NovelToon NovelToon
Dua Hati,Satu Pilihan

Dua Hati,Satu Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:168
Nilai: 5
Nama Author: Azqia putri

Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.

Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Hujan di Kota Asing

Minggu itu hujan gak berhenti-henti. Tiap pagi langit udah kelabu, sore deras, malam rintik terus. Jalanan becek, udara dingin sampe tulang kerasa pegal.

Gue bangun pagi itu, badan terasa aneh. Pegal semua, tenggorokan perih, kepala berat kayak diisi batu. Tapi tugas numpuk, ujian besok, gak bisa bolos. Gue paksa mandi, pakai baju tebal, jalan ke kampus sambil peluk buku erat.

Sepanjang hari kepala gue makin berat. Setiap kali duduk, mata berat banget mau nutup. Pulang sore itu, hujan turun lagi. Gue jalan pelan-pelan, payung di tangan tapi badan tetap basah dikit. Pas sampai di kamar, langsung jatuh ke kasur tanpa ganti baju.

Bangun udah gelap. Dingin, menggigil, keringat dingin baju basah. Gue raih HP, lihat jam — sembilan malam. Ada tiga pesan dari Farhan, belum gue balas:

"Makan belum?"

"Kok gak balas? Lagi sibuk ya?"

"Mir? Lo oke?"

Gue ketik pelan, jari gemetar: "Sakit. Demam tinggi."

Balasannya langsung muncul: "Tunggu. Gue ke sana sekarang."

"Gak usah. Hujan deras. Besok aja."

"Tetap tunggu. Jangan tidur dulu."

Lima belas menit kemudian ada ketukan di pintu. Pelan tapi tegas. Gue bangun susah payah, buka pintu.

Farhan berdiri di sana — rambut basah, baju basah, air menetes ke lantai. Napasnya berat, kayak habis lari sepanjang jalan. Di tangan kiri bawa kantong plastik, tangan kanan masih pegang payung yang jatuhnya udah miring.

"Gila ya lo..." suaranya gue lemah tapi senyum. "Basah kuyup gini."

"Gak peduli hujan." Dia masuk pelan, tutup pintu, langsung letak barang di meja. "Lo duduk aja. Jangan banyak gerak."

Dia bantu gue ke tepi kasur, letakkan kantong belanjaan — obat, air mineral, bubur ayam hangat, selimut tebal.

"Lo beli semua ini ke mana?"

"Nyari apotek di tiga tempat. Yang pertama tutup. Yang kedua obatnya gak lengkap." Dia buka bungkus obat, tuang air, kasih ke tangan gue. "Minum dulu. Pelan-pelan."

Gue telan obat, lalu makan bubur pelan. Dia duduk di kursi kecil di samping kasur, natap gue terus. Matanya cemas banget.

"Lo gak harus lari ke sini tau," kata gue pelan. "Besok pasti udah mendingan."

"Gue tau." Dia tarik napas panjang, buang pelan. "Tapi gue gak bisa duduk di atas, tau lo sakit sendirian, terus tidur nyenyak. Gak mungkin."

"Gue gak sendirian kok. Cuma sakit biasa."

"Lo sendirian di kamar asing, jauh dari rumah, gak ada orang tua, gak ada yang ngecek makan minum lo." Dia pegang punggung tangan gue yang panas. "Itu bukan sakit biasa, Mir. Itu berat."

Malam makin larut. Hujan di luar makin deras, bunyi di atap nyaring banget. Gue mulai ngantuk berat, obatnya mulai mempan.

"Han..."

"Iya?"

"Lo pulang dulu ya. Nanti sakit juga."

Dia senyum tipis, rapatkan selimut ke dada gue. "Gue duduk di sini aja. Sampai lo tidur. Kalau lo demam naik lagi, gue tau."

"Serius?"

"Serius. Tidur aja. Gue di sini."

Gue pegang ujung bajunya pelan sebelum mata tertutup. "Jangan pergi ya..."

"Gak kemana-mana. Janji."

Gue bangun tengah malam. Lampu mati, cahaya bulan samar-samar masuk lewat jendela. Di samping kasur, Farhan masih duduk di kursi, bersandar di dinding, matanya merem tapi tangan kita masih saling pegang pelan. Dia gak pergi.

Gue tarik napas pelan, senyum di gelap. Orang bilang cinta itu kata-kata manis dan bunga. Tapi malam ini gue tau — cinta itu duduk di kursi kayu sempit, basah kuyup kena hujan, begadang semalaman cuma buat pastikan napas lo teratur.

Pagi bangun, badan kerasa lebih ringan. Demam turun dikit. Farhan masih di sana, udah bangun, lagi masak air di meja kecil.

"Bangun?" Dia senyum, matanya merah kurang tidur. "Bagus. Muka lo udah gak merah semalam."

"Lo gak tidur semalam?"

"Tidur dikit. Nyenyak kok." Dia tuang air hangat ke gelas. "Hari ini istirahat di sini ya. Dosen lo gue kabarin. Tadi pagi telepon teman sekelas lo, Lina. Dia bawa catatan nanti sore."

"Lo urus semua ya..." Gue mata panas. "Makasih, Han. Beneran."

Dia duduk di tepi kasur, usap rambut gue pelan. "Lo pernah lakuin hal sama ke gue. Waktu gue hancur dan gak tau harus ke mana. Lo juga duduk di samping gue, gak banyak nanya, gak banyak nasihat. Cuma ada." Dia senyum lembut. "Sekarang gue gantian."

Sore itu Lina datang, bawa catatan dan buah. "Dengar kabar kamu sakit. Makasih ya Farhan udah kabarin, jadi gue gak khawatir."

Lina taruh barang, lalu senyum bijak ke arah kita berdua. "Kalian berdua... langka banget ya. Di tempat asing, jauh dari keluarga, tapi saling jadi rumah satu sama lain."

Setelah Lina pergi, Farhan beresin meja. "Dia beneran ya?" tanyanya pelan.

"Apa?"

"Kita jadi rumah satu sama lain."

Gue senyum, sandarkan punggung ke dinding. "Kayaknya iya. Di mana pun kita berada, asal bareng... kerasa kayak rumah."

Malam itu hujan reda, tinggal rintik pelan. Farhan gak pulang — dia tidur di kursi lagi, di samping kasur gue. Sebelum tidur, dia pegang tangan gue pelan.

"Besok kalau udah sehat..."

"Iya?"

"Jangan sakit lagi ya. Jantung gue gak kuat."

Gue ketawa pelan. "Siap. Tapi kalau sakit lagi..."

"Panggil gue. Kapan pun. Hujan deras, tengah malam, apa pun — gue datang."

"Janji?"

"Janji."

Gue pegang tangannya erat sebelum mata terpejam. Di kota asing ini, di kamar kecil, di tengah hujan yang belum reda... gue tidur paling tenang sejak berangkat dari rumah.

Karena gue tau — di dunia yang sibuk dan dingin ini, ada orang yang rela basah kuyup dan begadang semalaman cuma buat pastikan gue bangun besok pagi.

Dan itu lebih dari cukup.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!