**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**
**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**
Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*
Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 032 - Nirmala Kembali
Dua tahun di London mengajariku cara berdiri di atas panggung tanpa memperlihatkan wajah.
Nama Nirmala muncul di poster konser, daftar putar, dan ulasan musik. Orang-orang mengenali tanganku di atas tuts, tetapi tidak mengenali perempuan yang membeli makan malam sendirian setelah pertunjukan.
Tahun pertama tidak romantis. Aku tinggal di kamar sempit, belajar berjalan normal setelah terapi kaki, lalu berlatih di ruang kampus yang pemanasnya sering mati. Bahasa Inggrisku cukup untuk kelas, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan mengapa musik tertentu membuatku berhenti bernapas. Aku menjawab semuanya dengan piano.
Rekaman anonim pertamaku dibagikan seorang dosen. Sebuah label kecil mengundangku tampil di aula berkapasitas dua ratus orang. Setelah itu datang festival, film independen, dan satu video pertunjukan yang menyebar tanpa pernah menunjukkan wajah. Nirmala menjadi misteri yang mudah dijual.
Aku menerima keberhasilan itu dengan dua syarat: tidak ada kamera di belakang panggung dan tidak ada pertanyaan tentang keluarga. Di atas panggung, aku memakai topeng tipis atau bermain di balik cahaya. Penonton mengira itu strategi pemasaran. Sebenarnya aku masih takut wajah Larasati akan membawa Arkana kembali ke setiap ruangan.
Raka muncul setelah pertunjukan di Paris dengan seikat bunga yang salah warna. Ia menyebut spider lily sebagai lili merah biasa dan mendapat ceramah lima menit dariku. Minggu berikutnya ia mengirim buku tentang bunga, lalu meminta maaf dengan kontrak distribusi yang tidak mengambil hak atas komposisiku.
Itulah cara dia mendekat: salah, belajar, lalu mencoba lagi tanpa menuntut hadiah.
Aku tetap menolak makan malam pertama, kedua, dan ketujuh. Pada ajakan kedelapan, aku setuju karena dia berjanji hanya membahas musik. Dia menepati janji selama dua puluh menit sebelum bertanya apakah aku selalu memandang pintu karena menunggu seseorang.
Aku tidak menjawab. Dia tetap datang ke konser berikutnya.
Malam itu aku duduk di restoran seafood kecil dekat sungai. Aku mengupas udang sambil mendengarkan pesan suara dari Raka Mahendra.
"Tiket sudah dikirim. Jangan cari alasan baru. Aku hanya berulang tahun sekali setahun."
Aku tersenyum tipis. Raka telah mengejarku selama delapan belas bulan, mula-mula sebagai produser yang ingin mengontrak Nirmala, lalu sebagai lelaki yang mengirim bunga ke setiap kota tur. Ia tidak pernah memaksa membuka topengku. Mungkin itu sebabnya aku membiarkannya tetap dekat.
Kulit udang menusuk ujung jariku. Titik darah muncul.
Aku menatapnya terlalu lama sampai pelayan membawakan tisu.
"Anda baik-baik saja?"
"Hanya tidak fokus."
Aku membersihkan luka dan berhenti mengupas. Dua tahun lalu, rasa sakit kecil pernah kupakai untuk mengalihkan kehilangan yang lebih besar. Kini aku tahu kebiasaan itu bukan bukti cinta. Itu tanda aku membutuhkan istirahat.
Aku membuka daftar kontak lama. Nomor Arkana masih tersimpan tanpa nama. Setiap beberapa bulan aku menelepon, mendengar pesan bahwa nomor tidak aktif, lalu menutup sebelum nada akhir.
Malam itu aku tidak menekan tombol panggil.
Sebagai gantinya, aku menelepon Kak Gilang.
"Kau sudah memutuskan?" tanyanya.
"Raka ingin aku tampil pada pesta ulang tahunnya di Jakarta."
"Di Aveline Grand."
"Kau tahu?"
"Wardhana Group masih menerima laporan kerja sama acaranya. Aku tidak lagi bekerja langsung untuk Arkana, tetapi beberapa jalur perusahaan belum putus."
"Apakah dia akan hadir?"
Gilang diam sesaat. "Kalau aku menjawab, keputusanmu akan berubah?"
"Mungkin."
"Kalau begitu aku tidak akan menjawab. Pulanglah jika kau siap menghadapi kotamu, bukan seorang lelaki."
Aku memandang pantulan lampu di sungai. "Kapan kau menjadi begitu bijaksana?"
"Setelah dua tahun mendengar kau mengeluh dalam tiga zona waktu."
Aku tertawa. "Aku akan pulang."
Keesokan harinya, Raka datang ke studio latihan membawa kopi dan kontrak penampilan. Setelannya terlalu rapi untuk ruangan yang penuh kabel.
"Akhirnya," katanya. "Aku hampir menyewa seluruh orkestra untuk menculikmu secara musikal."
"Itu tetap penculikan."
"Tapi dengan pencahayaan bagus."
Aku membaca kontrak. Nama venue membuat telapak tanganku dingin: Aveline Grand Hotel, milik Arkana.
"Kau memilih tempat itu sengaja."
Raka tidak menyangkal. "Itu hotel terbaik untuk acara sebesar ini. Dan mungkin aku ingin melihat apakah lelaki yang membuatmu membenci diri sendiri masih punya kekuatan atasmu."
"Aku tidak membenci diri sendiri."
Tatapannya turun ke plester di jariku. "Kau mengupas makanan sampai terluka, menelepon nomor mati, dan memainkan lagu yang sama setiap malam setelah penonton pulang. Apa istilahmu?"
"Rindu."
"Rindu tidak seharusnya menjadi hukuman."
Aku menandatangani kontrak. "Kalau begitu bantu aku menjadikannya musik."
Raka tersenyum, tetapi kesedihan singkat muncul di matanya. Ia tahu kalimat itu tidak berarti aku memilihnya.
"Ada satu hal lagi," katanya. "Aku sudah menyiapkan asisten selama di Jakarta. Namanya Vania. Sangat efisien, tahu kebutuhan turmu, dan katanya pernah bekerja dengan orang-orang hotel."
"Aku tidak membutuhkan penjaga."
"Dia asisten, bukan penjaga. Kau boleh memecatnya kalau mengganggu."
Penerbangan ke Jakarta berlangsung tiga belas jam lebih dengan satu transit. Ketika pesawat mendarat, udara lembap menempel di kulit seperti ingatan lama.
Vania menungguku di pintu kedatangan dengan papan kecil bertuliskan `Nirmala`. Ia tidak meminta foto, tidak bertanya mengapa aku memakai topi lebar, dan langsung memperlambat langkah ketika melihat cara kaki kiriku menapak.
"Mobil sudah dekat, Mbak Laras," katanya.
Aku berhenti. "Raka memberitahumu nama asliku?"
"Tentu."
Jawabannya terlalu cepat.
Di Hotel Serenata, Vania sudah menyiapkan kamar dengan lampu tidur jingga, air tanpa es, makanan tanpa daun bawang, dan bantal kecil untuk menyangga pergelangan kakiku.
"Dari mana kau tahu semua ini?"
"Catatan kebutuhan artis."
"Aku tidak pernah memberi catatan tentang lampu tidur."
Vania merapikan koper. "Mungkin Pak Raka menyebutkannya."
Raka bahkan tidak tahu aku tidak bisa tidur dalam gelap total.
Pukul dua dini hari, aku terbangun dan mendengar suara Vania di balkon.
"Dia sudah makan. Kakinya sedikit nyeri setelah penerbangan, tetapi tidak bengkak. Besok saya pastikan jadwalnya ringan."
Ia berhenti mendengarkan seseorang di telepon.
"Ya, Pak. Saya mengerti. Dia tidak tahu."
Pintu balkon bergeser. Aku segera memejamkan mata.
Vania berdiri di dekat ranjang beberapa detik, memastikan selimutku tertutup, lalu keluar.
Aku membuka mata.
Hanya satu orang yang tahu persis bagaimana aku tidur, makan, dan menyembunyikan sakit.
Dua tahun lalu, aku akan marah karena dia masih mengatur hidupku dari jauh. Malam itu kemarahan tetap muncul, tetapi di bawahnya ada rasa hangat yang tidak kuinginkan. Arkana benar-benar membiarkanku pergi, namun rupanya tidak pernah berhenti memastikan aku selamat.
Pertanyaannya bukan lagi apakah dia masih memedulikanku.
Pertanyaannya adalah apa yang akan kulakukan ketika akhirnya berhadapan dengannya.
Kepulanganku bukan kejutan baginya.
Dan Vania tidak pernah benar-benar bekerja untuk Raka.