**"Bagaimana jika seseorang yang ingin kau sembuhkan justru menjadi alasan hatimu sendiri terluka?"**
Setiap orang memiliki masa lalu yang ingin dilupakan. Namun, tidak semua orang mampu melepaskan kenangan yang pernah membuatnya bahagia.
Begitu pula dengan seorang lelaki yang masih terjebak dalam penyesalan masa lalunya. Di balik sikap dingin dan tatapan kosongnya, tersimpan sebuah kisah cinta yang belum selesai. Ia terus menunggu seseorang yang entah akan kembali atau tidak, seolah waktu berhenti sejak hari ketika ia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
Hingga suatu hari, seorang murid baru datang ke sekolahnya.
Gadis pendiam yang awalnya hanya ingin menjalani kehidupan sekolah dengan tenang itu tanpa sengaja menaruh rasa penasaran pada sosok lelaki yang selalu terlihat menyendiri.
"Aku datang karena pena dengan kisahmu. Namun tanpa sadar, aku justru ingin menjadi bagian dari kisah yang baru dalam hidupmu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bammoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemburuan selena
Pagi itu, Hikari datang ke sekolah lebih awal dari biasanya. Setelah turun dari mobil, dia mengucapkan terima kasih kepada Pak Damar sebelum berjalan memasuki gerbang.
Suasana sekolah belum terlalu ramai. Hanya beberapa siswa yang terlihat berkumpul di halaman, sementara petugas kebersihan masih sibuk menyapu dedaunan yang berserakan di sepanjang koridor.
Hikari berjalan menuju kelas sambil membawa map berisi beberapa rancangan dekorasi yang telah dikerjakannya semalam. Dia cukup bersemangat karena hari ini kelompoknya akan mulai membuat beberapa hiasan untuk festival sekolah.
Ketika memasuki kelas, Hikari mendapati Neta sudah duduk di bangku mereka. Gadis itu sedang menikmati roti sambil memperhatikan sesuatu di layar ponselnya.
"Pagi, Net."
Neta mengangkat wajah.
"Pagi! Tumben kamu datang cepat."
Hikari meletakkan tas di kursinya, kemudian duduk di sebelah Neta.
"Ada kerjaan panitia nanti. Aku mau nyelesaiin gambarnya dulu."
Neta melirik map yang dibawa Hikari. Ketika melihat beberapa lembar kertas berisi rancangan berwarna, dia langsung menghentikan kegiatan makannya.
"Wah, ini kamu yang gambar?"
Hikari mengangguk.
"Iya. Tapi masih harus diperbaiki sedikit."
Neta mengambil salah satu lembar setelah mendapat izin. Dia memperhatikan gambar tersebut dengan antusias. Rancangan itu memperlihatkan gerbang festival dengan hiasan bintang, bunga kertas, serta lampu-lampu kecil yang akan dipasang di sepanjang sisi gerbang.
"Bagus banget, Hikari! Kalau udah jadi pasti cantik."
Hikari tersenyum senang mendengar pujian sahabatnya.
Mereka kemudian menghabiskan beberapa menit membicarakan festival. Neta mengatakan bahwa kelas mereka akhirnya sepakat membuat stan makanan dan permainan sederhana.
Beberapa siswa sudah mulai membagi tugas, sementara wali kelas meminta mereka menentukan anggaran sebelum membeli perlengkapan.
Hikari mendengarkan sambil sesekali memberikan pendapat. Meskipun sudah menjadi anggota panitia dekorasi, dia tetap ingin membantu kegiatan kelasnya apabila memiliki waktu luang.
Tak lama kemudian, siswa lain mulai berdatangan. Suasana kelas perlahan menjadi ramai hingga bel masuk berbunyi dan pelajaran pertama dimulai.
***
Saat jam istirahat, Hikari dan Neta pergi ke kantin bersama. Mereka membeli makanan, kemudian mencari tempat duduk yang masih kosong di dekat jendela.
Kantin siang itu cukup padat. Hampir seluruh meja dipenuhi siswa yang sedang makan atau berbincang. Pembicaraan mengenai festival sekolah terdengar dari berbagai arah.
Hikari sedang membuka bungkus makanannya ketika seseorang tiba-tiba berhenti di samping meja mereka.
"Hikari."
Gadis itu mengangkat wajah dan mendapati Arsen berdiri sambil membawa sebotol minuman.
"Oh, Arsen."
Neta yang sedang makan ikut menoleh.
"Gue udah lihat desain yang lo kirim semalam," ujar Arsen. "Bagus. Nadya juga setuju pakai konsep itu."
Hikari terlihat senang.
"Serius?"
"Iya. Nanti sepulang sekolah kita mulai bikin kerangkanya."
Hikari mengangguk.
Arsen kemudian memberitahukan beberapa perlengkapan yang perlu disiapkan sebelum akhirnya kembali bergabung dengan teman-temannya.
Neta memperhatikan kepergian laki-laki itu sebelum menoleh kepada Hikari.
"Kamu satu kelompok sama Arsen?"
"Iya. Kenapa?"
"Nggak apa-apa. Dia lumayan terkenal di sekolah."
Hikari mengangguk sambil melanjutkan makanannya. Dia memang sempat mendengar nama Arsen disebut beberapa siswa, tetapi tidak terlalu mengetahui banyak hal mengenai laki-laki tersebut.
Neta kemudian bercerita bahwa Arsen cukup aktif dalam kegiatan sekolah. Selain menjadi panitia berbagai acara, dia juga sering mengikuti perlombaan antarkelas. Namun, laki-laki itu dikenal suka bercanda dan terkadang membuat orang lain kesal karena tingkahnya yang terlalu santai.
Hikari hanya tersenyum mendengarnya. Selama bekerja bersama kemarin, Arsen memang beberapa kali bercanda, tetapi tetap membantu ketika mereka mulai mengerjakan rancangan.
Percakapan mereka terhenti ketika seorang siswi tiba-tiba menghampiri meja.
"Lo Hikari, kan?"
Hikari mengangkat wajah.
"Iya."
Siswi itu berdiri bersama seorang temannya. Rambutnya dibiarkan tergerai, sementara kedua tangannya terlipat di depan dada. Dari ekspresinya, terlihat jelas bahwa dia tidak datang untuk sekadar menyapa.
"Gue mau ngomong sebentar."
Hikari sedikit kebingungan.
"Soal apa?"
"Arsen."
Neta yang duduk di sebelah Hikari langsung menghentikan kegiatan makannya.
"Kenapa sama Arsen?" tanyanya.
Siswi tersebut melirik Neta sebentar sebelum kembali memperhatikan Hikari.
"Gue dengar lo sekarang sering bareng dia."
Hikari mengerutkan kening.
"Kami satu kelompok panitia."
"Gue tahu."
"Lalu?"
Siswi itu tampak tidak menyukai jawaban Hikari. Dia menarik salah satu kursi kosong, tetapi tidak duduk.
Sebaliknya, dia sedikit membungkukkan tubuh agar dapat berbicara lebih dekat.
"Pokoknya jangan terlalu dekat sama Arsen."
Hikari terdiam.
Dia tidak menyangka seseorang akan menghampirinya hanya untuk mengatakan hal tersebut. Padahal, hubungannya dengan Arsen sebatas teman satu kelompok yang baru mulai bekerja bersama.
Neta yang sejak tadi memperhatikan akhirnya ikut berbicara.
"Emangnya kenapa? Mereka kan cuma kerja kelompok."
"Ini bukan urusan lo."
"Kalau kamu ngomong sama teman aku, ya aku boleh ikut ngomong."
Suasana di sekitar meja mereka mulai menarik perhatian beberapa siswa. Hikari menyadari hal tersebut dan segera menyentuh lengan Neta agar tidak memperpanjang perdebatan.
Dia kemudian kembali menatap siswi di hadapannya.
"Aku nggak tahu masalah kamu sama Arsen. Tapi aku cuma menjalankan tugas panitia."
Siswi itu menatap Hikari cukup lama.
"Ya udah. Gue cuma ngingetin."
Setelah mengatakan itu, dia langsung pergi bersama temannya.
Neta memperhatikan kepergian mereka dengan wajah kesal.
"Apaan, sih? Datang-datang langsung ngatur orang."
Hikari tidak segera menjawab. Dia hanya memperhatikan makanannya yang belum habis, kemudian mengembuskan napas pelan.
Belum lama sejak masalah di gudang selesai, sekarang sudah ada orang lain yang mempermasalahkan pertemanannya.
Padahal, dia bahkan belum mengenal siswi tersebut.
"Net, itu siapa?"
Neta mengikuti arah pandang Hikari.
"Oh, itu Selena. Dia sekelas sama Arsen."
Hikari mengangguk kecil.
"Dia pacarnya Arsen?"
"Bukan. Setahu aku mereka nggak pacaran."
Hikari semakin bingung.
Neta kemudian menjelaskan bahwa Selena dan Arsen sudah cukup lama saling mengenal. Keduanya sering terlihat bersama dalam berbagai kegiatan sekolah, sehingga beberapa siswa mengira mereka memiliki hubungan khusus. Namun, Arsen sendiri tidak pernah mengatakan bahwa Selena adalah kekasihnya.
Hikari akhirnya memahami sedikit alasan mengapa gadis itu datang menghampirinya.
Meskipun demikian, dia tetap merasa tindakan Selena berlebihan. Mereka baru bekerja sama selama satu hari, dan tidak ada alasan untuk mempermasalahkan hal tersebut.
"Udah, makan aja," ucap Hikari akhirnya.
Neta masih terlihat kesal, tetapi memilih mengikuti perkataan sahabatnya.
***
Sepulang sekolah, Hikari langsung menuju aula untuk membantu persiapan festival. Beberapa meja sudah dipenuhi kertas warna, gunting, lem, serta berbagai perlengkapan dekorasi yang baru dibeli.
Di salah satu sudut ruangan, beberapa siswa sedang mengukur papan kayu yang akan digunakan sebagai kerangka gerbang.
Hikari meletakkan tasnya di kursi kosong sebelum menghampiri Nadya yang sedang memeriksa daftar perlengkapan.
"Hikari, kamu bisa bantu bagian bunga kertas dulu? Nanti kalau Arsen udah selesai sama kerangkanya, kalian lanjut bagian atas gerbang."
Hikari mengangguk.
"Bisa."
Dia segera bergabung dengan beberapa siswa lain yang sedang membuat hiasan. Mereka membagi pekerjaan agar lebih cepat selesai. Ada yang memotong pola, melipat kertas, dan merekatkan bagian-bagian yang sudah dibentuk.
Hikari mendapat tugas membuat beberapa contoh bunga berukuran besar.
Dia mengerjakannya dengan teliti. Sesekali, siswa di sebelahnya meminta bantuan ketika kesulitan mengikuti pola yang telah dibuat.
Waktu berlalu tanpa terasa. Beberapa bunga kertas yang dibuat Hikari akhirnya selesai dan diletakkan bersama hiasan lainnya. Dia kemudian membantu seorang siswa memasang pita pada bagian tengah bunga agar terlihat lebih menarik.
Di sisi lain aula, Arsen masih sibuk bersama beberapa anggota panitia yang sedang menyusun kerangka gerbang. Sesekali terdengar suara mereka saling bercanda, membuat suasana ruangan terasa cukup menyenangkan meskipun pekerjaan belum sepenuhnya selesai.
"Hikari!"
Hikari mengangkat wajah ketika mendengar namanya dipanggil.
Arsen berdiri tidak jauh dari meja sambil membawa selembar kertas berisi ukuran kerangka.
"Bisa bantu gue sebentar?"
Hikari meletakkan gunting yang sedang digunakannya, kemudian menghampiri laki-laki itu.
"Ada apa?"
"Gue mau mastiin ukuran bagian atasnya. Takutnya nanti hiasan yang lo bikin malah nggak muat."
Hikari memperhatikan kerangka yang sudah disusun. Setelah mencocokkannya dengan rancangan miliknya, dia memberikan beberapa masukan mengenai posisi bunga dan tulisan festival.
Arsen mendengarkan dengan cukup serius. Berbeda dengan sikapnya yang sering bercanda, laki-laki itu ternyata cukup teliti ketika mengerjakan sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya.
"Kalau bagian ini dinaikin sedikit, kayaknya lebih bagus," ujar Hikari sambil menunjuk salah satu sisi.
Arsen mengangguk.
"Oke. Kita coba."
Mereka kemudian bekerja bersama untuk menyesuaikan susunan kerangka. Hikari membantu memegangi penggaris panjang, sementara Arsen menandai bagian yang perlu diperbaiki.
Namun, kesibukan mereka rupanya menarik perhatian seseorang.
Selena yang baru saja memasuki aula bersama temannya menghentikan langkah ketika melihat Hikari dan Arsen berdiri berdekatan. Ekspresinya langsung berubah, terlebih ketika Arsen terlihat tertawa mendengar sesuatu yang dikatakan Hikari.
Padahal, keduanya hanya sedang membicarakan pekerjaan.
Selena mengembuskan napas kesal sebelum berjalan menghampiri mereka.
"Arsen."
Laki-laki itu menoleh.
"Kenapa, Sel?"
"Lo sibuk banget?"
Arsen melirik kerangka di hadapannya.
"Ya kelihatan, kan?"
Selena tidak menyukai jawaban tersebut. Dia kemudian mengalihkan pandangan kepada Hikari yang sedang merapikan kertas rancangan.
"Lo lagi?"
Hikari mengangkat wajah. Dia sedikit terkejut melihat Selena kembali menghampirinya, tetapi tetap menjawab dengan tenang.
"Iya. Aku memang satu kelompok sama Arsen."
Selena terdiam sesaat. Rahangnya terlihat sedikit mengeras, sementara Arsen mulai menyadari suasana yang berubah tidak menyenangkan.
"Emang ada masalah?" tanya Arsen.
"Nggak," jawab Selena singkat.
Namun, bukannya pergi, Selena justru tetap berdiri di sana sambil memperhatikan Hikari.
Arsen mengembuskan napas pelan. Dia kemudian mengambil kembali kertas ukuran yang tadi diletakkannya di atas meja.
"Kalau nggak ada, jangan ganggu dulu. Kita lagi kerja."
Perkataan itu membuat wajah Selena berubah.
Hikari yang menyadari ketegangan di antara mereka memilih tidak ikut berbicara. Dia hanya mengambil beberapa perlengkapan yang dibutuhkannya, kemudian kembali menuju meja tempat anggota panitia lainnya bekerja.
Selena memperhatikan kepergian Hikari sebelum kembali menatap Arsen.
"Lo sekarang lebih milih kerja sama dia?"
Arsen mengerutkan kening.
"Maksud lo?"
Selena tidak menjawab. Dia hanya mengambil tasnya yang diletakkan di kursi terdekat, kemudian berjalan meninggalkan aula dengan langkah cepat.
Arsen memperhatikan kepergiannya dengan wajah bingung.
Dia sama sekali tidak memahami alasan Selena tiba-tiba bersikap seperti itu. Namun, karena masih memiliki banyak pekerjaan, dia memilih kembali melanjutkan tugasnya.
Sementara itu, Hikari yang sudah duduk di tempat semula hanya mengembuskan napas kecil.
Dia berharap Selena tidak kembali mempermasalahkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Bagaimanapun, Hikari datang ke aula hanya untuk membantu persiapan festival sekolah.
Bukan untuk terlibat dalam persoalan perasaan orang lain.