NovelToon NovelToon
The Silhouette Of Class

The Silhouette Of Class

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Dosen
Popularitas:798
Nilai: 5
Nama Author: Midtwilight03

"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."

Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.

Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.

Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.

Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23 Tempat Berlindung di Balik Hujan

Sedan hitam melaju cepat membelah derasnya hujan yang mengguyur Jakarta malam itu. Wiper kaca depan bergerak tanpa henti, menyapu butiran air yang terus berjatuhan, akan tetapi pandangan di luar tetap buram, seburam jalan pikiran Liora yang dipenuhi ketakutan dan kebingungan.

Di dalam kabin yang hening, aroma sandalwood khas Ravian bercampur dengan dinginnya pendingin udara. Liora masih menyembunyikan wajahnya di dada Ravian, seolah hanya di sana ia bisa menemukan sedikit ruang untuk bernapas.

Detak jantung Ravian terdengar jelas di balik kemeja mahalnya. Cepat, tetapi teratur. Satu-satunya irama yang mampu meyakinkan Liora bahwa dunia belum sepenuhnya runtuh.

Jemari panjang Ravian tak pernah berhenti mengusap bahunya. Sesekali tubuh Liora bergetar, dan setiap kali itu terjadi, sentuhan pria itu menjadi sedikit lebih lembut.

"Pak Hendra, langsung masuk lewat elevator VIP basement dua," instruksi Ravian dengan suara bariton rendah yang terdengar tenang, meski ketegangan samar terselip di baliknya.

"Baik, Pak Evander," sahut Pak Hendra dari balik kemudi.

Pria itu beberapa kali melirik kaca spion, menangkap bayangan Liora yang masih berada dalam pelukan Ravian dengan raut wajah penuh kecemasan.

"Di luar gerbang utama apartemen sudah ada dua mobil wartawan. Tapi akses pintu rahasia masih aman."

"Pastikan tidak ada yang mengikuti."

"Baik, Pak."

Sedan itu membelok tajam, memasuki jalan menurun yang membawa mereka menuju area parkir bawah tanah sebuah gedung penthouse eksklusif di kawasan Kemang.

Gerbang besi tinggi nan tebal terbuka secara otomatis. Begitu sedan melintas, gerbang itu kembali menutup rapat, memisahkan mereka dari dunia luar.

Untuk sesaat, Liora merasa seperti baru saja ditelan oleh sebuah tempat yang sepenuhnya terputus dari kenyataan.

Pintu sedan terbuka.

Ravian segera melepas jas tiga lapis yang dikenakannya, melingkarkannya ke tubuh Liora. Kain mahal itu menutupi bahunya yang terbuka akibat gaun malam yang kini terasa terlalu tipis untuk melindunginya dari dingin.

Tanpa menunggu persetujuan, Ravian menggenggam erat jemari Liora.

Hangat.

Dan meyakinkan.

Ia menuntun gadis itu menuju lift pribadi yang langsung terhubung dengan lantai teratas gedung.

Ting!

Pintu lift terbuka dan menyajikan pemandangan ruang tamu luas berkonsep open-plan yang terbentang dalam keheningan yang nyaris sempurna.

Lantai marmer hitam memantulkan cahaya lampu temaram, sementara kaca-kaca setinggi langit-langit menyajikan panorama Jakarta yang berkilauan di balik tirai hujan.

Tidak ada suara klakson.

Tidak ada sorot kamera.

Tidak ada wartawan yang meneriakkan namanya.

Hanya hujan.

Dan kesunyian.

Tempat itu terasa seperti dunia kecil yang sengaja diciptakan untuk bersembunyi dari dunia yang sedang memburunya.

Ravian menuntun Liora menuju sofa kulit berukuran besar dan membantunya duduk perlahan.

Pria itu berlutut di hadapannya.

Liora menatapnya dengan mata sembap.

Ravian melepaskan kacamata titanium dari wajah Liora. Lensa kacamata itu sedikit buram oleh embun air mata. Dengan gerakan hati-hati, ia mengambil kain lembut dari saku jasnya dan menyeka permukaan lensa tersebut.

"Kamu aman di sini, Liora," suara Ravian merendah menjadi bisikan.

Sepasang telaga kelam dimatanya luruh dan terpaku pada lubuk netra Liora yang masih berkaca-kaca, seolah mencari jawaban di balik sisa tangisnya.

"Ini penthouse pribadi saya. Tidak ada media, wartawan, atau siapa pun yang memiliki akses ke lantai ini selain saya dan Julian."

Liora menyandarkan punggungnya yang lemas, di hadapannya, secangkir teh hangat yang baru saja diseduh oleh Ravian mengepulkan uap tipis. Ravian mengambil dan menyerahkannya pada Liora.

Gadis itu menyambut cangkir dengan kedua tangan. Kehangatan yang menjalar di jemarinya seolah tak berdaya meredam dingin yang telanjur membeku di dalam jiwa.

"Pak Ravian..." suaranya nyaris tak terdengar. "Bagaimana dengan besok?"

Ia menunduk. "Video itu... seluruh kampus pasti sudah melihatnya. Pihak rektorat, teman-teman mahasiswa, media..."

Kalimatnya terputus.

Bayangan ballroom beberapa jam lalu kembali menghantam ingatannya.

Tatapan penuh tuduhan.

Bisikan-bisikan yang menusuk.

Tuduhan mengenai transaksi nilai.

Tuduhan mengenai hubungan yang tidak semestinya.

Dan sebuah rekaman yang dipotong sedemikian rupa hingga kebenaran tidak lagi memiliki tempat untuk berbicara.

Ravian mengambil duduk di sampingnya. Ia menyandarkan kepala ke sofa dan memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang.

"Tim humas Evander Corp dan Julian sedang mengadakan rapat darurat malam ini," katanya akhirnya. "Kami akan mengeluarkan pernyataan resmi untuk membatalkan seluruh hubungan bisnis dengan Arabell Group atas tindakan sabotase dan pencemaran nama baik."

Ravian membuka mata. "Mengenai video itu..." tatapannya beralih kepada Liora. "...saya tidak akan membiarkan Senat Universitas menyentuh status akademismu."

"Tapi foto itu nyata, Pak," Liora menyela dengan suara lirih. Jemarinya semakin erat menggenggam cangkir.

"Bapak memang berada di ruang kerja itu bersama saya. Orang-orang tidak akan peduli dengan konteksnya."

Liora menarik napas gemetar. "Mereka hanya akan melihat seorang CEO sekaligus dosen yang berlutut di hadapan mahasiswinya."

"Kalau begitu, biarkan mereka melihatnya," jawaban Ravian datang tanpa keraguan.

Liora tersentak. Ia menoleh cepat. "Maksud Bapak?"

"Saya tidak peduli jika reputasi saya sebagai CEO terancam," suara Ravian tetap tenang, tetapi setiap katanya jatuh dengan ketegasan yang sulit dibantah.

"Saya juga tidak peduli jika jabatan saya sebagai dosen dicopot," bisiknya sarat makna. "Yang saya pedulikan adalah kamu."

Dada Liora membuncah, bukan oleh sesak, melainkan oleh badai rasa yang tumpah ruah tak tertahankan.

"Jika kampus memanggil kita untuk sidang etik minggu depan, saya yang akan berdiri paling depan."

Ravian menjeda kalimatnya, membiarkan keheningan yang mencekam mengambil alih. "Saya akan menjawab seluruh tuduhan mereka."

Di atas meja kaca, ponsel Ravian terus bergetar tanpa henti.

Layar yang menyala memperlihatkan belasan panggilan tak terjawab dari Dekan Fakultas Ekonomi, Ketua Senat Universitas, hingga jajaran komisaris Evander Corp.

Sayangnya, Ravian tidak bergeming.

Ia hanya meraih ponsel itu, meredam bisingnya dalam sekali tekan, lalu membiarkannya tergeletak bisu di atas meja.

Pandangannya kembali berpulang kepada Liora.

Seolah untuk beberapa detik yang kekal, riuh semesta di luar sana luruh begitu saja, tak lagi berharga, tak lagi bermakna.

Liora menatap pria di sisinya dengan dada yang bergemuruh bak genderang perang yang ditabuh bertubi-tubi.

Di tengah badai skandal yang mampu meruntuhkan kekuasaan, karier, bahkan nama besar Evander yang telah dibangun bertahun-tahun, Ravian justru memilih mematikan seluruh dunia di sekelilingnya demi memastikan satu hal:

Liora merasa aman.

Sayang, kedamaian yang mereka sekat erat-erat segera retak digilas waktu yang tak pernah ramah.

Ting.

Ting.

Bel pintu khusus di area foyer berbunyi dua kali.

Teratur.

Pendek.

Tetapi cukup untuk membuat Ravian mengangkat kepalanya. Ia segera berdiri dan berjalan menuju intercom video di dekat pintu utama.

Layar kecil itu menampilkan Julian.

Pria itu berdiri kaku dengan wajah yang jauh lebih tegang daripada biasanya. Di tangannya terdapat sebuah map merah tebal yang tampak begitu serius hanya dengan melihat warnanya.

Ravian menekan tombol pembuka kunci. "Masuk, Julian."

Beberapa detik selanjutnya, pintu terbuka.

Julian melangkah cepat menuju ruang tamu. Ia sempat menganggukkan kepala kepada Liora sebelum mengalihkan pandangan kepada Ravian.

Tatapannya penuh urgensi. "Ravian, kita punya masalah baru."

Julian membuka map merah yang dibawanya. "Dan kali ini jauh lebih rumit daripada sekadar ceceran media."

Kening Ravian mengerut. Iris mata gelapnya menyipit. "Masalah apa?"

"Dekan dan Rektorat Kampus Jagatara baru saja menggelar rapat pleno darurat sekitar satu jam lalu."

Suara Julian terdengar berat. "Tekanan datang dari ikatan alumni dan media massa."

Dikeluarkannya beberapa lembar dokumen dari dalam map. "Mereka menonaktifkan statusmu sebagai dosen pembimbing magang mulai besok pagi."

Ravian diam.

Julian melanjutkan. "Dan..."

Tatapannya sempat beralih kepada Liora.

Hanya sesaat, tetapi sukses membuat jantung gadis itu berpacu hebat.

Julian kembali menatap Ravian. "...mereka melayangkan surat pemanggilan resmi kepada Liora Valeska atas tuduhan pelanggaran berat kode etik mahasiswa."

Waktu seolah membeku dalam satu tarikan napas. Dunia di sekelilingnya menjelma menjadi sebuah potret diam, dan Liora terpaku dalam sunyi yang mencekam.

Julian menurunkan dokumen itu perlahan.

"Dengan ancaman sanksi tertinggi," suaranya terdengar seperti palu yang jatuh di ruang sidang.

"Drop Out permanen."

Dada Liora menyempit, menolak udara masuk ataupun keluar. Genggamannya pada cangkir mulai goyah seiring jemarinya yang gemetar hebat.

Di hadapannya, uap teh hangat masih membubung, tetapi seluruh tubuhnya tiba-tiba disergap rasa dingin yang mencekam.

Di luar sana, hujan terus mengguyur Jakarta.

Deras.

Tanpa jeda.

Malam itu, Liora menyadari bahwa tempat berlindung yang diberikan Ravian mungkin hanya mampu melindunginya dari badai di luar.

Sementara badai yang sesungguhnya baru saja mengetuk pintu masa depannya.

1
Sandiakala_
Ceritanya menarik, sukakkk😌🫰🏻
Sandiakala_
Lanjutannya mana Thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!