Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Kedua — 05
Malam kelam yang penuh dengan awan tebal menutupi bulan sepenuhnya, seolah alam sendiri bersekongkol menyembunyikan apa yang akan terjadi.
Karina menunggu hingga lonceng tengah malam berbunyi, hingga suara langkah kaki penjaga patroli yang telah menjauh dari kompleks selir tingkat rendah, sebelum akhirnya menyelinap keluar dari Paviliun Bunga Layu dengan langkah sepelan mungkin.
Gerbang barat, sejauh yang ia ingat dari denah istana yang pernah ia lihat sekilas dalam ingatan Xue Lan terletak di sisi yang jarang dilalui.
Menghubungkan dapur besar dengan area penyimpanan lama yang telah lama tidak digunakan sejak sebuah kebakaran kecil melahap sebagian gudangnya bertahun tahun silam.
Ia menyusuri lorong lorong sepi dengan hati hati menempel pada bayangan tembok setiap kali mendengar suara langkah dari kejauhan.
Ia menahan napas ketika sesosok penjaga lewat tanpa menyadarinya dan bersembunyi di balik tumpukan kayu bakar yang menumpuk di dekat dapur besar.
Di persimpangan lorong yang menghubungkan dapur dengan area penyimpanan lama, Karina hampir tertangkap basah ketika dua penjaga yang sedang berpatroli tiba tiba berhenti tepat di seberang tempatnya bersembunyi, salah satu dari mereka menyalakan obor tambahan untuk memeriksa area sekitar dengan lebih saksama.
"Kudengar penjagaan diperketat malam ini." ucap salah satu penjaga kepada rekannya, suaranya cukup keras untuk terdengar jelas oleh Karina yang menahan napas di balik tumpukan kayu.
"Ada apa sebenarnya?"
"Bukan urusan kita, cukup jalankan tugas, jangan banyak bertanya.”
“Terlalu banyak bertanya bisa membuat seseorang berakhir dipindahtugaskan ke perbatasan atau mungkin lebih buruk."
Kedua penjaga itu akhirnya melanjutkan patroli mereka ke arah lain, langkah kaki mereka menjauh perlahan hingga akhirnya benar benar hilang ditelan kesunyian malam.
Karina menunggu beberapa saat lagi untuk memastikan keamanan sebelum melanjutkan langkahnya, jantungnya masih berdegup kencang dari momen menegangkan yang baru saja ia lalui.
Ketika akhirnya sampai di dekat gerbang barat, Karina memperlambat langkahnya, matanya menyapu sekeliling dengan saksama.
Gerbang itu tampak seperti yang ia duga. Terlihat usang, jarang digunakan, dengan gembok besar yang tampak lebih untuk formalitas ketimbang keamanan sesungguhnya, mengingat karatnya yang sudah cukup parah.
Namun yang membuat jantungnya berdegup lebih kencang bukanlah gerbang itu sendiri, melainkan cahaya redup lentera yang terlihat berkelap kelip di baliknya, dari arah gudang tua yang menempel pada tembok gerbang tersebut.
Ada seseorang di sana.
Karina bergerak mendekat dengan langkah yang nyaris tanpa suara, bersembunyi di balik sudut tembok yang runtuh sebagian.
Di dalam gudang itu, dua sosok berdiri berhadapan, satu di antaranya postur tubuhnya tegap dan pakaian penjaga yang tampak seperti seorang perwira.
Sementara yang lain mengenakan jubah polos tanpa lambang, wajahnya tersembunyi di balik bayang bayang lentera yang mereka bawa.
"…..sudah dipastikan surat surat itu akan cukup meyakinkan dewan penasihat." kata sang perwira, suaranya rendah namun cukup jelas terdengar dalam kesunyian gudang itu.
"Tulisan tangannya sudah ditiru sedemikian rupa bahkan juru tulis istana sendiri tidak akan curiga."
"Apa saksi yang akan bersaksi tentang pertemuan rahasia dengan pemberontak selatan?" tanya sosok berjubah itu.
"Sudah disiapkan." jawab sang perwira.
"Seorang pedagang yang berutang budi besar kepada kita, bersedia bersaksi apa pun yang diperlukan. Tidak akan ada yang bisa membantahnya."
Karina merasakan darahnya seolah membeku mendengar percakapan itu.
Konfirmasi telak bahwa seluruh tuduhan terhadap Mu Ran memang direkayasa sepenuhnya, dari bukti tertulis hingga kesaksian yang akan disampaikan di hadapan dewan.
"Bagaimana dengan dokumen asli yang ditemukan Pangeran Ketujuh?" tanya sosok berjubah itu lagi, dan pertanyaan itu membuat Karina semakin menajamkan pendengarannya, menyadari bahwa inilah inti dari seluruh persoalan yang selama ini ia kejar.
"Masih belum ditemukan."
"Kami sudah menggeledah kediamannya dua kali, tapi dokumen itu seperti lenyap begitu saja. Kalau sampai jatuh ke tangan yang salah sebelum sidang..."
"Carilah lebih teliti lagi." potong sosok berjubah itu, suaranya kini menajam penuh ancaman.
"Tuanku tidak akan senang jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."
"Satu hal lagi, ada laporan bahwa seorang selir tingkat rendah terlihat berkeliaran di sekitar taman pada malam Pangeran Ketujuh terluka. Selidiki.”
Kalau ternyata dia tau sesuatu, urus dengan diam diam. Jangan sampai ada kegaduhan yang menarik perhatian Nyonya Su."
Kalimat itu jatuh seperti pisau yang tepat menghunjam jantung Karina.
Bukan lagi sekadar kekhawatiran abstrak tentang kemungkinan dirinya dicurigai, melainkan konfirmasi telak bahwa dirinya kini telah menjadi target yang nyata.
Ia menahan napas sekuat mungkin, memaksa tubuhnya tetap diam sempurna, suara sekecil apa pun bisa berarti akhir dari segalanya malam ini.
Sang perwira mengangguk sekali lagi, kemudian melangkah keluar dari gudang itu melalui pintu yang berlawanan arah dengan tempat Karina bersembunyi, diikuti sosok berjubah yang memadamkan lenteranya sebelum ikut menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan gudang itu kembali dalam kesunyian total.
Karina menunggu waktu yang aman sebelum akhirnya berani bergerak dari persembunyiannya.
Ia menyelinap masuk ke dalam gudang yang kini kosong itu, matanya menyapu setiap sudut dengan cepat, mencari petunjuk apa pun yang mungkin ditinggalkan.
Di sudut gudang, tersembunyi di balik tumpukan peti kayu yang tampak sengaja disusun, dan ia menemukan sebuah papan lantai yang sedikit longgar.
Dengan tangan yang gemetaran ia mengangkat papan itu dan didalam sebuah lubang kecil yang dilapisi kain minyak agar tidak lembap, tergeletak sebuah kotak kayu sederhana.
Ia tidak berani membukanya di tempat itu juga, waktu terlalu sempit dan risikonya terlalu besar jika seseorang tiba tiba kembali.
Karina membungkus kotak itu dengan kain yang ia bawa, menyelipkannya ke balik pakaiannya, dan menyelinap keluar dari gudang itu secepat mingkin.
Sekarang ia tidak hanya membawa dirinya sendiri, melainkan sesuatu yang mungkin menjadi kunci untuk menyelamatkan nyawa Mu Ran.
Sesampainya kembali di Paviliun Bunga Layu dengan selamat, jantungnya masih berdegup kencang, Karina mengunci pintu kamarnya rapat rapat sebelum akhirnya membuka kotak kayu itu dengan tangan yang masih gemetar.
Di dalamnya, tergulung rapi, terdapat lembaran lembaran dokumen asli, surat perintah dengan cap resmi yang menunjukkan tanda tangan dan stempel yang berbeda dari yang biasa digunakan untuk dokumen resmi kerajaan, disertai catatan tanggal yang bertepatan persis dengan hari kematian Jenderal Han Wei.
“Ini dia bukti asli yang dicari cari Pangeran Mu Ran.” dadanya dipenuhi campuran kelegaan dan ketakutan.
Ia meneliti lembaran lembaran itu lebih saksama di bawah cahaya lilin yang diredupkan, membandingkan satu dokumen dengan yang lain.
Salah satu lembaran tampak berbeda dari yang lainnya. Kertasnya itu lebih tebal dengan tinta lebih pudar, seperti sudah ditulis bertahun tahun sebelum dokumen dokumen lain yang menyertainya.
Karina tidak sepenuhnya menguasai aksara resmi istana, namun ia bisa mengenali pola stempel yang berulang di sudut kanan bawah.
Terdapat lambang yang sekilas mirip dengan yang pernah ia lihat pada kepingan giok yang diterimanya.
Burung layang layang, meski kali ini disertai simbol tambahan yang menyerupai pedang bersilang.
“Kalau benar dokumen ini bukan hanya bukti kematian jenderal, melainkan juga wasiat atau catatan pribadinya sendiri.”
Ia harus menemukan cara menyampaikan dokumen ini kepada pihak yang tepat, entah Wei Chen, Nyonya Su, atau langsung kepada dewan penasihat sendiri pada hari sidang.
Menyerahkannya langsung kepada Wei Chen tampak sebagai pilihan yang paling wajar, namun Karina tidak tau bagaimana caranya menemukan lelaki itu tanpa menunggu isyarat berikutnya darinya, dan waktu yang tersisa sudah terlalu sempit jika hanya menunggu.
Menyampaikannya kepada Nyonya Su mungkin lebih memungkinkan, mengingat kedudukan wanita itu yang cukup tinggi untuk didengar oleh dewan penasihat, namun Karina masih belum sepenuhnya yakin di pihak mana sesungguhnya Nyonya Su berdiri.
Jika salah perhitungan bisa berarti dokumen ini justru berpindah tangan ke pihak yang ingin memusnahkannya.
“Hah… mungkin cukup pastikan dokumen ini aman untuk malam ini, dan mungkin besok ada jalannya sendiri."
Dikesunyian kamarnya, kotak kayu berisi dokumen berbahaya itu tersembunyi di balik tumpukan kain miliknya, Karina menatap layar tembus pandang yang muncul dengan pembaruan besar.
[Pembaruan status.]
[Poin Kehidupan: 19.700 / 100.000.]
[Poin besar diberikan atas keberhasilan menemukan bukti kunci yang dapat membalikkan keadaan sidang.]
[Catatan penting: pengguna kini telah menjadi target pengawasan aktif oleh pihak yang belum teridentifikasi.]
[Tingkat risiko terhadap pengguna meningkat drastis.]
[Waktu yang tersisa sebelum sidang: satu hari.]
Ia menyembunyikan kotak itu didasar peti pakaiannya yang paling jarang disentuh, menutupinya dengan lapisan kain yang telah using agar tidak menarik perhatian siapa pun.
Ia berbaring di atas kasurnya dengan mata terbuka lama sekali, mendengarkan setiap derit kayu dan desir angin di luar jendela.
buang aja,karina mati lagi aja