Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergok IRT
Jam 6.03 pagi.
Sinar matahari Jakarta baru masuk malu-malu dari jendela kaca raksasa penthouse lantai 56. Hujan semalam sudah berhenti. Tapi lantai marmer ruang tamu masih dingin.
Sofa besar warna krem itu berantakan parah. Selimut bulu putih tebal yang semalam kami pakai setengah jatuh ke lantai. Dua bantal sofa jatuh di karpet. Remote AC jatuh entah kemana. Bahkan kaos kaki ku satu hilang.
Dan di tengah kekacauan itu...
Ada kami.
Aku, Isyana, masih tertidur pulas seperti bayi. Kepalaku ada di dada bidang Brayen. Napasku masih ngorok halus. Rambut panjang ku berantakan nutupin setengah muka ku. Aku masih memakai kaos hitam kebesaran milik Brayen yang semalam ia berikan. Kaosnya kebesaran banget sampai lutut ku. Wanginya masih wangi dia banget, campuran parfum mahal dan sabun.
Brayen juga masih tertidur. Kepalanya bersandar di sandaran sofa. Satu tangannya memeluk pinggang ku erat, seolah takut aku jatuh. Tangan satunya lagi masih menggenggam ujung selimut. Nafasnya teratur. Wajah tampan nya yang biasanya dingin dan cool sebagai CEO itu sekarang keliatan damai banget. Tapi ada satu yang merusak kegantengan nya...
Di pipi kiri nya, nempel jelas banget bekas lipstik ku! Merah merona! Bentuk bibir ku kecetak sempurna! Itu gara-gara semalam aku iseng cium pipi nya pas dia udah ngantuk.
Kami bener-bener keliatan seperti pasangan pengantin baru yang ketiduran abis ngobrol semalaman. Padahal semalam...
_KLEK!_
Suara pintu service di ujung ruang tamu terbuka.
Bi Ijah (kepala IRT yang udah 10 tahun kerja di keluarga Alkantara), Bi Marni (tukang masak), dan Pak Ujang (tukang kebun + bantu-bantu) masuk seperti biasa jam 6 pagi. Mereka bawa vacuum cleaner, kemoceng bulu ayam warna-warni, dan lap kanebo.
Rencana mereka: beres-beres ruang tamu sebelum Tuan dan Nyonya bangun.
Tapi...
Langkah mereka berhenti di tengah jalan.
Bi Ijah yang paling depan, matanya melot. Mulutnya terbuka.
Bi Marni yang di belakangnya langsung nutup mulut pakai kedua tangan. Matanya berkaca-kaca nahan ketawa.
Pak Ujang? Pak Ujang adalah pahlawan. Begitu melihat ada dua manusia berpelukan di sofa dengan selimut berantakan, Pak Ujang langsung 180 derajat balik badan! Menghadap tembok! Sambil bilang dengan suara keras dan jelas:
"SAYA TIDAK LIHAT APA-APA BU, PAK! SAYA BUTA! SAYA TULI! SAYA BARU MASUK KERJA HARI INI!"
Aku yang tidurnya paling tidak nyenyak, kebangun duluan karena suara Pak Ujang yang keras itu.
Mataku masih berat. Aku mengucek-ngucek mata. Ngantuk. Lalu aku lihat...
Tiga orang berdiri di ruang tamu ku.
_Loading... 1%... 50%... 100%_
_BATIN ISYANA: HAH?! BI IJAH?! BI MARNI?! PAK UJANG?! JAM BERAPA INI?! KENAPA ADA ORANG DI RUMAH KITA?! OH YA ALLAH INI KAN RUMAH KITA! INI RUANG TAMU! KENAPA AKU TIDUR DI SOFA?! DI PANGKUAN BRAYEN?! SELIMUTNYA KEMANA?! KAOS KAKI KU MANA?! MATI AKU! MATI AKU! MALU! MALU BANGET! LIPSTIK! LIPSTIK KU!_
Aku langsung duduk tegak! Gerakan ku yang tiba-tiba itu bikin Brayen kebangun kaget juga.
Brayen kebangun dengan refleks CEO. Matanya langsung siaga. "Ada apa?" suaranya serak baru bangun tidur, berat dan dalam.
Lalu dia melihat Bi Ijah. Bi Marni. Pak Ujang yang masih menghadap tembok sambil komat-kamit baca doa.
Dia melihat aku di pangkuannya. Dia melihat selimut yang berantakan. Lalu dia melihat pantulan dirinya di kaca jendela besar di depan sofa.
Ada cap bibir merah di pipi kirinya.
_BATIN BRAYEN: ...Sialan. Brayen Lucian Alkantara. Umur 28 tahun. CEO Alkantara Group. Ditakuti investor se-Asia Tenggara. Pernah meeting sama presiden. Dan sekarang... ketahuan tidur di sofa ruang tamu sama istri, pipi ada bekas lipstik, selimut berantakan, di depan 3 karyawan. Gengsi ku... hancur... lebur... Bi Ijah pasti sudah foto pakai mata dan akan disebar ke grup WhatsApp ART se-Pondok Indah dalam 5 menit. Judulnya: TUAN DAN NYONYA KETIDURAN DI SOFA._
Hening 3 detik yang terasa seperti 3 jam.
Tidak ada yang bicara. Hanya suara AC.
Lalu Brayen melakukan hal yang paling tidak pernah aku duga dari seorang CEO sedingin dia.
Tanpa kata. Tanpa penjelasan. Tanpa "selamat pagi Bi".
Dia langsung berdiri dari sofa. Menggendong aku dengan posisi bride style. Satu tangan di bawah lutut ku, satu tangan di punggung ku. Selimut putih masih nyangkut di kaki ku, nyeret di lantai seperti jubah pengantin yang gagal.
Dan dia LARI!
Lari secepat kilat ke arah tangga menuju kamar utama di lantai 2!
Aku yang digendong? Aku cuma bisa...
Nutup muka ku pakai kedua tangan! Masuk ke dalam kaos kebesaran itu! Malu setengah mati!
"Maaf Tuan, Nyonya! Kami beres-beres nya nanti jam 8 aja ya! Maaf ya! Lanjut aja! Lanjut tidur nya!" teriak Bi Ijah dari bawah dengan nada yang... menahan ketawa! Bi Marni udah ngakak pelan di belakang!
_BRAK!_
Pintu kamar utama dibanting tutup. Dikunci - _CEKLEK!_
Kami berdua ngos-ngosan. Aku masih di gendongan Brayen. Dada nya naik turun. Dada ku juga naik turun. Kami saling menatap di depan pintu kamar yang terkunci itu.
Wajah ku merah seperti tomat. Wajah dia... ada lipstik.
1 detik... 2 detik...
Lalu...
"HAHAHAHAHAHAHA!" kami berdua ngakak barengan sampai perut sakit!
Aku jatuh duduk di karpet kamar karena ngakak. Brayen juga ikut duduk di samping ku, masih pakai kemeja putih kusut semalam yang belum diganti.
"Mas! Pipi nya! Ada bibir aku!" aku nunjuk pipi nya sambil ngakak nangis.
"Kamu sih! Iseng!" dia usap pipi nya tapi lipstik nya malah makin belepotan kemana-mana! Makin lucu!
"Bi Ijah lihat! Bi Marni lihat! Pak Ujang sampai menghadap tembok! Malu banget Mas!"
"Biarin. Biar mereka tau kalau tuan rumahnya lagi berbahagia," kata Brayen dengan PD, tapi kupingnya merah! Ternyata dia juga malu!
Kami ketawa terus 5 menit di lantai kamar itu.
Akhirnya aku berdiri. "Aku mandi dulu Mas! Kamu jangan ngintip!"
"Enggak! Kamu aja dulu. Aku tunggu di luar. Nanti gantian," kata Brayen sambil rebahan di karpet masih ngakak.
Aku masuk kamar mandi. Di dalam bathtub besar, aku mandi dengan air hangat. Dari luar aku masih denger Brayen ketawa-ketawa kecil sambil ngomong sendiri: "Bibir Isyana di pipi ku..."
Malam pertama paling koplak, paling memalukan, tapi paling bahagia.
Karena untuk pertama kalinya, penthouse sedingin ini jadi hangat karena tawa kami berdua.
---Bersambung---