NovelToon NovelToon
Surat Dari Balik Sekat

Surat Dari Balik Sekat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Action
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.

Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.

Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Jalan Menuju Pegunungan

Keberangkatan dimulai sebelum subuh, ketika langit masih gelap dan bintang-bintang belum sepenuhnya pudar. Seluruh santri berkumpul di halaman utama dengan bawaan masing-masing: buntalan kain berisi pakaian, kitab-kitab penting, dan bekal makanan kering yang dibungkus daun pisang.

Kiai Wahid memimpin doa singkat sebelum keberangkatan, suaranya bergetar meski berusaha tegar. "Kita berjalan bukan karena kita lemah, tapi karena kita bijaksana. Allah menyertai orang-orang yang menjaga amanah, termasuk amanah nyawa yang dititipkan kepada kita."

Rombongan dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, masing-masing dipimpin oleh seorang ustaz atau ustazah senior, untuk menghindari kecurigaan jika berpapasan dengan patroli di jalan. Santri putra berjalan dalam kelompok terpisah dari santri putri, meski jarak antar kelompok tidak terlalu jauh, cukup untuk saling menjaga tanpa melanggar aturan yang, anehnya, masih dijaga ketat meski dalam keadaan darurat sekalipun.

Zaki berjalan dalam kelompok yang dipimpin Ustaz Malik, bersama Darto dan beberapa santri lain. Di depan mereka, sekitar lima puluh meter, berjalan kelompok santriwati yang dipimpin Bu Nyai. Zaki bisa melihat sosok Nafisah di antara mereka, mengenakan kerudung cokelat tua dan menggendong buntalan yang tampak berat di punggungnya.

"Jalannya masih jauh," kata Ustaz Malik, memimpin dari depan dengan langkah mantap meski usianya sudah tidak muda lagi. "Kita akan istirahat setiap dua jam. Jaga tenaga kalian."

Jalan setapak yang mereka lalui berkelok-kelok melewati sawah, kemudian menanjak perlahan memasuki area perbukitan yang ditumbuhi pohon-pohon bambu dan jati. Udara pagi terasa dingin, tapi keringat mulai membasahi punggung Zaki setelah satu jam berjalan.

"Kang," bisik Darto di sampingnya, "kamu dengar tidak, semalam ada yang bilang, katanya sudah ada pesawat Belanda yang terlihat di langit daerah utara."

"Pesawat?"

"Untuk mengintai, katanya. Atau mungkin lebih buruk."

Zaki menoleh cemas ke langit yang mulai terang, mencari-cari bayangan pesawat yang mungkin muncul kapan saja. Tidak ada apa-apa, hanya awan tipis yang bergerak pelan, tapi ketegangan itu tetap menempel di dadanya seperti baju basah yang tidak kunjung kering.

Menjelang siang, rombongan berhenti untuk istirahat di sebuah lapangan kecil dekat sungai, tempat yang cukup terlindung oleh pepohonan rimbun. Para santri duduk berkelompok, membuka bekal, dan minum air dari sungai yang jernih.

Zaki duduk bersama Darto dan beberapa santri lain di bawah pohon beringin besar. Dari kejauhan, ia bisa melihat kelompok santriwati beristirahat di sisi lain lapangan, cukup jauh untuk menjaga jarak, tapi cukup dekat untuk saling terlihat.

"Kang Zaki," panggil sebuah suara.

Zaki menoleh. Rukmini berdiri beberapa meter darinya, membawa sebuah bungkusan kecil.

"Mbak Rukmini? Kenapa ke sini?"

"Bu Nyai mengizinkan saya mengantar air minum untuk kelompok Ustaz Malik. Katanya bergantian, supaya adil." Rukmini tersenyum tipis, meski matanya tampak lelah. "Ini, titipan dari Nafisah."

Ia menyerahkan bungkusan kecil itu, lalu berbalik pergi tanpa banyak kata, seolah tahu bahwa waktu dan kesempatan seperti ini terlalu berharga untuk dihabiskan dengan basa-basi.

Zaki membuka bungkusan itu dengan hati-hati. Di dalamnya ada sepotong singkong rebus dan secarik kertas kecil yang dilipat rapi.

"Kang, saya tahu keadaan ini berat untuk kita semua. Tapi saya bersyukur kita masih berjalan di jalan yang sama, meski terpisah jarak. Jaga diri Kang baik-baik. Saya akan terus berdoa untuk keselamatan kita semua. — N."

Zaki membaca surat itu dengan dada yang penuh, lalu menyimpannya di saku baju, dekat dengan kitab tipis yang selalu ia bawa.

"Surat lagi?" tanya Darto, menyeringai meski wajahnya lelah.

"Surat lagi," jawab Zaki, tersenyum kecil untuk pertama kalinya sejak keberangkatan pagi tadi.

Perjalanan dilanjutkan setelah istirahat, dan medan yang dilalui semakin menanjak dan berat. Beberapa santri mulai kelelahan, terutama yang lebih muda, tapi mereka saling membantu, bergantian membawa barang yang lebih berat.

Menjelang sore, ketika matahari mulai condong ke barat, rombongan tiba di sebuah punggung bukit yang memberikan pemandangan luas ke arah desa yang baru saja mereka tinggalkan. Dari kejauhan, Sumberwungu tampak tenang, atap-atap genteng berkilau ditimpa cahaya senja, seolah tidak ada yang berubah.

Tapi kemudian, sebuah suara gemuruh terdengar dari kejauhan, dan seluruh rombongan berhenti serempak.

"Itu apa?" bisik seorang santri, suaranya ketakutan.

Ustaz Malik mengangkat tangan, memberi isyarat diam. Semua orang menahan napas, mendengarkan.

Gemuruh itu semakin jelas, dan tak lama kemudian, tiga bayangan pesawat terlihat melintas di langit jauh, di atas arah yang mereka tinggalkan, terbang rendah dan cepat.

"Tiarap!" perintah Ustaz Malik, meski pesawat itu masih jauh. "Semua tiarap, sembunyi di balik semak!"

Rombongan berhamburan mencari perlindungan di balik pepohonan dan semak-semak. Zaki menarik Darto ke balik sebatang pohon besar, jantungnya berdegup kencang. Dari sudut matanya, ia mencari-cari sosok Nafisah di antara kekacauan, dan menemukan Bu Nyai sedang menarik beberapa santriwati ke balik bebatuan besar, termasuk Nafisah yang tampak pucat tapi berusaha tenang.

Pesawat-pesawat itu terbang melintas tanpa menjatuhkan apa pun, hanya lewat, mungkin sedang melakukan pengintaian. Tapi suara mesinnya yang menggelegar cukup untuk membuat seluruh rombongan membeku dalam ketakutan selama beberapa menit yang terasa seperti selamanya.

Setelah suara pesawat itu menghilang di kejauhan, Ustaz Malik memberi isyarat aman, dan rombongan perlahan-lahan keluar dari persembunyian mereka, wajah-wajah pucat dan napas yang masih tersengal.

"Kita harus lebih cepat," kata Ustaz Malik, suaranya tegang. "Sebelum gelap, kita harus sudah sampai di tempat yang lebih aman."

Rombongan melanjutkan perjalanan dengan langkah yang lebih cepat dan waspada, kesadaran baru menghantui setiap orang bahwa perang bukan lagi sekadar kabar dari kota, melainkan sesuatu yang bisa muncul di langit mereka sendiri, kapan saja, tanpa peringatan.

Zaki menggenggam erat tali buntalannya, sesekali menoleh ke arah kelompok santriwati yang berjalan tidak jauh darinya, memastikan Nafisah masih ada di sana, masih berjalan, masih selamat. Dan di tengah ketakutan yang mencengkeram dadanya, ia berjanji pada diri sendiri, apa pun yang terjadi, ia akan menjaga jarak itu tetap dekat, meski dunia di sekeliling mereka mulai runtuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!