Di balik senyumnya, Yovana (17) menyimpan rahasia kelam. Seseorang telah merenggut masa depannya, sementara Bunda—orang yang paling ia cintai—terlalu buta untuk menyadari penderitaannya.
Hingga akhirnya, Yovana memilih menyerah dan mengakhiri hidupnya.
Penyesalan terlambat meremukkan hati Bunda. Namun, kematian Yovana ternyata bukan akhir dari segalanya.
Bunga kamboja yang mendadak membusuk menghitam.
Jejak langkah di lorong rumah saat tengah malam.
Dan aroma khas Yovana yang menyeruak di udara.
Di kota lain, Zain mulai diteror oleh dosa masa lalu yang ia kubur rapat-rapat. Satu per satu orang di sekelilingnya menjadi korban.
Yovana telah kembali.
Bukan untuk mencari pelukan hangat ibunya, melainkan untuk menagih hutang darah dan keadilan.
Sementara Bunda hanya bisa meratapi takdir dalam kehancuran. Karena pada akhirnya, penyesalan tak akan pernah mampu menghentikan dendam yang menuntut bayaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YOVANA BAGIAN 2
Malam itu hujan mendera kota dengan sangat deras. Langit gelap tanpa menyisakan satu pun gumpalan bintang. Bunda harus pergi ke rumah saudaranya di ujung kota karena ada urusan keluarga yang mendesak. Sebelum melangkah keluar rumah, Bunda sempat memegang kedua bahu Yovana.
"Bunda mungkin pulang agak malam, Nak," bisik Bunda lembut.
Yovana mengangguk pasrah. "Iya, Bun. Hati-hati di jalan."
"Pintunya dikunci dari dalam. Jangan tidur terlalu larut, ya."
"Iya."
Yovana berdiri di ambang pintu, memperhatikan bayangan mobil yang membawa ibunya perlahan menghilang di balik keremangan lorong jalan. Ia tidak pernah menduga bahwa malam itu akan menjadi titik mula yang merenggut seluruh masa depannya.
Suasana rumah mendadak terasa begitu asing dan sunyi. Yovana memilih mengurung diri di kamar, berusaha mengalihkan kegelisahannya dengan membaca buku. Di luar, dentum air hujan yang memukul kaca jendela bersahutan dengan dentuman petir yang sesekali menyambar.
Namun, konsentrasinya buyar seketika saat terdengar derit pintu depan yang dibuka. Zain telah pulang.
Suara gesekan langkah kakinya yang berat terdengar melintasi ruang tengah. Seketika itu pula, seluruh tubuh Yovana menegang kaku. Ia menutup bukunya rapat-rapat dan meraih ponsel di atas meja. Tak ada pesan baru dari Bunda. Yovana menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang makin tak beraturan. Mungkin sebentar lagi Bunda sampai, batinnya menghibur diri.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan keras di pintu kamarnya membuat Yovana tersentak dari ranjang.
"Yovana," panggil suara dari luar. Suara Zain.
"Ada apa, Yah?" sahut Yovana dengan nada bergetar.
"Buka pintunya sebentar."
Yovana tak bergeming dari posisinya. "Kenapa, Yah? Yovana sudah mau tidur."
Suasana mendadak hening di balik pintu, sebelum suara berat itu kembali terdengar, "Buka saja. Ada yang perlu Ayah bicarakan."
Yovana menggeleng kuat-kuat dalam diam, mencengkeram ponselnya erat-erat. Nalurinya berteriak bahaya. "Sudah malam, Yah. Besok saja."
Setitik jeda berlalu hingga akhirnya gesekan langkah kaki Zain terdengar menjauh. Yovana merosot di tepi tempat tidur, menghembuskan napas lega yang singkat.
Namun, ketenangan itu hanyalah ilusi.
Malam makin naik dan badai di luar kian mengamuk. Yovana masih belum bisa memejamkan mata. Ia duduk memeluk lututnya, menatap nanar ke arah pintu kayu kamarnya.
Tiba-tiba, kenop pintu bergerak turun. Suara palang besi yang terkunci dipaksa terbuka dari luar secara kasar.
Yovana seketika berdiri tegak. Sebelum ia sempat berbuat apa-apa, pintu terdorong terbuka dan sosok Zain sudah berdiri melintasi ambang pintu.
"A-Ayah..." Yovana mundur perlahan hingga tumitnya menabrak pinggiran ranjang.
Zain melangkah masuk, lalu menutup pintu di belakangnya rapat-rapat. Tatapan mata pria itu dingin, menyisakan ruang yang sangat sempit bagi Yovana untuk bernapas.
"Ayah mau apa? Tolong keluar..." bisik Yovana memohon, suaranya tercekat di tenggorokan.
Tak ada jawaban. Ketakutan paling mengerikan yang selama ini membayangi pikirannya mendadak berubah menjadi kenyataan pahit. Zain memanfaatkan dominasi serta posisinya sebagai orang dewasa untuk mengunci pergerakan Yovana. Gadis 17 tahun itu berusaha menepis, berontak, dan menangis meminta pria itu berhenti. Ia memohon dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
Namun malam itu, deru hujan yang menghantam atap menelan bulat-bulat semua rintihan dari dalam kamar. Tak ada yang datang. Tak ada yang mendengar. Dan tak ada seorang pun yang menyelamatkannya.
Kekerasan itu berlalu dalam kegelapan yang pekat, meninggalkan luka tak kasat mata yang meremukkan seluruh martabat dan jiwanya.
Ketika kamar itu akhirnya kembali sunyi, Yovana terpuruk di sudut lantai. Tubuhnya gemetar hebat, tatapannya kosong menatap ruang hampa. Kehadirannya di sana terasa seperti raga tanpa jiwa.
Suara hujan di luar kini terdengar samar dan jauh. Yovana merengkuh tubuhnya sendiri yang terasa asing dan kotor, sementara air matanya mengalir tanpa henti tanpa suara. Ia tak sanggup mencerna bagaimana sosok yang seharusnya menjadi pelindung di rumah ini justru tega menghancurkan hidupnya secara brutal.
Zain sudah lama pergi meninggalkan kamar, namun bayang-bayang teror itu masih tertinggal menyelimuti setiap sudut ruangan.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Yovana merambat bangkit dan menyeret langkahnya menuju kamar mandi. Ia mengunci pintu dari dalam, merosot di atas ubin yang dingin, dan akhirnya tangisnya pecah tak terbendung. Ia membekap mulutnya sendiri kuat-kuat agar jeritannya tak meloloskan suara ke luar.
"Bun..."
Hanya satu kata itu yang sanggup terucap dari bibirnya yang bergetar. Namun orang yang paling ia butuhkan sedang tak ada di sana.
Fajar mulai membias di balik tirai jendela ketika Yovana masih terduduk kaku di sudut kamar. Matanya bengkak dan memerah. Buku cerita yang biasanya menjadi tempat pelariannya kini tergeletak tak tersentuh di lantai.
Layar ponselnya yang redup mendadak menyala, menampilkan serangkaian pesan dari nomor Zain.
Jangan pernah coba-coba cerita malam ini ke siapa pun.
Kalau kamu nekat bicara, pikirkan baik-baik apa yang bakal terjadi sama Bunda kamu. Kamu mau lihat Bunda hancur?
Yovana membaca tulisan itu berulang kali dengan tangan yang berguncang. Air matanya menetes lagi menimpa layar kaca. Tangannya sempat bergerak hendak mengontak nomor darurat atau mencari pertolongan, namun rasa takut dan ancaman yang membawa nama ibunya menghentikan jemarinya seketika.
Ia meletakkan ponsel itu telungkup di atas meja.
Yovana menatap langit pagi yang perlahan mulai terang. Pagi telah datang, Bunda akan segera pulang, dan Yovana dipaksa oleh keadaan untuk bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Saat suara pintu depan berderit beberapa jam kemudian, Yovana langsung mengenali derap langkah ibunya.
"Yovana? Nak?"
Yovana buru-buru menyapu sisa air mata di pipinya dan berdiri di tepi ranjang.
Bunda melangkah masuk ke kamar. Begitu mendapati raut wajah putrinya yang pucat pasi, langkah Bunda terhenti. "Kamu kenapa, Nak? Muka kamu pucat sekali."
Yovana menundukkan kepala dalam-dalam, tak berani menatap mata ibunya. "Enggak apa-apa, Bun..."
Bunda mendekat, menyentuh pipi Yovana yang dingin. "Kamu habis menangis? Mata kamu sembap begini."
Yovana memaksakan sebuah senyuman tipis yang sangat rapuh. "Cuma... cuma habis mimpi buruk, Bun."
Bunda merengkuh tubuh putrinya ke dalam pelukan hangat. "Sudah, tidak apa-apa. Bunda sudah di sini."
Yovana memejamkan matanya rapat-rapat dalam dekapan hangat itu. Air matanya kembali menetes di bahu Bunda tanpa suara. Ia memilih memendam semuanya rapat-rapat.
Sebab di dalam dirinya, sebuah rahasia yang teramat kelam baru saja lahir—sebuah tragedi membisu yang tidak hanya merusak hubungan Yovana dengan rumah dan keluarganya, namun juga menjadi awal dari luka dalam yang kelak tumbuh menjadi dendam yang membara.