Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Luka yang tak berdarah
Suasana di dalam ruangan VIP restoran itu kembali tenang saat berkas dokumen penawaran diletakkan di atas meja. Adrian, dengan wibawa dan ketenangan seorang pimpinan tertinggi Dewangga Group, membuka obrolan bisnis secara lugas. Pria itu menyebutkan angka penawaran yang terbilang sangat tinggi untuk pembelian lahan proyek tersebut.
Namun, Nyonya Dewi Ambarwati tidak langsung menerima begitu saja. Wanita paruh baya berpenampilan anggun itu tersenyum tipis, lalu menyahut dengan nada negosiasi yang halus.
"Bagaimana jika saya berikan potongan harga hingga lima puluh persen, Pak Adrian?" tawar Bu Dewi santai. "Tapi dengan satu syarat... kita bekerja sama dalam pembangunan dan pengelolaan hotel tersebut. Jadi, aset itu menjadi milik kita berdua."
Adrian menyandarkan punggungnya di kursi, menggeleng pelan tanpa ragu. "Maaf, Nyonya Dewi... tidak bisa. Mungkin di kesempatan lain kita bisa bekerja sama dalam proyek berbeda. Namun untuk lahan ini, Dewangga Group hanya berniat membelinya secara utuh."
Melihat ketegasan Adrian yang tak dapat digoyahkan, Bu Dewi akhirnya mengalah dan menyetujui penawaran harga awal. Namun, alih-alih menyelesaikan transaksi, wanita itu justru mengalihkan pembicaraan untuk memamerkan dan membanggakan Anita, putri tirinya di depan Adrian dan Nayla.
Sikap yang diperlihatkan Bu Dewi sukses membuat dada Nayla terasa makin teriris perih.
"Jika nanti Pak Adrian membutuhkan desain interior tambahan, putri saya Anita ini bisa membantu," ujar Bu Dewi dengan raut wajah penuh kebanggaan, menepuk pelan jemari Anita. "Anggap saja ini bonus kecil untuk pembelian lahan dengan harga yang sangat bagus ini."
Anita menyahut anggun dengan senyuman yang teratur. "Iya, Pak Adrian... Saya juga bisa bantu promosikan hotelnya nanti kalau sudah jadi. Saya punya jangkauan yang cukup luas di media sosial dan di kalangan kelas atas, yang sangat cocok menjadi calon pengunjung hotel Anda."
"Terima kasih. Tidak perlu repot-repot," potong Adrian tenang namun dingin. "Dewangga Group sudah memiliki divisi tersendiri untuk menangani hal-hal tersebut."
"Sama sekali tidak merepotkan kok, Pak Adrian," sela Bu Dewi lagi, tak mau kalah. "Putri saya ini memang anak yang sangat suka membantu, cerdas, dan pandai bergaul."
Nayla membisu seribu bahasa di kursinya. Pandangan matanya nanar memperhatikan gerak-gerik wanita yang melahirkannya itu. Di depan matanya sendiri, sang ibu memperlakukan dan menyayangi putri orang lain dengan begitu hangat, sebuah kehangatan yang tak pernah sekali pun Nayla rasakan sepanjang belasan tahun hidupnya.
Karena transaksi telah disepakati, Adrian secara sopan mempersilakan mereka untuk menyantap hidangan yang telah dipesan. Namun, Anita mendadak mengangkat tangannya, memanggil pelayan.
"Maaf ya, Pak Adrian... Saya izin ganti menu makanan," tutur Anita dengan nada mengada-ada. "Saya tidak bisa makan makanan yang terlalu berat. Saya harus menjaga bentuk tubuh dan berat badan agar tetap stabil."
Bu Dewi tertawa kecil, mengelus bahu Anita penuh kasih sayang. "Anak muda memang sudah seharusnya begitu, Pak Adrian. Apalagi untuk anak gadis seumuran Anita ini... Laki-laki kan pada dasarnya memang hanya melihat keindahan fisik dulu. Bukan begitu, Pak Adrian?"
Deg!
Kalimat itu menjadi cambukan terakhir yang menghantam ketahanan mental Nayla. Sebelum Adrian sempat merespons perkataan Bu Dewi, Nayla buru-buru berdiri dari kursinya.
"P-Pak Adrian, nyonya Dewi, nona Anita... permisi, saya izin ke toilet sebentar," pamit Nayla dengan suara bergetar tertahan.
Tanpa menunggu jawaban, Nayla memutar tubuhnya dan melangkah cepat keluar dari ruangan VIP. Adrian mengerutkan alisnya dalam-dalam. Iris matanya menatap punggung istrinya yang menjauh dengan rasa cemas mendalam. Ia sadar betul ada sesuatu yang sangat tidak beres dengan Nayla sejak awal pertemuan ini.
..
Cklek
Pintu kamar mandi VIP tertutup rapat. Nayla melangkah lunglai mendekati wastafel, meremas pinggiran marmer dingin itu dengan jemari yang gemetaran hebat. Tubuhnya mematung selama beberapa menit, menahan badai emosi yang bergemuruh di dalam dadanya.
"Bapak..." bisik Nayla lirih, matanya menatap pantulan dirinya di cermin yang mulai kabur oleh genangan air mata. "Aku... aku bertemu Ibu hari ini, Pak... Tapi Ibu tidak lagi menganggapku ada... Dia justru lebih menyayangi dan membanggakan putri orang lain..."
Air mata hangat akhirnya lolos menetes membasahi pipi Nayla. Namun, sebelum ia sempat menyapu air matanya, suara helaan napas dan langkah sepatu bertumit tinggi terdengar masuk ke dalam kamar mandi.
"Nayla, kamu itu sudah hampir dua puluh delapan tahun, kan?" ujar sebuah suara dingin dari belakangnya. "Jangan bersikap konyol dan kekanak-kanakan seperti ini."
Nayla membalikkan badannya cepat. Di sana, Bu Dewi berdiri bersedekah tangan dengan raut wajah tanpa dosa.
"Ibu..." panggil Nayla dengan suara tercekat, air matanya kian deras mengalir. "Kenapa... kenapa Ibu tega melakukan semua ini? Ibu meninggalkan aku dan Ayah dulu... hanya karena harta?!"
Bu Dewi menyunggingkan senyum sinis yang teramat menyakitkan. "Tentu saja! Bapak kamu itu miskin, Nayla! Ibu tidak tahan hidup menderita dengannya! Ibu ingin memakai gaun-gaun mahal, tas-tas brand luar negeri... dan bapakmu yang tidak berguna itu tidak akan pernah bisa mewujudkannya!"
"Cukup, Bu!" bentak Nayla bergetar, dadanya naik turun menahan gumpalan amarah dan rasa sakit. "Jangan hina Bapak! Bapak itu pria yang hebat! Beliau bisa membesarkanku dan menyekolahkanku sampai aku bisa mandiri dan berdiri di posisi ini... dan semua itu tanpa setetes pun bantuan dari Ibu!"
"Ya itu memang sudah kewajibannya sebagai orang tua!" balas Bu Dewi mencibir tanpa beban. "Sudahlah, tidak usah berdrama di depanku. Nyatanya bapakmu memang pria miskin yang tidak berguna."
"CUKUP, IBU!" jerit Nayla tertahan, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. "Bapak sudah tenang di surga! Jangan sekali-kali Ibu menjelekkan nama beliau lagi!"
Bu Dewi terdiam sejenak, menatap Nayla dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bukannya merasa bersalah, wanita itu justru terkekeh pelan, sebuah tawa dingin yang amat menusuk jiwa Nayla.
"Oh... jadi dia sudah mati?" gumam Bu Dewi santai. "Baguslah kalau dia sudah tamat."
Raut wajah tanpa emosi dari ibunya saat mendengar kabar kematian ayahnya sukses melumpuhkan separuh jiwa Nayla. Hatinya hancur berkeping-keping. Wanita di depannya ini benar-benar telah kehilangan hati nuraninya.
Bu Dewi mengambil satu langkah maju, menatap Nayla dengan tatapan tajam nan penuh ancaman.
"Dengar ya, Nayla... Jangan pernah berani-berani kamu mengaku sebagai anakku di depan umum!" ancam Bu Dewi pedas. "Aku malu punya anak yang tidak pandai merawat diri sepertimu! Lihat Anita! Dia langsing, cantik, terawat... Anak seperti dia pasti mudah mendapatkan suami yang kaya, mapan, dan membanggakan orang tua!"
"Ibu..." bisik Nayla pilu, menatap ibunya dengan pandangan tak percaya. "Selama ini... Ibu tidak pernah ada untuk merawat atau membimbingku! Ibu tidak punya hak sedikit pun untuk mengomentari fisikku seperti itu! Ibu bahkan lebih memilih membesarkan dan memanjakan anak orang lain... sementara anak yang Ibu lahirkan sendiri Ibu buang Begitu saja!"
"Cukup dramanya, Nayla!" potong Bu Dewi keras, mengibaskan tangannya malas. "Kamu itu sudah dewasa, bukan anak kecil lagi! Intinya, jangan pernah merusak reputasiku... apalagi sampai memberitahukan hal ini kepada Pak Adrian! Mengerti?!"
Tanpa menunggu jawaban Nayla, Bu Dewi berbalik dengan angkuh dan melangkah keluar dari kamar mandi, meninggalkan Nayla yang bersandar lemah pada dinding keramik, terisak dalam duka yang mendalam.
...
Sementara itu, suasana di meja makan ruangan VIP terasa canggung.
Hanya ada Adrian dan Anita yang duduk berseberangan, sementara Rio sengaja berdiri agak jauh di dekat pintu untuk memberi privasi. Anita yang merasa mendapat kesempatan emas untuk mendekati sang CEO tampan, mulai meluncurkan aksi basa-basinya.
"Ngomong-ngomong, Pak Adrian..." panggil Anita dengan suara yang dibuat seanggun mungkin, memamerkan senyuman manisnya. "Saya dengar kita ini lulusan dari universitas yang sama, ya? Ya... walaupun beda angkatan beberapa tahun, sih."
Adrian hanya melirik sekilas tanpa berminat merespons lebih lanjut, jemarinya sibuk mengetik pesan di ponselnya, mengirimkan pesan cemas kepada Nayla yang belum kembali.
"Minggu depan, kampus kita mengadakan acara alumni dan reuni akbar," lanjut Anita pantang menyerah. "Mungkin... Pak Adrian ada waktu untuk datang? Kalau Pak Adrian mau, kita bisa datang bersama-sama ke acara itu."
Adrian meletakkan ponselnya di atas meja, menatap Anita dengan pandangan mata yang begitu dingin dan datar.
"Maaf, saya tidak bisa," jawab Adrian singkat dan tegas. "Hari itu jadwal saya sangat padat. Dan kalaupun saya memiliki waktu luang untuk hadir... saya hanya akan datang bersama istri saya."
Deg!
Anita tersentak kaget. Matanya membelalak tak percaya. "I-istri...? Pak Adrian... sudah menikah?!"
best suka ama ceritanya
❤❤
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️