya, Bai Ting berjalan sigap sambil membawa sebuah nampan kayu berisikan bahan-bahan pilihan.
Tujuan utama Yueli datang ke dapur hari ini adalah meracik ramuan khusus untuk dirinya dan sang suami—sebuah tonik herbal penambah stamina dan kebugaran yang diam-diam ia siapkan khusus untuk menjaga vitalitas Pei Chanqing di ranjang.
Saat ia membelok ke koridor samping yang terhubung dengan area dapur, udara mulai terasa hangat dan beruap. Di dalam ruangan yang luas itu, beberapa pelayan berlalu-lalang dengan kesibukan masing-masing. Namun, di antara mereka semua, satu sosok langsung menarik perhatian Yueli.
Xiao Lu berdiri di depan tungku tanah liat yang mengepulkan uap putih, mengenakan celemek sederhana. Lengan bajunya tersingsing hingga siku, memperlihatkan kulitnya yang bersih, sementara wajah cantiknya yang terpapar bias api tampak semakin memesona dan lembut.
Melihat pemandangan itu, suara-suara batin Yueli langsung bergeming, mendengus geli dalam hati. Pantas saja dalam alur aslinya nanti, gadis ini bisa berakhir menjadi selir Pei Chanqing... Wajah dan gerak-gerik polos seperti ini memang paling mudah meruntuhkan pertahanan pria.
Lamunan Yueli buyar ketika seorang pelayan dapur mendadak menyadarinya dan buru-buru mendekat, membungkuk dalam-dalam untuk memberi hormat.
"Nyonya Muda," sapa pelayan itu dengan suara bergetar hormat, menarik perhatian semua orang di dalam dapur, termasuk Xiao Lu yang seketika menoleh ke arah pintu.
Gerakan tangan Xiao Lu seketika terhenti. Ia yang tadinya bermaksud menaburkan bubuk rempah ke dalam periuk mendadak kehilangan fokus akibat kehadiran Yueli yang mendadak. Tangannya yang memegang kantong bumbu melorot turun, membuat jari-jarinya tanpa sengaja tersengat bibir periuk yang panas dan tercelup sesaat ke dalam kuah mendidih.
Pekikan nyaring langsung memecah keheningan dapur.
"Auuuhhh...!"
Yueli yang melihat kejadian itu langsung mempercepat langkahnya, menghampiri sisi meja tempat Xiao Lu berdiri. "Adik Xiao Lu, ada apa? Apakah tanganmu terbakar?" tanyanya dengan nada cemas yang begitu natural.
Xiao Lu menarik tangannya cepat-cepat, mendekap pergelangan tangannya yang langsung bergetar hebat. Kulit di sekitar jari dan punggung tangannya tampak memerah terang, bahkan mulai menimbulkan sedikit lepuhan akibat cipratan air mendidih.
Dengan air mata yang hampir menggenang di pelupuk matanya, Xiao Lu menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan rasa sakit. "T-tidak apa-apa, Kak..." cicitnya pelan, mencoba menarik senyuman getir. "Aku hanya... sedikit terkejut melihat kehadiran Kakak Ipar tadi."
"Adik, lebih baik kau obati dulu lukamu. Biarkan aku yang melanjutkan memasak," ucap Yueli sembari melangkah lebih dekat dan menengok isi dalam kuali besar di hadapannya. Aroma gurih bercampur rempah pekat langsung menguar—sebuah sup ayam herbal hangat yang sedang direbus.
Xiao Lu mengerjap, menarik bahunya sedikit ragu. "Tapi, aku takut ini akan merepotkanmu, Kak..."
Yueli tidak langsung menjawab. Ia justru meraih tangan Xiao Lu yang terluka dengan hati-hati, mengelus punggung tangan gadis itu dengan sentuhan yang begitu lembut dan penuh keibuan. "Tak apa, aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Bukankah ini juga sudah hampir selesai?" tanyanya dengan nada menenangkan.
Xiao Lu akhirnya mengangguk pelan, rasa sakit di tangannya membuat pertahanannya runtuh. "Iya, Kakak..."
"Pergilah, obati tanganmu segera," ujar Yueli penuh perhatian.
"Kalau begitu, aku serahkan padamu, Kakak Ipar."
Yueli membalasnya dengan senyuman paling manis yang ia miliki. Gadis itu pun akhirnya membungkuk hormat dan undur diri meninggalkan area dapur.
Namun, begitu siluet Xiao Lu benar-benar menghilang dari pandangan dan suasana dapur mulai lengang—hanya menyisakan Bai Ting serta dua orang pelayan dapur yang setia berdiri di sudut—ekspresi wajah Yueli berubah dalam sepersekian detik. Senyuman lembutnya menguap, berganti dengan kilat mata yang tajam dan seringai tipis penuh perhitungan.
"Kita ganti supnya," titah Yueli dingin, melirik kuali di hadapannya.
Dua pelayan dapur yang tersisa langsung terperanjat kaget, saling berpandangan dengan cemas. "Tapi, Nyonya Muda... itu pesanan untuk..."
Yueli menoleh perlahan. Tatapannya kembali melembut secara instan, namun suaranya mengandung tekanan mutlak yang membuat siapa pun tidak berani membantah. "Apakah kita akan menyajikan sup yang sudah tercemar kecelakaan dan membuat tangan seseorang melepuh? Aku takut... sup itu justru akan membawa petaka tersendiri jika dihidangkan."
"Baik, Nyonya Muda," jawab kedua pelayan itu patuh.
"Dan ingat, kalian harus merahasiakannya dari Xiao Lu. Aku tidak ingin dia merasa bersalah atau sakit hati karena masakannya diganti," tambah Yueli dengan nada penuh perhatian yang dibuat-buat.
"Baik, Nyonya Muda."
Tanpa buang waktu, kedua pelayan tersebut mengangkat kuali berisi sup buatan Xiao Lu dan membuangnya ke saluran pembuangan di dekat sumur belakang dapur.
Begitu saja, kendali dapur sepenuhnya beralih ke tangan Yueli. Berbekal memori dan pengetahuan modern dari jiwanya yang berasal dari masa depan—Alya—ia mulai bergerak cekatan. Tangannya lincah memotong daging ayam, menakar rempah-rempah berkualitas tinggi yang dulu hanya bisa ia beli secara online, lalu meraciknya hingga menghasilkan kaldu yang kental, kaya rasa, dan berkhasiat tinggi. Perlahan, seiring matahari yang mulai turun dan meredupkan bias jingga di luar jendela, aroma rempah yang harum dan menggugah selera menguar memenuhi seluruh sudut ruangan dapur.
"Bai Ting, siapkan ramuan herbal untukku dan Tuan," titah Yueli di tengah kesibukannya.
"Baik, Nyonya," jawab Bai Ting sigap.
Yueli lantas menoleh ke arah dua pelayan dapur yang sedang sibuk membersihkan meja. "Apakah kalian tahu di mana kantong herbal milik Ibu Mertua? Apakah Xiao Lu sempat meraciknya sebelum insiden tadi?"
Salah satu pelayan menggeleng. "Belum sempat, Nyonya. Ini, kantong obatnya masih utuh di rak." Pelayan itu bergegas mengambil sebuah kantong kain kecil dan menyerahkannya kepada Yueli.
Yueli menerima kantong tersebut, lalu dengan teliti membuka talinya dan memeriksa isi di dalamnya satu per satu di bawah temaram cahaya sore. Ia memilah setiap potongan akar dan daun kering di telapak tangannya.
"Tak ada yang aneh," gumam Yueli pelan, memastikan tidak ada bahan berbahaya atau racun tersembunyi di dalam ramuan dari kediaman Nyonya Besar Pei tersebut.
Bai Ting mengerjap, mendekat dengan rasa penasaran. "Apa maksud Nyonya?"
Yueli menutup kembali kantong tersebut dengan senyuman tipis penuh arti. "Ini hanya herbal untuk menjaga kesehatan biasa... sama persis seperti suplemen dan rempah-rempah yang biasa di beli online."
"Apa maksud Nyonya? On... lain?" tanya Bai Ting dengan kening berkerut bingung, jelas asing dengan istilah modern yang meluncur begitu saja dari bibir majikannya.
Yueli tersadar dan langsung menggeleng pelan, menarik sudut bibirnya membentuk senyuman canggung. "Tak ada apa-apa, Bai Ting. Istilah asing saja. Mari kita lanjutkan merebus ramuan ini."
Yueli kembali fokus pada pekerjaannya, namun jemarinya perlahan mulai mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu di sebelah tungku secara berirama. Ketukan pelan itu menemani pikirannya yang berputar kencang. Matanya menerawang menatap sekeliling dapur yang mulai sunyi.
Herbal itu jelas tidak aneh, isinya murni dan aman. Lalu, kenapa tadi pagi Xiao Lu terdengar begitu cemas dan menuduh ramuan dari kediaman Nyonya Besar Pei sebagai ancaman? Ingatannya kembali memutar setiap detik percakapan antara ibu mertua dan sang gadis pelayan di beranda tadi pagi.
Kepalanya perlahan menggeleng untuk mengusir prasangka yang belum tentu benar. "Mungkin memang benar kata Ibu... batuk itu hanya karena terjangan angin malam dan faktor usia," batinnya menyimpulkan sementara, memilih untuk tetap waspada tanpa berspekulasi terlalu jauh dulu.
Dengan gerakan cekatan, Yueli kembali fokus menuangkan air ke dalam periuk tanah liat, memastikan rebusan tonik untuk dirinya dan sang Jenderal matang dengan sempurna sebelum jam makan malam tiba.
...----------------...
yueli harus waspada tanpa henti
udah susah makin susah ini mah
Akhirnya terjebak ambisi sendiri
Berharap jadi selir atau gimana..
etdaaah
🤭🤭🤭🤭
🤣🤣
🤭🤭🤭
seruuu