NovelToon NovelToon
Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Ribka pandiangan

Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Jejak yang membingungkan

Lauren baru saja mulai terlelap ketika suara ketukan pelan di pintu apartemen membuatnya tersentak bangun. Ia mengerjap, sedikit bingung dengan waktu, melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tiga sore, masih terlalu awal untuk Ivy pulang kerja.

Ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih mantap, tiga kali berturut-turut.

Lauren meraih kruknya, bangkit perlahan dari sofa, jantungnya mulai berdebar tanpa alasan yang jelas. Ia tidak memesan apa pun, tidak juga mengundang siapa pun untuk datang hari ini, dan Ivy selalu memiliki kunci sendiri sehingga tidak perlu mengetuk.

Ia melangkah pelan menuju pintu, kruknya berdecit halus di lantai kayu setiap kali ia bergerak, suara yang terasa jauh lebih keras dari biasanya di tengah keheningan apartemen yang kosong. Pikirannya berputar cepat, mencoba mencari penjelasan masuk akal untuk ketukan tak terduga ini, tapi tidak satu pun yang benar-benar meyakinkan.

"Siapa?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar, melangkah pelan mendekati pintu tanpa membukanya.

Tidak ada jawaban dari luar, hanya keheningan yang justru membuat kegelisahan Lauren semakin menjalar. Ia menahan napas, mencoba mengintip lewat lubang kecil di pintu, tapi sudut pandangnya terbatas, hanya menampilkan sebagian kecil lorong apartemen yang temaram.

Ketukan itu terdengar sekali lagi, lebih pelan kali ini, seolah ragu.

"Siapa di sana?" ulang Lauren, lebih tegas, tangannya mencengkeram gagang kruknya lebih erat, siap menggunakannya sebagai alat pertahanan sekiranya dibutuhkan. Bayangan berbagai kemungkinan buruk mulai berkelebat di kepalanya, mengingat semua kejadian aneh yang beruntun menimpanya belakangan ini, mulai dari rekrutmen kerja yang tidak wajar, ancaman terselubung dari Zara, sampai insiden rak yang roboh kemarin sore.

Akhirnya, suara menjawab dari balik pintu, seorang pria, nadanya sopan namun asing di telinga Lauren. "Maaf mengganggu, Nona. Saya dari layanan pengiriman. Ada paket untuk Nona Lauren Varles."

Lauren mengerutkan kening, tidak mengingat sedang menunggu paket apa pun akhir-akhir ini. "Dari siapa?"

"Tidak tercantum nama pengirim, Nona. Hanya alamat tujuan," jawab suara itu dari luar, terdengar tenang, seolah sudah terbiasa menghadapi keraguan penerima paket.

"Bisa tinggalkan saja di depan pintu?" tanya Lauren, mencoba mencari jalan aman tanpa harus membuka pintu sepenuhnya.

"Perlu tanda tangan, Nona. Sebentar saja," jawab suara itu.

Lauren ragu sejenak, tangannya melayang di atas kunci pintu, tidak yakin harus membukanya atau tidak, insting waspadanya masih menyala terang setelah kejadian aneh yang mulai mewarnai hidupnya belakangan ini. Ia menatap rantai pengaman kecil yang terpasang di pintu, memutuskan untuk membuka pintu sedikit saja, hanya cukup lebar untuk melihat siapa yang berdiri di luar tanpa benar-benar membiarkan orang itu masuk.

Dengan tangan gemetar, Lauren memutar kunci, membuka pintu perlahan sejauh rantai pengaman itu mengizinkan, matanya menatap waspada ke arah celah sempit yang baru saja terbuka di hadapannya.

Lauren membuka pintu sedikit lebih lebar, masih dibatasi rantai pengaman, matanya menatap waspada ke arah pria berseragam abu-abu yang berdiri di luar, membawa sebuah kotak persegi panjang dibungkus kertas cokelat rapi.

"Tanda tangan di sini, Nona," kata pria itu, menyodorkan sebuah tablet kecil lewat celah pintu.

Lauren menandatanganinya cepat, masih waspada, lalu menerima kotak itu setelah membuka rantai pengaman sepenuhnya. Pria itu membungkuk sopan sebelum berbalik dan melangkah pergi menuruni tangga apartemen, langkahnya cepat dan tidak menoleh lagi.

Lauren menutup pintu, menguncinya kembali, lalu membawa kotak itu ke meja ruang tamu dengan langkah hati-hati menggunakan kruknya. Ia duduk di sofa, meletakkan kotak itu di pangkuannya, membuka bungkus kertas cokelatnya perlahan.

Di dalamnya, sebuah rangkaian bunga lili putih tersusun rapi, wangi lembutnya langsung memenuhi udara ruang tamu. Di sampingnya, sebuah kompres es gel modern, jenis yang biasa digunakan untuk cedera olahraga, lengkap dengan tali pengikat elastis. Sebuah kartu kecil terselip di antara bunga-bunga itu, tanpa nama pengirim, hanya tulisan tangan rapi yang sederhana.

"Cepat sembuh. Jangan paksakan diri kerja sebelum benar-benar pulih."

Lauren menatap kartu itu lama, jantungnya berdebar kencang, pikirannya langsung melompat ke satu nama yang selama ini selalu berhasil menembus setiap pertahanan yang ia coba bangun.

"Alex", pikirnya, senyum tipis tanpa sadar terukir di wajahnya. "Pasti dia. Siapa lagi yang tahu aku cedera dan repot-repot kirim sesuatu seperti ini tanpa mau disebut namanya."

Ia meraih kompres gel itu, memeriksanya dengan seksama, membayangkan Alex yang selama ini selalu terlihat begitu dingin dan terkendali, diam-diam memikirkan detail sekecil ini untuknya. Perasaan hangat menjalar di dadanya, campuran antara terharu dan bingung harus bereaksi bagaimana.

Ponselnya tiba-tiba berdering, menampilkan nomor tidak dikenal di layar. Lauren mengangkatnya dengan tangan yang masih memegang kompres gel, masih terselimuti pikiran hangat tentang siapa pengirim paket itu.

"Halo?"

Tidak ada jawaban selama beberapa detik, hanya suara napas pelan di seberang sana, cukup lama hingga membuat Lauren mengerutkan kening.

"Halo? Siapa ini?" ulangnya, mulai merasa tidak nyaman.

Akhirnya suara menjawab, seorang pria, suaranya asing, dingin, dan sama sekali tidak familiar. "Bunganya sudah sampai?"

Lauren membeku, senyumnya lenyap seketika. "Siapa ini?"

"Bunga lili memang cantik," lanjut suara itu, mengabaikan pertanyaan Lauren sepenuhnya, nadanya tenang namun mengandung sesuatu yang membuat bulu kuduk Lauren meremang. "Sayangnya, bunga itu cepat sekali layu. Secepat pemiliknya, kalau tidak berhati-hati."

"Apa maksudmu?" Suara Lauren mulai bergetar, tangannya mencengkeram ponsel semakin erat.

Tapi sambungan telepon itu sudah terputus sepihak, meninggalkan Lauren duduk terpaku di sofa, jantungnya berdebar kencang, kompres gel di tangannya terasa dingin menusuk kulitnya. Ia menatap rangkaian bunga lili putih yang masih tersusun rapi di kotaknya, kelopak-kelopaknya yang tadi terlihat begitu indah kini terasa jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.

Paket itu bukan dari Alex.

Lauren masih duduk terpaku di sofa, jantungnya berdebar kencang, telepon yang baru saja terputus itu masih terasa begitu nyata di telinganya. Tangannya gemetar meraih ponsel lagi, jarinya bergerak mencari nomor Ivy, berniat menceritakan semuanya secepat mungkin.

Namun jarinya berhenti tepat di atas tombol panggil. Ivy pasti masih di kantor sekarang, sedang sibuk bekerja seperti biasa. Kalau ia menelepon sekarang dengan suara panik begini, Ivy pasti akan langsung ketakutan, mungkin bahkan nekat minta izin pulang di tengah jam kerja hanya untuk memastikan keadaannya.

"Jangan bikin dia panik," pikir Lauren, mencoba menenangkan napasnya sendiri yang masih memburu. "Nanti saja kalau dia sudah pulang. Aku cuma perlu tenang dulu sekarang."

Ia meletakkan ponselnya di meja dengan tangan yang masih gemetar, menatap rangkaian bunga lili putih yang tadi terlihat begitu indah, kini terasa begitu asing dan mengganggu di sudut matanya.

******

Di lantai tiga puluh delapan, Alex duduk di balik meja kerjanya, tumpukan berkas kontrak kerja sama tersebar rapi di hadapannya, matanya menyusuri setiap klausul dengan teliti, sesekali mencoret bagian yang perlu direvisi sebelum ditandatangani besok. Ruangan itu sunyi, hanya diselingi suara pena yang sesekali menggores kertas dan dengung pelan pendingin udara.

Pintu diketuk pelan, dua kali, ritme yang sudah Alex kenali sebagai ketukan khas Damian.

"Masuk," kata Alex, tanpa mendongak dari berkasnya.

Damian melangkah masuk, wajahnya serius, membawa map tipis berwarna cokelat yang ia letakkan di atas meja Alex. "Pak, laporan soal Gregor Aldric sudah membuahkan hasil, meski tidak sepenuhnya seperti yang kita duga."

Alex akhirnya mendongak, menaruh penanya, memberi perhatian penuh. "Jelaskan."

"Kami menelusuri jejak dana yang digunakan untuk membiayai penyergapan hampir dua tahun lalu," kata Damian, membuka map itu, menunjukkan beberapa lembar dokumen finansial yang sudah ditandai di beberapa bagian. "Jejaknya mengarah ke rekening perantara yang cukup rumit, tapi akhirnya kami temukan titik hubungnya."

"Dan?" desak Alex, tidak sabar dengan penjelasan yang terlalu berputar-putar.

"Salah satu rekening perantara itu ternyata pernah menerima transfer dari orang yang sama dengan kasus penggelapan dana investasi anak perusahaan kita, Pak," jawab Damian. "Pria yang kita interogasi hampir setahun lalu di gudang."

Rahang Alex mengeras, mengingat kembali wajah pria itu, terikat di kursi besi, mengaku bertindak sendirian karena tekanan utang. "Kau bilang dia bertindak sendiri waktu itu."

"Itu yang dia akui, Pak, dan saat itu tidak ada bukti yang menunjukkan sebaliknya," jawab Damian, nadanya tetap tenang meski jelas menyadari betapa rumitnya situasi ini. "Tapi jejak keuangan yang baru kami temukan menunjukkan dia sempat menerima dana tambahan dari rekening yang sama yang membiayai Gregor. Kemungkinan besar, dia bukan cuma menggelapkan dana untuk dirinya sendiri, tapi juga menjadi salah satu perantara yang menyalurkan uang untuk operasi Gregor."

Alex bersandar ke kursinya, jarinya mengetuk pelan tepi meja, mencerna informasi itu dengan seksama. "Kalau begitu, kita perlu introgasi dia lagi. Cari tahu apa hubungannya dengan Gregor secara langsung."

Damian terdiam sejenak, ekspresinya berubah sedikit lebih berat. "Itu masalahnya, Pak. Pria itu sudah kita serahkan ke pihak kepolisian hampir setahun lalu, sesuai instruksi Anda sendiri waktu itu, untuk menjaga citra perusahaan di depan investor pasca kasus penggelapan itu terungkap secara internal."

Alex terdiam, menyadari konsekuensi dari keputusannya sendiri yang kini justru mempersulit penyelidikan yang lebih besar. "Kita tidak punya akses langsung ke dia lagi."

"Benar, Pak. Sekarang dia berada di bawah proses hukum resmi, ditahan di fasilitas kepolisian. Mendekatinya secara langsung akan terlalu berisiko, bisa menarik perhatian yang tidak kita inginkan, apalagi kasusnya sedang dalam sorotan media bisnis belakangan ini."

Alex menghela napas, mencoba mencari solusi lain dari sudut pandang yang berbeda. "Apa ada cara lain untuk mendapatkan informasi darinya tanpa harus mendekatinya secara langsung? Pengacara, keluarga, siapa pun yang masih berhubungan dengannya?"

"Kami sedang menyelidiki itu, Pak," jawab Damian. "Dia punya seorang istri yang masih sering mengunjunginya di fasilitas penahanan. Kami bisa coba dekati dari sisi itu, meski butuh waktu dan kehati-hatian ekstra supaya tidak terlihat mencurigakan."

"Lakukan itu," kata Alex, suaranya tegas, penuh perhitungan. "Tapi hati-hati. Aku tidak mau ada kesalahan lain yang membuat jejak ini terputus sepenuhnya. Gregor sudah terlalu lama bergerak bebas tanpa kita sadari, aku tidak ingin memberinya kesempatan lagi untuk menghilang."

"Baik, Pak. Saya akan pastikan tim bergerak dengan hati-hati," jawab Damian, menutup mapnya kembali.

Alex menatap keluar jendela sejenak, pikirannya berputar cepat menyusun berbagai kemungkinan skenario, menyadari betapa rumitnya jaringan yang mengelilingi Gregor Aldric, jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

Setiap langkah yang mereka ambil sekarang harus diperhitungkan dengan sangat matang, mengingat lawan yang mereka hadapi kali ini tampaknya cukup licik untuk menutupi jejaknya lewat berlapis-lapis perantara.

"Ada hal lain?" tanya Alex akhirnya, kembali fokus ke berkas-berkas di mejanya.

"Tidak, Pak, untuk saat ini," jawab Damian, membungkuk singkat sebelum berbalik menuju pintu, meninggalkan Alex sendirian dengan tumpukan berkas dan pikirannya yang masih berputar menyusun langkah selanjutnya dalam penyelidikan yang semakin rumit ini.

1
Chenyu Wang
crita nya bagus saya baru baca separuh tapi udah langsung sreg.. lanjutin sampe tamat ya..🙏🙏
Chenyu Wang: sama2..🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!