"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. "Gisel, apaan sih..."
Jam menunjukkan pukul lima sore saat Zahira baru saja merapikan dokumen di mejanya. Getaran bertubi-tubi dari ponsel di dalam tasnya membuat ia tersenyum geli. Layar ponselnya menampilkan rentetan notifikasi dari grup WhatsApp bernama unik: "Glow Up Anti Halu".
Gisel: Guys! Kumpul yuk sore ini di Kafe 55! Kangen banget parah, udah berabad-abad kita nggak nongkrong lengkap!
Ciki: Gas banget! Jam kerja gue pas banget baru beres nih.
Hanum: Kebetulan banget gue dapet shift sore hari ini di Kafe 55. Jadi kalian yang meluncur ke kafe 55, ditunggu!
Zahira: Otw dari kantor, Sel. Sampai ketemu di sana ya kalian!
.
.
Aroma khas biji kopi sangrai dan seduhan manis langsung menyambut Zahira begitu ia melangkahkan kaki masuk ke Kafe 55. Kafe bernuansa hangat itu punya tempat tersendiri di hatinya tempat ia membanting tulang bekerja paruh waktu selama tiga tahun masa kuliahnya dulu.
"Zahira!" sapa Hanum ceria dari balik meja barista, masih mengenakan apron hitam khas Kafe 55. Ciki yang sudah duduk santai di meja area luar (outdoor) melambaikan tangan heboh.
Tak lama kemudian, Zahira, Ciki, dan Hanum yang menyempatkan diri duduk sejenak di sela tugasnya, sudah berkumpul di meja luar.
Zahira mulai menceritakan pengalaman serunya menghadapi dinamika hari-hari pertamanya di Mersi Corporation, termasuk pertarungan sengitnya membongkar kecurangan data impor.
Hanum dan Ciki mendengarkan dengan mata berbinar dan sesekali berdecak kagum. Namun, ada satu pemandangan aneh di meja itu.
Gisel, sang penggagas kumpul-kumpul sore ini, justru malah asik sendiri mengetik pesan di ponselnya. Senyumnya mengembang lebar, matanya tak berkedip menatap layar.
Zahira menghentikan ceritanya. Ia, Ciki, dan Hanum saling melempar pandangan penuh selidik, lalu perlahan mencondongkan tubuh ke depan, menatap Gisel tanpa suara.
Suasana hening mendadak itu akhirnya membuat Gisel sadar. Ia mendongak dan mengerpkan mata bingung.
"Eh... kenapa pada diam ngeliatin aku gitu?"
"Harusnya kita yang tanya," sindir Ciki sambil melipat tangan di dada. "Yang ngajak kumpul siapa, yang asik pacaran sama HP siapa."
"Senyum-senyum sendiri kayak dapat undian miliaran rupiah gitu. Cerita nggak sekarang?" tambah Hanum gemas.
Gisel menyeringai jahat, tak sanggup lagi menahan kebahagiaan yang meluap-luap. Ia memutar ponselnya dan menyodorkan layarnya tepat di tengah meja. "Nih, lihat sendiri!"
Di layar ponsel terpampang foto manis Gisel bersama seorang pria bertubuh jangkung dengan senyum hangat Arkan. Pria itu tampak merangkul bahu Gisel mesra.
"HWAAAA! SERIUSAN?!" teriak Ciki dan Hanum kompak, hampir melompat dari kursi mereka. Zahira sampai menutup mulutnya karena terkejut sekaligus gembira.
"Demi apa?! Kak Arkan?!" seru Zahira tak percaya. "Bukannya dia kakak kelas kita pas SMA dulu yang kamu taksir diam-diam itu, Sel?!"
"Akhirnya jadian juga setelah bertahun-tahun jadi secret admirer?!" cerocos Ciki heboh.
Gisel tertawa lepas dengan wajah merona merah. "Iyaaaa! sudah mau jalan dua bulan,... Maaf ya bukanya aku menutupi ini semua sama kalian."
"Iya... iya... kita iyain aja ... Yang penting Minggu besok kita ditraktir makan ramen dan nonton bareng ya." Jawab Hanum, yang pura-pura menunjukan wajah kecewa.
Gisel meraih tangan ketiga sahabatnya itu ke tengah-tengah menja dan menggenggamnya.
"Siap, aku traktir kalian Minggu depan."
Pekikan riuh dan tawa renyah keempat sahabat itu memecah suasana sore di area luar Kafe 55. Kebahagiaan Gisel menular sempurna ke seluruh meja.
Keseruan mereka terhenti sejenak ketika deretan pelanggan baru mulai berdatangan memadati kafe. Hanum menghela napas pasrah.
"Duh, tugas memanggil. Pelanggan udah rame nih. Ciki, lu buruan gantiin shift, janji bantu-bantu kan?"
"Siap, Bos!" sahut Ciki berdiri bersama Hanum untuk mulai bertugas.
Zahira yang merasa haus berniat mengambil pesanan minuman dingin tambahan ke dalam kafe. Saat menanti di dekat meja racik, pintu kaca kafe terdorong.
Tiga orang pria melangkah masuk. Salah satunya adalah sosok tinggi berwibawa dengan kemeja kasual ditangannya jas yang sudah ia lepas. Rezvan, kakak kandung Gisel.
Mata Rezvan menangkap keberadaan Zahira di depan meja kasir. Pria itu tersenyum hangat dan menghampiri.
"Zahira? Lagi di sini juga?" sapa Rezvan ramah.
Zahira sedikit terkejut, mendadak merasa canggung. Meski sudah beberapa kali bertemu dengan Rezvan karena berteman dekat dengan Gisel, aura tenang dan tampan milik kakak sahabatnya itu selalu berhasil membuatnya sedikit salah tingkah.
"Eh, Mas Rezvan... Iya, Mas. Lagi kumpul sama Gisel dan yang lain di luar," jawab Zahira sopan dengan senyum tipisnya.
Gisel yang menyusul masuk ke dalam kafe untuk mencari Zahira langsung menyipitkan mata begitu melihat interaksi tersebut. Otak jahilnya langsung berputar kilat.
"Ehem! Ada yang berduaan nih, kayaknya semesta sengaja mempertemukan ya?" goda Gisel lantang sembari merangkul lengan Zahira.
"Gisel, apaan sih..." bisik Zahira pelan, wajahnya mendadak terasa hangat dan merona merah.
Gisel malah makin melunak. Ia menatap kakaknya dan Zahira bergantian. "Tapi jujur ya, kalau dilihat-lihat... kak Rezvan sama Zahira tuh cocok banget tahu! Yang satu ganteng dan mapan, yang satu cantik, pinter, serba bisa. Pas banget!"
Melihat rona merah yang kian jelas di pipi Zahira yang malu-malu, Rezvan justru tertawa kecil. Ia memanfaatkan momen itu untuk mengusili adiknya agar Zahira tak semakin canggung.
"Kamu tuh ya, Sel, mentang-mentang baru jadian sama Arkan, semua orang mau dijodoh-jodohin," sahut Rezvan santai, lalu melirik Zahira dengan tatapan jahil.
"Tapi ya... kalau sama Zahira sih, kakak sama sekali nggak keberatan. Kamunya aja yang keberatan punya ipar sahabat sendiri."
"Tuh kan! kak Rezvan aja setuju!" seru Gisel tertawa puas, sementara Zahira makin menunduk pura-pura sibuk merapikan sedotan di minumannya untuk menutupi rasa canggungnya yang membumbung tinggi.
"Udah ah, Sel, yuk ke depan," ajak Zahira cepat-cepat menarik tangan Gisel sebelum godaan sahabatnya itu makin melantur. "Permisi ya, kak Rezvan."
.
Sepeninggal Zahira dan Gisel yang melangkah ke area luar, dua teman Rezvan yang berdiri di belakangnya langsung menyenggol bahu Rezvan heboh.
"Boleh juga selera lu, Van! Cantik banget, anggun lagi," goda salah satu temannya.
"Gas lah, kapan lagi dapet lampu hijau langsung dari adek sendiri?" timpal temannya yang satu lagi sambil tertawa.
Rezvan hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum tipis, menatap punggung Zahira yang menghilang di balik pintu kaca.
Ting!
Denting notifikasi pesan masuk menghentikan lamunan Rezvan. Ia merogoh saku celananya dan membuka layar ponsel. Sebuah pesan singkat dari nomor yang baru saja tersimpan semalam muncul di layar:
Bianka: Hai Rezvan! Malam ini ada waktu senggang nggak? Kebetulan aku habis photoshoot deket kantor kamu . Ngopi bareng yuk kalau kamu lagi nggak sibuk?
Rezvan menatap pesan dari Bianka itu sejenak. Alisnya terangkat tipis, memikirkan apakah ia harus menerima ajakan wanita yang baru ditemuinya di klub malam itu atau tidak.
Rezvan: Maaf, saya tidak bisa. Mungkin lain waktu saja." Balas Rezvan yang membuat Bianka sedikit kecewa di sebrang sana atas balasan chat dari Rezvan, pria yang belum bisa Bianka taklukan.