Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Jejak yang Dicari & Rencana yang Tersusun
Pagi itu, langkah Cynthia melangkah keluar dari rumah lebih awal dari biasanya. Udara pagi terasa sejuk menyapa wajahnya, namun hatinya terasa jauh lebih berat daripada angin yang berhembus. Setiap pagi ia berangkat ke kantor — ia tidak tinggal diam di rumah, tidak hanya duduk menunggu dan mengurus urusan di tempat tinggal mereka. Ia memiliki pekerjaan, ia memiliki kehidupan, dan ia bertekad memperjuangkan haknya sendiri. Setiap hari ia menuju gedung tinggi tempat ia bekerja sebagai staf di perusahaan milik Aldy Reynaldi, pria yang selama ini setia menemaninya, pria yang mempercayainya, dan pria yang sungguh-sungguh mencintainya.
Di antara tumpukan berkas, suara ketikan papan ketik, dan hiruk-pikuk rekan kerja yang sibuk, Cynthia menyembunyikan kegelisahan yang tak pernah benar-benar hilang. Siapa dirinya sebenarnya? Dari mana asalnya? Mengapa hidupnya terasa begitu kabur, seakan ia tidak pernah benar-benar milik tempat mana pun? Rumah yang seharusnya menjadi miliknya, kasih sayang yang seharusnya menjadi haknya, bahkan identitas yang seharusnya melekat padanya — semuanya terasa direbut, diambil, lalu diakui sebagai milik orang lain. Dan orang itu adalah Karen — adik yang selama ini ia anggap saudara, yang ia lindungi, yang ia sayangi, namun ternyata justru menjadi orang yang mengambil segalanya darinya.
Saat jam istirahat tiba, Cynthia menyusuri lorong yang ia hafal betul menuju ruangan di ujung koridor. Pintu itu tertutup, namun ia mengetuk pelan, dan suara dari dalam menyambutnya dengan lembut.
"Masuk."
Cynthia melangkah masuk. Ruangan itu luas, tertata rapi, penuh berkas dan buku-buku tebal. Dan di sana, di balik meja besar yang terbuat dari kayu jati, duduk sosok yang selalu menjadi tempat bernaungnya — Aldy Reynaldi. Tidak ada rekan kerja lain di ruangan itu, tidak ada siapa pun selain mereka berdua. Maka Cynthia memanggilnya begitu saja, lembut, akrab, tanpa rasa sungkan sedikit pun.
"Aldy..." panggilnya pelan.
Aloy mendongak seketika, wajahnya yang tadinya serius seketika berubah lembut begitu melihat wanita yang dicintainya berdiri di ambang pintu. Ia meletakkan pena di tangannya, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatapnya dengan pandangan yang penuh kelembutan dan perhatian.
"Cynthiaku sayang..." ucapnya lembut. "Ada apa? Kau terlihat begitu lelah, seakan beban dunia ada di pundakmu."
Cynthia melangkah mendekat, lalu duduk di kursi di hadapan pria itu. Ia menunduk sejenak, menarik napas panjang, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Ketika ia akhirnya mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca, penuh kerinduan sekaligus kepedihan yang mendalam.
"Aldy... aku butuh bantuanmu," ucapnya pelan, suaranya bergetar. "Bukan soal pekerjaan. Bukan soal apa pun yang ada di meja ini. Tapi soal diriku. Soal siapa aku sebenarnya. Kalung yang kau temukan itu belum cukup. Orang bisa saja berkata itu hanya benda yang hilang, yang bisa jatuh ke tangan siapa saja. Aku butuh sesuatu yang lebih kuat, sesuatu yang tidak bisa dibantah."
Ia menatap mata pria itu dengan tajam namun penuh harap, melanjutkan ucapannya.
"Aku ingin kau dapatkan bukti-bukti lain yang lebih kongkrit selain kalung tersebut. Setelah bukti lain selain kalung sudah kau dapatkan dengan caramu sendiri, lalu aku ingin kau sendiri yang berbicara dengan Bapak kandungku, Bapak Hutapea, supaya meyakinkan beliau bahwa aku adalah anak kandung mereka berdua, bukan si Karen tersebut, sambil menunjukkan bukti lain yang sudah kau dapatkan tersebut."
Aloy mendengarkan setiap kata dengan saksama, tak mengalihkan pandangannya sedetik pun dari wajah wanita di hadapannya. Ketika Cynthia selesai berbicara, ia mengangguk mantap, seakan janji itu sudah terukir di hatinya.
"Tenanglah, Cynthiaku sayang," ucapnya tegas namun lembut. "Aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian. Aku akan mencari bukti-bukti yang lebih nyata, lebih meyakinkan — catatan kelahiran, dokumen lama, saksi, apa pun yang tersisa. Setelah semuanya terkumpul, aku akan menghadap Bapak Hutapea sendiri. Aku akan menunjukkan semuanya, aku akan meyakinkan beliau, dan kebenaran akan terungkap. Kau tidak akan sendirian dalam hal ini. Aku berjanji."
Kata-kata itu menenangkan hatinya sedikit, namun beban di pundaknya belum hilang. Ia mengangguk pelan, lalu berdiri hendak kembali ke mejanya. Saat melangkah keluar, kebetulan beberapa rekan kerja berpapasan di depan pintu ruangan itu. Cynthia segera mengubah nada suaranya, menyapa dengan sopan sebagaimana bawahan menyapa atasannya.
"Terima kasih, Pak Aldy," ucapnya pelan, agar terdengar pantas di telinga siapa pun yang lewat.
Aloy tersenyum paham, mengangguk pelan. "Sama-sama. Kembalilah bekerja, nanti kita bicara lagi."
Cynthia melangkah pergi, kembali ke tempat kerjanya, menyembunyikan rasa syukur yang bercampur haru di dalam dadanya. Setiap langkahnya terasa lebih mantap, namun ia tahu perjalanan ini masih panjang.
Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, Cynthia pulang ke rumah. Suasana di dalamnya terasa hening, namun ketenangan itu hanyalah topeng. Karen sedang beristirahat di kamar, dan Yb pulang lebih awal dari biasanya. Ketika Cynthia melangkah masuk ke ruang tengah, hanya ada mereka berdua sendirian. Yb segera mendekat, menatapnya lekat-lekat, lalu menggenggam kedua tangannya erat.
"Sayangku..." panggilnya lembut, suaranya penuh kelembutan yang hanya ditujukan untuknya. "Kau sudah pulang. Sejak tadi aku menunggumu. Aku merindukanmu."
Cynthia tersentuh, tersenyum tipis yang menyembunyikan seribu perasaan di baliknya. "Aku juga merindukanmu. Tapi kita harus berhati-hati. Karen bisa saja mendengar."
"Biarkan saja," bisik Yb, mendekatkan wajahnya hingga napas mereka bersentuhan. "Aku tak peduli lagi. Kau adalah wanita yang kucintai, satu-satunya yang benar-benar aku miliki di hati ini. Dan tak ada yang bisa mengubah itu." Ia mencium punggung tangan Cynthia perlahan. "Semakin dekat hari itu, semakin aku takut kehilanganmu. Tetaplah di sisiku, Sayangku. Jangan tinggalkan aku."
"Aku di sini," jawab Cynthia pelan, meski di lubuk hatinya ada keraguan yang tak kunjung hilang. "Aku belum pergi ke mana pun."
Namun di balik kelembutan itu, di balik pelukan hangat itu, rencana lain mulai terbentuk di benak Cynthia. Ia tahu Karen tak akan diam begitu saja. Ia tahu kemarahan adiknya akan meledak hebat saat kebenaran terungkap. Dan karena itulah, ia menyusun langkah yang menyakitkan namun terasa perlu — ia tidak bisa membiarkan Karen terus-terusan saja menjadi pihak yang terlihat benar.
Rencana itu mulai berjalan. Besok sorenya setelah pulang kerja Cynthia mengirim pesan kepada Yb — mengajaknya bertemu di sebuah kafe yang berada di dalam salah satu hotel ternama di pusat kota, mengatakan ada hal penting yang ingin dibicarakan berdua saja, tanpa gangguan, tanpa diketahui siapa pun. Yb tanpa ragu menyetujuinya.
Di kafe itu, mereka duduk berhadapan, mengobrol dengan hangat, penuh keakraban, sepasang kekasih yang merindukan satu sama lain. Cynthia tersenyum manis, menatapnya lekat-lekat, membuat Yb lupa segala beban yang membebani pikirannya. Saat minuman yang dipesan tiba, Cynthia mendorong gelas itu pelan ke arahnya. Yb meminumnya perlahan, tak menyadari bahwa di dalam minuman itu telah dicampurkan sesuatu yang akan mengubah segalanya.
Tak lama kemudian, efeknya mulai terasa. Kepala Yb terasa berputar, pandangannya kabur, tubuhnya terasa berat namun di saat yang sama terasa panas membara seperti ada hasrat nafsu yg ingin di lampiaskan ke lawan jenis terlebih lagi yang di lihat dia di depan nya adalah Cynthia, dan dia ingin melepaskan hasrat nafsu tersebut ke Cynthia orang yang paling di sayangi dan dia cintai. Cynthia segera menahannya, berpura-pura cemas.
"Kau tidak enak badan? Tunggu, aku akan memintakan kamar di hotel ini sebentar saja, kau istirahat dulu," ucapnya lembut.
Tanpa menunggu jawaban, ia bergegas ke resepsionis, memesan kamar, dan nama yang tertulis di buku tamu adalah Reza Oktovian — Yb. Semua seolah-olah atas kemauannya sendiri. Dengan kunci di tangan, ia menuntun Yb yang berjalan tertatih-tatih menuju kamar. Di kepala Yb yang setengah sadar, bayangan yang terlihat hanyalah wajah Cynthia. Ia tersenyum samar, merasa bahagia — sepertinya akhirnya Cynthia menerima dirinya. Namun kenyataannya, rencana Cynthia sama sekali bukan seperti itu.
Sesampainya di kamar, Cynthia menuntun Yb berbaring. "Istirahatlah, aku mau ke kamar mandi sebentar," ucapnya. Namun begitu pintu tertutup, ia segera menelpon seseorang — seorang perempuan lain — memintanya datang ke kamar itu. Setelah memastikan perempuan itu masuk, Cynthia keluar, menutup pintu pelan, dan bergegas pulang.
Sesampainya di rumah, Karen menemuinya dengan wajah pucat. "Aku tahu di mana Yb. Selama ini aku memasang pelacak di ponselnya tanpa sepengetahuannya. Titik lokasinya ada di hotel itu. Temani aku ke sana, tolong."
Hati Cynthia berdebar — rencananya berjalan persis seperti yang ia rencanakan. "Baik... aku temani kau," jawabnya pelan.
Mereka berdua berangkat, menuju tempat di mana kebenaran yang tampak seperti kebohongan akan terungkap.
Tujuh tahun kesetiaan, tujuh tahun menunggu, namun pada akhirnya semua pengorbanan seakan tak pernah dilihat. Alurnya begitu menyentuh, setiap kalimat terasa hidup dan menusuk sampai ke hati. Cerita ini bukan sekadar kisah cinta, tapi tentang dihargai atau diabaikan, tentang berjuang lalu terluka. Kalau kalian mampir ke sini, jangan lewatkan untuk membacanya dari awal sampai akhir — kalian pasti akan ikut merasakan setiap perasaan tokohnya. Karya yang luar biasa indah dan berharga! Semangat terus menulisnya Kak! ❤️⭐⭐⭐⭐⭐