Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Kegalauan Arga dan Garis Takdir Baru
Setahun Kemudian
Waktu adalah penyembuh yang paling tenang, bekerja tanpa suara namun sanggup mengubah segala rasa. Satu tahun berlalu sejak gema kata 'sah' membumbung di aula Masjid Besar, memisahkan dua jalan hidup yang dulu pernah bersandingan.
Bagi Kiara, satu tahun menjalani kehidupan rumah tangga bersama Dimas adalah masa-masa paling membahagiakan dalam hidupnya.
Dimas bukan hanya seorang suami yang bertanggung jawab, tetapi juga pelindung yang tak pernah membiarkannya merasa sendirian. Rasa bersalah dan kegalauan yang sempat melanda Kiara di malam sebelum akad nikah telah sirna sepenuhnya, berganti dengan rasa syukur dan pengabdian yang tulus.
Namun, bagi Arga... satu tahun ini adalah perjalanan malam yang teramat panjang dan berdarah-darah.
Bulan-bulan awal setelah pernikahan Kiara dan Dimas adalah masa-masa terkelam dalam hidup Arga.
Pria bertubuh jangkung itu memendam kehancurannya seorang diri. Di hadapan ibunya, Arga selalu berusaha tampil biasa saja.
Namun di dalam kamarnya, setiap kali malam merambat sepi, Arga kerap duduk di tepi tempat tidur sambil menatap kotak kayu di paling atas lemarinya—kotak tempat ia menyimpan syal wol buatan Kiara dan pembatas buku masa kecil mereka.
Setiap kali ingatan malam kejutan ulang tahunnya berputar, dada Arga terasa seperti dihantam godam berat. Rasa penyesalan yang terlambat menggerogoti jiwanya:
Kenapa dulu aku terlalu penakut? Kenapa aku biarkan dia menebak-nebak sampai lelah?
Latihan musik bersama geng band-nya pun sempat menjadi pelampiasan yang destruktif. Bagas, Dave, Galang, dan Bintang sering kali bertukar pandang cemas saat melihat Arga menggebuk drum di studio.
Pukulan stik drum Arga tidak lagi bertenaga karena semangat, melainkan penuh dengan nada-nada frustrasi dan kemarahan pada dirinya sendiri.
"Ga, pelan-pelan! Kulit drumnya bisa jebol!" seru Bagas suatu malam di studio latihan.
Arga menghentikan pukulan stik drumnya secara mendadak. Ia menunduk dalam-dalam, napasnya memburu, dan dadanya naik turun tak beraturan. Keringat bercucuran membasahi kemejanya.
Daffa melangkah mendekat, menghentikan petikan gitarnya, lalu menepuk bahu Arga pelan.
"Ga... kamu gak bisa begini terus. Kiara udah bahagia sama Mas Dimas. Kalau kamu terus siksa diri kamu kayak gini, kamu cuma bikin hidup kamu jadi sia-sia."
Arga memejamkan matanya rapat-rapat. Suaranya terdengar sangat serak saat berbisik,
"Aku cuma... aku cuma merasa bersalah banget sama diri aku sendiri, Daf. Aku yang bikin Kiara nunggu belasan tahun dalam ketidakpastian. Sakitnya pas dia lepas itu... rasanya kayak separuh nyawa aku dicabut."
"Tapi Kiara udah maafin kamu, Ga," tegas Daffa lembut.
"Satu bulan sebelum akad, dia udah denger semuanya dari Rian. Dia udah tahu rasa kamu. Tapi Kiara memilih untuk melangkah maju, dan kamu juga harus beri penghormatan buat keputusan dia dengan cara... kamu juga harus melangkah maju."
Malam itu, Arga pulang ke rumah dengan langkah lunglai.
Di kamarnya, untuk pertama kalinya Arga menangis sesenggukan dalam sujud malamnya. Ia memohon ampun atas kelalaiannya di masa lalu, dan berdoa agar Tuhan mencabut rasa sesak di dadanya serta memberikan keikhlasan yang sejati.
Perlahan tapi pasti, Arga mulai belajar menyembuhkan lukanya. Ia tidak lagi melarikan diri ke dalam bayang-bayang kenangan. Syal wol abu-abu milik Kiara akhirnya ia rapikan dan ia simpan rapat-rapat sebagai kenangan masa muda yang telah usai—bukan lagi sebagai beban yang menyiksa.
Pagi itu, di sebuah rumah berarsitektur minimalis bernuansa hangat, Kiara sedang merapikan dasi kemeja kerja yang dikenakan Dimas. Sinar matahari pagi menembus jendela kaca ruang tamu, membiaskan cahaya lembut di antara mereka.
"Hari ini pulangnya jam berapa, Mas?" tanya Kiara lembut, menyunggingkan senyum sambil menepuk pelan dada kemeja suaminya.
Dimas tersenyum hangat, mengecup dahi Kiara dengan penuh kasih sayang—sebuah kebiasaan manis yang tak pernah absen sejak hari pertama mereka menikah. "Paling jam lima sore udah sampai rumah, Ra. Nanti Mas sekalian beliin martabak manis kesukaan kamu ya."
"Makasih ya, Mas. Hati-hati di jalan," sahut Kiara tulus.
Melihat punggung Dimas yang melangkah menuju mobil, Kiara menghembuskan napas lega.
Satu tahun menjalani kehidupan rumah tangga bersama Dimas adalah masa-masa paling membahagiakan dalam hidupnya. Dimas bukan hanya seorang suami yang bertanggung jawab, tetapi juga pelindung yang tak pernah membiarkannya merasa sendirian.
Sore harinya, Kiara berkumpul di rumah Aina bersama Tamara dan Widya. Suasana riuh rendah oleh gelak tawa, terlebih Aina kini sedang mengandung anak pertamanya bersama Daffa.
"Aduh, bumil jangan banyak gerak dulu," goda Tamara sambil menyodorkan piring berisi buah potong untuk Aina.
"iya nih.... ntar Daffa pulang dari kantor bisa panik kalau liat istrinya heboh." ledek Kiara
Aina tertawa kecil sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.
"Daffa tuh berlebihan banget, Tam. Tiap jam nelpon cuma buat nanya aku udah makan atau belum."
Di tengah obrolan hangat itu, Widya melirik Kiara pelan, lalu berdehem halus.
"Ngomong-ngomong... kalian udah denger kabar terbaru dari Kelurahan Damai belum?"
Tamara dan Aina menoleh penasaran. Kiara pun memiringkan kepalanya. "Kabar apa, Wid?"
Widya menghela napas pendek. "Ibu-ibu di kompleks kemarin ramai cerita. Arga... bulan depan mau resmi melamar cewek sama orang tuanya. Dia mau dijodohin."
Ruangan mendadak hening sejenak. Tamara mengerutkan dahi. "Dijodohin? Sama siapa?"
"Sama cewek pilihan ibunya, namanya Menik," jawab Widya pelan. "Daffa juga semalam cerita ke Aina, kan?"
Aina mengangguk mengkonfirmasi. "Iya, Daffa bilang Arga sendiri yang akhirnya setuju. Arga ngerasa udah waktunya dia bahagiain ibunya dan buka lembaran baru."
Kiara mendengarkan kabar itu dengan dada yang terasa tenang. Tidak ada lagi rasa sakit atau cemburu yang menyengat. Yang tersisa hanyalah rasa lega yang teramat sangat.
"Alhamdulillah kalau Arga udah mau melangkah," tutur Kiara tulus, tersenyum lembut menatap ketiga sahabatnya.
"Dia berhak bahagia. Semoga Mbak Menik bisa jadi pasangan yang terbaik buat Arga." lanjut Kiara.
Sementara itu, di sebuah rumah bernuansa Jawa di Kelurahan Damai, Arga sedang duduk di teras samping. Di tangannya, sepasang stik drum kayu tergeletak di atas paha.
Satu tahun ini, Arga menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja dan tenggelam dalam ketukan drum setiap kali geng band-nya latihan. Namun, kesendirian yang ia peluk erat-erat mulai membuat ibunya prihatin.
"Ga..."
Suara lembut ibunya memecah keheningan. Wanita sepuh itu duduk di kursi kayu di samping Arga, menatap putra tunggalnya dengan pandangan penuh kasih sayang.
"Ibu tahu, ada bagian dari hati kamu yang pernah patah," bisik Ibunya pelan, mengelus jemari Arga yang kaku.
"Tapi hidup itu harus terus berjalan, Le. Ibu udah makin tua... Ibu cuma ingin liat ada yang ngerawat kamu, ada yang nemenin kamu bertukar cerita kalau malam datang."
Arga menunduk menatap stik drum di tangannya. Wajah ibunya yang penuh rasa harap menyentuh bagian terdalam hatinya. Arga menyadari, ia tidak bisa terus-menerus mengurung diri dalam penyesalan atas masa lalu yang tak mungkin kembali. Kiara sudah bahagia dalam takdirnya, dan Arga pun harus belajar memberi kesempatan pada takdirnya sendiri.
"Siapa nama wanita yang Ibu maksud?" tanya Arga serak, menatap mata ibunya dengan keberanian baru.
Mata sang ibu berbinar seketika. "Menik, Le. Anak dari teman lama Ibu. Orang Jawa asli, anaknya santun, sabar, dan sederhana banget. Ibu yakin dia bisa mengerti kamu."
Arga menghela napas panjang—sebuah hembusan napas pelepasan yang melapangkan dadanya dari seluruh sisa kegalauan masa lalunya. "Kalau menurut Ibu itu yang terbaik... Arga ikut restu Ibu."
Malam harinya, prosesi pertemuan keluarga berlangsung di rumah keluarga Menik.
Arga mengenakan kemeja batik warna cokelat gelap, duduk di samping ibunya di ruang tamu yang tertata rapi. Jantungnya berdebar, bukan karena kegalauan atau ketakutan masa lalu, melainkan karena rasa tanggung jawab untuk memulai sebuah garis hidup yang baru.
Tak berapa lama, seorang wanita melangkah keluar dari arah dapur membawa nampan berisi cangkir teh hangat.
Wanita itu mengenakan gamis simpel warna hijau zaitun dengan jilbab yang terurai rapi. Wajahnya tidak menggebu-gebu, namun memiliki ketenangan yang teduh. Senyumnya sopan dan penuh rasa hormat saat menyuguhkan cangkir teh di depan Arga dan ibunya.
"Ini Menik, Ga," kenal ibu Arga dengan raut wajah sumringah.
Menik menangkupkan kedua tangannya di dada, menunduk sopan ke arah Arga.
"Mari diminum, Mas Arga."
Arga menatap wanita di hadapannya. Suara Menik terdengar sangat lembut dan menenangkan. Berbeda dengan kenangan masa lalunya bersama Kiara yang dipenuhi nostalgia masa kecil, kehadiran Menik membawa aura kepasrahan dan kedamaian yang baru.
"Terima kasih, Mbak Menik," sahut Arga ramah, mengukir senyuman tipis namun jujur di bibirnya.
Di dalam hatinya, Arga berjanji: ia mungkin pernah gagal menjaga cinta pertamanya karena ketakutannya sendiri.
Namun kali ini, bersama Menik dan restu ibunya, Arga akan belajar menjadi pria yang lebih terbuka, bertanggung jawab, dan menghargai takdir yang dikirimkan Tuhan untuknya.