NovelToon NovelToon
Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kutukan
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Pak Tua

Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.

Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.

Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.

Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.

Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?

Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.

Dan dunia belum siap sama akibatnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: GODAAN YANG SEMAKIN BERAT

Seminggu setelah pertemuan mereka di minimarket, Bang Tua sengaja mampir lagi ke sana, kali ini benar benar berniat membeli sesuatu, bukan cuma alasan untuk bertemu Farel, meski keduanya jelas jelas menyatu jadi satu kunjungan yang sama. Begitu masuk, dia langsung merasakan ada yang berbeda, Farel yang biasanya cekatan melayani pembeli, kali ini terlihat linglung, salah menghitung kembalian sampai dua kali, dan wajahnya jauh lebih pucat dari terakhir kali mereka bertemu.

"Farel, kau baik baik aja?" tanya Bang Tua begitu antrian di kasir mulai sepi, suaranya penuh kekhawatiran yang tidak bisa dia sembunyikan lagi.

Farel menghela napas panjang, menyandarkan diri sebentar ke meja kasir, seolah tenaganya sudah benar benar terkuras habis. "Pak, jujur, saya udah di titik paling berat sekarang. Dosen pembimbing saya juga nggak jauh beda kayak Bu Marlina, sibuk kali, revisi saya numpuk. Terus deadline sidang periode ini tinggal tiga minggu lagi, kalau nggak kekejar, saya harus tunggu periode berikutnya, itu artinya nambah semester, nambah biaya kuliah lagi, sementara saya udah kerja mati matian buat bayar sendiri."

Bang Tua mendengarkan dengan seksama, dalam hati merasakan beban yang sama seperti yang dirasakan Farel, meski dia sendiri tahu betul tidak akan pernah benar benar memahami tekanan finansial seberat itu, karena selama ini hidupnya relatif lebih mudah dibanding mahasiswanya itu.

"Terus, soal tawaran jasa olah data yang kau certain minggu lalu itu, gimana?" tanya Bang Tua hati hati, mencoba tidak terdengar menghakimi.

Farel terdiam lama, matanya menatap ke lantai, jelas bergulat dengan sesuatu yang berat di dalam dirinya. "Saya udah kontak orangnya, Pak. Tadi malam. Belum bayar, tapi udah nanya nanya harganya, udah dikasih contoh hasil kerjanya juga, keliatan meyakinkan kali, data bisa langsung jadi dalam dua hari."

Bang Tua merasakan dadanya sesak mendengar pengakuan itu, dalam hati dia sudah mulai menyusun berbagai komentar, tapi kali ini bukan komentar jenaka seperti biasanya, melainkan kekhawatiran murni yang sulit dia tutupi. "Farel, dengar bapak dulu. Bapak tau kau di posisi susah. Tapi kalau kau ambil jalan itu, dan ketahuan, bukan cuma skripsimu yang bermasalah, tapi seluruh hidup akademikmu bisa hancur. Belum lagi soal kejujuran sama diri sendiri, itu yang paling berat nanggung nya nanti."

"Saya tau, Pak. Tapi kadang, pas udah capek kali, mikirnya jadi pendek. Yang penting selesai dulu, urusan nanti nanti aja," jawab Farel, suaranya bergetar menahan tangis yang sudah lama dia tahan.

Bang Tua terdiam sejenak, mencoba mencari kata kata yang tepat, sebelum akhirnya memutuskan membagikan sedikit cerita dari masa lalunya sendiri, sesuatu yang jarang sekali dia lakukan ke mahasiswa manapun. "Farel, dulu waktu bapak kuliah S1, bapak pernah di posisi hampir mirip kau, walaupun bukan soal jalan pintas skripsi. Bapak dulu berani speak up soal kecurangan, eh malah bapak yang kena getahnya, difitnah macam macam. Waktu itu bapak mikir, ngapain jujur jujur amat kalau hasilnya cuma bikin diri sendiri susah."

Farel mengangkat wajahnya, menatap dosennya dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu, jarang sekali dia mendengar Bang Tua bercerita sesuatu yang begitu personal.

"Tapi bapak akhirnya sadar, kejujuran itu bukan soal hasil langsungnya kelihatan atau nggak. Itu soal kau bisa tidur nyenyak apa nggak tiap malam, soal kau bisa hormat sama diri sendiri di cermin apa nggak. Kalau kau ambil jalan pintas sekarang, mungkin skripsimu selesai, tapi kau bakal bawa beban itu terus, entah sampai kapan," lanjut Bang Tua, suaranya lebih pelan tapi penuh keyakinan.

Farel terdiam lama, air matanya akhirnya jatuh juga, tidak lagi bisa dia tahan. "Saya takut, Pak. Takut kalau saya jujur, saya malah makin ketinggalan, makin lama lulusnya, makin susah keluarga saya."

Bang Tua menepuk pundaknya, mencoba menyalurkan ketenangan lewat sentuhan sederhana itu. "Bapak nggak bisa janji semuanya bakal langsung gampang kalau kau jujur. Tapi bapak janji, bapak bakal bantu semampu bapak. Kasih bapak waktu, coba dulu jangan ambil jalan itu."

Farel mengangguk pelan, mengusap air matanya dengan lengan seragamnya, mencoba mengembalikan ketenangannya sebelum pembeli lain datang. "Makasih, Pak. Saya coba tahan dulu."

Sebelum pamit, Bang Tua sempat melontarkan candaan kecil untuk meringankan suasana yang begitu berat itu, "lain kali kalau kau kepikiran jalan pintas lagi, telepon aja bapak, walau pun bapak nggak janji bisa nyelesain masalahmu, minimal bapak bisa dengerin sambil kasih candaan garing, itung itung terapi gratis", yang berhasil memancing senyum tipis dari Farel, meski matanya masih basah.

Sebelum benar benar meninggalkan minimarket, Bang Tua sempat membeli beberapa bungkus mi instan tambahan yang sebenarnya tidak terlalu dia butuhkan, semacam alasan kecil supaya kunjungannya malam itu tidak terkesan hanya untuk mengorek cerita sedih Farel, tapi juga benar benar mendukung tempat kerjanya, meski dalam hati dia tau betul itu cuma gestur kecil yang tidak akan benar benar mengubah situasi besar yang sedang dihadapi mahasiswanya.

Sepanjang perjalanan pulang, Bang Tua terus memikirkan cara konkret untuk membantu Farel, bukan sekadar nasihat moral, tapi solusi nyata yang bisa meringankan bebannya. Dia sempat berpikir untuk mencari informasi soal beasiswa darurat atau keringanan biaya kuliah yang mungkin tersedia di kampus, sesuatu yang selama ini jarang benar benar disosialisasikan ke mahasiswa yang membutuhkan, seolah informasi semacam itu sengaja disembunyikan di balik birokrasi yang berbelit belit.

Di tengah jalan, dia melewati sebuah warung kopi kecil yang masih buka meski sudah larut, dan tanpa sadar langkahnya melambat, mengingatkannya pada rutinitas lama bersama Bu Rohana yang selama ini jadi tempat pelariannya kalau pikiran sedang penuh. Malam itu dia tidak mampir, hanya memandangi warung itu sejenak dari kejauhan, merasakan rindu akan kesederhanaan hidupnya dulu, sebelum semua kerumitan ini mulai menumpuk satu per satu di pundaknya.

Sesampainya di kos, dia tidak langsung tidur, malah duduk lama di depan jendela kamarnya, menatap gang yang mulai sepi, pikirannya masih dipenuhi wajah Farel yang menangis di minimarket tadi. Dalam hati dia bertekad, apa pun yang terjadi, dia tidak akan membiarkan mahasiswanya itu terjerumus ke jalan yang salah hanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru gagal melakukan tugasnya.

Sebelum akhirnya benar benar tidur, dia sempat menuliskan satu kalimat terakhir di buku catatan kecilnya malam itu, "hari ini, Farel hampir menyerah, tapi bapak nggak akan biarkan itu terjadi, apa pun caranya", kalimat sederhana yang mencerminkan tekad yang perlahan tumbuh semakin kuat di dalam dirinya, jauh berbeda dari Bang Tua yang dulu, yang lebih memilih diam menyaksikan ketidakadilan dari kejauhan.

1
Aisyah Suyuti
menarik
AGRI
sangat menarik
Nazira Kania: Hai Kak 😊 Saya dari tim redaksi Perkasa Satu. Naskah Kakak di NovelToon menarik dan layak diterbitkan menjadi buku. Saat ini kami membuka Program Terbit Gratis Edisi Oktober untuk 10 naskah tercepat, dengan Free ISBN dan buku yang diterbitkan dapat masuk Gramedia digital maupun offline (s&k). Fasilitas lainnya: editing, desain cover, sertifikat penulis, promosi, serta royalti 20–30%. Tertarik? Hubungi Admin 📱 083197323183.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!