NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Rival

Menikah Dengan Rival

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rii_Risa

"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"

"Mau."

Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.

Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.

Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.

Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Merasakan tatapan yang mengintimidasi dari sang nyonya rumah, nyali Martha langsung menciut. Tanpa sadar kepalanya menunduk semakin dalam.

"Maaf, Nyonya Muda," ucap Martha sambil meremas jemarinya sendiri di depan seragam mininya. "Saya benar-benar tidak tahu jika Anda sudah bangun dan masih berada di dalam kamar. Mari, saya antar Anda keluar untuk sarapan."

Kara langsung mendengus kasar. "Yaudah, jalan aja dulu di depan, nggak usah banyak omong," ketusnya.

Martha tersentak kecil saat mendengar kalimat itu. Ia mengerjapkan matanya sejenak, lalu buru-buru mengangguk patuh.

"Baik, mari lewat sini, Nyonya," ucap Martha sambil membalikkan badannya, lalu memimpin jalan di depan.

Kara langsung mengekor di belakangnya. Matanya kembali menyipit tajam saat memperhatikan bagaimana rok mini Martha bergerak ke kanan dan ke kiri seiring dengan langkah kakinya.

Sambil menghentakkan kakinya kesal, Kara terus menggerutu dalam hati, merutuki selera Erlangga yang dianggapnya sangat keterlaluan.

Ketika mereka sudah sampai di depan lift, Martha segera menekan tombol di dinding. Pintu itu terbuka perlahan, lalu Martha segera membalikkan tubuhnya sambil mengulurkan satu tangannya dengan sopan, mempersilakan Kara untuk masuk terlebih dahulu.

Kara langsung membelalakkan matanya karena syok. "Anjir, ternyata nih rumah pakai lift? Pantesan gue cari-cari tangga nggak ketemu!" batin Kara yang merutuki kebodohannya sendiri.

Ia melangkah masuk ke dalam lift dengan dagu yang sengaja ia angkat tinggi, mencoba tetap terlihat berwibawa di depan Martha. Lalu setelah itu Martha menyusul masuk dan berdiri tegak di sampingnya.

"Oh iya. Kalau boleh tahu, Erlangga nyewa rumah ini di mana sih? Mewah banget," tanya Kara, karena ia sudah tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya lagi.

Mendengar pertanyaan itu, Martha langsung menoleh. "Ini rumah pribadi milik Tuan Muda Erlangga, Nyonya. Apa Anda belum tahu?"

Dahi Kara langsung mengernyit dalam. Kepalanya miring ke samping dengan ekspresi yang tidak percaya. "Masa sih? Bukannya selama ini Erlangga tinggal di apartemen ya?"

"Benar, Nyonya. Tuan Muda memang lebih suka tinggal di apartemen. Beliau biasanya ke sini hanya satu bulan sekali."

"Oh, begitu..." Kara langsung manggut-manggut mengerti. "Kalau ini rumahnya... berarti Erlangga kaya dong?"

"Seperti yang Anda lihat, Nyonya," jawab Martha lembut.

Ting!

Pintu lift terbuka pelahan, dan memperlihatkan kemegahan ruangan di lantai satu.

Langkah kaki Kara langsung terhenti di ambang pintu lift. Sepasang matanya bergerak melebar, menjelajahi setiap sudut ruangan yang membentang luas di hadapannya.

Ia menatap pilar-pilar besar, lampu gantung kristal yang berkilau mewah, hingga perabotan elegan yang tertata rapi.

Kara langsung menelan ludahnya. "Gila... Ini mah bukan rumah lagi namanya, tapi istana!" batin Kara menjerit, sementara kepalanya mendongak ke atas dengan mulut yang menganga lebar.

Melihat sang nyonya rumah hanya berdiri terpaku di ambang pintu, Martha langsung berdehem pelan untuk menyadarkannya.

"Nyonya... Mari, silakan ikuti saya ke sebelah sana."

Kara langsung tersentak kaget. Ia buru-buru mengatupkan mulutnya yang sempat menganga, lalu berdehem canggung seraya membenarkan posisi dress-nya. "Ah, iya-iya. Ayo kita sarapan, gue udah laper."

Martha segera membimbing Kara untuk menuju ruang makan yang luasnya tidak kalah menakjubkan.

Sambil melangkah mengikuti Martha, otak Kara mulai berputar cepat. Matanya berbinar-binar penuh dengan kelicikan.

"Jadi Erlangga tuh beneran kaya raya? Berarti Mama sama Papa nggak bohongin gue dong soal statusnya" Kara meremas jemarinya sendiri dengan penuh semangat, menahan diri agar tidak melompat kegirangan di tempat itu juga.

"Nggak bisa, nggak bisa, nggak bisa. Gue harus putar otak! Mulai sekarang gue harus bersikap baik sama Erlangga. Kalau gue tetap cari gara-gara dan musuhin dia, bisa-bisa dia minta cerai. Bisa rugi bandar dong gue! Pokoknya gue harus bertahan di sini demi mewujudkan cita-cita mulia gue menjadi pengangguran yang kaya raya dan bergelimang harta!" batin Kara bersorak girang.

Ia tiba-tiba melupakan kekesalannya begitu saja kepada pelayan seksi di depannya ini.

Sedetik kemudian, Kara langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi selembut dan semanis mungkin. Ia menoleh ke arah Martha yang saat ini sedang sibuk menata beberapa hidangan di atas meja makan.

"Martha..." panggil Kara, ia sengaja menurunkan nada suaranya menjadi sangat ramah.

Martha sempat terkejut karena nada suara Kara tidak lagi ketus dan sewot seperti tadi. Ia buru-buru membalikkan badan dan menunduk hormat. "Iya, Nyonya?"

"Lo tahu nggak di mana alamat kantornya Erlangga?" tanya Kara antusias, kedua tangannya kini bertumpu di atas meja makan dengan tubuh yang agak condong ke depan.

Martha langsung mengerutkan keningnya, ia tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya pelan. "Saya tidak tahu, Nyonya. Selama ini Tuan Muda tidak pernah membahas urusan pekerjaan di rumah ini. Memangnya... ada apa Nyonya bertanya seperti itu? Apa ada hal penting yang perlu disampaikan kepada Tuan Muda?"

"Ah, enggak kok. Bukan hal yang penting banget sih sebenarnya. Tapi... sebagai istri yang baik, masa gue nggak tahu alamat kantor suami sendiri? Iya kan?" alibi Kara cepat, meski di balik senyum manisnya, otaknya sedang menyusun rencana licik.

"Sial! Mana tadi pagi gue udah bikin Erlangga kesel lagi," batin Kara yang mencemaskan nasibnya. "Pokoknya, gue harus dapetin alamat kantornya Erlangga. Gue harus secepatnya ke sana buat minta maaf."

"Kalau Nyonya ingin ke kantor Tuan Muda, mungkin Pak Basuki bisa mengantar Anda," usul Martha.

Kedua alis Kara langsung bertaut bingung. "Pak Basuki?"

"Iya, Nyonya. Sopir pribadi Tuan Muda Erlangga."

Mata Kara langsung membelalak cerah. "Ah... Benar banget!" Kara langsung memutar tubuhnya dengan cepat. "Kalau gitu, gue nggak jadi sarapan deh!" serunya riang.

Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung melangkah cepat meninggalkan ruang makan dan menuju pintu utama.

"Eh, tapi, Nyonya...!" suara Martha terhenti di udara saat punggung Kara sudah menghilang dari balik pintu utama.

Martha langsung menghela nafas panjang. Tanpa ragu, ia ikut melangkah menyusul Kara. Karena Martha sangat yakin, sang Nyonya muda itu tidak akan tahu di mana tempat Pak Basuki berada.

Dan benar saja, saat Martha melangkah keluar, ia mendapati Kara yang tengah berdiri di teras dengan kepala yang celingukan, sambil menatap halaman yang luas dengan raut wajah yang kebingungan.

"Mungkin Pak Basuki sedang ada di pos penjagaan. Biar saya panggilkan, Nyonya," ucap Martha dari belakang.

Kara langsung tersentak kaget dan membalikkan tubuhnya dengan cepat. Wajahnya yang semula kebingungan langsung berubah bersemangat kembali. "Ah, iya-iya! Buruan panggil dia, ya!"

Hanya dalam waktu tiga menit, Martha sudah kembali bersama Pak Basuki. Sopir paruh baya itu langsung membungkuk hormat ke arah Kara.

"Apa Anda sudah mendapatkan izin dari Tuan Muda Erlangga untuk pergi ke kantornya, Nyonya?" tanya Pak Basuki tenang.

"Sudah dong, Pak!" jawab Kara sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Lagian saya ini istrinya. Udah, Bapak nggak usah banyak tanya, mending langsung anterin saya aja, keburu siang nih, panas!"

"Baik, Nyonya Muda, silakan," ucap Pak Basuki sopan sambil menunjuk ke arah mobil hitam yang sudah terparkir di halaman.

Kara langsung melangkah cepat. Sebelum ia membuka pintu mobil, senyum penuh kemenangan perlahan mengembang di bibirnya.

"Bohong dikit nggak apa-apa kali ya. Daripada gue nggak bisa ke kantornya Erlangga," batin Kara sambil terkikik geli.

1
Fulayah Haddad
Bagus, Amazing..........👍👍🤗😉😉 lanjut lg dong Thor, ditungguuu.............😉👌👌🫰🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!