Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Tawaran Yang Masuk Akal
"Rasa asam dan manisnya pas. Daging buahnya tebal, sarinya juga kental."
Pak Subroto menelan sisa tomat di mulutnya, lalu mengelap bilah pisau lipat dengan sapu tangan dari saku celananya. Wajah seriusnya perlahan melunak, disusul anggukan kecil seolah mengakui kualitas tomat itu.
Bagas dan Danu sama-sama mengembuskan napas lega. Bahu mereka yang sejak tadi tegang akhirnya mengendur. Pujian dari pemilik warung makan paling tenar di kota kabupaten itu menjadi pengakuan terbaik atas kerja keras mereka.
"Tomat kalian memang bagus, Nduk," kata Pak Subroto sambil menyimpan kembali pisau lipatnya ke dalam saku kemeja safari.
"Tapi saya ini punya rumah makan. Saya butuh pasokan sayur yang pasti setiap subuh. Kebun di tanah kapur seperti ini masih berisiko gagal panen. Jadi saya belum berani memberi kontrak besar kalau hasilnya belum terbukti stabil dalam waktu lama."
Seroja mengangguk pelan. Ia tidak kecewa. Justru ia paham alasan Pak Subroto. Pengusaha yang sudah berhasil tentu tidak akan mempertaruhkan nama baik rumah makannya hanya karena iba kepada petani yang sedang kesusahan. Keputusan itu masuk akal.
Seroja baru hendak membuka mulut untuk menawarkan jalan tengah, ketika suara deru sepeda motor tiba-tiba memecah kesunyian jalan setapak.
Sebuah Honda Bebek 70 merah melaju di jalan setapak. Pengendaranya mengerem mendadak saat melihat jip Toyota Land Cruiser berhenti di tengah jalan.
Supri turun dari motornya dengan wajah kesal. Semula ia hendak memarahi siapa pun yang menghalangi jalannya.
Namun, begitu melihat pria berkemeja safari yang berdiri di dekat gerobak Seroja, wajahnya langsung berubah.
Kemarahannya seketika hilang. Ia buru-buru melepas peci hitamnya, lalu menundukkan kepala sambil memasang senyum yang dibuat-buat.
"Wah, Pak Subroto! Bapak sedang apa sampai masuk jalan hutan begini?" sapa Supri ramah.
Ia melangkah mendekat, lalu melirik Seroja dan kedua sepupunya dengan senyum meremehkan.
"Bapak harus hati-hati. Jangan sampai membeli barang dari keluarga buangan itu."
Tangan Danu langsung mengepal. Rahangnya mengeras menahan amarah. Ia hendak maju, tetapi Seroja segera menahan lengannya pelan.
Pak Subroto menoleh. Wajahnya tetap datar.
"Saya sedang melihat hasil panen mereka. Memangnya ada apa, Supri?"
Supri terkekeh pelan. Ia menunjuk keranjang tomat di atas gerobak yang masih miring.
"Tomat dari tanah kapur begitu mana bagus, Pak? Sekarang saja ladang di desa kami habis diserang wereng. Sayur dari keluarga janda itu belum tentu sehat. Jangan sampai masuk ke dapur warung Bapak. Nanti pelanggan Bapak malah keracunan."
"Jaga mulutmu, Supri!" bentak Danu. Dadanya naik turun menahan marah. "Tomat kami bersih dari hama! Ladangmulah yang habis dimakan wereng!"
"Mas Danu, tenang," kata Seroja.
Gadis itu melangkah maju, berdiri di antara Supri dan Pak Subroto. Ia sama sekali tidak menoleh ke arah pamannya.
Bagi Seroja, melayani ucapan Supri hanya akan membuang waktu. Ia memilih menghadap Pak Subroto. Saat berbicara, suaranya tetap tenang dan sikapnya tetap sopan.
"Bapak benar. Hasil panen kami memang belum cukup stabil untuk memenuhi kebutuhan setiap hari dalam jumlah besar," kata Seroja tenang, melanjutkan pembicaraan yang sempat terputus. "Tapi saya dengar, minggu depan warung Bapak mendapat pesanan katering untuk syukuran pernikahan putri bupati."
Pak Subroto mengangkat alis. Ia agak terkejut mendengar gadis dari desa itu mengetahui kabar tersebut.
"Betul," jawabnya. "Acaranya besar. Saya memang sedang mencari sayuran dengan kualitas terbaik untuk hidangan para tamu."
"Kalau begitu, saya mau menawarkan kerja sama untuk satu acara itu saja, Pak," kata Seroja mantap. Tatapannya tetap tenang. "Beri kami waktu satu minggu. Kami akan menyediakan lima puluh kilogram tomat pilihan untuk katering pernikahan putri bupati. Mutunya akan sama seperti tomat yang baru Bapak cicipi. Bagi Bapak risikonya kecil, tapi kalau hasil kami sesuai, Bapak mendapat pasokan tomat berkualitas di saat sayuran sedang langka."
Supri langsung menyambar omongan. "Lima puluh kilogram?" serunya. "Kau kira gampang? Kebun di tanah kapur begitu mana mungkin menghasilkan sebanyak itu!"
Pak Subroto mengangkat tangan, memberi isyarat agar Supri diam. Ia kembali menatap Seroja. Kali ini ada sedikit senyum di wajahnya.
Gadis itu tidak memohon belas kasihan atau meminta dibantu. Ia datang membawa tawaran yang masuk akal dan menguntungkan kedua belah pihak. Bagi Pak Subroto, kerja sama untuk satu acara jauh lebih aman daripada langsung membuat kontrak jangka panjang dengan petani yang baru dikenalnya.
"Kamu punya keberanian yang jarang saya temui, Nduk," kata Pak Subroto sambil tersenyum tipis. Ia mengangguk pelan. "Baik. Saya terima tawaranmu. Minggu depan saya tunggu lima puluh kilogram tomat kualitas terbaik. Tapi ingat, kalau ada yang busuk atau memar saat sampai di tempat saya, semuanya saya kembalikan."
"Kami setuju, Pak," jawab Seroja mantap.
Bagas dan Danu saling menepuk bahu sambil tersenyum lebar. Sejak pagi mereka dihantui rasa putus asa, tetapi sekarang harapan itu kembali muncul.
Pesanan lima puluh kilogram tomat itu bukan sekadar jual beli. Bagi keluarga mereka, itulah kesempatan untuk bertahan hidup dalam beberapa bulan ke depan.
"Ngomong-ngomong," kata Pak Subroto sambil memasukkan tangan ke saku celananya. "Kemarin ada pemuda dari Jakarta mampir minum kopi di warung saya. Dia banyak tanya soal kebun tomat di pinggir Hutan Jati ini. Katanya dulu pernah beli sawi dari kamu di pasar kecamatan. Mungkin wartawan yang sedang meliput soal gagal panen di daerah sini."
Seroja terdiam sesaat.
Ia langsung teringat pemuda berkemeja putih yang pernah membeli sawi di pasar kecamatan. Waktu itu, pemuda itu membayar dengan uang besar tanpa meminta kembaliannya.
Ternyata orang itu masih mencarinya sampai ke kota kabupaten.
Seroja tidak tahu apa tujuan pemuda itu, tetapi rasa penasarannya tiba-tiba muncul.
Namun, Seroja tidak mau larut memikirkan hal itu. Rasa penasaran tidak akan membeli beras atau menghidupi keluarganya. Yang paling penting sekarang adalah mendapatkan uang dan memastikan keluarganya tetap bisa bertahan.
Ia hanya tersenyum tipis.
"Mungkin cuma orang yang penasaran melihat kebun di tanah kapur, Pak," katanya tenang. "Sekarang kami lebih memilih fokus menyiapkan pesanan untuk katering Bapak minggu depan."
Pak Subroto tersenyum kecil. Ia semakin yakin dengan cara berpikir gadis itu.
Tanpa banyak bicara, ia merogoh saku kemeja safarinya dan mengeluarkan dompet kulit. Dari dalamnya, ia mengambil selembar uang kertas bernilai besar, nominal yang jarang sekali terlihat di desa kecil seperti itu.
Pak Subroto mengulurkan selembar uang lima ratus rupiah bergambar Jendral Sudirman kepada Seroja.
"Ini uang muka untuk kesepakatan kita. Pakai saja buat merawat tanaman sayuran kalian. Sisanya saya bayar minggu depan, setelah tomatnya saya terima di dapur warung," katanya mantap.