Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.
sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.
dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Jangan pedulikan saling mendukung
Bel berbunyi sekolah selesai semua murid-murid pulang.
aku pulang berjalan kaki dengan gembira sambil memikirkan ibu di rumah
"ibu sedang apa ya? dan bapak pasti tidak di rumah selesai berjualan bapak pasti berkerja lagi."
dalam hatiku "bapak berkerja keras. selesai berjualan berkerja lagi sebagai buruh demi mencari sesuap nasi untuk keluarga yang ia punya di rumah yang sederhana".
"pokoknya aku dan kakak akan belajar dengan giat dan juga aku harus semangat belajar aku tidak lagi mempedulikan omongan orang lain tidak berguna yang tidak mengerti kehidupanku.
Aku harus mempersiapkan nya mulai dini dari mulai mengerjakan tugas tepat waktu aku harus disiplin di sekolah! dan aku akan berusaha agar nilai rapor ku lebih bagus lagi."
Tidak terasa aku berjalan pulang ke rumah tiba-tiba sampai di rumah.
"aku pulang."
langsung berganti pakaian dan langsung menuju ke dapur melihat ibu sedang memasak.
"sudah pulang bagaimana apa teman sekelas nya ada yang membicarakan mu lagi" tanya ibu.
"Tidak Bu di sekolah aku hanya belajar aku sudah tidak peduli omongan orang lain!"
jawabku.
Ibu
"Bagus jangan didengarkan kalo mereka mengatakan apa-apa cukup diam kan mereka pun akan kebingungan."
jawabku
"ya ibu benar jangan pernah dengar kan mereka kalo mengatakan apa-apa tentang diri kita cukup diam dan ibu juga benar karena terkadang lebih baik tidak membicarakan apapun kepada siapapun, karena mereka tidak akan mengerti apalagi peduli!"
aku mengatakanya Sambil tersenyum
Ibu mencuci sayuran di dekat keran air dengan tenang.ibu tampak lebih longgar dan tidak tegang lagi.Kami tidak membahas lagi perkataan orang-orang di luar tadi. tak lama kakak ku pulang sekolah ...ia melanjutkan langkahnya masuk ke rumah dengan wajah lelah. Kakak meletakkan tas sekolahnya di atas meja makan, lalu duduk di dekat Ibu yang masih sibuk membilas sayuran. Bau harum tumisan mulai tercium dari dapur, menciptakan suasana hangat.
Kakak sempat memandang kami bergantian, seolah merasakan ada sesuatu yang sempat terjadi sebelum ia pulang. Namun, melihat senyum Ibu yang mulai kembali, ia memilih untuk tidak bertanya. Kami sengaja membiarkan keheningan yang damai ini tetap terjaga, dalam diam untuk meninggalkan semua obrolan orang-orang di luar sana, dan fokus pada kebersamaan kami di dalam rumah.
"Bapak belum pulang?" Tanyaku
"Belum. sebentar lagi pasti pulang" jawab ibu lirih. Sambil menyeduh teh hangat.
Tiba-tiba terdengar suara deru motor yang sangat kami kenal itu adalah suara motor bapak. Pintu depan berderit pelan. Sosok Bapak melangkah masuk dengan senyuman hangat di balik wajahnya yang tampak lelah setelah seharian bekerja di luar.
ibu bergegas menyambutnya dengan secangkir teh hangat yang Baru saja diseduh.
"Alhamdulillah, Bapak sudah sampai," ucap Ibu lirih penuh rasa lega.
Ia meletakan kunci motor dan mencuci tangan.
Aroma masakan yang sedari tadi mengepul di meja makan seketika menyambut kepulangannya, membuat suasana siang itu terasa sangat tenteram. Kami makan bersama-sama dengan gembira, menikmati setiap suapan yang terasa nikmat dari biasanya.
Denting suara sendok dan garpu beradu dengan suara tawa kecil. Ibu terus-menerus menambahkan lauk ke piring bapak.
"tambah lagi" tanya ibu suara riang tersenyum lebar.
Di luar terik Matahari siang seolah tidak berdaya menembus kehangatan yang tercipta di dalam ruangan. Momen berkumpul makan bersama ini sangat gembira karena keluarga adalah tempat dimana cinta dan dukungan tak terbatas.
Setelah kami selesai makan bapak melangkah keluar dari pintu rumah
"Bapak berangkat".
Bunyi deru motor bapak yang perlahan menjauh dan hilang di ujung jalan menjadi penanda bahwa beliau sudah kembali
pergi melanjutkan berkerja.
Ibu kemudian berdiri mulai mengumpulkan piring-piring yang kotor yang ada di meja makan dengan gerakan tenang namun cekatan. Aku pun tidak tinggal diam. Sembari mengangkat sisa gelas dan mangkuk sayur ke bak cuci piring.
"ibu biar aku bantu" tanyaku
"Sudah, biar Ibu yang mencuci. Kamu lanjut belajar saja, besok ujian kan?" kata Ibu memecah keheningan, sambil tersenyum lembut.
"ibu benar aku sudah mulai Ujian Minggu ini. Baiklah aku belajar"Jawabku.
"kalo begitu biar aku yang bersama ibu" tanya kakak.
kakak membantu ibu di dapur dan saling mengobrol. Aku lalu berjalan menuju kamar. Di depan meja belajar, aku menatap buku-buku yang terbuka. Rasa kantuk yang sempat menyerang mendadak hilang, berganti dengan kobaran tekad baru. Di luar, langit perlahan mulai berubah jingga, menandakan sore akan tiba. Sambil memegang pena, aku berjanji dalam hati bahwa keringat bapak yang bercucuran di luar sana tidak akan pernah sia-sia. Aku akan membanggakan mereka!.
Saat aku belajar tiba bapak pulang berkerja. Bapak masuk ke dalam rumah dengan baju yang basah oleh keringat langkahnya. Sambil tersenyum lelah terukir di wajahnya saat melihat keluarganya. Ibu langsung bergegas mengambilkan segelas air putih untuk bapak, dan ibu langsung merebus air untuk menyajikan teh.
Aku keluar sebentar untuk melihat bapak
tiba- tiba. Bapak menepuk pundakku dengan lembut sambil tersenyum.Tidak ada kata lelah yang keluar dari mulutnya, hanya tatapan penuh harap.
Aku kembali ke meja belajar dengan hati yang hangat dan menanyakan soal yang cukup sulit kepada kakak untuk di ajarkan. lalu aku latihan soal yang sudah kakak berikan kepadaku.
Malam tiba, suasana rumah terasa begitu hangat. Di ruang tengah, bapak dan ibu sedang mengobrol santai ditemani secangkir teh hangat, sesekali terdengar tawa kecil dari obrolan mereka yang bersahaja.
Sementara itu di meja sebelah, aku dan kakak
Sedang saling belajar. Kakak dengan sabar memeriksa hasil jawaban dari ku. dari latihan soal yang ia buat, memberikan koreksi dengan penjelasan yang mudah kupahami.
Sebaliknya, saat kakak ku membaca materi nya.
"aku ada presentasi PKN bisakah kau dengar kan mana yang bener dan salah." tanya kakak
Jawabku
"baik!" aku membantunya dengan menjadi pendengar yang baik atau membantunya menghafal istilah-istilah penting.
Kakak akan lulus SMP dan akan masuk SMA tahun ini.
"apa benar yang aku hafalkan?" tanya kakak
"benar kakak sudah hafal istilah-istilah yang penting di sini." jawabku dengan senyum lebar.
Kami tertawa bersama, saling mendukung, mengisi malam dengan semangat untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga.
Suasana rumah perlahan menjadi sunyi setelah jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam.
Bapak dan Ibu yang tadi sedang mengobrol di ruang tengah mulai berjalan menuju kamar tidur mereka. Sebelum menutup pintu, Ibu berpesan agar kami segera tidur dan tidak tidur terlalu larut.
"sudah tidurlah" tanya ibu
Aku dan kakak mengangguk
Kakak menutup buku catatan PKN dan merapikan meja belajar dengan wajah yang jauh lebih tenang. Dan Aku merapikan alat tulisku bersiap untuk beristirahat.
Besok adalah hari yang penting untuk presentasi PKN di sekolah dan persiapan Kakak menuju SMA. Besok juga hari ujian ku untuk menuju SMP.
pokoknya harus Sampek ending