Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.
----------
Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.
Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.
----------
Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Secuil Perhatian
Suara isak tangis Yasmin perlahan mereda, tertelan oleh suara air keran yang ia nyalakan. Dengan tangan yang masih gemetar, ia membersihkan diri, mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur yang kering dan hangat, lalu mengeringkan rambutnya perlahan. Setiap gerakannya penuh kehati-hatian, takut jika ada hal yang tidak sempurna akan membuat amarah Baskara meledak kembali. Ia terus menepis ingatan tentang mimpi indah tadi, menyadari bahwa hal itu hanyalah ilusi yang menyakiti dirinya sendiri.
Setelah selesai, ia berdiri diam di depan cermin sebentar. Wajahnya masih pucat, matanya bengkak karena menangis, namun ia berusaha mengumpulkan sisa keberanian yang ada. Ia membuka pintu kamar mandi dengan pelan, menampakkan diri ke ruang dalam yang sunyi.
Suara langkah kaki tergesa terdengar dari arah ruang tengah. Baskara menoleh seketika, matanya langsung tertuju padanya. Tatapannya masih tajam, namun ada sesuatu yang berubah, tidak sepenuhnya penuh kebencian seperti sebelumnya, melainkan ada kekhawatiran yang ia coba sembunyikan rapat-rapat.
"Sudah selesai?" tanyanya, suaranya lebih rendah dan tidak sekeras tadi.
Yasmin mengangguk pelan, menundukkan kepala. "Sudah, Pak... Saya sudah keringkan semuanya, dan lantai kamar mandi sudah saya lap sampai bersih. Maaf karena sudah merepotkan Bapak tadi..."
Baskara menatapnya lama, lalu matanya bergerak mengamati seluruh tubuh istrinya, seolah memastikan tidak ada luka atau tanda-tanda ia jatuh sakit. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat, membuat Yasmin sedikit mundur karena naluri takut yang masih ada. Namun, ia tidak melakukan hal yang kasar. Ia hanya meletakkan sebuah kotak obat dan segelas air di meja samping tempat tidur.
"Minum ini dulu," perintahnya singkat, sambil memalingkan wajah seolah tidak peduli. "Obat penurun panas dan pencegah demam. Jangan kira Saya melakukan ini karena peduli. Saya hanya tidak mau kamu jatuh sakit dan membuat saya sibuk mengurusmu. Saya tidak punya waktu untuk hal-hal sepele seperti itu."
Yasmin menatap benda-benda di meja itu, lalu menatap punggung suaminya yang berbalik. Rasa bingung dan sedikit kehangatan muncul di hatinya, meski ia segera mengingatkan diri sendiri agar tidak berharap terlalu banyak. Ia mengambil obat itu dan menelannya dengan air, perasaannya campur aduk antara rasa syukur dan rasa sedih.
Setelah itu, Baskara berjalan ke meja makan, dan Yasmin mengikuti langkahnya dengan ragu. Di sana, sudah terhidang semangkuk bubur yang masih mengepulkan uap panas, sepotong roti gandum, dan segelas susu. Bau harum makanan itu memenuhi ruangan, membuat perutnya yang sudah kosong sejak siang terasa bergejolak.
"Makanlah," ucap Baskara tanpa menoleh, tangannya memegang cangkir kopi. "Makan sampai kenyang. Kalau kau pingsan lagi nanti, Saya tidak mau repot-repot menolongmu. Saya hanya ingin memastikan kau bisa bergerak dan melakukan pekerjaan rumah dengan baik, jangan berangan-angan yang tidak-tidak."
Yasmin duduk perlahan, lalu mulai menyantap makanan itu. Rasanya sangat lezat, dan kehangatan dari makanan itu menyebar ke seluruh tubuhnya, membuatnya terasa jauh lebih nyaman. Sesekali ia melirik ke arah Baskara, dan ia menyadari bahwa meski matanya menatap ke luar jendela, tatapannya sesekali melirik ke arahnya, memastikan ia benar-benar memakan makanan itu.
Setelah menghabiskan sisa makanan dan memastikan semuanya beres, Yasmin berdiri perlahan dari kursi makan. Ia melipat tangan di depan dada, menundukkan kepalanya, lalu menatap ke arah Baskara yang masih duduk sambil memegang cangkir minuman, matanya terlihat lelah namun tetap terfokus pada pikirannya sendiri.
"Pak, saya sudah selesai makan," ucapnya pelan namun jelas, suaranya tidak lagi bergetar ketakutan seperti tadi. "Saya pamit kembali ke kamar untuk beristirahat. Terima kasih banyak atas makanan dan perhatiannya malam ini."
Baskara hanya mengangguk pelan, tidak langsung berkata apa-apa. Ia menatap sekilas ke arahnya, lalu kembali menunduk melihat cangkir di tangannya, seolah sedang menunggu kalimat lain yang akan keluar dari mulut istrinya itu.
Yasmin tidak langsung beranjak pergi. Ia ragu sejenak, lalu mengumpulkan keberanian yang ada di dalam hatinya. Mengingat peristiwa tadi, ia ingat bahwa Baskara berkeliling di tengah hujan deras, dan pasti juga terkena air hujan. Meskipun suaminya terlihat kuat, tubuh manusia tetap saja rentan jatuh sakit.
"Pak..." lanjutnya dengan nada lembut dan penuh perhatian, membuat Baskara kembali menatapnya dengan pandangan yang sedikit terkejut. "Bapak juga sebaiknya segera beristirahat. Tadi Bapak juga sempat kehujanan saat keluar mencari saya, kan? Kalau Bapak sampai jatuh sakit, nanti siapa yang mengurus pekerjaan dan siapa yang akan... mengingatkan hal-hal yang harus saya lakukan. Tolong jaga kesehatan Bapak juga, ya..."
Saat mengucapkan kalimat itu, matanya menatap dengan tulus, meski ada rasa takut atau ragu. Ia benar-benar khawatir, meski ia tahu mungkin perkataannya akan dijawab dengan nada dingin seperti biasanya.
Baskara terdiam. Perkataan itu seolah menyentuh sesuatu di dalam hatinya yang selama ini ia sembunyikan. Ia menatap wajah Yasmin yang tampak tulus khawatir itu, dan rasanya ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, namun ia segera berusaha menutupinya dengan sikap yang biasa. Ia mendengus pelan, lalu memalingkan wajah, namun nada suaranya tidak lagi sekeras atau setajam biasanya.
"Sudah, Saya tahu urusanku sendiri," jawabnya, masih terdengar dingin, tapi tidak ada nada kemarahan di dalamnya. "Kau saja yang cepat tidur. Jangan sampai bangun kesiangan besok dan merepotkan lagi. Saya akan istirahat setelah menyelesaikan urusan yang tersisa. Tidak usah terlalu banyak bicara."
Namun, sebelum Yasmin berbalik badan, ia menambahkan kalimat dengan suara yang lebih pelan, hampir seperti gumaman yang tidak sengaja keluar, "Terima kasih... sudah mengingatkan."
Yasmin tersenyum kecil mendengarnya, perasaannya terasa lebih ringan dan tenang. "Baik, Pak. Saya mengerti. Selamat beristirahat nanti, ya."
Ia berjalan perlahan menuju kamar, langkahnya terasa lebih ringan dari sebelumnya. Saat ia membuka pintu kamar dan menutupnya kembali, Baskara masih duduk di sana, menatap pintu yang tertutup itu. Ia meletakkan cangkir kosong di meja, lalu menghela napas panjang, senyum tipis yang jarang terlihat terukir di sudut bibirnya, sebelum ia kembali mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap bersikap tegas.
'gadis ini...' batinnya sambil menggeleng pelan. 'Selalu saja bisa membuat perasaan ini kacau. Tapi... rasanya tidak buruk juga...'
Ia kemudian berdiri, mematikan lampu ruang makan satu per satu, dan berjalan menuju kamar utamanya, memutuskan untuk menuruti saran Yasmin. Ia sadar, perhatian kecil yang diberikan istrinya itu, perlahan-lahan mulai membuat dinding pertahanan hatinya runtuh, sedikit demi sedikit.
*****>>>{}<<<*****