Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: CLARISSA JUAL DATA
Pukul 08.00 pagi. Vantec Tower lantai 88. Ruang CEO.
Alesha baru tiba pakai dress putih CEO, hamil dua bulan yang sempat bikin mual sesaat. Baru mau duduk di kursi kebesaran, pintu ruangannya terbuka lebar.
Hendra masuk dengan muka tegang, bawa ponsel usang dan flashdisk hitam.
"Nyonya, kami pergoki dia di area pantri jam enam pagi tadi. Dia mau colok flashdisk ini ke komputer terminal server utama."
Alesha kernyitkan alis. "Siapa?"
"Clarissa."
Dua pengawal wanita giring Clarissa masuk ruangan. Ia masih pakai seragam OB abu-abu yang sama, wajah pucat pasi dan jari gemetar hebat.
Hendra taruh ponsel usang itu di atas meja CEO.
Alesha ambil perangkat itu dan cek isinya.
Di dalam ada bukti nyata: foto file kode sumber AleshaOS yang baru diselamatkan Chen semalam, daftar seribu pelanggan VVIP, dan chat WhatsApp:
Clarissa: Om Botak, kode sumber AleshaOS terbaru sudah ku dapat. 50 juta ya?
Om Botak: 10 juta. Kalau datanya valid, langsung ku transfer sekarang.
Clarissa: 10 juta tidak apa-apa, Om. Tolong, ini buat biaya obat Bapak.
Alesha dongak, tatap lurus ke Clarissa yang langsung jatuh berlutut peluk kakinya.
"Nyonya... ampuni saya... Bapak saya butuh biaya obat 15 juta... gaji OB 4 juta tidak cukup... saya terpaksa..."
Alesha tarik pelan kakinya dari pelukan itu.
"Clarissa. Kemarin kau disuruh pakai kostum robot bagiin brosur. Aku tetap bayar gaji bulanan mu. Ayah mu strok, aku juga tanggung semua biaya rumah sakit 20 juta. Tapi kau berani jual perusahaan yang hasilkan untung 9 triliun cuma seharga 10 juta? Kau anggap aku sebodoh itu?"
Suasana ruang CEO mendadak sunyi mencekam.
Vion masuk lewat pintu penghubung pribadi di belakang ruangan. Dengar percakapan itu, amarah langsung nyala di matanya.
"BERANI KAU JUAL PERUSAHAAN ISTRI KU?!" bentak Vion murka.
Alesha ulurkan tangan tahan lengan Vion. "Jangan kotori tangan mu, Vion."
Ia kembali tatap Clarissa dengan mata membeku.
"Tahu apa ganjaran buat mata-mata perusahaan di Vantec?"
Clarissa geleng cepat sambil nangis.
"Dipecat tidak hormat dan masuk penjara lima tahun."
Clarissa jatuh setengah pingsan.
"Tapi, ingat ayah mu lagi strok, aku akan kasih hukuman alternatif."
Alesha jentikkan jari sekali. "Hendra, seret dia ke ruang arsip lantai dasar."
Ruang arsip di lantai satu adalah salah satu tempat paling dihindari di gedung itu. Ukuran tiga kali tiga meter, tanpa jendela, tanpa AC, minim cahaya. Cuma penuh seribu kardus arsip berdebu, bau kertas tua dua dekade, dan sarang kecoa. Belum ada yang sanggup bertahan di sana lebih dari sepuluh menit.
Clarissa digelandang paksa ke ruangan itu.
Pintu besi tebal didorong terbuka. Krek...
Di dalam begitu gelap gulita. Cuma andalkan satu bohlam kuning kecil kedip-kedip lemah.
"TIDAK! AKU TAKUT RUANG GELAP! AKU TAKUT KECOA!" jerit Clarissa histeris.
Pengawal dorong tubuhnya masuk. Brak! Pintu besi dikunci rapat dari luar.
Dari balik pintu, terdengar ratapan memilukan.
"ALESHA! KELUARKAN AKU! ADA TIKUS!"
Alesha berdiri tegak di depan pintu besi itu dampingi Vion, dengan hamil dua bulan yang ia jaga.
"Hendra, pastikan dia dikunci 24 jam penuh. Kasih satu botol air mineral dan sepotong roti tawar. Matikan lampunya. Biar dia rawat seribu kardus arsip itu. Biar dia ngerti rasanya diperlakukan kayak dokumen sampah yang tidak berguna."
Pukul 20.00 malam, di penthouse lantai 99, Alesha tampak tidak nafsu makan malam.
"Vion, apa tindakan ku kurung dia 24 jam di ruang gelap itu terlalu kejam?"
Vion suapin sesendok sup sarang burung ke mulut istrinya. "Tidak sama sekali, Ratuku. Kamu terlalu berhati lembut. Kalau itu keputusan ku, aku akan kurung dia seminggu penuh sama seratus tikus. Kamu bahkan masih baik hati kasih dia roti."
Alesha elus lembut perutnya yang berisi Arka. "Arka, lihatlah. Mama tidak pernah mukul orang. Mama cuma kurung mereka dalam gelap biar mereka belajar hargai arti cahaya."
Tepat pukul 08.00 pagi besoknya, genap 24 jam berlalu.
Pintu besi ruang arsip ditarik terbuka.
Clarissa melangkah keluar dengan penampilan sangat menyedihkan. Rambutnya penuh debu dan sarang laba-laba, seragam OB-nya kotor, matanya bengkak parah karena nangis semalaman di ruang tanpa cahaya. Di genggamannya, ia masih pegang sepotong roti yang tidak jadi dimakan karena takut setengah mati sama tikus.
Ia langsung jatuh bersimpuh di depan sepatu Alesha yang menunggu pakai dress putih bersih.
"Nyonya... ampun... saya sumpah tidak akan ulangi lagi... saya janji..."
Alesha ulurkan tangannya. "Bangkitlah, Clarissa."
Clarissa dongak kaget.
"Mulai hari ini, status mu bukan lagi OB. Kau resmi diangkat jadi petugas arsip. Rapikan seribu kardus dokumen ini dalam tiga hari. Kalau tugas selesai baik, aku akan naikkan gaji mu jadi lima juta biar bisa biayai obat ayah mu."
Clarissa terperanjat tidak percaya.
Alesha senyum tipis. "Aku pecat kamu sebagai pesuruh yang khianat jual data perusahaan. Tapi aku terima kamu kembali sebagai pustakawan arsip yang jaga keutuhan data. Tipis bedanya, tapi besar maknanya. Paham?"
Clarissa nangis sesenggukan sambil peluk kaki Alesha, kali ini air mata syukur tulus. "Saya paham... Nyonya... terima kasih banyak..."
Di belakang, Vion bisik pelan ke Hendra, "Lihat itu. Setelah hukum dia, ia kasih secercah harapan. Itulah cara seorang ratu didik bawahannya. Sangat cerdas."
Hari itu, tumpukan seribu kardus arsip mulai dirapikan Clarissa dengan tangan gemetar, ditemani koloni kecoa yang sudah jadi teman setianya semalaman.
Dan sistem AleshaOS kembali aman mutlak.