Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Tiba-tiba gemuruh datang disertai hujan lebat di luar rumah hingga jendela terbuka, gemercik air dari balkon bahkan terdengar kedalam kamar. Angga menelan salivanya kasar takut perkataan Raisa beberapa saat lalu tiba-tiba berubah menjadi kutukan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Raisa, tarik kembali omonganmu!" Ujarnya namun Raisa tak mengindahkannya.
Wanita itu justru tersenyum melihat wajah pucat suaminya padahal sebelumnya laki-laki itulah yang mengatakan kalau ia berharap mati terlebih dahulu. Tak ingin berlama-lama menatap wajah suaminya ia kembali berbaring menarik selimut dan tidur membelakangi lelaki itu.
"Entah aku atau kau yang mati, intinya kita hanya akan bercerai mati" ucapnya dari balik selimut.
***
Arni yang sibuk mengedit kartu undangan pernikahannya didepan jendela kamarnya tiba-tiba terkejut saat tiba-tiba angin kencang membuka jendela kamarnya, titik-titik air hujan bahkan membasahi layar laptopnya membuat ia terpaksa bangun untuk menutupnya, layar ponselnya masih menyala sebab ia tengah melakukan panggilan video dengan Steven.
"Kenapa tiba-tiba hujan ya? Padahal diperkiraan cuaca bilangnya tidak hujan" ucap Arni setelah ia duduk kembali.
Lelaki di seberang sana bangkit dari tempat tidurnya untuk melihat keluar, meski diluar gelap namun cahaya remang dari teras rumah masih menangkap bayangan angin yang menerpa ranting-ranting pada tumbuh-tumbuhan di halaman.
"Mungkin salah, ini hujannya deras. Kamu sudah mengunci semua pintu dan jendela, sayang?" Tanya Steven.
"Sudah, sayang. Owhh iya, menurut mu berapa banyak undangan yang harus kita cetak? Aku mau pernikahan kita itu berkesan sayang, yang dihadiri orang-orang penting juga"
"Orang-orang penting seperti siapa?" Tanya Steven mengerutkan keningnya.
"Yahhh, seperti artis-artis terkenal, model senior aku, penyanyi favorit aku. Pokoknya semua idola aku harus menghadiri acara pernikahan kita nanti" jawab gadis ini antusias sambil membayangkan bagaimana keseruan dan kemegahan acara pernikahannya nanti.
"Pokoknya kamu harus mengusahakan untuk orang-orang ada di pesta pernikahan kita sayang, kamu mengerti?"
Steven hanya diam, dalam benaknya ia membandingkan Arni dan Raisa.
"Dulu Raisa tak pernah menuntut apapun padaku, dia sangat berbeda dengan Arni" batinnya.
Namun beberapa menit kemudian ia tersadar kalau kini Arni lah yang akan menjadi pendamping hidupnya apapun yang terjadi, segera ia mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Aku tidak boleh memikirkan Raisa terus-menerus" batinnya lagi.
Raisa terbangun dari tidurnya dan menatap jam pada layar ponselnya, ia baru tertidur tiga puluh menit dan kini terbangun karena haus. Dilihatnya Angga masih memainkan ponselnya dengan wajah murung, keduanya saling membuang pandangan mereka ke sisi lain meski mereka penasaran dengan apa yang dilakukan satu sama lain.
Tak ingin berlama-lama menahan dahaga, wanita muda ini beranjak dari tempat tidurnya sementara Angga langsung berbaring begitu istrinya tersebut berjalan melewati pintu kamar.
"Semenjak dia tidur disini tidurku jadi terganggu" ucapnya kesal.
Raisa terus menuruni anak tangga lalu pergi ke dapur untuk mengambil air minum dari kulkas, sama halnya dengan Steven yang baru saja keluar dari kamarnya sebab ia juga merasa haus meski udara tengah dingin. Melihat Raisa berdiri dengan rambut terurai dan piyama putih membuatnya terkejut, memang pada malam beberapa lampu dirumah itu sengaja dimatikan agar pengeluaran listrik tidak melonjak.
"AAAAA" pekiknya melangkah mundur membuat wanita yang tengah minum itu terkejut juga tersedak, ia segera meletakkan gelasnya diatas meja lalu berbalik menatap kesal pada Steven.
"Ada apa? Kau membuatku terkejut" ucapnya.
Mendengar suara Raisa yang begitu familiar, Steven membuka matanya perlahan dan menghampiri Raisa yang kembali meraih gelasnya diatas meja, keduanya saling menatap satu sama lain sebelum Laluna datang menghidupkan lampu. Melihat Raisa dan Steven berdiri di depan kulkas membuatnya mengerutkan keningnya lantaran keduanya sama terkejut melihat kedatangannya yang tiba-tiba.
"Sedang apa kalian disini?" Tanyanya, mendadak Steven menjadi gagap sambil menunjuk-nunjuk Raisa yang tengah meneguk kembali isi gelasnya.
"Itu Ma, aku, aku dan Raisa, kami hanya"
"Aku haus, mau minum tapi tiba-tiba Steven berteriak karena terkejut melihat ku, mungkin dia mengira kalau aku ini hantu" jawabnya.
"Heummm" gumam wanita paruh baya ini menaikkan sudut hidungnya.
"Jangankan dia, hantu saja bisa berfikir kalau kau ini sebangsa mereka" lanjutnya, tak tahan dengan celotehan mamanya Steven cekikikan.
Merasa dirinya tengah dipermalukan Raisa mengisi kembali air minum didalam gelasnya sambil menunggu Laluna kembali ke kamarnya, begitu wanita paruh baya tersebut meninggalkan mereka Raisa segera melempar air di gelasnya ke wajah Steven, mendadak senyuman lelaki ini hilang, ia bahkan meneguk sebagian besar air yang diguyurkan oleh mantan pacarnya tersebut.
"Minum itu air dari bangsa hantu" ucap Raisa lalu melangkahkan kakinya untuk pergi, sayangnya sendalnya yang licin menginjak genangan air dibawah kaki Steven hingga ia terjatuh, beruntung lelaki itu dengan sigap menangkap tangan dan pinggangnya namun air mulut Steven menetes membasahi wajah Raisa.
"Aghhhh, lepas!"
"Lepaskan aku!" Teriaknya melepaskan tubuhnya dari dekapan Steven, karena terkejut akhirnya Steven melepaskan genggaman tangannya dari Raisa.
Bhuggg
"Awwww!"
Raisa menjerit memegangi pinggang dan kepalanya saat tubuhnya menghantam kuat permukaan lantai, Steven yang masih merasa lucu dengan kejadian itu tertawa hingga ia ikut tersungkur ke lantai. Mendengar suara ribut dari dapur, ketiga pembantu rumah tangga yang tidur di paviliun belakang terbangun dan penasaran untuk melihat siapa yang baru saja berteriak dirumah majikan mereka ditengah malam.
Ketiganya berlari kecil mengintip Raisa dan Steven yang berada diatas lantai, ketiganya turut tertawa pelan saat melihat Steven tertawa puas bersama Raisa, sementara itu Angga yang merasa istrinya kembali terlalu lama terbangun untuk menunggu kedatangan Raisa.
"Kenapa dia lama sekali?" Tanyanya dalam hati.
Tiba-tiba Raisa terdiam saat merasakan perutnya basah namun bukan karena air, menyadari ada yang salah dengan Raisa, Steven buru-buru membantunya berdiri dan berjalan dengan kaki pincang kearah ruang tamu yang lampunya masih menyala. Raisa memegangi perutnya dan merasakan tangannya sedikit lengket dan bau amis, diangkatnya tangannya dibawah lampu dan mendapati kalau telapak tangannya kini berubah merah.
"Steven!" Ucapnya memanggil nama adik iparnya itu.
Steven meraih pergelangan tangan wanita itu juga melihat kearah perutnya, bau amis yang mirip dengan aroma besi itu kini tercium oleh keduanya. Baju putih Raisa juga berubah menjadi merah, Steven menarik baju Raisa dan melihat bahwa jahitan diperut wanita itu kini terlepas dan mengeluarkan darah.
"Perutmu berdarah, ayo kuantar ke kamarmu" ucapnya menggendong Raisa menaiki anak tangga, wajah panik Steven sejenak dipandang oleh kedua mata Raisa, meski kesakitan ia tak lagi menghiraukannya.
"Wajah ini, sudah berapa lama aku tak menatapnya begitu dekat" batinnya.
Brakkk
Angga terlonjak dari tempat duduknya, melihat Steven menggendong Raisa membuat Angga menyalakan lampu kamarnya.
"Jahitan diperut Raisa terlepas, Kak"
"Apa? Bagaimana bisa?"
Kedua saudara itu lalu sibuk mencari kotak p3k di dalam kamar tersebut sementara Raisa kini mulai merasa kesakitan, darah yang keluar dari perutnya kini semakin banyak membasahi kasur.
"Steven, disini!"
Angga yang menarik kedua kakinya yang lumpuh kearah Steven terlihat oleh Raisa, hatinya kembali tergerak seolah lelaki itu kini terlihat lebih menyedihkan dibanding dirinya.
Steven segera meraih kotak tersebut dan mulai membersihkan luka diperut Raisa, sementara Angga yang bersusah payah kembali naik ke atas tempat tidur memegangi kedua tangan Raisa.
"Aaaa, Steven sakit!" Pekiknya saat lelaki itu mulai membasuh perut Raisa menggunakan cairan pembersih luka.
"Tenanglah, ini hanya sebentar. Aku akan menjahit kembali lukamu" ucapnya membersihkan alat-alatnya agar steril.
Melihat benang dan jarum mulai diikat membuat Raisa ketakutan hingga tak sadar memeluk salah satu lengan kekar Angga, satu jahitan kini Steven selesaikan dan Raisa menggigit kuat lengan Angga.
"HUAAAAAA!" Teriak Angga kesakitan.
Steven mengerutkan keningnya sembari terus menyelesaikan jahitan diperut Raisa sebelum akhirnya kembali ia bersihkan dengan betadine dalam jumlah banyak.
"Raisa, sudah selesai" ucap Steven membersihkan tangannya namun Raisa tak menjawab.
Angga menepuk pelan pipi istrinya, beberapa detik kemudian Raisa melepaskan pelukannya membuat kedua lelaki itu panik, Angga dengan marah menarik kerah baju Steven.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa dia tidak bangun?" Tanyanya marah.
Lelaki ini menepis tangan kakaknya untuk memeriksa denyut nadi Raisa yang berbaring lemas dipenuhi keringat.
"Kamu jangan panik dulu, Kak. Mungkin Raisa hanya pingsan"
Tok tok tok
"Angga"
Keduanya menoleh ke arah pintu, Laluna berdiri menatap mereka kebingungan setelah mendengar suara teriakan Angga barusan. Beruntung Steven segera duduk membelakangi noda darah dibawah tubuh Raisa hingga Laluna tak menyadarinya.
"Kok, bau amis ya" ucap Laluna menutup hidungnya, kedua anak lelakinya tersebut lalu secara sigap menutupi kotak p3k diatas tempat tidur dengan selimut.
"Tadi Mama mendengar suara teriakan dari kamar ini, kalian lagi ngapain malam-malam begini?"
"Suara? Suara apa Ma? Kami tak mendengar suara apapun, benar kan, Steven"
Kedua lelaki itu tersenyum kaku membohongi Laluna yang tengah kebingungan itu, namun karena tak melihat ada keanehan pada ketiuha orang di dalam kamar tersebut membuat Laluna kembali menutup pintu setelah menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan hidung tertutup.