Menjadi wanita single parent untuk anak laki-laki yang ditemukan di depan kosnya saat kuliah dulu membuat Hanum dijauhi oleh orang-orang terdekatnya bahkan keluarganya karena mereka mengira jika anak itu adalah anak Hanum dari hasil perbuatan di luar nikah.
Hanum hanyalah sosok figuran bagi orang di sekitarnya. Terlihat namun diabaikan begitu saja oleh mereka. Walau begitu Hanum tak mempermasalahkannya karena menurutnya cukup ada anak laki-laki itu di hidupnya itu sudah cukup membuatnya bahagia.
Menjadi sosok figuran ternyata terus berlanjut di hidup Hanum saat ia memutuskan menerima permintaan menikah dengan seorang pria anak dari Dekan fakultasnya yang telah membantunya menyelesaikan studynya saat kuliah dulu.
"Bagaimana bisa Mama memintaku menikahi wanita beranak satu itu?!" Pertanyaan berupa hinaan itu terdengar oleh telinga Hanum dari pria yang berstatus sebagai calon suaminya.
Kehidupan rumah tangga yang ia harapkan dapat bahagia ternyata justru sebaliknya karena pria yang telah menjadi suaminya itu hanya menganggapnya sosok figuran yang hanya terlihat tapi tidak dianggap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbangun dari mimpi panjang
"Mulai saat ini kau bukan lagi anak Papa dan Mama!" Ucap Papa Irfan keras yang membuat hati Hanum benar-benar sakit mendengarnya.
"Papa, dengarkan penjelasan Hanum dulu." Hanum berupaya kembali menjelaskan siapa bayi yang Papa dan Mamanya itu maksud namun Papa Irfan dan Mama Jelita seolah enggan untuk mendengarkannya dan mempercayainya.
Bahkan saat Bu Endah datang membawa bayi mungil itu dan membantu menjelaskan siapa bayi mungil itu kedua orang tua Hanum juga menolak untuk mendengarkannya. Bukan hanya menolak, kedua orang tua Hanum bahkan memilih pergi begitu saja dari kosan Hanum tanpa memperdulikan Hanum yang mengemis-ngemis meminta agar mereka mau mendengarkan penjelasan darinya.
Setelah hari itu, Hanum hanya bisa menangis meratapi perlakuan buruk kedua orang tuanya padanya. Hanum tidak mengetahui dari mana kedua orang tuanya itu mendapatkan informasi jika ia kini merawat seorang anak yang dituduh sebagai anak hasil perbuatannya di luar nikah.
Hanum pun terus mencoba menghubungi kedua orang tuanya untuk menjelaskan jika anak itu bukan anaknya dan mengirimkan bukti suara Pak RT dan Bu Endah tentang pernyataan penemuan bayi itu namun kedua orang tuanya tidak pernah merespon bahkan membaca pesan yang Hanum kirimkan.
Tak sampai di situ saja, Hanum bahkan berupaya mendatangi kediaman keluarganya ke Ibu kota dengan membawa bayi mungil itu. Namun bukannya mendapatkan sambutan yang baik Hanum justru kembali mendapatkan perkataan kasar dan hinaan dari orang tua dan Kakak angkatnya.
"Pergi dan bawa bayi haram itu dari rumah ini! Harus kau ingat jika saat ini kau bukan lagi bagian dari keluarga ini!" Ucap Mama Jelita dengan berapi-api pada Hanum.
Deg
Hanum hanya bisa menangis mendengar perkataan ibu sambungnya itu. Entah setan apa yang merasuki Ibu angkat dan Kakak angkatnya itu hingga mereka berkata kasar dan berprilaku buruk padanya.
Papa Irfan yang baru saja kembali ke rumah mereka pun turut melakukan hal yang sama dan mengusir Hanum dari rumah mereka. Tidak terlihat sedikit pun rasa kasihan Papa Irfan selain rasa marah dan kecewa pada Hanum.
"Papa..." Hanum menangis terisak-isak sambil mendekap erat bayi mungil itu di tangannya.
Sungguh tidak ia sangka jika keluarga yang selama ini terlihat begitu menyayanginya justru membuangnya begitu saja bahkan dengan jelas berkata jika dirinya bukan lagi bagian dari keluarga mereka.
*
"Mama..." suara lembut anak laki-laki berusia lima tahun membangunkan Hanum dari tidur panjangnya.
"Papa!" Hanum terbangun dengan keringat yang membanjiri pelipisnya.
"Mama, ada apa Mama?" Tanya anak laki-laki itu merasa takut.
"Divan..." Hanum menatap intens wajah Divan lalu membawa Divan ke dalam pelukannya.
"Ada apa, Mama? Kenapa Mama menangis dan berteriak saat tidur?" Tanya Divan di dalam pelukan Hanum.
Hanum tertegun mendengarnya. Tidak ia sangka karena mimpi buruknya membuat ia sampai tidak sadar menangis dan berteriak di bawah alam sadarnya.
"Mama, Mama tidak apa-apa, Divan." Jawab Hanum sambil mengusap rambut lebat Divan.
"Apa itu benar? Tapi kenapa Mama menangis?" Tanya Divan lagi sambil mengusap air mata yang masih mengalir di kedua pipi Hanum.
"Emh, itu..." Hanum segera membantu Divan mengusap air mata di kedua pipinya. "Mama tadi hanya sedang mimpi buruk saja sehingga Mama tidak sadar menangis saat tidur. Maafkan Mama karena telah membangunkan Divan." Ucap Hanum pada putra kecilnya.
***
Kalau Cita harus diwaspadai lho Richard kau nanti terjebak ranjaunya Cita
memang selayaknya begitu kamu sedang hamil jadi hatimu damai semoga putrimu kelak mempunyai pribadi sebaik dirimu.