NovelToon NovelToon
ILA ( Si Gadis Permata Biru)

ILA ( Si Gadis Permata Biru)

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Action / Fantasi / Light Novel
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Arrosyad

Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kebenaran

Change pov: Thrid person

Hiruk-pikuk malam itu berubah riuh dan tegang, langit kota Cirei-may memang hujan, deru membungkam, tapi dengus dan tinjuan dan desing-lenguh senjata plasma memekik di area parkiran besar sebelah sebuah mall. Pertarungan membucah di sana. Antara lima puluh anggota organisasi, dua panglima terkuat, melawan dua remaja belasan tahun.s

Zasss!! Ila berhasil menghidar, ia berkelebat belasan meter ke kanan. Mencoba menjauh dari fornt pertarungan. Puluhan orang serentak tertoleh. Terdiam sejenak, tersengal.

Sedetik, sura desing terdengar, mereka beringsut melesat. Sepatu jet membantu di kakinya melompat.

Puluhan pasukan itu terformasi di udara. Masing-masing menyiapkan serangan.

Ila menggertakan rahang. Tidak bisa menghindar, sulit memprediksi gerakan energi sebanyak ini.

Ila mengumpul balik mengumpulkan kekuata di kakinya.

Trak! Ila melompat, aspal di bawah kakinya ditinggal hancur. Gadis tersebut melanting tinggi ke udara. Gelombang serangan pasukan barusan sia-sia, targetnya berhasil menghindar.

Namun di waktu bersamaan. Pasukan tentara –yang mengejar di mall, telah keluar. Ila terbidik hampir delapan puluh orang dari bawah.

Gadis itu menatap jeri, ngeri sekali.

TRRRRRRRRRRTATATATATATTATATATATATTATATATATATATTT!!!!!!!!!!!

Cahaya api mengedip, merobek udara dan memecah air hujan. Asap senapan melangit.

Sedetik selesai, senapan terhenti. Peluru-peluru terlanjur nyasar, merusak kaca mall dari luar. Senyap, serangan tertahan. Aro juga, dia baru saja menjatuhkan dua orang. Tangannya berhenti terkepal, segera melemas.

“I-la” Aro tercekat.

Cepat sekali keadaan berubah. Ila sekarang tidak terlihat di belasan meter di atas sana.

“Ila!!” Aro berteriak, segera berlari.

Beberapa orang terbuyarkan, sontak juga berlari menghadang. Gelombang serangan buat Aro, setidaknya tiga belas orang. Jet sepatu mendesing, senjata-senjata terayun.

Aro tidak peduli, terus berlari. Tangannya terkepal.

Para pasukan organisasi di lahan parkir berlari menghalangi Aro.

Satu orang datang. Bugh! Aro melancarkan tinjuan cepat. Orang tersebut langsung terkapar.

Tambah dari belakang. Bugh!!

Berturut-turut orang-orang menyerbu Aro. Anak itu terpundur-pundur melompat, mengertak rahang. Dia tidak bisa mendekati Ila.

BRAKK!! Tiba-tiba terdengar suara lagi dari tempat Ila.

Pasukan –juga Aro yang tertahan, sontak tertoleh. Wajah Aro kembali cerah, Ila masih di sana. Justru menyerang balik sendiri pasukan tentara. Anak itu menaikkan intens serangannya. berkelebat kemana-mana, menghajar hampir sepuluh orang dalam hitungan detik.

Aro tersenyum, baiklah, semangatnya justru terbakar. Tangan mengepal kuat, berlari cepat menuju salah satu anggota yang masih terperangah menatap tempat Ila.

Bug! Satu rang tumbang.

Aro pun menyadari jika kekuatan tubuhnya semakin besar. Satu pukulannya saja bisa menumbangkan seseorang. Ini sangat menguntungkan, di hadapannya hanya sisa belasan pasukan dari organisasi.

Front Ila..

Tertt! Sebagian tentara coba melancarkan tembakan.

Tes! Tubuh Ila menghilang dari arah sasaran.

Gadis itu tiba-tiba muncul di hadapan orang tersebut. Bug! Bug! Dua tinju lepas, dua orang di sana terpental. Bug! Satu lagi pukulan cepat, mengincar liar kepala orang terdekat. Tangan Ila mengepal kuat.

Masih ada puluhan tentara di sekitaranya. Mereka sigap menyerbu, tersuruk-suruk berlari dari berbagai arah, kiri, kanan, depan belakang.

Ila memasang kuda-kuda. Jumlah tentara yang banyak menutup celah. Ila tidak bisa menabrak sembarangan, itu sangat beresiko. Melompat? Sebagian orang tidak ikut menyergap, mereka menyiapkan senapan, jaga-jaga jika anak itu melompat.

Hanya ada satu cara, dia pasti bisa.

Pasukan mengeluarkan sajam tangan masing-masing. berseru-seru. Satu orang melompat, siap menikam dari atas. Ila sudah menduganya. Gadis itu tidak membalas dengan tinjunya, dia justru menyambut. Lalu –dengan gerakan yang sangat cepat, kedua tangannya mencengkram tubuh orang tadi dan melemparnya ke arah lain.

Lemparan Ila sangat kuat, orang itu menghantam banyak pasukan, seru jeri memekik di sana.

TAR! Tar!! Tembakan di lepaskan.

Tes! Tes! Ila bergerak kilat. Menuju orang yang menembak.

Bug! Bug!. Dua orang terkapar.

Satu orang lagi coba menerkam, menggunakan pisaunya. Ila masih bisa menghindar, kakinya bergeser dua langkah. Tinjunya balas menyerang.

BUG!! Orang barusan terlempar deras dan menghantam banyak pasukan lainnya.

Hanya dengan dua lemparan, Ila hampir menghabisi semua pasukan.

Tersisa sekitar dua puluh tentara lagi. Terpisah jarak belasan meter di hadapan Ila, mereka terdiam di formasinya. Menyimpan senjata sajam, berganti senapan.

“Ayolah, hentikan” Ila berseru mengeluh, ia juga masih berdiri di tempatnya. “Bukankah, dari tadi kalian tidak bisa mengenaiku dengan senjata itu”

Ini hampir usai. Di font Aro, anak itu juga unggul telak melawan sisa pasukan organisasi dengan tangan kosong. Ini rekor baru dalam hidup lelaki itu, dia berhasil menumbangkan belasan orang bersenjata dengan tangan kosong.

Tiga orang tertatih mulai maju. Salah satu melesat dengan jet di sepatu.

Aro –yang tubuhnya masih segar. Menyambut tenang, satu datang, Aro segera merengkuh tubuh orang tersebut. Berputar, lantas melempar ke arah teman di belakangnya. Tersisa satu lagi, kaki Aro menghentak, melesat mulus.

Orang terakhir terkejut. Pukulan Aro tiba bersamaan. Wajahnya terhunjam hebat, berakhir terkapar, menyusul pasukan lainnya.

Sekarang sempurna habis, pasukan sebuah organisasi elit habis di porak poranda gadis dan pemuda belasan tahun. Mereka merintih kesakitan di atas lahan parkir. Deru hujan sedikit membungkam suasananya.

Aro berdiri di tengahnya. Memandang sayu ke salah satu orang yang wajahnya hancur berdarah terkena serangan barusan. Perasaan lelaki sedikit iba.

“Maaf, aku tidak akan begini jika bukan karena terpaksa” ujarnya datar.

Aro beranjak pergi, menembus ratusan bulih hujan, berlari ke tempat Ila.

Area mall sedikit menaik dari parkiran. Hap! Aro melompat lima meter tingginya, melihat Ila, gadis itu juga berdiri tertunduk di antara delapan puluh pasukan tentara yang tumbang menghampar ngeri di atas halaman depan Mall. Mereka dihabisi gadis itu hanya dengan hitungan menit.

Aro mendarat tepat di samping Ila. Gadis itu tetap pada renungannya. Menatap kosong ke bawah. “Kamu tahu apa yang aku pikirkan?”

Aro mengangguk, dia juga barusan merasakannya. Perasaan takut dan prihatin. Selama hidupnya, baru kali ini dia melukai, bukan bahkan menghabisi banyak orang dengan tangannya sendiri.

Sama dengan yang dirasakan Ila saat ini. Dia lebih ngeri lagi, sepertinya dia membunuh banyak orang di sini. Tak sadar, tinju yang berkali-kali dia pukul kepada banyak pasukan berhasil mencabik anggota tubuh.

Darah mulai menggenang di mana-mana. Kebanyakan bolong perut, beberapa juga ada yang ubun-ubunnya hancur, bahkan ada yang kepisah.

Aro menatap jeri, memang sangat parah apa yang telah dilakukan gadis itu.

Keadaan mulai mengintimidasi perasaan Ila. “Aku benar-benar monster”

ARO POV:

Aku tertegun, Ini pasti terjadi. “Kita hanya bertahan”

Lengang. Ila masih menatap kosong ke bawah. “Kau juga mungkin membunuh orang”

Tubuhku mendesir ngilu mendengar itu. Apa yang harus ku katan?

“Tapi ini belum selesai sepertinya” Ila melanjutkan.

“Apa maksudmu?”

Aku segera melirik ke sembarang arah. Semua pasukan rata tumbang di tempat ini. “Kau selalu bisa merasakan apa yang tidak ku rasakan, aku percaya padamu”

“Dari atas” Ila mendongak perlahan.

Aku juga ikut melihat ke atas.

Penglihatanku kurang jelas, kabut hujan dan gelapnya malam menyamarkan atap gedung di atas sana. Tapi aku yakin sesuatu sedang mengawasi di sana. Aku tahu jika panca indra gadis di sampingku ini  luar biasa.

Masih menatap ujung atap bangunan mall. Wajah terus tertimpa bulir air. “Mungkin kita harus lari sekarang”

Ila masih mematung melihat ke atas.

“Ayo Ila” Aku menarik lengan gadis itu.

“Eh” Ila terkesima, terpaksa ikut.

Kami mulai berlari melewati lahan parkir, air mengeciprak, menimpa beberapa pasukan organisasi yang tumbang barusan. Aku tidak akan lewat jalan raya atau di sekiarnya. Sebisa mungkin tidak bertemu siapapun.

Aku, Ila berlari melewati gang dari celah antara gedung. Sementara aku tidak tahu apa yang terjadi di keadaan kota saat ini. Setelah menghabisi pasukan barusan suasananya bukan berubah lega, justru sebaliknya. Rasanya tambah ganjil dan harus waspada.

Semakin jauh dari area mall, gedung-gedung tinggi menghimpit di sekitar kami. Kadang berbelok, walau tidak tahu akan mengarah kemana. Sejenak kami sedikit lega, berusaha tenang dan fokus.

Jika kata Ila belum selesai, itu pasti ada serangan selanjutnya.

Gadis itu masih berlari di belakangku, terus terdiam. Mungkin memikirkan suatu cara. Hebat, kulihat keadaan tubuhnya masih segar setelah melawan pasukan sebelumnya. Aku bahkan terlihat tidak ada apa-apanya dibanding perjuangan Ila sendirian.

1
Marina
keran, keren bgt
Arrosyad: makasih ibu'
total 1 replies
Kiritsugu Emiya
Harus jam berapa baru bisa update ya thor? Jangan sampai terlalu malam~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!