Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*
Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.
Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.
Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.
Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alya Demam dan Rafael Panik Setengah Mati
Hari ke-22. Penthouse Virel.
Jam 5 sore, hujan deras mengguyur Jakarta. Badai.
Alya baru pulang dari kampus. Bimbingan skripsi. Ia lupa bawa payung, jas hujannya tertinggal di motor, dan ia nekat menerobos hujan dari stasiun MRT ke apartemen.
Sampai di lobi penthouse, rambutnya basah kuyup, kemejanya nempel, menggigil.
Rafael yang baru selesai meeting langsung berdiri kaget melihat istrinya seperti kucing kehujanan.
"Alya! Kenapa basah gini? Mana payung kamu?" Rafael langsung mengambil handuk besar dan menyelimuti Alya.
"Lupa... di kosan Ayah..." jawab Alya dengan suara serak, menggigil.
Rafael tanpa banyak bicara langsung menggendong Alya ala bridal style ke kamar mandi, menyalakan air hangat.
"Mandi air hangat sekarang. Cepat."
Setelah mandi, Alya keluar dengan piyama, rambut masih basah. Ia langsung rebah di ranjang. Wajahnya merah.
Rafael yang menyentuh keningnya langsung panik. Panas. Panas sekali.
"Demam," gumamnya.
Ia langsung ambil termometer digital dari kotak P3K. 38,9 derajat.
Alya demam tinggi.
"Alya, kamu minum obat dulu ya," Rafael panik mencari obat demam.
Alya menggeleng lemah. "Mau tidur aja..."
"Tidak bisa. Harus minum obat."
Rafael akhirnya menelepon dokter pribadi keluarga Virel. Dokter Hendra.
"Dok, istri saya demam 38,9! Habis kehujanan! Apa yang harus saya lakukan? Bawa ke rumah sakit sekarang?" Suara Rafael panik, tidak seperti CEO dingin biasanya. Seperti anak kecil yang mainannya rusak.
Dokter di seberang tertawa kecil. "Tenang Tuan Rafael. Tidak perlu ke RS dulu. Beri paracetamol, kompres hangat, minum air putih banyak. Kalau besok pagi masih di atas 39, baru bawa ke RS. Saya kirim perawat untuk cek."
"Tidak usah perawat! Saya yang jaga!" jawab Rafael cepat.
Telepon ditutup.
Rafael kembali ke kamar dengan segelas air putih, obat, dan baskom air hangat dengan handuk kecil.
Ia duduk di tepi ranjang, mengangkat kepala Alya dengan lembut ke pangkuannya.
"Sayang, minum obat dulu," bisiknya.
Alya membuka mata setengah, minum obat dengan susah payah.
Setelah itu Rafael mulai mengompres kening Alya dengan handuk hangat. Tangannya yang biasanya tanda tangan kontrak triliunan, sekarang gemetar mengompres kening istrinya.
Jam 9 malam. Demam Alya naik jadi 39,2. Alya mulai mengigau.
"Ayah... Ayah..." panggilnya pelan.
Rafael semakin panik. Ia menelepon Ayah Alya di Tebet.
"Yah, Alya demam tinggi, mengigau panggil Ayah."
Ayah di seberang langsung membaca doa lewat telepon dengan suara bergetar. Rafael menempelkan HP ke telinga Alya yang sedang terbaring lemah.
Alya yang mendengar suara Ayahnya, air matanya mengalir, tapi sedikit tenang.
Jam 11 malam. Alya masih panas, tapi sudah bisa membuka mata.
"Rafael..." panggilnya lemah.
"Iya saya di sini. Di sini terus," Rafael menggenggam tangannya erat, tidak melepas sedetik pun.
"Lapar..." bisik Alya.
Rafael langsung berdiri seperti disetrum listrik. "Lapar! Mau makan apa? Bubur? Saya pesenin!"
"Gak mau beli... mau bubur buatan kamu... kayak mie kemarin..."
Rafael terdiam. Bubur? Ia tidak pernah masak bubur seumur hidupnya.
Tapi demi Alya, ia akan coba.
Ia lari ke dapur. Buka YouTube: "cara masak bubur ayam simple".
30 menit kemudian, ia kembali dengan mangkuk bubur yang bentuknya... agak aneh. Terlalu encer, ayamnya agak gosong, tapi masih mengepul.
Ia menyuapi Alya dengan sabar, sendok demi sendok, sambil ditiup dulu.
"Enak?" tanya Rafael lagi dengan pertanyaan yang sama seperti waktu mie.
Alya yang sedang demam, memakan bubur encer gosong itu dengan air mata.
"Enak... paling enak..." jawabnya.
Setelah makan, Alya kembali tertidur, kali ini di dada Rafael. Rafael bersandar di headboard ranjang, tidak berani bergerak, takut membangunkan Alya.
Semalaman ia tidak tidur. Ia hanya menatap jam, mengecek suhu Alya setiap 30 menit, mengganti kompres, dan membelai rambutnya.
Jam 3 pagi, demam Alya turun jadi 37,8. Rafael baru bisa bernapas lega.
Ia mengecup kening Alya yang sudah tidak sepanas tadi.
"Tidur yang nyenyak, jagoan saya," bisiknya.
Pagi harinya, Alya bangun. Demamnya sudah jauh turun. Ia melihat Rafael yang tertidur dalam posisi duduk, masih memeluknya, dengan baskom air di bawah ranjang dan mangkuk bubur kosong di nakas.
Alya tersenyum haru. Ia membangunkan Rafael dengan pelan.
"Rafael, bangun... pindah ke bantal..."
Rafael membuka mata dengan panik. "Demamnya? Berapa sekarang? Masih panas?"
Ia langsung menyentuh kening Alya.
Alya tertawa kecil, pertama kalinya setelah demam.
"Sudah mendingan, dokter Rafael. Makasih ya udah dijagain semalaman."
Rafael menghela napas lega dan memeluk Alya erat.
"Jangan sakit lagi. Saya hampir gila semalam," bisiknya di leher Alya.
"Maaf merepotkan..."
"Jangan minta maaf. Kamu sakit, saya yang sakit. Kamu demam, saya yang panas. Kita sudah satu," jawab Rafael.
Hari itu, CEO Virel Group tidak masuk kantor. Alasannya di grup direksi: "Istri demam, izin jaga istri."
Satu kantor heboh. CEO dingin yang tidak pernah izin, izin karena istrinya demam.
Di penthouse, Rafael masih setia menjadi perawat pribadi, menyuapi bubur encer gosongnya yang kedua.
Bersambung...