NovelToon NovelToon
Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Status: tamat
Genre:Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:99.8k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23: Bungkam

Pak Hendra tidak membiarkan Rangga pergi sendirian.

Ketika mobil dinas kecil RSUD Harapan Bangsa keluar dari parkiran, Pak Hendra sudah duduk di kursi belakang dengan jas rapi dan wajah dingin.

"Pak Direktur tidak perlu ikut," kata Rangga.

"Perlu."

"Ini operasi darurat."

"Justru karena darurat." Pak Hendra menepuk saku jasnya pelan. "Mereka sudah mencoba membalik tanggung jawab di jalan. Di tempat mereka sendiri, kita butuh saksi."

Rangga melihat pantulan kecil di saku itu.

Kamera mini.

Pak Hendra tidak tersenyum.

"Saya tidak akan mengganggu tindakan medis. Tapi kalau mereka mencoba menulis ulang cerita, saya punya cerita versi asli."

Untuk pertama kalinya malam itu, Rangga merasa marahnya sedikit turun.

Ini bukan hanya soal menyelamatkan pasien.

Ini juga soal melindungi kebenaran agar pasien tidak dijadikan alat cuci tangan.

RS Mentari Global berdiri tinggi dengan kaca gelap dan lobi terang seperti hotel. Bahkan lewat tengah malam, parkir VIP masih penuh. Begitu Rangga dan Pak Hendra masuk, seorang staf administrasi langsung menyambut dengan senyum yang terlalu cepat.

"Dokter Rangga, Pak Direktur sudah menunggu."

Di depan ruang operasi, Pak Gunawan berdiri bersama beberapa dokter senior. Wajahnya tenang, tetapi mata orang-orang di belakangnya tidak bisa menyembunyikan panik.

dr. Hartono ada di sana.

Jas operasinya bernoda darah. Wajahnya kaku.

"Dokter Rangga," kata Pak Gunawan, mengulurkan tangan. "Terima kasih sudah datang."

Rangga tidak menyambut basa-basi terlalu lama.

"Kondisi pasien."

Pak Gunawan menurunkan tangan tanpa tersinggung. Ia tahu waktu mereka sudah habis.

Hartono menyerahkan ringkasan operasi dengan gerakan berat.

"Perempuan, sekitar tiga puluh tahun. Trauma tumpul dan penetrasi logam. Perdarahan intraabdomen. Tekanan darah turun meski transfusi berjalan. Ada fragmen logam di dekat cabang pembuluh iliaka. Kontaminasi jaringan meningkat. Kami..."

Ia berhenti.

"Kalian kehilangan kontrol perdarahan," kata Rangga.

Hartono menahan rahang.

"Area sulit."

"Saya sudah mengatakan itu di jalan."

Kalimat itu pendek, tetapi cukup membuat beberapa dokter RS Mentari Global menunduk.

Seorang dokter muda di belakang Hartono berbisik pelan, "Dia baru datang sudah mau menggurui."

Pak Hendra menatap orang itu.

Bisikan itu mati.

Rangga masuk ke ruang operasi.

Begitu melihat meja operasi, ia tahu waktu pasien tinggal tipis.

Darah menggenang di suction canister. Lapangan operasi kacau. Jaringan yang seharusnya dibuka mengikuti bidang anatomi malah tampak melebar tidak terarah. Fragmen logam kecil tertanam di kedalaman, dikelilingi jaringan robek dan kontaminasi.

Monitor berbunyi cepat.

Tekanan darah turun.

Pada saat itu, suara sistem muncul di benaknya.

[Pasien kritis terdeteksi.]

[Perdarahan masif akibat trauma multipel dan cedera pembuluh dalam.]

[Disarankan: Check-in Normal.]

[Aktifkan?]

Tidak ada pilihan Mandiri.

Atau lebih tepatnya, sistem tidak memberi ruang untuk keras kepala.

Rangga menjawab dalam hati.

Aktifkan.

[Check-in Normal aktif.]

[Teknik Penjahitan Perdarahan Masif Kelas Internasional diperoleh.]

Ilmu itu masuk seperti air dingin yang menghantam saraf.

Jalur pembuluh yang robek, titik penjepitan sementara, pola jahitan, urutan pembersihan jaringan, semua langsung tersusun. Bukan peta mewah. Bukan keajaiban tanpa usaha.

Cukup untuk membuat tangan manusia bergerak tepat pada malam yang terlambat.

"Saya ambil alih," kata Rangga.

Hartono berdiri di sisi meja.

"Saya kepala UGD di sini."

Rangga menoleh.

"Kalau begitu bantu sebagai asisten, atau keluar."

Ruang operasi sunyi.

Pak Gunawan menatap Hartono.

"Bantu."

Satu kata dari direktur membuat wajah Hartono berubah seperti ditampar.

Tetapi ia tetap maju.

Rangga tidak membuang waktu.

"Suction. Klem vaskular kecil. Benang 5-0 dan 6-0. Siapkan irigasi hangat. Transfusi lanjut. Anestesi, laporkan tekanan setiap dua menit."

Perintahnya pendek. Tidak ada nada tinggi. Justru karena itu, seluruh ruang operasi bergerak lebih cepat.

Jahitan pertama masuk di tepi pembuluh yang robek.

Hartono menahan napas.

Jahitan kedua.

Perdarahan yang tadi menyembur liar berubah menjadi aliran tipis.

Jahitan ketiga.

Monitor mulai memberi angka yang tidak lagi jatuh bebas.

Rangga lalu membersihkan jaringan terkontaminasi sedikit demi sedikit. Fragmen logam diangkat dengan sudut yang tidak memperluas luka. Setiap area mati dibuang, setiap pembuluh kecil dikendalikan, setiap lapisan disusun kembali.

Dokter-dokter RS Mentari Global yang semula berdiri dengan mata menilai perlahan kehilangan ekspresi.

Satu jam pertama, perdarahan terkendali.

Satu jam tiga puluh menit, rongga perut bersih dari kontaminasi utama.

Dua jam lewat sedikit, lapisan terakhir ditutup.

Bekas jahitannya rapi.

Terlalu rapi untuk operasi yang dimulai dari kekacauan.

Saat Rangga melepas sarung tangan, ruang operasi tetap hening karena semua orang memahami tindakan yang baru mereka saksikan.

Kalau Rangga datang terlambat sepuluh menit saja, pasien itu mungkin sudah mati.

Hartono berdiri kaku, wajahnya pucat.

Rangga menatapnya.

"Pasien selamat untuk fase ini. Masuk ICU. Antibiotik spektrum luas sesuai kultur. Pantau perdarahan ulang, laktat, fungsi ginjal, koagulasi. Jangan ada konferensi pers sebelum keluarga diberi informasi yang benar."

Tidak ada yang membantah.

Di sudut ruangan kaca, Pak Gunawan menatap Rangga dengan mata yang berbeda.

Tadi ia melihat risiko.

Sekarang ia melihat nilai.

Nilai Rangga mampu mengubah reputasi rumah sakit serta menarik pasien, investor, dan media. Sumber nilai itu berdiri di depan mereka dengan jas operasi bernoda darah, tanpa keinginan menjual diri.

Ketika Rangga keluar dari ruang operasi, sistem berbunyi lagi.

[Misi selesai.]

[Tingkat Penyelesaian: 88%.]

[Hadiah tunai: Rp 200.000.000.]

[Dana telah ditransfer melalui Yayasan Dana Abadi Cakrawala.]

Rangga bahkan tidak membuka ponsel.

Pak Hendra berjalan di sampingnya menuju lift.

"Saya rekam semuanya," kata Pak Hendra pelan.

"Semoga tidak perlu dipakai."

"Dengan rumah sakit seperti ini, justru harus siap dipakai."

Mereka baru masuk mobil ketika ponsel Pak Hendra mulai bergetar tanpa henti.

Ia membuka satu pesan, lalu wajahnya berubah.

"Mereka cepat sekali."

Rangga melihat layar.

Akun resmi RS Mentari Global baru saja mengunggah pernyataan panjang.

Isinya memuji kerja sama lintas rumah sakit, mengucapkan terima kasih kepada Dokter Rangga atas bantuan profesional, meminta maaf atas kesalahpahaman di lapangan, dan menegaskan bahwa pasien saat ini stabil berkat koordinasi cepat antara RS Mentari Global dan RSUD Harapan Bangsa.

Laporan itu menghapus upaya perebutan pasien, penolakan terhadap rumah sakit terdekat, dan tindakan dr. Hartono saat menghalangi Rangga masuk ambulans.

Semua dibungkus menjadi kerja sama indah.

Pak Hendra tertawa tanpa senyum.

"Mereka mencuri pasien, hampir membunuhnya, lalu mencuri narasi."

Rangga menatap jalan gelap di depan.

"Pasien selamat dulu, Pak. Narasi bisa menyusul."

"Kamu terlalu sabar."

"Tidak." Rangga menutup mata sebentar. "Saya hanya tahu prioritas."

Mobil berhenti di depan kos Rangga menjelang subuh.

Ia baru turun ketika melihat sebuah mobil hitam mewah terparkir di depan gang kecil. Terlalu bersih untuk jalan sempit itu. Terlalu mahal untuk lingkungan kos-kosan tua.

Pintu belakang mobil terbuka.

Pak Gunawan turun dengan jas yang sudah diganti, senyum penuh keramahan di wajahnya.

Seolah beberapa jam lalu rumah sakitnya tidak baru saja meminta bantuan dalam keadaan nyaris terbakar.

"Dokter Rangga," katanya hangat. "Maaf mengganggu waktu istirahat Anda."

Rangga berdiri diam.

Pak Gunawan melangkah mendekat.

"Saya datang membawa proposal yang saya yakin sulit Anda tolak."

Ia tersenyum lebih lebar.

"Gaji tahunan, Rp 1 miliar."

1
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
berani pak Bambang ngerjain bosnya 😂😂😂
Setiawan
yoga biasa manggil abang rangga🤭🤭
Thewie
knp dokter Alya menghilang digantikan dokter Laras thor. padahal dokter Alya dr awal baik ke dokter rangga
Wega Luna
kehidupan seorang dokter yg tak pernah dilihat oleh mata netizen,dokter bukan tuhan ,💪
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
gile dari awal baca dibikin tegang terus euy 😂😂😂
Lesmana
waahhh smua yg sakit leukimia nanti jd gak perlu transplatasi sum2 tulang belakang lg👏👏👏
Setiawan
30 milyar gak ada apa2nya dibanding hadiah dr sistem tiap rangga ngobatin pasien cuyyy😄😄😄 malah lbh bermanfaat , tdk ada tekanan moral.. dr sistem dpt hadiah besar plus ilmu hebat😄😄
akang Solo
dengan ada pasien, bisa cair minimal 150 jt😄😄
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Keren👍👍👍
Ita Xiaomi
👍👍👍
Ita Xiaomi
Rangga tdk pergi ke rumah sakit mewah. Dia membangun rumah sakit tempat awal dia datang 👍👍👍.
Ita Xiaomi
Iseng😁
Ita Xiaomi
Kode tuh 😁
Adinda Rahmadinah
keren
JJ opa
cerita yang bagus dan pastas menjadi top one👍👍
irena
luar biasa karyamu thor.. saya suka...
Ria Gazali Dapson
,ngeri juga yaa, d rs d dunia kesehatan, ternyata kumpulan orang² jahat, dunia penuh tipu muslihat
Ria Gazali Dapson
se x ,gaji dari sistem ja 200jeti , 1 M , buat setaun , ya kalah
Amiera Syaqilla
hello author🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!