Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.
Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.
Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.
Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.
Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.
Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9: Berada di Pinggir Jurang Perselingkuhan
Hari-hari berlalu dengan cukup baik. Azka dan Visha akhirnya berhasil membangun ulang rumah tangga mereka yang kemarin sempat goyah.
Kini rumah tidak lagi dipenuhi keheningan ataupun keributan akibat perdebatan. Visha saat ini juga telah melakukan rutinitas harian layaknya sebagai istri Azka.
Mulai dari mempersiapkan perlengkapan kerja, memasak, hingga mengantar ketika hendak pergi dan menyambut sewaktu Azka pulang ke rumah.
Begitu juga sebaliknya. Azka pun memperlakukan Visha dengan baik. Ia mulai memberikan perhatian lebih kepada Visha.
“Makasih ya, kamu sudah memberikan kesempatan untuk aku,” ucap Visha pada suatu malam sebelum tidur.
“Aku juga. Terima kasih karena kamu bersedia memperbaiki hubungan ini,” jawab Azka.
Pernikahan mereka sekarang terasa hampir pulih seutuhnya.
Selain itu, Azka juga menghindari kontak langsung dengan Sesilia. Ia ingin menghapus ingatan tentang Sesilia dan memutuskan memilih Visha sebagai sosok istri, satu-satunya.
Semua berjalan sesuai rencana hingga pada suatu pagi, Sesilia tiba-tiba saja mengetuk pintu ruangan kantor.
“Masuk,” ucap Azka merespon ketukan pintu yang ia kira adalah Noval.
Namun jantungnya terasa berhenti ketika orang yang muncul di ambang pintu bukanlah Noval, melainkan Sesilia.
Waktu terasa melambat. Azka tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ada gemetar halus di ujung jemari dan untuk sesaat, ia bahkan lupa cara mengucapkan sapaan. Sesilia berdiri di sana, diam, mematung seperti bayangan masa lalu yang tiba-tiba menyeruak masuk tanpa permisi.
“Pagi pak,” tegur Sesilia agak heran karena Azka tertegun.
Menutupi panik, Azka mencoba bersikap biasa, “Oh, Sesilia. Iya, ada apa?” tanyanya.
Sesilia ternyata menemui Azka karena ingin bertanya mengenai evaluasi proyek yang sempat bermasalah.
Ia mendapatkan arahan untuk menemui Azka karena kebetulan Noval sedang sakit. Azka sebenarnya mengetahui kalau Noval tidak masuk kantor hari ini, tapi ia tidak menyangka kalau Noval akan mengatakan agar Sesilia menemui Azka secara langsung.
Setelah tujuannya tercapai, Sesilia menutup pertemuan dengan pertanyaan yang cukup personal.
“Oh iya pak, mumpung kita hanya berdua. Saya mau bicara mengenai tempo hari, Pak Azka panggil saya dengan nama Kayla,” ujarnya.
Mendengar Sesilia membahas itu, Azka langsung tidak bisa menyembunyikan kecemasan.
Sesilia melihat kegundahan Azka kemudian melanjutkan maksud perkataannya, “Kalau memang pak Azka mau panggil saya dengan nama itu, tidak apa-apa kok.”
“Seperti yang saya bilang waktu pertama kali kita kenal, saya lebih suka dipanggil Kayla, hehe,” sambung Sesilia.
Tiba-tiba saja Azka kembali dimunculkan tentang ingatan saat pertemuan pertama, ketika ia berkenalan.
Sejumlah ingatan mendadak kembali muncul. Untung saja kali ini Azka tidak merasakan sakit kepala seperti sebelumnya. Ia masih terlihat biasa, hanya sedikit melamun sebentar tapi kemudian disadarkan oleh Sesilia karena hendak pergi.
“Baik kalau begitu pak, terima kasih atas waktunya, maaf mengganggu. Saya permisi dulu,” ucapnya Sesilia ceria.
Azka hanya mengangguk sambil melambaikan telapak tangannya ke arah pintu. Sesaat kemudian, setelah Sesilia keluar dari ruangan, Azka masih duduk di kursinya.
Ia menghela nafas panjang, terengah-engah, melampiaskan kegelisahan yang ditahan sejak tadi.
Kini ia baru memahami tentang apa yang terjadi pada pikirannya selama ini. Azka menduga ia memang memiliki ketertarikan terhadap Sesilia. Hal ini yang membuat ia mengalami perubahan dalam ingatan setelah kecelakaan.
***
Sore itu, langit menggantung kelabu, seakan ikut memantulkan suasana hati Azka tak menentu. Setelah hari panjang, ia akhirnya pulang ke rumah, tempat yang seharusnya memberi ketenangan, namun sekarang terasa lebih hampa dari biasa.
Langkahnya pelan saat memasuki ruang tamu. Begitu melihat Visha di sana, senyum hangat segera ia usahakan. Wajahnya mencoba tenang, suara tetap lembut. Ia bersikap biasa tanpa ada yang berubah, seakan semua baik-baik saja.
Padahal di dalam hatinya, badai belum benar-benar reda.
Meski sesak, Azka menyadari satu hal tak boleh ia lakukan, merenggut kebahagiaan yang baru saja dirasakan Visha. Terasa berat untuk berpura-pura, tapi akan menjadi sangat egois bila membiarkan Visha kehilangan cahaya yang mulai bersinar di hidupnya.
Jadi Azka menahan semua perasaan. Ia tetap tersenyum, demi Visha.
“Gimana tadi di kantor? Lancar?” tanya Visha.
Azka menjawab dengan cepat, lalu mengalihkan ke topik lain. “Lancar dong. Eh, hari ini kamu masak apa? Aku lapar,” ujarnya.
Wajah Visha berubah seketika yang tadinya tersenyum, langsung cemberut.
“Tumben kamu lapar, bekal tidak kamu makan, ya?” kata Visha langsung memeriksa.
“Pantas saja kamu lapar, kamu makan sedikit sekali. Tidak enak?” sambungnya.
Tak mau Visha kecewa, Azka beralasan ia tidak sempat makan banyak karena terlalu sibuk rapat evaluasi. Untungnya Visha percaya alasan Azka tersebut.
“Oh gitu. Ya sudah, sini. Kebetulan aku masak makanan kesukaan kamu, ayam goreng balado,” ajak Visha sambil merangkul tangan Azka.
Meskipun Azka bersikap biasa, tapi dalam batinnya, ia masih bimbang. Bukan keraguan atas ambigu pikiran, ia hanya merasakan sesuatu telah berbeda.
Azka merasakan sebuah ruang kosong di dalam diri yang kemudian menguasai relung jiwanya. Rasa ketertarikan terhadap sosok bernama Sesilia Kaylani.
Sejak ia mengetahui kenyataan sebenarnya. Azka menjadi lebih sulit untuk membuka diri terhadap Visha. Perlahan tapi pasti, pintu yang sempat ia buka kembali tertutup.
Azka merespon Visha dengan logika mengharuskan ia bersandiwara untuk tetap menjadi seorang suami. Ia juga merenungi diri yang ternyata sedang terjebak di pinggir jurang perselingkuhan.
***
Malam merayap pelan, membawa keheningan lembut ke dalam kamar mereka. Di luar jendela, angin berdesir pelan terhalang kaca hingga tak mampu menggoyangkan tirai dibaliknya. Cahaya dari lampu kamar telah diredupkan, menyisakan bias kekuningan hangat, membingkai siluet dua tubuh bersiap untuk terlelap.
Azka terbaring di tepi ranjang, merapikan selimut sambil melirik sekilas ke arah Visha yang tengah menggunakan masker malam di wajahnya. Gerakan Visha lambat dan tenang, seakan ingin menenangkan pikiran sebelum hari benar-benar berakhir.
Belum banyak kata terucap malam itu. Hanya bunyi halus dari jam dinding, sunyi benar-benar terasa menguasai ruangan. Tapi untungnya momen ini tidak berlangsung lama.
Mereka kemudian melakukan perbincangan seperti biasa. Meski ada sesuatu yang berbeda dari Visha. Ia tiba-tiba bertanya tentang rasa penasaran dan membuat Azka bingung untuk menjawabnya.
“Azka, kira-kira kapan ya kamu bisa ingat aku seperti dulu?” tanya Visha.
Dengan ingatan yang perlahan mulai kembali, Azka masih belum siap memberitahu Visha. Ia pun berdalih dirinya juga berharap agar ia segera pulih.
“Kamu yang sabar ya, semoga aku bisa cepat mengingatmu seperti dulu,” ujar Azka sambil memegang tangan Visha.
Tak berhenti sampai di situ, Visha masih membicarakan tentang kerinduan bermesraan. Ia mengenang masa-masa indah dan romantis yang mereka lakukan sebagai sepasang suami istri.
Bahkan, Visha juga mengungkapkan keinginan terpendam untuk memiliki anak.
“Sudah lama sekali kita tidak melakukannya. Bagaimana bisa punya anak kalau begini terus?” ucap Visha.
Untuk mencairkan suasana, Azka pun menggoda istrinya, “Kalau kita melakukannya sekarang, bagaimana?”
Mata Visha mendadak melotot, “Enak saja! Kembalikan dulu ingatanmu! Baru kita melakukannya! Kalau tidak, maaf saja ya!” pungkasnya sambil balik badan, ciri khas ketika ingin mengakhiri obrolan sebelum tidur.
Azka terkekeh karena melihat respon Visha yang menurutnya lucu.