Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musuh Bebuyutan Yueji
Suara decitan halus dipan bambu terdengar ritmis saat Chandra membetulkan posisi selonjorannya. Udara pagi itu benar-benar segar, jauh dari kesan mencekam yang biasanya membayangi studio lukisnya jika ada hal-hal aneh yang terjadi. Chandra menarik napas dalam-dalam, menikmati semilir angin yang berembus pelan membelai wajahnya. Di samping dipan, sebuah kanvas kosong berukuran sedang sudah berdiri tegak di atas tripod kayu sederhana, lengkap dengan palet cat minyak dan beberapa kuas yang tergeletak rapi.
Mata Chandra menerawang jauh, mengamati gerombolan burung gereja yang sibuk bertengger dan meloncat-loncat riang di dahan pohon rimbun yang ada di sudut taman belakang rumahnya. Burung-burung kecil itu bercicit sahut-sahutan, membuat suasana pagi terasa semakin hidup.
"Kecil-kecil begini, gesit banget ya," gumam Chandra pelan pada dirinya sendiri sambil mengelus dagunya.
Entah pemikiran dari mana yang mendadak melintas di kepalanya, Chandra tiba-tiba tersenyum sendiri. Imajinasi liar khas seniman mendadak memenuhi pikirannya. Baginya, garis tubuh dan gerakan lincah burung gereja itu memiliki struktur yang sangat mirip dengan makhluk mitologi legendaris.
"Jangan-jangan... burung gereja ini sebenarnya pecahan dari roh Garuda kuno yang mengecil?" batin Chandra berteori asal-asalan. "Iya juga sih. Sama-sama punya sayap, sama-sama bisa terbang. Cuma beda ukuran saja. Kalau burung gereja disatukan sampai sebesar gunung, mungkin bentuk aslinya ya Garuda!"
Pikiran absurd itu makin membakar gairah seninya. Chandra kembali menatap pohon rimbun di sudut tamannya, lalu membayangkan sosok makhluk megah bersayap emas sedang bertengger gagah di atas dahan terbesar pohon tersebut. Tatapan matanya yang tajam menembus awan, badannya kekar berotot, dan aura keagungannya menaungi seluruh taman.
Tanpa membuang waktu, Chandra mengambil kuas dan mulai mencelupkannya ke cat minyak warna kuning keemasan. Gerakan tangannya sangat santai, menari-nari di atas kanvas putih dengan penuh kepuasan hati.
DUARRR!
Tiba-tiba, suara dentuman petir menggelegar keras dari atas langit, membelah keheningan pagi yang tenang. Suaranya bergema begitu dahsyat hingga membuat kaca jendela rumah bergetar pelan.
Chandra menghentikan goresan kuasnya sejenak. Dia menengadahkan kepala, menatap langit cerah berawan yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan turun hujan. Sunyi sebentar, lalu disusul kilatan cahaya menyambar di kejauhan.
"Perasaan harinya cerah banget begini, kok ada petir menyambar sih?" celetuk Chandra sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Anomali cuaca zaman sekarang memang aneh-aneh saja."
Chandra sama sekali tidak menyadari bahwa setiap kali ujung kuasnya menggoreskan warna emas di atas kanvas, gelombang energi kosmis raksasa tersentak gila-gilaan di atmosfer atas rumahnya. Langit biru di atas tamannya sebenarnya sedang terkoyak pelan, menampilkan pusaran petir purba yang saling menyambar karena terkunci oleh imajinasi murni milik Chandra.
Tanpa memedulikan suara petir yang terus menyahut secara berkala, Chandra melanjutkannya dengan penuh konsentrasi. Dia menggoreskan garis-garis tegas untuk bagian paruh, meracik warna merah menyala untuk bagian matanya, serta membubuhkan kombinasi warna perak dan petir pada bagian cakar sang makhluk mitologi.
Proses melukis itu berlangsung sangat khusyuk. Tak terasa, tiga jam telah berlalu begitu cepat. Saat matahari kini berada tepat di atas kepala, menandakan waktu telah menunjukkan tengah hari bolong, Chandra akhirnya meletakkan kuas terakhirnya. Dia merenggangkan kedua tangannya ke atas sampai terdengar bunyi gemertak tipis di bagian punggungnya.
Hasil lukisannya benar-benar tampak hidup. Sosok burung raksasa bersayap emas dengan cengkraman cakar berkecepatan kilat terlihat sangat nyata bertengger di dahan pohon tamannya.
"Lumayanlah buat pajangan di ruang tamu," gumam Chandra dengan mata yang mulai terasa berat. Hawa panas tengah hari dan hembusan angin sepoi-sepoi dari taman membuat rasa kantuknya tidak bisa ditahan lagi. "Ah, mending tidur siang sebentar di kamar."
Chandra bangkit dari dipan bambu, meninggalkan kanvas yang masih basah itu berdiri sendirian di teras belakang, lalu melangkah santai menuju kamar tidurnya di dalam rumah.
Hanya selang beberapa menit setelah langkah kaki Chandra menghilang di balik pintu, kanvas yang ditinggalkan di teras mulai menunjukkan reaksi aneh. Goresan cat minyak berwarna keemasan itu perlahan-lahan memancarkan pendar cahaya yang makin lama makin terang. Udara di sekitar teras mendadak menjadi sangat panas dan dipenuhi oleh statis listrik yang membuat bulu kuduk berdiri.
FWOOOOSH!
Pendar cahaya emas itu meledak dalam diam. Sesosok bayangan raksasa mencuat keluar menembus bingkai kanvas, melesat naik ke udara taman belakang dengan kecepatan yang luar biasa. Angin kencang berputar hebat, mengempaskan daun-daun kering di taman hingga berterbangan.
"Aku... aku hidup?!" sebuah suara berat, megah, dan bergema penuh keagungan membumbung di udara. "Akhirnya... setelah sekian lama berada di dalam kungkungan dimensi lukisan, aku benar-benar ada di dunia nyata!"
Sosok itu meliuk-liuk gagah di udara, mengepakkan dua pasang sayap emasnya yang memancarkan percikan petir kebiruan. Tubuhnya luar biasa megah, memancarkan aura dominasi mutlak khas raja para udara.
Pada saat yang bersamaan, pintu kaca teras belakang terbuka pelan. Yueji berjalan keluar sambil membawa semangkuk camilan keripik di tangannya. Langkah kakinya santai, berniat memanggil suaminya yang dia kira masih sibuk melukis di teras.
"Mas Chandra? Kamu masih di luar? Ini aku bawakan camil—"
Ucapan Yueji terhenti seketika. Mangkuk keripik di tangannya hampir saja merosot jatuh saat matanya menatap lurus ke tengah taman. Di sana, bertengger di atas pohon kesayangannya, berdiri sesosok makhluk raksasa setengah manusia setengah burung dengan bulu keemasan yang sangat dia kenali dari zaman purba.
Mata cantik Yueji serta-merta membelalak tajam. Rasa manis dari camilan di mulutnya menguap begitu saja, berganti dengan luapan emosi dan dendam lama yang membakar dadanya seketika. Wajahnya yang tadinya ramah dan lembut berubah menjadi sangat dingin. Yueji menggeram rendah, suara geraman yang sanggup membuat siluman tingkat rendah langsung berlutut ketakutan.
"Ayam terbang..." desis Yueji dengan nada suara yang penuh ancaman. "Sejak kapan kamu berani menginjakkan kuku kotormu di rumahku?!"
Garuda yang sedang menikmati kebebasannya di atas dahan pohon melirik pelan dari sudut matanya. Begitu menyadari siapa sosok wanita cantik yang berdiri di sudut teras, matanya memicing jenaka. Sebuah senyuman menyeringai muncul di wajah berparuh emasnya.
"Oh ho? Si rubah manis... kamu ternyata ada di sini juga?" ujar Garuda dengan suara bergema, sama sekali tidak merasa gentar. "Kebetulan sekali. Setelah melompati segel dimensi tadi, perutku mendadak terasa sangat lapar."
Kalimat provokatif itu menjadi pemantik sempurna. Udara di sekitar Yueji meledak dalam gelombang energi spiritual berwarna ungu kemerahan yang sangat pekat. Gaun santai yang dikenakannya berkibar hebat diterpa angin gaib. Dari balik punggungnya, sembilan ekor siluman raksasa berbulu putih keemasan mengembang sempurna, mengibaskan aura keagungan Ratu Siluman yang sanggup meretakkan tanah. Taring-taring kecil nan tajam mulai menyembul dari sudut bibirnya yang indah, matanya menyala terang bagaikan permata darah.
Melihat ancaman dari sang Ratu Siluman, Garuda tidak tinggal diam. Bentuk tubuhnya yang tadinya menyerupai burung raksasa berputar dalam kilatan petir menyambar-nyambar. Dalam hitungan detik, wujudnya bertransformasi menjadi sosok kesatria gagah bersayap emas layaknya sosok Kaja sang penguasa kilat. Tubuhnya dilapisi zirah perunggu yang memancarkan pendar ilahi, dan di tangan kanannya, melilit sebuah pecut petir raksasa yang terus meletupkan percikan listrik bertegangan tinggi.
DUAR! DUAR!
Pecut petir di tangan Garuda disentakkan ke udara, menciptakan suara lecutan yang menggetarkan seluruh dimensi taman belakang.
Dua makhluk legenda tingkat puncak itu kini berdiri berhadapan di taman belakang rumah Chandra. Yang satu siap menerkam dengan sembilan ekor kemurkaan siluman purba, dan yang satu lagi siap melecutkan murka petir surgawi dari genggaman tangannya. Suasana taman yang tadinya damai dalam sekejap berubah menjadi medan perang antara dua penguasa mitologi.