NovelToon NovelToon
ZHOO, SANG PENAKLUK EST

ZHOO, SANG PENAKLUK EST

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: zai_zuk

Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 34, RAHASIA LORONG II.

Hari kedua di Kael-Vor. Kabut pagi masih menempel di dinding-dinding batu istana, menyisakan tetesan air dingin yang jatuh perlahan, seolah istana itu sendiri sedang menangis dalam diam. Zhoo berjalan menyusuri lorong-lorong panjang yang remang, langkahnya tanpa suara, seolah ia adalah bagian dari bayangan yang menari di bawah cahaya obor yang berkedip-kedip. Ia tidak sekadar berjalan — ia mengamati. Cara prajurit berjalan dengan bahu yang kaku, penuh ketegangan seolah setiap saat musuh bisa muncul dari balik dinding. Cara para pelayan menunduk dalam, tidak berani mengangkat wajah lebih tinggi dari lantai batu yang dingin. Cara cahaya jatuh — selalu sebagian terhalang, selalu ada sisi yang gelap, tak pernah sepenuhnya terang. Setiap detail, sekecil apa pun, menceritakan satu hal: ketakutan meresap ke dalam setiap sudut kerajaan ini.

Saat ia berbelok di persimpangan lorong yang sepi, jauh dari suara langkah kaki pengawal, suara percakapan yang rendah namun tajam menyusup ke telinganya. Suara itu berasal dari balik pintu kayu gelap yang sedikit terbuka, celah yang cukup untuk mendengar namun tidak cukup untuk melihat. Zhoo berhenti seketika, menekan tubuhnya ke dinding batu yang dingin, menahan napas agar tidak terdengar.

"...tidak bisa menunggu lebih lama lagi," suara seorang wanita — tegas, bergetar karena desakan, namun tetap terkendali. Itu suara Elara. "Jika Raja Kael tetap menolak bersekutu dengan Vereon karena kesombongannya, bukan hanya takhtanya yang akan jatuh. Seluruh Kaelthira akan hancur menjadi debu sebelum musim gugur tiba. Kita bicara tentang kekuatan yang bisa melahap tujuh kerajaan sekaligus, dan kita berdiri diam seolah tembok batu ini cukup untuk menahannya."

Suara pria menyahut, rendah namun penuh peringatan — Rhaen. "Kau terlalu berani berkata begitu, Elara. Jika ada yang mendengar dan melaporkannya kepada Raja, kata-kata itu saja sudah cukup untuk mengirimmu ke tiang gantungan sebelum matahari terbenam. Kau menyebutkan nama Vereon dengan nada seolah sekutu adalah satu-satunya jalan, padahal semua orang tahu apa yang terjadi pada kerajaan yang pernah bersekutu dengannya — mereka tidak lagi menjadi kerajaan, melainkan wilayah taklukan tanpa nama."

"Pengkhianatan atau kebenaran?" balas Elara cepat, tanpa ragu sedikit pun. "Kau tahu aku benar, Rhaen. Kael adalah penguasa yang hebat, ia berani, ia tegas — tapi ia sendirian. Dan kesendirian adalah kelemahan terbesar di medan perang. Vereon tidak akan datang sendirian. Ia membawa pasukan yang jumlahnya melebihi gabungan tiga kerajaan, dan di belakangnya ada kekuatan yang bahkan ia sendiri tak sepenuhnya pahami. Jika kita tetap berdiri sendiri, kita akan dihancurkan satu per satu, seperti daun kering yang jatuh tertiup angin."

Keheningan sejenak menyelimuti ruangan itu, hanya terdengar suara napas berat dan bunyi tetesan air dari luar. Lalu Rhaen berbicara lagi, lebih pelan, seolah berat hati untuk mengaku.

"Dan pemuda itu — Zhoo," ucapnya. "Apa pendapatmu tentang dia? Dia datang tanpa tentara, tanpa harta, tanpa gelar, namun ia berbicara seolah seluruh benua sudah ada di genggamannya. Apakah ia penyelamat yang kita tunggu, atau badai lain yang akan menghancurkan apa yang tersisa?"

"Dia berbahaya," jawab Elara tanpa ragu sedikit pun. "Bukan karena pedangnya, bukan karena sihirnya — dia tidak memiliki keduanya. Dia berbahaya karena kata-katanya. Karena orang-orang mulai mempercayainya. Dia berbicara tentang kesatuan seolah itu hal yang mungkin, hal yang wajar, padahal selama ratusan tahun tidak ada yang berani menyebutkannya tanpa ditertawakan. Jika ia berhasil meyakinkan kerajaan-kerajaan lain, keseimbangan rapuh yang kita jaga selama ini akan hancur berkeping-keping. Dan entah apa yang akan tumbuh menggantikannya — entah kedamaian yang sejati, atau kekacauan yang menelan kita semua."

"Apakah itu hal yang buruk?" tanya Rhaen pelan, hampir berbisik. "Dunia ini sudah hancur sejak lama, Elara. Mungkin sesuatu yang baru memang perlu lahir — meski dengan darah dan api."

"Belum tahu," jawab Elara, nada suaranya melembut, penuh keraguan yang dalam. "Tapi perubahan selalu berbahaya. Dan semakin besar perubahannya, semakin banyak darah yang akan tumpah. Semakin tinggi seseorang naik, semakin berat pula beban yang harus ia pikul — dan semakin jauh ia bisa jatuh. Aku hanya takut, ketika debu nanti mereda, yang tersisa bukanlah dunia yang lebih baik, melainkan kuburan yang lebih luas."

Zhoo mundur perlahan, langkah demi langkah, menjauh dari pintu itu seolah ia baru saja mendengar rahasia yang terlalu berat untuk ditanggung seorang pemuda. Kata-kata Elara berputar di kepalanya, menembus lebih dalam dari sekadar pedang tajam. Ia tahu ia berjalan di jalan yang berbahaya — tapi ia tidak menyadari betapa besarnya taruhannya, betapa banyak nyawa yang mungkin bergantung pada setiap keputusan yang ia ambil. Apakah ia benar-benar membawa harapan, atau hanya membawa badai yang lebih dahsyat dari yang ada sekarang?

Saat ia berbalik perlahan, jantungnya masih berdegup kencang, ia melihat Elara berdiri di ujung lorong — beberapa langkah saja darinya. Ia tidak terkejut. Tidak terlihat marah. Wajahnya tenang, seolah ia sudah tahu sejak tadi bahwa seseorang berdiri di balik pintu itu, mendengarkan setiap kata yang terucap. Cahaya obor di sampingnya menerangi separuh wajahnya, membuat matanya tampak dalam dan tak terbaca.

"Kau mendengar semuanya," katanya — bukan pertanyaan, melainkan pernyataan yang pasti. Suaranya tidak keras, namun bergema di lorong yang sunyi itu.

Zhoo mengangguk pelan, tidak mencoba menyangkal. "Maaf. Aku tidak bermaksud menguping. Aku hanya lewat — lalu kata-katamu membuatku berhenti."

Elara melangkah mendekat, perlahan, seolah mendekati hewan liar yang bisa lari kapan saja. Ia berhenti tepat di depan Zhoo, jarak di antara mereka hanya beberapa jengkal. "Kau tidak perlu minta maaf. Kata-kata itu bukan rahasia. Hanya saja, sedikit orang yang berani mengucapkannya dengan lantang. Kau berhak tahu apa yang dipikirkan orang tentang rencanamu. Kau berhak tahu bahwa tidak semua orang melihatnya sebagai cahaya di ujung lorong. Banyak yang melihatnya sebagai api yang akan membakar semuanya — termasuk harapanmu sendiri."

"Dan kau?" tanya Zhoo, suaranya sedikit bergetar. "Apa yang kau lihat saat melihatku? Penyelamat? Penakluk? Atau sekadar pemuda bodoh yang berjalan menuju kematiannya sendiri?"

Elara menatapnya lama, meneliti setiap inci wajahnya, seolah mencoba membaca apa yang tersembunyi di balik matanya yang tajam namun lelah. Angin berdesir melewati celah batu di ujung lorong, membawa bau hutan pinus dan kabut yang dingin.

"Aku melihat seseorang yang berjalan di atas tali tipis yang membentang di atas jurang terdalam di benua ini," jawabnya pelan namun tegas. "Di bawahmu ada kegelapan. Di belakangmu ada perang. Dan semakin tinggi kau naik, semakin banyak orang yang akan ikut jatuh bersamamu — baik yang mengikutimu sukarela, maupun yang terjebak dalam bayang-bayangmu."

"Kalau begitu hentikan aku," tantang Zhoo, meski suaranya lembut. "Katakan pada Raja Kael bahwa aku ancaman. Katakan padanya bahwa aku membawa perang dan bukan kedamaian. Biarkan dia mengusirku, atau memenjarakanku, atau membunuhku sekarang — sebelum semuanya menjadi terlalu terlambat."

Elara diam sebentar, napasnya yang hangat berembun di udara dingin di antara mereka. Ia menunduk sedikit, lalu mengangkat wajahnya kembali menatap mata Zhoo.

"Aku belum tahu apakah aku akan melakukannya," akunya jujur, suara yang penuh beban. "Karena satu hal yang aku tahu pasti — dunia ini tidak bisa terus seperti ini. Kita tidak bisa terus saling membunuh, saling mencurigai, saling membiarkan binasa saat tetangga kita diserang. Dan meskipun caramu berbahaya, meskipun kau mungkin salah, meskipun kau mungkin akhirnya menghancurkan semua yang ingin kau bangunkan... setidaknya kau berani mencoba melakukan sesuatu. Bukan seperti kami — yang hanya berdiri di balik tembok batu ini, menunggu hari di mana tembok itu tidak lagi cukup kuat untuk melindungi kami."

Ia berbalik perlahan untuk pergi, langkahnya tenang namun berat, seolah setiap langkahnya membawa beban dunia di pundaknya. Namun sebelum ia menghilang di belokan lorong, ia berhenti tanpa menoleh ke belakang.

"Hati-hati, Zhoo," ucapnya, suaranya terdengar samar namun jelas. "Semakin tinggi kau naik, semakin berat rahasia yang akan kau pelihara. Semakin banyak orang yang berdiri di sisimu, semakin sulit membedakan siapa yang benar-benar bersamamu dan siapa yang hanya menunggu waktu yang tepat untuk menusukmu dari belakang. Dan ingatlah satu hal — di puncak tertinggi, tidak ada tempat untuk kesetiaan yang goyah."

Setelah Elara pergi, Zhoo berdiri sendirian di lorong batu yang semakin dingin dan sepi. Kata-katanya berputar di kepalanya, menanamkan keraguan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tahu perjalanan ini tidak akan berakhir dengan kemenangan yang mudah dan pesta yang megah. Ia tahu bahwa di puncak yang ia tuju, tidak ada bunga yang tumbuh — hanya angin yang lebih kencang, dingin yang lebih tajam, dan kesepian yang lebih dalam dari apa pun yang pernah ia bayangkan.

Tapi ia juga tahu satu hal yang lebih kuat dari rasa takut dan keraguan: ia tidak bisa berhenti. Bahkan jika ia ingin, jalan yang ia lalui sudah tertutup di belakangnya. Tidak ada jalan kembali. Satu-satunya arah adalah ke depan — menuju ketidakpastian, menuju pertempuran yang tak terelakkan, menuju takhta yang mungkin tidak bisa ia jangkau, atau jika ia berhasil meraihnya, mungkin tidak bisa ia pegang tanpa kehilangan bagian terpenting dari dirinya sendiri.

Malam itu, bintang-bintang tampak lebih terang namun lebih dingin di atas Kael-Vor, seolah mereka menatap ke bawah tanpa belas kasih. Dan di suatu tempat di kejauhan, di perbatasan kerajaan lain, api unggun mulai dinyalakan satu per satu, berbaris seperti bintang yang turun ke bumi. Perang belum datang — tapi bayangannya sudah jatuh di atas seluruh benua Est, dan tidak ada satu pun kerajaan yang bisa mengaku aman dari jangkauannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!