AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN
Namaku Kirana, 22 tahun.
Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.
Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.
"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"
Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.
Aku pikir hidupku sudah selesai.
Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.
Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:
"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."
Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?
Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: MALAM PERTAMA SETELAH JADI ISTRI SIRI
Malam pertama setelah jadi istri siri Mas Arga, aku tidur masih sendirian di rumah bocor Mbah Wiryo yang angker itu.
Banyak yang kira kalau sudah akad, langsung tinggal serumah, langsung honeymoon, langsung berdua di kamar. Tidak. Aku dan Arga beda. Kami nikah siri karena kasihan, bukan karena cinta menggebu-gebu seperti di sinetron. Dan aku punya 3 syarat yang Arga harus tepati, salah satunya tidak boleh tidur bareng sampai anak lahir, tidak boleh sentuh.
Jadi jam 7 malam, setelah akad siri jam 10 pagi tadi yang cuma dihadiri Pak Karim, Bu Minah, Pak Modin, aku dan Salsa, Arga pulang ke rumah induk Pak Karim yang jaraknya 300 meter lewat kebun karet. Aku tetap di rumah bocor dengan Salsa dan perut 3 bulan 3 minggu ku yang makin berat.
Hujan turun lagi jam 7 malam, deras sekali. Angin kencang dari arah gunung. Atap seng baru pemberian Pak Karim yang sudah dipasang Arga kemarin malam, ternyata masih bocor satu titik kecil di pojok dapur, air menetes pelan ke panci alumunium yang aku taruh di bawahnya. Suara tet... tet... tet... air jatuh ke panci bikin aku tidak bisa tidur nyenyak. Aku sudah 3 bulan tidak tidur nyenyak sejak diusir Mbah Sarti.
Salsa sudah tidur di tikar pandan tipis, meluk boneka kain sobek yang aku jahit dari sisa daster. Perutku kram karena kedinginan, lantai tanah masih lembab. Aku elus-elus perut. "Anak, jangan nakal ya, Nak. Ibu kedinginan, kamu jangan tendang-tendang dulu. Nanti kalau kamu lahir, ibu janji beliin selimut tebal."
Jam 8 malam, ada ketukan pelan di pintu bambu yang sudah lapuk dimakan rayap.
Tok... tok... tok...
Aku kaget. Siapa malam-malam hujan-hujan ke rumah angker Mbah Wiryo? Warga Wonorejo tidak ada yang berani lewat kebun karet jam 8 malam karena katanya ada hantu Mbah Wiryo.
"Kir... ini aku... Arga..."
Suara Mas Arga. Pelan, hampir tidak kedengaran karena hujan.
Aku buka pintu bambu sedikit, cuma 10 cm, takut warga lihat dari jauh pakai senter. Mas Arga berdiri di luar, basah kuyup, pakai jas hujan plastik bening yang sudah sobek di lengan kanan, bawa rantang alumunium besar dan karung kecil berisi kayu bakar kering.
"Maaf ganggu malam-malam, Kir. Tadi Bu Minah masak opor ayam kampung, katanya buat selamatan nikah siri kita. Tapi karena kamu masih di rumah bocor, gak mungkin selamatan di rumah induk, jadi aku anterin ke sini. Sama ini kayu bakar kering, tadi aku simpan di gudang biar gak basah kehujanan. Buat besok masak."
Aku terima rantang itu. Opor ayam kampung. Kuahnya kuning kental, baunya wangi santan dan kunyit. Ada 2 potong paha ayam besar. Sudah 3 bulan, tepat 3 bulan sejak aku diusir Mbah Sarti karena hamil duluan, aku tidak pernah makan ayam. Paling banter telur dibagi dua sama Salsa, atau tempe goreng 1 potong dibagi dua untuk pagi dan sore.
"Terima kasih, Mas..." bisikku, air mata langsung netes, bukan karena opor, tapi karena ada yang peduli sama aku setelah 3 bulan diasingkan dan dihina.
Arga mau balik badan, mau pulang lagi hujan-hujanan 300 meter ke rumah induk, tapi aku panggil pelan.
"Mas, masuk dulu, Mas. Hujan deras. Di bale depan aja. Jangan di dalam rumah. Biar gak basah kuyup. Nanti sakit demam. Kasian."
Arga ragu. Dia ingat syarat kedua: gak boleh sentuh, gak boleh tidur bareng. Tapi dia basah kuyup, kedinginan, bibirnya pucat.
"Gak apa-apa, Kir? Nanti warga lihat, jadi gosip lagi. Tadi Bu Tati sudah curiga..."
"Gak apa-apa, Mas. Bale depan kan luar rumah, bukan dalam rumah. Warga gak lihat, hujan deras begini gak ada yang keluar. Mbah Sarti juga gak akan lewat kebun karet malam-malam."
Akhirnya Arga duduk di bale bambu depan rumah bocor. Bale itu juga bocor sedikit dari samping, jadi dia masih kena tampias hujan. Aku ambil tikar kecil dan taruh di dalam rumah, aku duduk di dalam, dia di luar, dipisah pintu bambu yang bolong-bolong. Jarak cuma 1 meter, tapi rasanya jauh sekali karena status kami aneh: sudah suami istri siri sah agama, tapi duduk pisah pintu bambu karena syaratku.
Kami makan opor ayam berdua, tapi pisah. Aku dan Salsa yang sudah bangun karena wangi opor, di dalam pakai piring seng. Arga di luar pakai tutup rantang sebagai piring. Salsa makan lahap, ayamnya aku suwir kecil-kecil, dia bilang "enak, Ibu, enak, ayam."
"Kir, enak?" tanya Arga dari luar, suaranya pelan.
"Enak, Mas. Enak banget. Sudah lama gak makan ayam," jawabku sambil nangis pelan.
Hening sebentar, cuma suara hujan deras dan suara Salsa ngunyah ayam.
"Kir, besok aku mau benerin atap yang bocor di pojok dapur itu ya. Boleh? Tadi aku lihat dari luar masih netes ke panci. Aku beliin seng baru lagi."
"Boleh, Mas. Tapi jangan siang. Malam aja jam 8 kayak gini. Biar warga gak lihat dan gak jadi gosip lagi. Mbah Sarti kan sudah bilang mau lapor Pak RT."
"Iya, Kir. Aku malam aja. Jam 8."
Setelah makan jam 8.30 malam, rantang kosong, tinggal kuah. Arga cuci rantang pakai air hujan di ember depan rumah, tangannya merah kedinginan.
"Kir, aku pulang dulu ya. Kamu kunci pintu bambu pakai kayu. Jangan buka buat siapa-siapa kecuali Bu Minah. Kalau Rendo datang ganggu malam-malam, teriak aja kencang, aku di rumah induk denger, jarak 300 meter masih kedengaran."
Aku angguk. "Iya, Mas. Hati-hati jalan licin. Senternya jangan lupa."
Arga berdiri, pakai jas hujan plastik sobeknya lagi, dan jalan pelan dalam hujan deras, senter kecilnya kelap-kelip, jadi bayangan hitam lagi di kebun karet, persis seperti di cover novel "Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan" itu. Bayangan yang selalu ada di belakang, tapi tidak pernah jelas wajahnya.
Aku tutup pintu bambu, kunci pakai kayu balok.
Di dalam rumah bocor, aku pegang perut 3 bulan 3 minggu. Anakku. Anak Rendo. Tapi yang ngasih makan opor ayam kampung malam pertama nikah siri adalah Mas Arga, kakaknya Rendo.
Suamiku siri.
Tapi aku masih tidur sendirian, meluk Salsa, di tikar basah separuh, dengan suara tet... tet... tet... air bocor jatuh ke panci di dapur.
Belum nikah KUA. Masih diasingkan di rumah bocor angker. Masih dianggap perawan hamil haram sama Bu Tati dan Mbah Sarti.
Tapi malam ini, untuk pertama kalinya dalam 3 bulan diasingkan, aku makan ayam kampung opor sampai kenyang, dan Salsa juga kenyang.
Dan di kejauhan, dari jendela bambu yang bolong, aku lihat lampu petromak di rumah induk Pak Karim masih menyala sampai jam 11 malam. Di situ Arga pasti belum tidur, masih mikirin aku, istri sirinya yang masih tidur di rumah bocor sendirian dengan perut hamil.
Apakah dia nyesel nikahin janda hamil anak adiknya?
Aku tidak tahu. Yang aku tahu, besok atap dapur tidak akan bocor lagi, karena suami siriku akan benerin malam-malam pakai seng baru.
Itu saja sudah cukup buat aku lanjut hidup besok pagi di pengasingan ini.