Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Pertama — 18
Karina tidak tidur sama sekali malam itu.
Ia duduk di tepi kasurnya sepanjang malam, menatap gelang bermanik kayu di pergelangan tangannya.
Ia terus memikirkan cara terbaik untuk menghabiskan sisa waktu tersisa yang begitu singkat untuk sesuatu yang telah tumbuh begitu dalam selama kebersamaannya dan Bram.
Pagi harinya ia mengirim pesan kepada Bram, memintanya untuk tidak masuk sekolah dan menemuinya di taman kota tempat mereka menghabiskan waktu yang begitu menyenangkan beberapa minggu lalu.
Bram sudah menunggu di sana ketika Karina tiba dab duduk di bangku yang sama, seolah tempat itu telah menjadi semacam kuil kecil bagi kenangan mereka berdua.
"Hari ini, kan?" Tanya Bram begitu melihatnya duduk di sampingnya, suaranya tenang meski matanya sudah memerah yang menadakan bahwa ia juga tidak tidur semalaman.
Karina mengangguk pelan, tidak sanggup berkata apa apa untuk beberapa saat.
"Gue udah nyiapin diri." Lanjutnya mencoba tersenyum meski senyum itu terlihat rapuh.
...----------------...
Mereka menghabiskan pagi itu berjalan mengelilingi taman kota.
Mengunjungi kembali setiap tempat yang pernah menjadi saksi kebersamaan mereka.
Stan permainan lempar bola tempat Bram memenangkan boneka kelinci.
Bangku tempat mereka memakan es kelapa muda bersama.
Melewati jalan setapak tempat mereka menghabiskan waktu membicarakan mimpi dan masa depan.
"Lo masih simpen boneka kelincinya?" Tanya Bram sambil tersenyum kecil mengenang.
"Selalu." Jawab Karina, meski ia tau boneka itu akan tetap tertinggal di dunia ini dan menjadi kenangan yang hanya bisa Bram simpan sendirian setelah kepergiannya nanti.
Mereka duduk di bangku dekat air mancur, tempat Bram pernah bercerita tentang mimpinya.
Selama beberapa saat keduanya hanya diam menikmati kehadiran satu sama lain tanpa adanya kata kata, seolah setiap detik keheningan itu juga berharga untuk dikenang.
"Al." Bram akhirnya memecah keheningan, "boleh gue tanya sesuatu sebelum lo pergi?"
"Tanya apa?"
"Nama asli lo yang sebenarnya." Ucapnya yang menatap Karina lekat lekat.
"Gue nggak butuh penjelasan lengkap soal siapa lo sebenarnya, tempat asal lo, atau kenapa lo bisa ada di sini.”
“Gue cuma pengen tau seenggaknya nama asli lo. Biar gue punya kenangan yang beneran nyata buat diinget."
Karina menatapnya lama, mempertimbangkan konsekuensi dari permintaan sederhana tapi begitu berarti itu.
Sistem tidak pernah melarangnya mengungkapkan nama aslinya, hanya melarangnya mengungkap kebenaran tentang Sistem itu sendiri.
"Karina. Nama aku yang sebenarnya Karina." Ucapnya pelan.
Bram mengulangi nama itu pelan, seolah mencicipi setiap suku katanya.
"Karina." gumamnya sambil tersenyum tulus. "Nama yang cantik. Cocok banget sama orangnya."
"Makasih." Ia tersenyum di tengah air mata yang mulai menggenang lagi.
"Karina." ulang Bram sekali lagi, kali ini menatapnya dengan mata penuh ketulusan.
"Thanks karna udah pernah jadi bagian dari hidup gue. nggak peduli berapa lama waktunya dan nggak peduli gimana caranya kamu bakal pergi nanti, gue nggak akan pernah nyesel udah kenal sama lo."
...----------------...
Menjelang siang hari saat matahari mulai meninggi dan bayangan pohon semakin memendek.
Karina merasakan sesuatu yang aneh menjalar di sekujur tubuhnya, seperti sensasi ringan seperti angin yang menyapu yang menandakan bahwa waktu yang diberikan Sistem semakin mendekati batasnya.
"Bram." katanya dengan suara bergetar.
"Aku rasa waktunya udah deket."
Wajah Bram seketika berubah pucat, meski ia berusaha keras untuk tetap tenang. "Sekarang?"
"Nggak tau pastinya kapan, tapi aku ngerasa nggak akan lama lagi."
Mereka berdiri berhadapan di bawah pohon rindang itu, hening untuk beberapa saat dan hanya suara angin serta kicauan burung yang mengisi ruang kosong di antara mereka.
"Gue nggak tau harus bilang apa." Suaranya mulai bergetar hebat dan air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh tanpa bisa ia kendalikan lagi. Padahal gue udah coba nyiapin diri buat momen ini, tapi ternyata kenyataannya tetep aja berat banget."
"Nggak apa apa buat ngerasa berat." Karina memeluknya erat, air matanya sendiri juga tidak bisa lagi ia bendung.
"Aku juga ngerasain hal yang sama Bram. Berat banget rasanya."
"Janji satu hal ke gue" Ucap Bram, suaranya tercekat di tengah pelukan mereka.
"Dimana pun lo nanti, tolong jangan lupain kalo ada satu orang di dunia ini yang bakal selalu inget sama lo seumur hidupnya."
"Aku janji nggak akan lupain kamu, nggak akan pernah." Bisik Karina, memeluknya lebih erat.
Mereka berpelukan lama, membiarkan setiap detik yang tersisa terasa seabadi mungkin, sebelum akhirnya Karina merasakan sensasi itu semakin kuat, semakin nyata yang menjadi tanda bahwa waktunya benar-benar telah tiba.
"Bram." Ia melepaskan pelukan itu perlahan dan menatap matanya untuk terakhir kalinya. "Aku harus pergi sekarang."
Bram mengangguk, meski air matanya masih terus mengalir, mencoba tersenyum di tengah kesedihan yang begitu mendalam.
"Pergilah. Jadilah bahagia, di mana pun lo berada nanti. Lo pantes dapetin kebahagiaan yang sama kayak yang udah lo kasih ke gue."
"Kamu juga Bram." Karina tersenyum, air mata masih mengalir deras di pipinya.
"Semoga kamu bisa jadi guru olahraga terbaik yang pernah ada. Buat semua anak-anak merasakan kebahagiaan kayak kamu."
Bram mengangguk, menggenggam tangannya untuk terakhir kalinya. "Selamat tinggal Karina."
"Selamat tinggal Bram."
Seketika itu juga, cahaya putih mulai menyelimuti penglihatan Karina, perlahan menghapus sosok Bram yang berdiri dengan air mata mengalir namun tetap tersenyum, hingga akhirnya semuanya lenyap sepenuhnya dab digantikan oleh ruang kehampaan yang familiar.
[Selamat, Karina Wardhani. Misi Dunia Pertama telah berhasil diselesaikan dengan hasil yang luar biasa.]
[POIN KEHIDUPAN: 18.750 / 100.000.]
Karina berdiri di tengah ruang putih itu, air mata masih membasahi wajahnya, dadanya masih terasa begitu berat oleh perpisahan yang baru saja terjadi.
"Dia bakal baik-baik aja, kan?" tanyanya, suaranya serak.
[Bram Setiawan akan menjalani kehidupannya dengan seluruh kebahagiaan dan kekuatan yang telah dia bangun bersama anda.]
[Dia akan diterima di program beasiswa tersebut, melanjutkan pendidikan sesuai impiannya, membangun hubungan yang sehat dengan keluarganya.]
[Dan pada akhirnya, menjadi sosok yang berarti bagi banyak orang di sekitarnya. Kebahagiaannya bersifat nyata dan berkelanjutan terlepas dari anda.]
Jawaban itu memberikan sedikit kelegaan di tengah kesedihan yang masih membebani hatinya.
Karina mengusap air matanya, menatap bilah poin keemasan yang kini menunjukkan angka yang jauh lebih besar dari sebelumnya, meskipun masih sangat jauh dari target yang harus ia capai.
"Berapa dunia lagi yang harus aku lewatin?" Tanyanya, mencoba mengalihkan pikirannya dari kepedihan yang masih segar.
[Itu bergantung sepenuhnya pada seberapa besar dampak yang berhasil anda ciptakan di setiap dunia.]
[Berdasarkan hasil dunia pertama, estimasi kasar menunjukkan bahwa anda memerlukan sekitar tujuh hingga sepuluh dunia lagi, tergantung tingkat kesulitan masing-masing.]
Karina menghela napas panjang dan mencoba menguatkan dirinya sendiri untuk perjalanan panjang yang masih membentang di hadapannya.
"Oke. Aku siap buat ke dunia berikutnya."
[Kesiapan yang luar biasa, mengingat betapa beratnya perpisahan yang baru saja anda lalui. Sebelum melanjutkan, Sistem ingin menyampaikan satu hal.]
"Apa itu?"
[Ikatan emosional yang tercipta antara pengguna dan subjek di setiap dunia tidak pernah benar-benar hilang sepenuhnya.]
[Meski pengguna tidak akan mengingat detailnya secara sadar setelah berpindah dunia untuk menjaga stabilitas mental pengguna dalam menjalani misi berikutnya.]
[Namun ada kemungkinan meski sangat kecil dan tidak dapat dijanjikan bahwa jiwa jiwa yang pernah tersentuh secara mendalam oleh perjalanan ini akan menemukan jalan mereka sendiri didunia nyata anda.]
Karina terdiam, mencerna kalimat itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan, antara harapan kecil dan kesadaran bahwa harapan itu tidak boleh menjadi beban yang mengganggu misinya ke depan.
"Aku nggak akan berharap terlalu banyak, tapi aku juga enggak akan nutup kemungkinan itu."
[Sikap yang bijaksana. Sekarang bersiaplah. Dunia kedua anda sudah menanti.]
Cahaya putih di sekeliling Karina mulai berubah warna, membentuk pemandangan baru yang sama sekali berbeda.
Suasana yang lebih dingin, arsitektur yang asing dengan atap melengkung dan warna-warna merah keemasan, serta samar-samar suara musik tradisional yang terdengar dari kejauhan.
“Dunia macam apa ini?” Batinnya merasakan udara dingin yang berbeda menyentuh kulitnya yang baru.
Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, kesadarannya sepenuhnya menetap di tubuh yang baru, membawanya masuk ke dalam kisah yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.
buang aja,karina mati lagi aja