NovelToon NovelToon
Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Mandul
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Belum Kerja Sudah Dilirik Puskeswan

Waktu untuk menolongnya tinggal hitungan detik.

"Jangan pindahkan Garang!" teriak Laras.

Bu Yuni yang sudah menarik kaki belakang anjing itu segera melepaskan. "Saya mau membawanya ke klinik. Kalau dibiarkan di sini, dia mati."

"Diangkat tanpa membuka saluran napas akan membuang waktu. Mundur."

Laras berlutut di sisi kepala Garang. Ia tidak langsung memasukkan tangan ke mulut. Anjing yang kekurangan oksigen bisa menggigit tanpa sadar. Ia mengamati tanda-tandanya terlebih dahulu.

Garang tidak menyerang siapa pun. Ia terus mengais moncong, meregangkan leher, batuk tanpa bunyi, dan berusaha menarik napas. Busa di bibir mengandung garis darah segar, berbeda dari liur biasa. Gerakannya menunjukkan ada benda yang menyumbat tenggorokan, bukan perubahan perilaku progresif yang cukup untuk menyimpulkan rabies.

"Bu Endah, apakah vaksin rabies Garang masih berlaku?"

"Masih. Kartu vaksinnya di rumah."

"Semua tetap jaga jarak dari mulutnya. Tapi ini lebih mirip tersedak."

Laras meminta Rina membawa kain tebal. Dengan bantuan Bu Endah, ia menjaga kepala Garang tetap lurus. Saat rahang anjing terbuka karena megap-megap, Laras menggunakan cahaya ponsel untuk melihat ke dalam. Tidak ada benda yang bisa dijangkau aman dengan jari, hanya darah tipis di belakang lidah.

Gusi Garang mulai kebiruan.

Laras menempelkan dua jari pada bagian dalam paha Garang. Denyutnya cepat dan lemah, tetapi masih ada. Ia meminta Rina menghitung waktu dan menyuruh satu orang menghubungi petugas veteriner sambil menjelaskan bahwa pasien mengalami sumbatan jalan napas, bukan sekadar `anjing sakit`.

"Kalau dia berhenti bernapas setelah benda keluar, kita mulai bantuan napas dan kompresi," kata Laras. "Jangan ada yang memasukkan air ke mulutnya."

Seorang lelaki menawarkan menarik lidah Garang dengan tang. Laras menolak. Alat logam bisa merobek jaringan atau mendorong benda lebih dalam jika digunakan tanpa visualisasi.

"Saya akan melakukan dorongan untuk mengeluarkan benda. Pegang bahunya, jangan tekan leher."

Garang berukuran besar. Laras memosisikan tubuh di belakang tulang rusuknya, merangkul dari sisi punggung saat anjing terbaring, lalu menempatkan kepalan di bawah ujung tulang dada. Ia memberi beberapa dorongan cepat ke arah dalam dan atas.

Tidak ada yang keluar.

Garang terkulai, lalu kembali mengais tanah.

"Sekali lagi."

Putaran kedua membuat gumpalan busa keluar, tetapi jalan napas belum terbuka. Laras mengubah sudut sedikit, memastikan tekanan tidak tepat mengenai tulang rusuk, lalu melakukan putaran ketiga.

Tubuh Garang tersentak.

Sebuah gumpalan daging sebesar kepalan kecil terpental ke tanah bersama cairan dan darah. Anjing itu menghirup udara dengan suara kasar, batuk beberapa kali, lalu dadanya mulai bergerak lebih teratur.

Laras segera memiringkan kepala Garang agar cairan keluar dan tidak terhirup kembali. Ia membersihkan mulut bagian depan dengan kain, lalu menghitung napas selama satu menit. Masih terlalu cepat, tetapi setiap tarikan menghasilkan aliran udara.

"Garang, dengar saya?"

Telinga anjing itu bergerak. Respons sederhana tersebut membuat orang-orang di sekeliling mengembuskan napas lega.

Bu Endah menangis lega. "Garang..."

"Belum selesai. Jangan beri makan atau minum dulu. Tenggorokannya mungkin terluka."

Laras memeriksa rongga mulut sejauh yang aman, memastikan tidak ada sisa benda terlihat. Ia meminta Garang tetap berbaring dan mengawasi warna gusi, napas, serta kesadarannya.

Beberapa menit kemudian, warna biru pada bibir memudar. Garang mengangkat kepala, lalu mendorong moncongnya pelan ke telapak tangan Laras.

"Anjing galak itu mau disentuh dia," bisik seorang ibu.

"Dia tahu siapa yang menolongnya."

Rina menggunakan batang kayu untuk membuka gumpalan daging yang terlempar. Lapisan luarnya hancur, memperlihatkan potongan kawat tipis dan tali pancing yang sengaja digulung di dalam.

Semua orang terdiam.

"Ini bukan tulang," kata Laras. "Dagingnya sengaja diisi kawat. Garang menelannya, lalu gumpalan tersangkut dan melukai saluran cerna bagian atas."

Wajah Bu Endah berubah keras. "Ada orang yang berniat membunuh anjing saya."

Bu Yuni mundur setengah langkah. "Mungkin sampah dari luar asrama."

"Mungkin," jawab Bu Endah. "Karena itu benda ini akan disimpan, difoto, dan dilaporkan."

Laras meminta seseorang membawa wadah bersih. Gumpalan dan kawat dimasukkan tanpa disentuh tangan kosong. Area tempat Garang menemukan umpan dipagari sementara agar anak-anak atau hewan lain tidak mendekat.

Bu Endah meminta Wahyu yang baru tiba memotret posisi umpan, jejak tanah, dan semua orang yang berada di sekitar lokasi. Bukan untuk menuduh sembarangan, melainkan agar kronologi tidak berubah setelah warga pulang.

"Garang selalu diberi makan di rumah," katanya. "Dia tidak biasa menemukan daging matang di jalan."

"Periksa jalur lain yang sering dilewatinya," jawab Laras. "Kalau pelaku menaruh lebih dari satu umpan, hewan lain masih berisiko. Gunakan tongkat dan sarung tangan. Jangan biarkan anak-anak membantu."

Beberapa anggota menyisir rumput dan menemukan dua potongan daging lain yang belum disentuh. Keduanya juga terasa keras di bagian tengah. Semua dimasukkan dalam wadah terpisah, diberi label waktu dan lokasi, lalu diserahkan kepada petugas keamanan asrama.

Wajah Bu Yuni semakin pucat. Ia pura-pura sibuk menenangkan seorang tetangga agar tidak ditanyai.

Kolonel Wibowo sedang keluar kota dengan kendaraan keluarga, sehingga Garang tidak bisa langsung dibawa jauh. Bu Endah meminta Laras melakukan pemeriksaan awal di rumah.

"Setelah napas stabil, bawa ke fasilitas veteriner," kata Laras. "Kawat bisa melukai kerongkongan. Dia mungkin perlu pencitraan atau endoskopi kalau ada sisa. Untuk sementara jangan paksa minum susu atau makan. Setelah dokter memastikan aman menelan, baru beri air sedikit dan pakan lunak sesuai arahan."

Bu Endah mengangguk pada setiap kata.

Di rumah, Laras memeriksa denyut, suhu, bunyi napas, serta respons Garang. Tidak ada bunyi sumbatan baru, tetapi tenggorokannya sensitif. Ia menuliskan catatan rujukan dan jam kejadian.

"Saya tidak tahu bagaimana membalas ini," kata Bu Endah.

"Pastikan Garang diperiksa lagi dan simpan barang bukti. Itu cukup."

"Kamu belum bekerja di Puskeswan?"

"Belum. Saya dokter sementara di peternakan."

Bu Endah langsung mengambil ponsel. Ia menelepon drh. Hutomo, kepala Puskeswan, menceritakan tindakan Laras dan meminta Garang mendapat pemeriksaan lanjutan sekaligus merekomendasikan Laras untuk bekerja di sana.

"Saya tidak minta diterima karena menjadi keluarga satuan," sela Laras setelah panggilan. "Kemampuan saya tetap harus dinilai."

"Yang saya ceritakan kemampuanmu, bukan pangkat suamimu," jawab Bu Endah.

Sebelum Laras pergi, Bu Endah menahan bahunya. "Garang pernah menggagalkan penyusup masuk ke rumah kami. Dia bukan sekadar hewan peliharaan. Banyak keluarga merasa aman karena dia berpatroli. Orang yang memasang umpan tahu kebiasaannya."

"Karena itu pelaku mungkin orang yang sering mengamati asrama," kata Laras. "Tapi jangan umumkan dugaan sebelum petugas memeriksa saksi dan rekaman. Pelaku bisa menghilangkan bukti."

Bu Endah menyetujui. Informasi yang diumumkan kepada warga hanya bahwa ada umpan berbahaya dan semua orang harus menjaga anak serta hewan masing-masing.

Menjelang siang, Garang dibawa ke fasilitas dengan kendaraan dinas yang kembali. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan tidak ada sisa logam yang tampak pada rongga mulut dan saluran atas, tetapi ia harus menjalani observasi, pakan lunak, serta pemeriksaan lanjutan jika muntah, sulit menelan, atau batuk berulang.

Laras lalu melanjutkan rencana ke peternakan. Pak Sutrisno sudah mendengar kejadian Garang dan segera mengajaknya bertemu Pak Yohanes.

"Kami senang mempekerjakanmu," kata Pak Sutrisno, "tapi kemampuanmu lebih dibutuhkan seluruh kecamatan. Puskeswan punya obat, laboratorium, dan jaringan desa. Kami ingin mengusulkanmu masuk resmi sambil tetap menangani koperasi."

Pak Yohanes mengangguk. "Saya antar sekarang."

Mereka tiba di Puskeswan membawa ijazah, dokumen domisili sebagai warga asrama, surat pengalaman, dan laporan penanganan PMK. drh. Hutomo masih berada di kabupaten untuk rapat, tetapi seorang pegawai senior menerima mereka di meja depan.

Ia membaca nama Laras, melihat fotonya, lalu bersandar.

"Baru pindah, pengalaman di fasilitas besar belum ada, dan langsung minta posisi dokter?"

"Saya meminta mengikuti proses penilaian," jawab Laras.

"Prosesnya panjang. Lagi pula kerja lapangan bukan untuk perempuan yang sibuk urus penampilan. Kalau salah menangani ternak, nama Puskeswan yang rusak."

Laras membuka laporan PMK di halaman yang mencantumkan tanda tangan tim Dinas. "Silakan nilai pengalaman saya dari dokumen ini, bukan dari wajah atau pakaian. Saya menjalankan isolasi, penelusuran kontak, dan pelaporan sampai sumber hewan terjangkit ditemukan."

Pegawai itu bahkan tidak membaca halaman tersebut. "Semua orang bisa menulis laporan bagus setelah dibantu peternakan."

"Kalau begitu hubungi petugas Dinas yang menandatangani. Verifikasi adalah bagian proses, bukan alasan menutup pintu."

Nada Laras tetap sopan, membuat penghinaan pegawai tersebut terdengar semakin buruk di depan warga yang menunggu.

Pak Sutrisno menahan marah. "Ibu ini baru mengendalikan PMK di koperasi kami dan menyelamatkan anjing dinas."

Pegawai itu mendorong map Laras kembali. "Bukan siapa saja bisa masuk Puskeswan. Tunggu kepala pulang dan mulai dari antrean bawah."

Laras tidak langsung mengambil map itu. Ia melihat daftar kunjungan yang tergantung di dinding. Hampir semua kolom pagi ini masih kosong, padahal tiga peternak di bangku tunggu membawa surat rujukan. Bau antiseptik ada, tetapi meja pemeriksaan penuh debu tipis. Tempat ini kekurangan tangan yang benar-benar mau turun bekerja.

"Saya tidak meminta jalur khusus," katanya. "Namun hewan sakit tidak bisa disuruh menunggu hanya demi menjaga urutan pangkat. Kalau ada keadaan darurat, siapa petugas medis yang berjaga?"

Pegawai itu membuka mulut, tetapi tidak sempat menjawab.

Sebelum Laras sempat menjawab, seorang pria berlari masuk dengan napas putus-putus.

"Dokter hewan! Tolong! Sapi terakhir kami sedang sulit melahirkan. Kalau terlambat, induk dan anaknya mati!"

1
aku
hitung ras!!! smpe tuntas pokoknya!! 🌹
aku
jgn di tolongin. biarin2.
aku
mamvuss!! pecat sekalian pecat!! yess /Curse/
aku
duh pengen kuikat tuh pegawai di kursi baru mulutnya sumpal pke kaos kaki /Scream//Curse/
aku
bagus laras, tegas!!
aku
modelan vania sm rendra n emaknya tuh manusia yg halal disantet 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!