Hari ini adalah ulang tahun Prastyo Bharata Utama. Mikhaila ingin membuat malam ulang tahun Pras berbeda dari biasanya. Ia telah menyiapkan kejutan yang selama ini mereka nantikan: sebuah test pack dengan dua garis merah. Di bungkus hadiah itu dengan rapi, lalu ia mengantarkannya ke kantor karena tak sabar menunggu Pras pulang.
Namun, kenyataan justru menghancurkan kebahagiaannya. Sore itu, Mikha mendapati seorang wanita tengah bermanja-manja di ruang kerja bersama suaminya. Hatinya remuk, bahkan ia tak sanggup mendorong pintu untuk meminta penjelasan. Mikha memilih pergi dan mengubah rencananya. Kali ini, ia ingin membuat Pras jatuh miskin dan hidup dalam penyesalan.
Ayo kita dukung rencana Mikhaila, biar lelaki tukang selingkuh itu jera.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Alena menatap layar ponselnya cukup lama setelah mengirimkan pesan kepada Mikha.
Kita perlu bicara, Mikha.
Awalnya, ia merasa puas karena akhirnya berani menghubungi perempuan yang belakangan ini membuat emosinya tidak terkendali. Namun, semakin lama ia memandangi kalimat tersebut, semakin besar pula penyesalan yang muncul di dalam hatinya.
Apa yang sebenarnya sedang ia lakukan?
Mikha masih menjadi istri sah Pras. Mau tidak mau, ia harus menerima kenyataan bahwa perempuan itu masih memiliki kedudukan yang tidak bisa begitu saja diabaikan. Sementara dirinya, meskipun sudah menjalin hubungan dengan Pras, belum mendapatkan kepastian kapan lelaki itu benar-benar akan mengakhiri pernikahannya.
Alena mengembuskan napas kasar.
Dengan cepat, ia menghapus pesan yang baru saja dikirimkannya.
Beruntung, belum ada balasan dari Mikha.
Ia tidak ingin terlihat seperti perempuan yang iri terhadap kebahagiaan istri orang lain. Apalagi jika keluarga atau orang-orang terdekatnya sampai mengetahui bahwa ia sedang mempermasalahkan gelang mutiara dan mobil yang dibeli Pras untuk Mikha.
Namun, meskipun pesan itu sudah dihapus, rasa kesalnya tidak ikut menghilang.
Alena masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa mobil yang begitu diinginkannya justru sudah lebih dahulu berada di tangan Mikha.
Bukankah Pras pernah mengatakan bahwa ia harus bersabar? Lelaki itu bahkan meminta Alena menunggu sampai urusan rumah tangganya selesai sebelum mereka membicarakan pembelian mobil.
Lalu, mengapa sekarang Mikha justru mendapatkannya dengan begitu mudah?
Alena meremas ponselnya.
Ia baru bekerja beberapa waktu terakhir dan memang belum memiliki cukup uang untuk membeli mobil yang diinginkannya. Akan tetapi, ia sudah mulai menabung. Baginya, Pras seharusnya memahami bahwa mobil itu bukan sekadar keinginan sesaat.
Ia ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki sesuatu yang dibelikan oleh lelaki yang dicintainya.
Sayangnya, sebelum dirinya mendapatkan kesempatan itu, Mikha sudah lebih dahulu menikmatinya.
Keesokan harinya, Mikha memutuskan mengunjungi rumah Alena.
Rumah mereka sebenarnya tidak terlalu jauh. Jaraknya hanya sekitar sepuluh kilometer, sehingga perjalanan menggunakan mobil tidak membutuhkan waktu lama.
Dahulu, sebelum hubungan mereka berubah menjadi rumit, Mikha dan Alena cukup sering saling mengunjungi. Terkadang Mikha datang ke rumah Alena untuk mengobrol, terkadang pula Alena yang datang ke rumah Mikha.
Mereka pernah duduk bersama selama berjam-jam, membicarakan banyak hal, mulai dari pekerjaan hingga persoalan pribadi.
Mikha bahkan tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti perempuan yang dahulu bisa diajaknya tertawa bersama akan menjadi orang yang mengancam keutuhan rumah tangganya sendiri.
Sebelum berangkat, Mikha sempat berdiri cukup lama di depan meja makan.
Di atasnya terdapat sebuah kotak kue yang baru dibelinya.
Pandangannya terpaku pada kotak tersebut. Sesaat, sebuah pikiran mengerikan melintas di kepalanya.
Bagaimana jika ia memasukkan racun ke dalam kue itu?
Bagaimana jika ia membiarkan Alena memakannya, lalu semua persoalan yang selama ini mengusik hidupnya berakhir begitu saja?
Mikha terdiam.
Jemarinya mencengkeram ujung meja, sementara dadanya terasa sesak.
Tidak.
Ia segera menggelengkan kepala, berusaha menyingkirkan pikiran buruk itu sejauh mungkin.
Apa yang sedang dipikirkannya?
Apakah ia benar-benar sudah sebenci itu kepada Alena sampai tega mencelakai seseorang?
Mikha memejamkan mata.
Ia memang terluka. Ia juga marah karena perempuan yang selama ini dianggapnya sebagai teman justru menjadi orang yang ingin merebut suaminya. Namun, melakukan sesuatu yang mengerikan bukanlah jalan keluar.
Jika Alena memang ingin mengambil Pras, biarlah.
Bukankah pada akhirnya, keputusan tetap berada di tangan lelaki itu?
Mikha sudah berusaha mempertahankan rumah tangganya. Ia sudah memberikan kepercayaan, waktu, dan perasaannya kepada Pras. Namun, semua itu tidak cukup untuk membuat lelaki tersebut memilihnya dengan sepenuh hati.
Kali ini, ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya telah kalah.
Kalah dalam mempertahankan pernikahan.
Kalah dalam memenangkan hati Pras.
Dan meskipun kenyataan itu terasa begitu menyakitkan, Mikha tidak ingin kehilangan dirinya sendiri hanya demi seorang lelaki yang bahkan belum tentu bersedia memperjuangkannya.
Ia mengambil kotak kue tersebut, lalu berangkat.
Setidaknya, ia ingin melihat langsung wajah perempuan yang selama ini menjadi bagian dari kehancuran rumah tangganya.
Bukan untuk bertengkar.
Bukan pula untuk memohon agar Alena menjauh dari Pras.
Mikha hanya ingin berbicara.
Alena tampak terkejut ketika membuka pintu dan mendapati Mikha berdiri di hadapannya.
"Mikha?"
Perempuan itu segera tersenyum tipis sambil mengangkat kotak kue yang dibawanya.
"Aku boleh masuk?"
Alena sempat terdiam sebelum akhirnya mengangguk.
"Boleh. Masuk saja."
Mikha melangkah masuk, kemudian meletakkan kotak kue di atas meja ruang tamu.
"Aku bawakan kue. Tadi kebetulan lewat toko yang biasa aku datangi."
"Oh, terima kasih."
Alena duduk di sofa yang berhadapan dengannya. Untuk beberapa saat, keduanya tidak berbicara.
Suasana yang dahulu terasa akrab kini justru dipenuhi kecanggungan.
Alena berkali-kali melirik Mikha, seolah sedang mencari cara untuk memulai percakapan. Sementara Mikha hanya duduk tenang, menunggu perempuan itu mengatakan sesuatu.
Akhirnya, Alena membuka mulut.
"Ada apa, Mikha?"
Mikha mengangkat wajah.
"Em, memangnya kenapa? Aku enggak boleh main ke rumahmu lagi?"
"Bukan begitu." Alena segera menggeleng. "Aku cuma bertanya."
Mikha tersenyum kecil.
"Kalau begitu, aku memang cuma ingin main. Sudah lama kita enggak mengobrol seperti dulu."
Alena mengalihkan pandangan. Entah mengapa, perkataan sederhana itu justru membuatnya merasa tidak nyaman.
Ia tahu dirinya bukan lagi teman yang sama bagi Mikha.
Namun, sebelum sempat memikirkan jawaban, pertanyaan yang sejak kemarin memenuhi kepalanya akhirnya terucap juga.
"Em, Mikha, kamu beli mobil baru?"
Mikha menatapnya sejenak.
"Memangnya kenapa?"
Alena sedikit gugup.
"Enggak. Aku cuma bertanya. Mobilmu bagus."
"Oh, terima kasih."
Mikha menjawab dengan santai, lalu mengambil segelas air putih yang tersedia di atas meja.
Alena meremas jemarinya sendiri sebelum melanjutkan.
"Aku juga sudah menabung. Sebentar lagi, mungkin aku mau beli mobil yang sama."
Mikha mengangguk seolah tidak ada sesuatu yang aneh dari perkataan itu.
"Oh, iya? Cepat juga kamu menabungnya. Padahal, kamu baru bekerja."
"Iya."
Jawaban Alena terdengar pendek.
Ia sebenarnya berharap Mikha akan bertanya lebih jauh, mungkin tentang bagaimana ia berencana membeli mobil tersebut atau apakah seseorang akan membantunya.
Namun, Mikha tidak menunjukkan ketertarikan sedikit pun.
Perempuan itu justru membuka tasnya untuk mengambil tisu, kemudian kembali menatap Alena.
"Kalau memang sudah punya uangnya, beli saja. Mobil itu memang nyaman dipakai."
Alena menelan ludah.
Ada sesuatu dalam nada bicara Mikha yang membuatnya sulit menentukan apakah perempuan itu sedang menyindirnya atau benar-benar tidak peduli.
Padahal, ia ingin mendengar pengakuan bahwa mobil tersebut dibelikan oleh Pras.
Ia ingin tahu apakah Mikha sengaja memamerkannya agar dirinya merasa tersisih.
Namun, Mikha sama sekali tidak memberikan reaksi yang diharapkannya.
"Kamu beli sendiri?" tanya Alena akhirnya, berusaha terdengar biasa.
Mikha terdiam sesaat.
Kemudian, ia tersenyum tipis.
"Kenapa? Kamu penasaran sekali."
Wajah Alena seketika memanas.
"Aku cuma bertanya, Mikha."
"Iya, aku tahu."
Mikha meletakkan gelasnya.
"Mobil itu dibelikan suamiku. Memangnya ada yang salah?"
Alena terdiam.
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti tamparan baginya.
Suamiku.
Mikha masih menyebut Pras sebagai suaminya tanpa keraguan sedikit pun.
Padahal, Alena sudah membayangkan dirinya menjadi perempuan yang akan mendampingi lelaki itu. Ia bahkan sudah mulai menyusun harapan tentang kehidupan mereka setelah perceraian Pras selesai.
Namun, sekarang ia justru harus duduk berhadapan dengan istri sah lelaki tersebut, mendengarkan bagaimana perempuan itu menikmati sesuatu yang selama ini diinginkannya.
Mikha memperhatikan perubahan wajah Alena.
Ia bisa melihat kecemburuan yang berusaha disembunyikan perempuan itu.
Akan tetapi, untuk pertama kalinya, Mikha tidak merasa ingin membalasnya.
hari ini 4 bab ya kak
penasaran
menanti pembalasan istri sah
dan penyesalan suaminya 🤭🤭