Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAHAYA DI DALAM RUMAH PAYOBADAR
ARYA ARSYAD SIKUMBANG - LAHIR 1965, DI DESA PANDE SIKEK TAHUN 1970 JIWANYA TUMBUH TERLALU CEPAT DI USIA 5 TAHUN
Arya Arsyad Sikumbang lahir tahun 1965 di Desa Pande Sikek, kaki Gunung Singgalang, Minangkabau. Desa para tukang ukir kayu yang terkenal itu.
Tahun 1965 Indonesia masih bergolak. Di Pande Sikek tahun itu, rumah masih rumah gadang dan rumah papan, atap seng kalau hujan bunyinya keras sampai ke surau. Listrik belum masuk semua, radio transistor masih jadi barang mewah yang ditaruh di atas lemari.
Lima tahun kemudian, tahun 1970, di usia 5 tahun, anak bungsu dari Abdullah Bin Rais Payobadar ini sudah terlihat lain dari semua anak Pande Sikek.
Sore di Pande Sikek tahun 1970 itu selalu sama: suara pahat kayu tukang ukir beradu, suara azan dari surau, anak-anak kampung main kelereng dan galah-galah di halaman tanah berdebu sisa serutan kayu. Bau kayu surian masih tercium.
Di tengah keramaian itu, Arya justru sering menyendiri di beranda rumah gadang.
Di Dalam Keluarga di Pande Sikek, Dia Hanya Bertanya Pada Ayahnya
Kalau anak-anak Pande Sikek lain pulang main dengan baju kotor dan cerita siapa menang kelereng, Arya pulang dengan pertanyaan. Dan pertanyaannya selalu dia simpan hanya untuk ayahnya, Abdullah Bin Rais Payobadar.
Abdullah adalah laki-laki Minang Pande Sikek yang tidak banyak bicara. Tangannya kasar karena pahat ukir, pergi ke bengkel ukir pagi-pagi, pulang maghrib. Tapi kalau dia bicara, jujur dan dalam. Arya tahu itu.
Sore tahun 1970 itu, Arya yang baru 5 tahun duduk di pangkuan ayahnya di beranda rumah yang penuh dengan ukiran. Anak-anak lain berebut layang-layang putus di sawah bawah Pande Sikek. Arya tidak ikut.
"Yah," tanyanya dengan suara kecil tapi teratur, tidak cadel seperti anak 5 tahun lain, "Kenapa angin di Singgalang ada, tapi tidak kelihatan?"
Kalau ayah lain mungkin jawab "sudah dari sananya, sana main". Abdullah berhenti menghaluskan ukiran, menatap anaknya.
"Angin itu seperti pahala, Arya. Tidak kelihatan mata, tapi terasa. Kalau tidak ada angin, padi di bawah Pande Sikek tidak goyang. Kalau tidak ada pahala, hati tidak tenang."
Arya diam. Matanya yang besar menatap padi bergoyang di lembah. Dia menyimpan jawaban itu.
Besoknya lagi, pertanyaan yang lebih berat datang di surau kecil Pande Sikek.
"Yah, kalau Allah menciptakan semua, siapa yang menciptakan Allah?"
Ibu yang mendengar dari dapur hampir tersedak. Di tahun 1970, di desa adat yang kuat agamanya seperti Pande Sikek, pertanyaan itu dianggap lancang untuk anak 5 tahun. Tapi Abdullah hanya mengusap kepala anak bungsunya.
"Itu pertanyaan orang besar, Arya. Bahkan ayah pun masih belajar. Yang ayah tahu, Allah itu awal yang tidak punya awal. Seperti angka 1. Angka 2, 3, 4 ada karena ada angka 1. Tapi angka 1 tidak butuh angka sebelumnya. Dia ada dulu sebelum kata 'ada' itu ada."
Arya yang lahir 1965 dan kini di Pande Sikek tahun 1970 baru 5 tahun itu mengangguk. Dia sudah tidak bisa dibohongi dengan dongeng penenang.
Saat Teman-temannya di Pande Sikek Asyik Bermain, Arya Malah Mencari
Jam 4 sore di Pande Sikek tahun 1970 adalah jam paling ramai. Semua anak keluar setelah mengaji.
"Arya! Main kelereng yuk di halaman tukang ukir!"
Arya sering menolak halus. Bukan sombong. Karena baginya permainan itu selesai terlalu cepat.
Dia malah hilang ke belakang rumah gadang, ke tempat tumpukan serutan kayu. Jongkok hampir satu jam di tanah lembab, memperhatikan barisan semut membawa remah nasi.
"Kenapa semutnya balik lagi ke lubang yang sama terus, Yah? Kok dia tidak nyasar?" tanyanya nanti malam.
Dia ambil daun talas lebar, tampung air hujan Singgalang, lihat air itu menggelinding dan pecah di atas ukiran yang belum jadi.
Teman-temannya di Pande Sikek bingung, "Ah Arya aneh, tidak asyik."
Arya tidak marah. Dunia kejar-kejaran memang terasa terlalu bising untuk batinnya yang sunyi.
Keinginan Membaca Buku di Pande Sikek di Usia 5 Tahun
Di Desa Pande Sikek tahun 1970, buku itu mewah. Tidak ada toko buku. Buku hanya ada dari pasar Bukittinggi atau warisan kakak yang sampulnya sudah sobek dan bau kayu.
Di lemari kayu ukiran ayahnya ada tumpukan buku tua: buku agama Arab Melayu kertasnya kuning, buku adat Minangkabau, buku pelajaran SD kakaknya.
Itulah mainan Arya.
Anak 5 tahun lain di Pande Sikek merengek minta dibelikan gasing kayu. Arya yang lahir 1965 ini merengek minta dibacakan buku.
Dia paksa dirinya mengeja dengan jari kecilnya.
"A... ba... di... Yah, apa artinya abadi?"
Ajaibnya, dia tidak hanya hafal kata, dia paham makna.
Suatu hari dia lihat gambar bunga di buku IPA kakaknya.
Anak lain bilang "bunga cantik". Arya bilang, "Yah, ini bunganya minum dari tanah Pande Sikek ya? Kalau tidak hujan Singgalang, dia haus, dia mati. Daunnya dimakan ulat, ulatnya dimakan burung. Semua sambung-sambung ya Yah?"
Abdullah terdiam. Anak 5 tahun mana di Pande Sikek tahun 1970 yang sudah berpikir sistemik seperti itu? Dia melihat jaring, bukan titik.
Matang Menganalisis, Tapi Tetap Anak 5 Tahun di Pande Sikek
Inilah yang membuat Abdullah Bin Rais Payobadar takjub sekaligus khawatir.
Takjub karena di usia 5 tahun di tahun 1970 itu, kosakata Arya melompat. Dia bilang "Aku kecewa, Yah" bukan "Aku ngambek". Tenang dan teratur.
Tapi khawatir karena kedewasaan itu datang dengan kesepian dan empati yang terlalu tajam.
Suatu senja di Pande Sikek, Abdullah pulang dari bengkel ukir, duduk diam di beranda rumah gadang menatap Gunung Singgalang yang mulai berkabut. Tidak bicara.
Arya yang sedang main balok kayu ukiran sisa di dalam tiba-tiba keluar, duduk di samping ayahnya, memegang tangan kapalan ayahnya yang penuh luka pahat.
"Yah sedih ya?"
"Kok Arya tahu?"
"Matanya ayah tidak seperti biasa."
Di usia 5 tahun, Arya sudah bisa membaca wajah. Genius-nya bukan di angka, tapi di hati.
Namun dia tetap anak kecil. Kadang dia frustrasi, menangis bukan karena jatuh, tapi karena kesal tidak bisa menjelaskan isi kepalanya.
"Ayah tidak mengerti! Arya tidak bisa bilang!" teriaknya sambil memukul kepalanya sendiri.
Saat itu Abdullah tidak ceramah panjang. Dia hanya peluk erat tubuh kecil itu di beranda rumah ukir Pande Sikek itu.
"Ayah di sini. Ayah mungkin tidak selalu mengerti apa yang Arya pikirkan. Tapi ayah selalu ada untuk Arya. Kamu aman, Nak."
Dan Arya pun tenang, tertidur di pangkuan ayahnya dengan suara pahat tetangga masih terdengar pelan.
Di tahun 1970, orang Pande Sikek belum kenal istilah gifted atau jenius. Mereka hanya bilang, "Anak Abdullah tukang ukir yang bungsu lahir 1965 itu... lain. Matanya tua."
Memang benar. Tubuhnya masih kecil, jalannya masih sempoyongan kalau lari di tanah Pande Sikek yang berdebu kayu, masih butuh disuapi, masih butuh dipeluk sebelum tidur.
Tapi jiwanya seperti orang tua yang baru turun dari Singgalang. Sudah mengerti banyak hal, bahkan sebelum dunia sempat menjelaskan dirinya kepadanya.
Dan penjaga pertama jiwa tua itu adalah ayahnya sendiri di Desa Pande Sikek itu: Abdullah Bin Rais Payobadar.