Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Dua puluh tahun. Tepat dua puluh tahun Kayna berdiri di dunia ini tanpa pernah sekalipun merasakan apa itu dicintai.
Ayahnya tidak pernah memandangnya seperti seorang anak perempuan. Setiap kali mata pria itu menatapnya, yang terlihat hanyalah kebencian yang pekat, seolah kehadiran Kayna sendiri adalah dosa terbesar yang tak bisa dimaafkan.
"Kamu yang membunuh ibumu."
Kalimat itu menjadi sapaan yang didengarnya setiap pagi, nasihat di setiap makan malam, dan ucapan terakhir sebelum terlelap.
Ayahnya tidak pernah memukulnya secara fisik, namun kata-katanya menghancurkan jiwa Kayna jauh lebih menyakitkan daripada pukulan apa pun.
Ia telah mencoba segalanya. Belajar dengan giat, menjaga rumah tetap rapi, tidak pernah meminta lebih dari apa yang diberikan. Ia berharap suatu hari, ayahnya akan melihatnya bukan sebagai pembunuh, melainkan sebagai putrinya. Namun harapan itu hanya menjadi debu yang tertiup angin, berulang kali, selama dua puluh tahun ini.
Hari ini, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-20, tidak ada kue, tidak ada ucapan. Hanya keheningan yang dingin, dan tatapan tajam ayahnya yang menusuk hingga ke tulang. Kayna menyadari satu hal pahit bahwa tidak peduli seberapa keras ia berusaha, tempatnya di sini tidak akan pernah berubah. Ia tidak diinginkan. Ia tidak dicintai.
Maka ia memutuskan untuk pergi.
Bukan karena menyerah, melainkan karena ia percaya ada tempat lain yang lebih pantas untuknya. Ia telah membaca banyak kisah tentang reinkarnasi, tentang lahir kembali ke keluarga yang penuh kasih sayang, di mana ia akan disambut dengan pelukan hangat dan tawa yang tulus. Di sana, ia akan menjadi anak yang berharga. Di sana, kehadirannya akan dirayakan, bukan disesali.
Kayna menulis surat singkat di atas kertas, lalu meletakkannya di meja belajar tanpa menunggu siapa pun membacanya. Ia melangkah perlahan ke tepi tempat tertinggi yang bisa dicapainya, tempat di mana angin berhembus bebas tanpa ada yang menahannya. Napasnya terasa ringan untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Tidak ada lagi rasa takut. Tidak ada lagi rasa sakit.
"Semoga di kehidupan selanjutnya," bisiknya pada angin yang membelai wajahnya, "aku bisa menjadi anak yang dicintai."
Ia melangkah maju.
BRAK..
***
Ketika Kayna membuka mata, ia tidak berada di tempat yang seharusnya.
"Dimana ini?"
Ia terbaring di atas tempat tidur yang empuk, dikelilingi tirai sutra berwarna keemasan yang menjuntai anggun. Ruangan ini begitu megah, dipenuhi perabotan berukir indah yang berkilauan terkena cahaya matahari yang masuk lewat jendela tinggi. Perlahan ia bangkit, berjalan menuju cermin besar yang berdiri di sudut ruangan.
Dan di sana, ia melihat wajah yang bukan miliknya.
Wajah itu cantik, namun matanya menyimpan kesombongan yang tajam, persis seperti tokoh antagonis dalam novel yang pernah dibacanya.
Beberapa detik kemudian, semuan ingatan dari pemilik tubuh itu datang seketika, menghantam kesadarannya dengan keras. Ia tahu siapa wanita ini. Ia tahu apa yang akan terjadi padanya.
"Astaga..." suaranya bergetar, "Kenapa aku harus menjadi tokoh yang akan dibunuh oleh tunangannya sendiri?"
Nasib ini jauh lebih buruk daripada yang ditinggalkannya. Kayna tidak menyangka dirinya yang memutuskan mengakhiri hidup untuk mencari hidup yang lebih baik malah masuk ke dalam tubuh antagonis yang akan segera mati.
"Bagaimana ini? Sebentar lagi mereka akan memanggil ku untuk memberi hukuman karna sudah mencelakai Freya.."
Tok tok tok..
"Duh.. ngapain ya? aku nggak mau mati di tangan orang lain.. lebih baik mati di tangan sendiri.."
Pandang Kayna jatuh pada jendela besar yang terbuka lebar di samping kamarnya, lalu dengan cepat ia melihat ke luar dan mendapati bahwa kamarnya berada di tempat yang cukup tinggi.
"Kayaknya aku bakal langsung mati kalau terjun dari sini.."
Kayna mengangkat kakinya sedetik sebelum suara pintu terbuka terdengar.
"Nona Kay.. NONA! APA YANG ANDA..... NONAAAAAA"
BRAK
..gagal terus🤣