NovelToon NovelToon
Surat Cinta Nyasar

Surat Cinta Nyasar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Kenangan di Taman Kota

Mereka keluar dari lobi utama perusahaan dan berjalan menuju area parkir. Bukannya menuju deretan mobil mewah, Fajar malah mengeluarkan dua unit sepeda listrik sewaan.

Melihat kendaraan roda dua itu, raut wajah Kirana langsung memancarkan ketidaknyamanan. Seumur hidupnya, ia terbiasa duduk manis di bangku belakang mobil eksklusif ber-AC. Namun, kekhawatirannya perlahan luntur. Toh, di sampingnya sekarang ada Fajar—pacar pertamanya yang seolah punya seribu cara untuk menunjukkan padanya apa itu realita kehidupan.

Fajar memimpin jalan mengendarai sepeda listrik tersebut, menembus angin sore menuju taman kota yang berjarak sekitar dua puluh kilometer dari gedung PT Arunika Jaya.

Setibanya di sana, suasana kehidupan yang sesungguhnya langsung menyambut mereka. Taman itu begitu hidup dan riuh; ada orang tua yang penuh kasih sayang menemani anak-anaknya bermain, pasien masa pemulihan yang sedang belajar berjalan perlahan, hingga pemandangan kocak seorang pemuda yang tertidur pulas di kursi taman lalu ditegur oleh petugas keamanan.

"Tak kusangka ada taman sebagus dan sehidup ini," gumam Kirana pelan, terpesona oleh pemandangan yang jarang ia saksikan dari balik kaca patri ruang direkturnya.

"Hmm? Kamu barusan bilang sesuatu?" tanya Fajar yang sedang merapikan parkiran sepedanya.

"Ahh... nggak ada," elak Kirana cepat, kembali memasang raut tenangnya. "Jadi, di depan gerbang ini kita mau ngapain?"

"Hmm... kita makan jajanan kaki lima, yuk!" ajak Fajar antusias.

Dahi Kirana berkerut bingung. Matanya menatap Fajar dengan lugu. "Jajanan kaki lima? Maksudnya... jajanannya memiliki lima kaki?"

Fajar sontan menepuk jidatnya, menahan tawa yang nyaris meledak. "Ya ampun, Bu Direktur. Nggak, bukan itu maksudnya."

"Terus apa?"

"Pedagang kaki lima itu sebutan buat penjual makanan di pinggir jalan. Ya... karena kamu dari lahir udah terbiasa hidup mewah, wajar saja kalau kamu nggak tahu istilah beginian," jelas Fajar sambil tersenyum maklum.

"Ouuh..." Kirana manggut-manggut. "Tapi kata Ayah, jajanan di pinggir jalan itu nggak enak, kotor, dan ada racunnya."

Fajar mendengus geli mendengar doktrin khas orang kaya itu. "Apalah. Bisa saja ayahmu itu cuma denial, kan? Nggak ada yang tahu rasanya sebelum nyobain sendiri."

"Iya juga, sih," gumam Kirana mulai goyah.

"Udah, ngobrolnya jangan sambil berdiri kaku di sini. Ayo kita jalan sekalian berburu jajanannya," ajak Fajar santai, mulai menuntun Kirana masuk.

"Iya."

Mereka berdua mulai menyusuri deretan gerobak pedagang yang berjejer ramai. Aroma gurih langsung menguar di udara. Berbagai macam menu merakyat tersaji di sana, mulai dari telur gulung, cilung, maklor, takoyaki lokal, kebab, hingga es cendol.

Tanpa ragu, Fajar melangkah menuju tempat penjual telur gulung, bersiap mentraktir dan memberikan pengalaman kuliner pinggir jalan pertama untuk pacar tercintanya itu.

Setibanya di depan gerobak penjual telur gulung, Fajar langsung memesan dengan gaya akrabnya yang khas.

"Mang, beli telur gulungnya dua, ya! Pake saus," pesan Fajar sambil mengacungkan dua jari.

"Dua aja nih, Mas?" tanya si Mamang penjual sambil mulai menuangkan adonan telur ke minyak panas.

"Iya, belum gajian. Sisa uang di kantong tinggal dua ribu nih, Mang. Hehe," canda Fajar tak tahu malu.

"Siap, ditunggu, ya."

Sambil menunggu, Fajar menarik kursi plastik terdekat dan duduk. Ia menepuk kursi kosong di sebelahnya, memberi isyarat agar Kirana ikut duduk. Sang "Putri Es" itu pun menuruti dengan canggung.

Fajar menatap wajah Kirana yang terkena pantulan cahaya lampu jalanan. "Kamu masih tegar, kan?"

Kirana menoleh, menatap mata Fajar sejenak. "Masih."

"Tenang saja, kita lalui ini bersama," ucap Fajar lembut. Tangan besarnya perlahan meraih jemari Kirana dan menggenggamnya erat, menyalurkan rasa aman yang tak pernah Kirana dapatkan di kantor.

"Emm... iya," balas Kirana dengan suara pelan, pipinya sedikit merona.

"Setelah ini mau ke mana lagi?" tanya Fajar.

"Terserah kamu saja."

Fajar langsung menghela napas panjang dan memijat pangkal hidungnya. "Haa... oke, oke. Para wanita memang hobi banget bikin susah cowok. Bukannya to the point, malah ngasih teka-teki."

Kirana mengerjap bingung. "Teka-teki?"

"Hahaha, nggak apa-apa. Nggak usah cari tahu," kekeh Fajar, memaklumi kepolosan Kirana soal bahasa universal kaum perempuan. "Ouh, oke."

"Nih, Mas. Udah matang," interupsi si Mamang sambil menyodorkan dua tusuk telur gulung berasap.

"Nih, Mang, uangnya. Terima kasih, ya!"

"Sama-sama, anak muda!"

Fajar menyodorkan satu tusuk telur gulung itu ke hadapan Kirana. "Nih, Kirana."

"Buat aku?"

"Iya dong, kan aku yang traktir."

Kirana menerimanya dengan hati-hati. "Makasih."

Seusai menikmati jajanan sederhana namun hangat itu, mereka meninggalkan area pedagang kaki lima dan berjalan kaki menuju area utama taman kota. Melewati gerbang yang terbuka lebar, pemandangan taman yang asri dan diterangi lampu-lampu taman langsung menyambut mereka. Setiap sudut dipenuhi oleh orang-orang dengan aktivitasnya masing-masing.

"Nah, kita sudah masuk area utamanya! Mau foto buat kenang-kenangan?" tawar Fajar.

"Iya, boleh."

Mereka berjalan mendekati sebuah pohon rindang yang estetik. Fajar dengan santai memberhentikan seorang pengunjung yang lewat untuk meminta bantuan menjepretkan foto.

Cekrek!

"Nih, Mas, HP-nya," ucap pengunjung itu mengembalikan ponsel Fajar.

"Makasih banyak, Mas!"

Fajar mengecek layarnya dan menyodorkannya ke Kirana. "Wah, lihat Kirana. Bagus banget, kan?"

Kirana tersenyum kecil melihat potret mereka berdua yang tampak begitu natural dan bahagia. "Haha, iya. Nggak kusangka aku bisa bersenang-senang di tempat seperti ini."

"Ya... pokoknya dibawa santai saja," ucap Fajar. Tanpa basa-basi, ia langsung merebahkan dirinya telentang di atas hamparan rumput di bawah pohon tersebut.

Mata Kirana membelalak kaget. "Fajar! Kenapa kamu rebahan di rumput? Bukannya kotor?"

"Hahaha, nggak apa-apa kok. Ini rumput sintetis, bukan rumput asli berlumpur," jelas Fajar santai sambil melipat tangan di belakang kepala.

"Sintetis? Maksudnya apa?"

"Maksudnya rumput ini sengaja didesain seperti karpet tebal agar tidak mengotori pakaian dan tidak bikin gatal. Jadi, para pengunjung memang dibebaskan untuk duduk atau rebahan di sini."

"Oouh... lembut banget, ya, kelihatannya?" gumam Kirana penasaran.

"Iya, empuk tahu. Coba deh."

"Baiklah... aku coba."

Dengan sedikit ragu dan hati-hati agar pakaiannya tidak kusut, Kirana mulai menurunkan badannya. Begitu punggungnya menyentuh hamparan rumput sintetis itu, rasa tegang di otot-ototnya perlahan mengendur. Saat ia benar-benar merebahkan diri di sebelah Fajar, pandangannya langsung terbuka lebar.

Dari bawah sana, ia bisa melihat pemandangan langit malam yang luas, siluet daun-daun rindang yang bergoyang tertiup angin, dan burung-burung malam yang terbang bebas melintasi awan.

"Indah sekali," gumam Kirana takjub, matanya berbinar memantulkan cahaya kota dari kejauhan. "Tapi... kenapa masih banyak burung yang terbang melintas padahal ini sudah malam, Fajar?"

Fajar menoleh sedikit, ikut menatap langit malam di atas mereka. "Huh? Oh... biasanya burung-burung itu sedang bermigrasi."

"Migrasi?"

"Iya, berpindah-pindah tempat mencari lokasi yang lebih hangat atau lebih aman buat mereka," jelas Fajar santai.

"Ouuh..." Kirana mengangguk pelan. Entah kenapa, penjelasan sederhana itu terasa begitu pas dengan perasaannya saat ini—ia juga sedang mencari tempat yang aman untuk bersandar dari dinginnya tekanan sang ayah.

Hening sejenak menyelimuti mereka berdua, hanya disela oleh sayup-sayup suara pengunjung taman dan semilir angin malam.

"Gimana? Kamu sudah lega sekarang?" tanya Fajar lembut, memecah keheningan.

Kirana menoleh ke arah Fajar, mengukir senyum tulus yang amat jarang ia perlihatkan di balik meja direktur. "Udah. Jauh lebih baik."

Mendengar itu, Fajar tersenyum lega. Ia bangkit dari rebahannya, membersihkan sedikit celananya, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Kirana berdiri. "Kalau begitu, karena pikiranmu sudah tenang... aku izin pamit pulang ya, Bu Direktur."

Kirana meraih tangan Fajar dan ikut bangkit. Meski ada setitik rasa enggan untuk mengakhiri malam ini, ia tetap mengangguk. "Emm... iya."

Mereka pun beranjak meninggalkan area rumput sintetis taman kota tersebut. Kembali ke tempat parkir, Kirana membonceng di belakang Fajar. Sepeda listrik itu kembali melaju menembus angin malam, namun kali ini perjalanan terasa jauh lebih hangat dan tak lagi secanggung saat mereka berangkat.

Dua puluh kilometer terlewati hingga akhirnya gedung pencakar langit PT Arunika Jaya kembali menjulang di hadapan mereka. Setelah Kirana turun di pelataran lobi dengan selamat, Fajar memutar arah sepedanya.

Pria itu tersenyum lebar, melambaikan tangannya ke arah sang bos sekaligus kekasihnya. "Sampai jumpa besok di medan perang, Kirana!"

Kirana membalas lambaian itu dengan senyum tipis yang tak bisa disembunyikan. Beban di pundaknya terasa jauh lebih ringan. Bersama Fajar, ia merasa siap menghadapi apa pun yang menunggunya di balik pintu kantor esok hari.

[Bersambung]

1
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr
Purnamanisa
keknya seru... save dulu, baca lagi nanti 😁😁
🍓ADIRA🍓
Tenang Na... selagi ada fajar apapun bisa /Smirk//Smirk//Smirk/
🍓ADIRA🍓
Wah kenapa tidak dapat kontrak Thoorr? Ok ttp semangat Thoorr 💪
🍓ADIRA🍓
suapin donk jar 😂😂
🍓ADIRA🍓
Lihat fajar nanti juga langsung menghangat kok bay 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw semangat jar 💪
🍓ADIRA🍓
Ciyyeeee mas 🤭 akwakakakaww 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Harus cerdas lah Ndrong... kan calsu Bu Direktur ☺️
🍓ADIRA🍓
wkkwkw.😂😂 fajar langsung merona tuh Bu Kir 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Ayang mbeb gtu Jar /Joyful//Joyful//Joyful/
🍓ADIRA🍓
Dirimu yg go publik loh 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk ti ati burungmu terbang jar 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw 🤣🤣🤣 dalam hatinya, Bu Direktur sebenarnya jga seneng tuh dapat pengakuan cinta dari fajar 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
salah mimpi 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Susulin gih Na, sebelum fajar semakin merajalela karena rindu 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr, perkuat lagi konfliknya biar cerita semakin menarik... semangat /Good//Good/
Hamzah: Ya.. kalau gaada kendala ya😇
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw kecewa ya jar 😅😅
🍓ADIRA🍓
Dan segera lah bergegas ke RSJ kau Bay 🤣🤣🤣
Nona Cloe
heloo qha qha
Hamzah: halo 👋🏻 terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!