Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
"Berikan dia kursi," putus Valerius, suaranya terdengar sedikit kesal.
Seorang pelayan kuil bergegas membawakan kursi kayu kecil. Elara duduk dengan lega, lalu mengeluarkan sepotong kue wijen dari lengan bajunya dan mulai mengunyahnya dengan santai.
Aurelia di barisan depan tampak ingin meledak.
"Selir Elara," Valerius memulai, membuka sebuah gulungan perkamen yang sangat panjang. "Kau dituduh telah mengubah Festival Musim Dingin yang sakral menjadi acara komersial yang menghina Dewa Matahari. Kau menjual hak penamaan kembang api kepada pedagang sutra. Kau menyewakan tanah suci kuil kepada penjual makanan. Dan kau.. kau menciptakan konsep 'Tiket VIP' yang membagi umat beriman berdasarkan kekayaan mereka."
Valerius menatap Elara dengan tajam. "Apakah kau menyangkal tuduhan ini?"
Elara menelan kue wijennya. "Tidak, Inkuisitor Agung. Saya tidak menyangkal. Semua itu benar."
Aula bergumam kaget. Aurelia tersenyum lebar.
"Namun," lanjut Elara, mengangkat satu jari, "saya ingin mengklarifikasi satu hal. Saya tidak mengubah tradisi. Saya memperluas tradisi. Dan ada perbedaan besar antara keduanya."
Valerius mengangkat alisnya. "Jelaskan."
"Dalam Kitab Suci Dewa Matahari, Bab 7, Ayat 12," ucap Elara, suaranya terdengar sangat tenang, "tertulis: *Matahari tidak memilih siapa yang dihangatkannya. Ia bersinar pada raja dan petani, pada pedagang dan pendeta, tanpa membedakan.' Benar begitu?"
Valerius terdiam sejenak. Ia mengangguk perlahan. "Itu adalah ayat yang benar."
"Bagus," Elara menyilangkan kakinya, tampak sangat nyaman di kursinya. "Kalau Dewa Matahari tidak membedakan antara raja dan pedagang, mengapa Festival yang diadakan untuk menghormati-Nya harus membedakan mereka? Selama berabad-abad, festival ini hanya dinikmati oleh bangsawan dan pendeta. Rakyat jelata hanya bisa menonton dari jauh. Pedagang yang menyumbang uang untuk kuil sepanjang tahun tidak pernah mendapat pengakuan."
Elara menatap para hakim gereja satu per satu.
"Dengan membuka festival untuk para pedagang, dengan membiarkan nama mereka disebut di hadapan ribuan umat, saya tidak menghina Dewa Matahari. Saya justru mengamalkan ajaran-Nya. Saya membuat matahari bersinar pada semua orang, bukan hanya pada mereka yang lahir dengan gelar bangsawan."
Keheningan yang sangat panjang menyelimuti aula.
Beberapa pendeta muda di barisan belakang mulai mengangguk-angguk pelan. Bahkan salah satu hakim gereja di samping Valerius tampak berpikir keras.
Aurelia berdiri dari kursinya. "Itu adalah penafsiran yang sesat! Tradisi leluhur jelas menyatakan bahwa.."
"Putri Mahkota," potong Elara, suaranya terdengar sangat lelah. "Tolong jangan menginterupsi. Saya sedang dalam mode presentasi, dan saya benci diinterupsi saat sedang menjelaskan slide.. eh, saat sedang menjelaskan poin penting."
Aurelia ternganga, wajahnya merah padam. Ia belum pernah dipotong bicaranya oleh seorang selir di depan umum!
Valerius mengangkat tangannya, menenangkan Aurelia. Matanya kembali menatap Elara, kali ini dengan intensitas yang lebih tinggi.
"Argumenmu menarik, Selir Elara," ucap Valerius pelan. "Tapi ada tuduhan kedua yang lebih serius. Kau telah menyebarkan konsep-konsep asing yang tidak ada dalam ajaran mana pun di Aethelgard. Manajemen risiko. Pembukuan berpasangan. Sanksi tertarget. Monetisasi event. Kata-kata ini bukan berasal dari desa kuno mana pun. Mereka berasal dari.. suatu tempat yang tidak dikenal."
Valerius mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyala. "Siapa yang mengajari kau semua ini, Elara? Apakah kau membuat perjanjian dengan roh asing? Apakah kau telah dirasuki oleh entitas dari luar dunia ini?"
Elara berhenti mengunyah.
Ah, ini dia. Pertanyaan yang sebenarnya. Mereka tidak peduli soal festival. Mereka peduli soal asal-usul pengetahuanku. Inkuisitor ini pintar. Dia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang 'salah' denganku.