NovelToon NovelToon
KISAH CINTA YANG BERACUN

KISAH CINTA YANG BERACUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

`KISAH CINTA YANG BERACUN`

Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.

Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.

Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.

Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.

Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`

Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.

Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.

Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.

Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24_Singa yang Terluka

...BAB 24_Singa yang Terluka...

Udara di dalam kamar utama penthouse itu mendadak membeku, menyisakan ketegangan yang sanggup meremukkan tulang.

Bentakan tajam Lea menggema di dinding marmer, memecah keheningan pagi dengan cara yang paling berbahaya. Untuk sesaat, tidak ada suara apa pun kecuali deru napas Lea yang memburu dan detak jantungnya sendiri yang menghantam tulang rusuk tanpa ampun.

Baru saja, ia baru saja membentak dan menantang `Julian`—milyarder paling berkuasa yang ditakuti para petinggi hukum internasional, pria paling posesif yang bisa menghancurkan hidup siapapun hanya dengan menjentikkan jarinya. Di dunia ini, tidak ada satu pun orang yang berani berbicara dengan nada tinggi kepada Julian, apalagi merampas benda dari tangannya secara paksa dan berteriak di hadapannya.

Lea berdiri tegak dengan dada naik-turun, memegang erat ponsel lokalnya di depan dada. Ia tahu ia telah melangkah terlalu jauh di tepi jurang kematian. Sisa-sisa keberaniannya berangsur-angsur surut, digantikan oleh gelombang teror dingin saat ia melihat reaksi pria di hadapannya.

Julian tidak langsung bergerak.

Pria bertubuh tinggi tegap itu berdiri mematung di dekat nakas. Kemeja putih dengan lengan digulung yang ia kenakan justru semakin mempertegas aura intimidasi yang memancar dari tubuhnya yang menegang. Perlahan, sudut bibir Julian terangkat—bukan sebuah senyuman ramah, melainkan sebuah seringai dingin yang amat mengerikan, seperti senyum seorang predator yang baru saja menemukan mangsanya berniat melawan.

Sorot mata setajam elang itu menatap tajam ke arah Lea, menyelami manik mata kembar dua gadis itu yang kini menyiratkan ketakutan di balik topeng marahnya.

`"Kamu membentakku, sweetheart?"` suara Julian terdengar sangat pelan, nyaris seperti berbisik, namun setiap suku kata yang keluar dari bibirnya sarat akan tekanan mutlak yang mencengkeram leher Lea tanpa ampun.

Julian melangkah maju. Satu langkah pelan, namun mampu membuat Lea otomatis mundur hingga bagian belakang panggulnya membentur tepi tempat tidur dengan keras.

`"Julian, aku..."` Lea mencoba membuka suara, namun tenggorokannya mendadak tercekat oleh aura mencekam yang memenuhi ruangan.

Belum sempat Lea merangkai alasan atau kata pembelaan, Julian sudah mengurung tubuh gadis itu. Kedua tangan kokoh Julian menumpu di kedua sisi tubuh Lea di atas kasur, menjebak gadis itu sepenuhnya dalam dekapannya yang panas dan menyesakkan. Wajah Julian berada tepat beberapa sentimeter dari wajah Lea, menghalangi seluruh oksigen di sekitarnya.

`"Kamu begitu berani, Alia... atau harus kuperingatkan sekali lagi siapa pemilik mutlak dirimu?"` bisik Julian dengan suara baritonnya yang rendah, dingin, dan beracun. `"Hanya karena aku membiarkanmu bermain-main dengan balas dendam kecilmu pada keluarga Ozawa di sekolah itu, bukan berarti kamu punya hak untuk membentakku di hadapan ponselmu yang penuh dengan rahasia busuk."`

`Degh!`

Darah Lea seolah berhenti mengalir. Kalimat Julian barusan menghantam telak kesadarannya. Pria itu tahu segalanya. Bukan hanya tentang `Teo Ozawa`, tetapi juga tentang pesan-pesan putus asa dari `Ethan` yang memenuhi layar ponselnya.

`"A-apa maksudmu?"` cicit Lea, gagal mempertahankan nada suara dinginnya. Suaranya terdengar bergetar tipis, mengkhianati kepanikan hebat di dalam dadanya.

Julian mengamati setiap perubahan ekspresi di wajah Lea dengan senyum miring penuh kemenangan. Ibu jari Julian terulur, mengusap pelan bibir bawah Lea yang sedikit bergetar dengan tekanan yang cukup keras hingga meninggalkan bekas kemerahan.

`"Jangan mencoba bermain-main di belakangku, sweetheart,"` bisik Julian tepat di bibir Lea, napas hangat mereka saling bergesekan. `"Aku tahu tentang bocah SMA bernama Teo Ozawa itu. Aku juga tahu tentang pesan-pesan dari Ethan yang kini sedang berkeliaran di jalanan Jakarta mencari alamatmu. Dan kalau sampai ada satu lagi nama pria bodoh yang kulihat di ponselmu... aku tidak akan segan-segan meratakan hidup mereka sampai tidak tersisa debu pun."`

Ancaman itu diucapkan dengan nada amat tenang, tetapi efeknya jauh lebih mengerikan daripada ledakan amarah biasa. Julian tidak sedang menggertak; ia benar-benar mampu melakukannya.

Lea menutup matanya sesaat, menelan ludah dengan susah payah. Pagi ini, ia benar-benar terjebak di sarang macan. Di luar sana, Ethan sedang mengamuk mencari keberadaannya, sementara di hadapannya saat ini, sang singa utama sedang menuntut kepatuhan mutlak tanpa toleransi.

Sebelum Lea sempat memikirkan cara untuk meredakan amarah pria di hadapannya, suara nada dering ponsel lokal di genggamannya mendadak berbunyi nyaring.

Panggilan masuk. Layar ponsel yang menyala terang menampilkan nama `Teo Ozawa` yang memanggil tanpa henti.

Melihat nama itu terpampang di hadapan Julian, ketakutan Lea mendadak berubah menjadi kemuakan yang teramat sangat. Ia sudah lelah. Lelah dengan posesif gila Julian, lelah dengan ancaman Ethan, dan lelah harus berpura-pura tunduk di bawah kendali para pria ini. Jika kehadiran Julian ke Jakarta hanya untuk mengekangnya, merusak rencananya, dan membuatnya tertekan, maka hubungan ini tidak ada gunanya lagi.

Dengan sisa-sisa harga diri dan keberanian yang tersisa, Lea mendongak, menatap tajam mata elang Julian tanpa rasa takut sedikit pun.

`"JULIAN, KITA PUTUS SAJA!"` teriak Lea dengan suara lantang, mengabaikan panggilan Teo yang terus berdering. `"Kamu sudah tahu kalau aku selingkuh, kamu tahu aku mendua, dan kamu tahu aku tidak pernah bisa dikendalikan! Kalau keberadaanmu di sini hanya untuk mengganggu dan menghancurkan semua rencanaku... lebih baik kita akhiri saja hubungan ini sekarang juga!"`

`Deg!`

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Lea, menghantam kesunyian kamar dengan kekuatan yang luar biasa.

Seketika itu juga, dunia Julian seolah runtuh seketika detik itu juga. Wajah dingin dan penuh wibawa yang biasa ia tunjukkan di hadapan para petinggi dunia korporat mendadak pias. Napas pria itu tertahan. Genggaman tangannya yang tadinya mencengkeram erat sisi tempat tidur melemas. Bagi Julian, kekuasaan, uang, dan miliaran dolar di dunia ini tidak ada artinya jika dibandingkan dengan gadis di hadapannya. Mendengar kata 'putus' keluar dari bibir Lea terasa seperti hantaman telak yang meremukkan jantungnya berkeping-keping.

Namun, alih-alih menyetujui atau terdiam pasrah, sisi gelap dan buas di dalam diri Julian mendadak bangkit meronta dengan beringas. Luka karena pengkhianatan itu tersulut oleh amarah yang tak tertahankan.

`Bugh!`

Dengan gerakan refleks yang sangat cepat dan kasar, Julian menyambar pergelangan tangan Lea, membuat ponsel di genggaman gadis itu terlepas dan jatuh membentur karpet dengan suara gedebuk tertahan. Satu tangannya yang lain dengan beringas langsung menarik tengkuk Lea hingga kepala gadis itu mendongak secara paksa.

Sebelum Lea sempat melayangkan protes atau menampar wajahnya, Julian menunduk dan melumat bibir gadis itu dengan kasar, menuntut, dan penuh rasa putus asa yang membakar. Ciuman itu sama sekali bukan ciuman penuh kelembutan; itu adalah ciuman hukuman dari seorang singa yang terluka parah, menuntut kepemilikan mutlak dan menolak keras untuk dibuang begitu saja.

Lea meronta hebat, memukul dada bidang Julian dengan kedua tangannya, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman yang menyesakkan itu, namun tenaga pria itu terlalu kuat untuk dilawan.

Setelah beberapa detik yang terasa menyiksa dan kehabisan napas, Julian melepaskan bibir Lea dengan dada naik-turun dan napas yang memburu hebat. Dahinya bersandar di dahi Lea, sementara tatapan matanya menyiratkan luka yang amat dalam bercampur amarah yang meledak-ledak hingga memerah.

`"Katakan sekali lagi!"` bentak Julian tepat di depan wajah Lea, suaranya serak, berat, dan bergetar hebat menahan emosi yang menghancurkan pertahanannya. `"Apa setelah putus dariku, kamu mau lari ke pelukan pria bernama Ethan?! Lea, kamu benar-benar keterlaluan... Apakah aku tidak berarti apa-apa di hatimu?!"`

 

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
suka cwek badasss gini
Park ha: ini versi kebalikannya kinara wkwkkw... kinara sana rian dah mau tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!