NovelToon NovelToon
Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad girl
Popularitas:116
Nilai: 5
Nama Author: Xyfvxnyy

Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.

Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.

Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.

Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dingin di Ujung Layar

Lantai marmer gedung fakultas bisnis dan ekonomi tampak dipadati oleh mahasiswa yang berlalu-lalang di antara jeda pergantian jam kuliah. Di salah satu sudut koridor utama dekat area lobi kaca, Damien Vance berdiri bersandar pada pilar beton. Kemeja hitamnya berbalut blazer abu-abu gelap, memancarkan wibawa yang membuat beberapa mahasiswa tingkat bawah menepi segan saat melintas di dekatnya.

Di tangannya, sebuah ponsel pintar berlayar lebar menyala terang.

Netra gelap Damien terkunci pada sebaris kalimat singkat yang baru saja muncul di ruang obrolannya bersama Clyrine:

Clyrine: Nggak usah Kak, aku bareng teman.

Damien menatap layar itu selama beberapa detik tanpa berkedip. Keningnya berkerut dalam, garis rahangnya mengetat samar.

Bagi orang lain, kalimat itu mungkin terdengar seperti penolakan biasa dari seorang remaja yang memiliki agenda sendiri. Namun bagi Damien, perubahan nada bicara itu teramat kontras dan janggal. Semalam, gadis itu masih dengan antusias menyetujui tawarannya, menggodanya soal status pesan yang tak kunjung terkirim, hingga mengucapkan selamat malam dengan nada ceria. Clyrine yang ia kenal adalah gadis blak-blakan, keras kepala, dan selalu melontarkan celotehan usil setiap kali berkomunikasi dengannya.

Panggilan "Kak" yang terasa berjarak, ketiadaan tanda seru, dan penolakan mentah-mentah tanpa alasan panjang lebar membuat Damien merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Elvano memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana, mengetukkan jemari kanannya di tepi ponsel dengan ritme gelisah. Ia tahu betul kesalahannya pagi ini. Jam tujuh lewat sedikit, ia terpaksa melipir mendadak karena ada urusan mendesak yang tak terduga—sesuatu yang membuatnya terlambat menjemput Clyrine tepat waktu dan baru sempat mengabari gadis itu setelah jam masuk sekolah. Tapi, apakah keterlambatan itu cukup untuk membuat Clyrine berubah sedingin ini? Ataukah gadis itu terlambat tiba di sekolah dan kembali ditegur oleh pihak yayasan?

Kekhawatiran itu perlahan merayap di benak Damien. Mengingat hari ini adalah jadwal ujian susulan yang menentukan nasib gadis itu di hadapan Charles Rexander, Damien segera mengetikkan pesan baru.

Damien Vance: Gimana ujian kamu tadi?

Pesan itu terkirim dan langsung menunjukkan centang biru ganda dalam hitungan detik.

Damien menanti di ujung koridor. Menit demi menit bergulir lambat. Satu menit, tiga menit, hingga sepuluh menit berlalu, tanda mengetik di bawah nama kontak Clyrine tak kunjung muncul. Gadis itu sengaja mendiamkan pesannya, membiarkan notifikasi tersebut menggantung di layar tanpa jawaban cepat seperti biasanya.

Ketidakpastian itu mulai mengusik ketenangan Damien. Selama ini, dalam dunia investasi maupun urusan akademis, ia selalu menjadi pengendali situasi. Namun kini, hanya karena jeda balasan dari seorang siswi SMA berusia enam belas tahun, fokusnya buyar total.

Hingga hampir lima belas menit berselang, ponselnya akhirnya bergetar pelan.

Bzzzt.

Damien segera mengangkat layar ponselnya.

Clyrine: Lancar.

Hanya satu kata. Tanpa penjelasan, tanpa tanda baca tambahan, tanpa ada rincian soal bagaimana reaksi Pak Antonio atau apakah esai tata negara yang mereka pelajari semalam keluar di lembar soal.

Jawaban itu seperti tamparan dingin yang membentur dinding kendali diri Damien. Pria itu menghembuskan napas panjang yang terdengar berat dan tertahan. Rasa bersalah yang sedari tadi ia tekan kini mencuat jelas ke permukaan. Ia membayangkan Clyrine yang semalam belajar hingga larut malam di perpustakaan, lalu pagi tadi harus berdiri sendirian di depan gerbang menunggunya tanpa kepastian, berkejaran dengan waktu demi menyelamatkan harga dirinya sendiri.

Damien melangkah menjauh dari keramaian koridor, berdiri menghadap dinding kaca yang mengarah ke taman kampus. Dengan jemari yang bergerak cepat, ia mengetikkan pesan permohonan maaf—sebuah kalimat yang nyaris tak pernah ia sampaikan kepada siapa pun dalam urusan pribadinya.

Damien Vance: Cly, gue benar-benar minta maaf soal tadi pagi. Ada hal di luar kendali gue yang harus gue urus mendadak. Nilai ujian lo pasti aman kalau lo lancar ngerjainnya.

Damien menatap pesan itu sesaat setelah terkirim, lalu segera menyusulkan pesan berikutnya sebelum Clyrine sempat menutup aplikasi:

Damien Vance: Gue jemput ya jam 12 nanti. Kita makan siang di luar, lo mau makan apa aja gue turuti.

Tawaran itu ia buat senyata mungkin sebagai bentuk pertanggungjawabannya. Damien ingin melihat langsung kondisi gadis itu, memastikan Clyrine tidak mengalami kesulitan apa pun setelah insiden kemarin, sekaligus mencairkan ketegangan aneh yang tiba-tiba membentang di antara mereka.

Namun, jeda waktu kali ini terasa jauh lebih menyiksa.

Di seberang sana, Clyrine yang masih duduk sendirian di meja kantin sekolah menatap layar ponselnya dengan senyuman kecut. Membaca kalimat "ada hal di luar kendali gue" justru membuat ulu hatinya makin ngilu. Hal di luar kendali apa yang dimaksud? Apakah mengantar dan menemani Kayvara tertawa di dalam mobil mewah pria itu adalah hal mendesak yang tak bisa ditunda demi menepati janji pada anak kecil berumur enam belas tahun sepertinya?

Clyrine menarik napas dalam-dalam, mengabaikan rasa perih yang berdenyut di sudut hatinya. Ia tidak ingin terdengar kekanak-kanakan atau cemburu buta—ia bahkan sadar bahwa ia bukan siapa-siapa dalam hidup Damien selain murid bimbingan yang baru kemarin sore dibela.

Dengan jemari yang mantap dan dingin, Clyrine membalas pesan tersebut untuk menyudahi percakapan.

Clyrine: Nggak masalah, Kak.

Dan tepat sebelum Damien sempat merasa sedikit lega membaca balasan itu, sebuah pesan penutup masuk menghantam sisa harapannya.

Clyrine: Nggak usah jemput. Aku bareng teman aku.

Damien mematung menatap layar ponselnya yang meredup perlahan.

Kalimat itu terulang dua kali. "Bareng teman aku."

Setahu Damien dari penuturan Alaric maupun pengamatannya sendiri selama ini, lingkaran pertemanan Clyrine di Rexanswood Academy sangat terbatas. Gadis itu hanya dekat dengan Zerin dan Rebecca, yang keduanya biasanya pulang menggunakan jemputan pribadi keluarga masing-masing atau bus sekolah. Tidak pernah sekalipun Clyrine menolak tawaran tumpangan hanya demi pulang bersama teman, apalagi dengan nada bicara yang seolah membangun benteng tinggi tak tertembus.

Siapa teman yang dimaksud gadis itu? Dan kenapa penolakan ini terasa begitu mutlak?

Damien mengantongi ponselnya kembali ke saku jas dengan gerakan tegas. Rahangnya mengetat keras, dan sorot matanya kembali sedingin es. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 11.15 siang. Hanya tersisa empat puluh lima menit sebelum bel kepulangan Rexanswood Academy berdentang.

Tanpa mempedulikan panggilan dari salah satu rekan jurusannya yang melambai dari kejauhan, Damien berbalik badan, melangkah panjang menuruni tangga fakultas menuju area parkir mobilnya.

Ia tidak terbiasa dibiarkan dalam kegelapan tanpa kepastian, dan ia bukan tipe pria yang akan tinggal diam saat batasan yang ia jaga justru memicu keretakan yang tak ia pahami. Jika Clyrine menolak dijemput lewat pesan teks, maka Damien akan datang sendiri untuk melihat siapa sosok yang membuat gadis bimbingannya itu berpaling begitu cepat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!