Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.
Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.
Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?
Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?
Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.
Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)
Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Kecewa
"Nyonya, sedang apa nyonya di sini?" Sofyan terkejut saat ibu dari majikannya datang ke kantor.
"Memangnya ada larangan kalau saya datang ke sini," bantah Hana dengan tatapan dinginnya. "Lagi pula ini perusahaan baru Erlangga. Saya juga ingin tahu banyak hal mengenai perusahaan ini."
Sofyan hanya diam dengan menunduk. Apalah dirinya yang hanya karyawan biasa. Sebenarnya Erlangga sudah mewanti-wanti agar ibunya tidak datang ke kantor tempatnya bekerja.
"Di mana Erlangga?" tanya Hana dengan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.
"Em..., Tuan lagi ada du ruang meeting nyonya," jawab Sofyan.
"Ya sudah, kalau begitu antarkan saya ke ruang CEO. Saya akan menunggunya."
Sofyan mengangguk. "Baik nyonya, mari saya anyar."
Di ruangan CEO Hana langsung membuka gorden dan mengelilingi setiap sudut. Perlahan mendekat pada meja kerja Erlangga dan membuka lacinya. Sebuah foto usang masih tergeletak rapi di sana. Dia menghela nafas, mau sampai kapan Erlangga bisa melupakan kenangan di masa lalunya dan kembali menata masa depannya.
"Kamu kan dekat sama Erlangga. Tentunya kamu tahu kan, apa saja yang dilakukannya?"
"Kalau menurut Saya Tuan hanya fokus pada pekerjaan nyonya," jawab Sofyan.
Sebenarnya pria itu was-was akan kemarahan majikannya karena sudah mengizinkan ibunya masuk dan melihat barang privasinya. Berkali-kali Erlangga memberinya peringatan agar jangan sampai ada orang masuk ruangannya tanpa seizin darinya.
"Sejauh ini apakah kamu pernah lihat ada perempuan yang pernah dekat dengannya?"
Pria itu menggeleng. "Tidak nyonya, sejauh yang saya tahu Tuan tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita, meskipun tidak sedikit wanita banyak yang ingin dekat dengannya. Sepertinya beliau masih belum bisa move on dari masa lalunya."
"Tapi Luna Wijaya sudah mati! Dia tidak akan kembali. Haruskah dia memutuskan untuk tidak menikah?"
Tok... Tok... Tok...
"Permisi."
Suara ketukan pintu terdengar begitu jelas. Dua orang beda usia itu refleks menoleh ke arah pintu yang masih tertutup.
"Iya, silahkan masuk," jawab Sofyan.
Kriet,, suara pintu berdecit dan terbuka, nampaklah seorang wanita muda dengan membawa dokumen di tangannya.
"D—dia?" Seketika tubuh Hana menegang melihat sosok menyerupai seseorang yang dianggapnya sudah tiada.
Ayuna tersenyum dan menyapa dua orang tersebut dengan sopan.
"Selamat siang nyonya, selamat siang pak?"
"Iya, selamat siang," jawab Sofyan. "Nona Ayuna, ada yang bisa saya bantu?"
Ayuna meletakkan dokumen itu ke atas meja CEO. "Sebenarnya saya membutuhkan tandatangan Pak Erlangga. Bisakah Anda membantu saya agar pak Erlangga segera menandatangani dokumen ini?"
"Em..., untuk saat ini pak Erlangga masih ada di ruangan meeting nona," jawab Sofyan. "Anda bisa meninggalkannya di sini, nanti setelah ditandatangani saya akan serahkan kembali pada nona."
"Oh..., begitu rupanya. Oke baiklah, kalau begitu saya tinggal di sini ya pak, nanti Bapak antar kembali ke tempat saya. Kalau begitu saya permisi."
Hana masih juga mematung melihat punggung Ayuna yang sudah menghilang di balik pintu. Dia beberapa kali memukul dahinya seolah-olah tengah memikirkan sesuatu yang cukup tidak masuk akal.
"Nyonya, apakah nyonya baik-baik saja?"
Lamunan Hana seketika buyar. Dia gugup memberikan jawaban.
"I—iya, saya baik-baik saja," jawabnya beralibi. "Kamu kenal wanita itu?" tanya Hana dengan menyipitkan matanya.
"Tentu nyonya, dia itu nona Ayuna. Dia sudah cukup lama bergabung dengan perusahaan ini."
"A—ayuna? Jadi namanya Ayuna? Tapi bukankah dia itu Luna Wijaya?"
Sofyan mengerutkan keningnya. 'Luna Wijaya?' Pria itu terkekeh. "Anda salah orang nyonya, dia itu namanya Ayuna, bukan Luna Wijaya."
Hana diam tak bergeming. Ia masih tidak percaya bahwa wanita itu bukan Luna Wijaya, calon menantunya yang hilang.
"Apakah Erlangga sudah mengenalinya?"
Banyak hal yang ingin diketahui olehnya, termasuk keluarga dan juga kehidupannya.
"Iya nyonya, Tuan Erlangga sudah mengenalinya, bahkan beliau mengira kalau nona Ayuna itu kekasih di masa lalunya," jawab Sofyan. "Menurut Tuan Erlangga, wajah nona Ayuna dengan kekasihnya sangatlah mirip, bagai pinang dibelah dua."
Hana paham kenapa Erlangga ngotot tak ingin dijodohkan dengan Laras Wijaya, dia masih meyakini Luna Wijaya masih hidup dan kini sedang ada di kantornya. Ia sendiri juga berpikir gadis itu memang kekasih Erlangga, tapi yang membuatnya bingung kenapa dia tidak mengenalinya.
"Suruh wanita itu menemuiku saat jam makan siang, aku ingin mengobrol dengannya."
Sofyan terbelalak. "Memintanya buat menemui anda nyonya? Buat apa?"
Hana berdecih. "Cih, kok kamu kepo sih? Apa salahnya kalau aku ingin mengajaknya makan siang."
"E—maksud saya mana bisa nona Ayuna diajak makan siang nyonya, dia kan masih harus jemput anak-anaknya di sekolah."
"Hah? Anak?" Hana membelalak. "Memangnya dia sudah memiliki anak?"
Sofyan mengangguk. "Betul nyonya, nona Ayuna ini sudah memiliki anak, bukan hanya satu, tapi dua," cicitnya. "Asal nyonya tahu saja, dua anaknya itu memiliki kemiripan dengan Tuan."
"Hah? Serius kamu?"
Semakin penasaran saja Hana mendengarkan penjelasan dari asisten pribadi putranya. Semakin tertarik saja ia ingin menemui anak dari wanita bernama Ayuna itu.
"Kalau begitu atur waktu buat bertemu dengan dua bocah itu. Aku ingin bertemu dengan mereka."
"Tapi kalau boleh tahu buat apa nyonya?"
Sofyan merutuki kebodohannya. Harusnya ia tidak menyalahi aturan apalagi sampai menceritakan tentang si kembar.
"Saya mau kenalan sama mereka."
Sofyan menggaruk kepalanya. Dia nampak bingung, haruskah menuruti keinginan ibu majikannya? Sedangkan Ayuna sendiri belum tentu memiliki waktu untuk bersantai santai.
"Nyonya, bukannya saya tidak mau membantu nyonya untuk bertemu dengan nona Ayuna, tapi sepertinya nona Ayuna tidak akan ada waktu buat menemui nyonya."
"Loh kenapa? Kan saya nggak ganggu kerja dia. Saya ingin bertemu di saat jam istirahat. Memangnya salahnya di mana? Saya bakalan traktir dia makan!"
Sofyan menarik nafas dalam-dalam. Semakin sulit urusannya jika sudah terlibat dengan ibu majikannya. Apapun yang diinginkan oleh wanita itu harus terpenuhi, sama seperti majikannya, yang tidak bisa membuat hidupnya tenang, ada saja alasannya untuk bisa dekat dengan wanita bernama Ayuna itu.
"Maaf nyonya, setahu saya nona Ayuna itu memiliki kesibukan meskipun di jam istirahat," cicitnya. "Nona Ayuna memiliki anak kecil yang masih duduk di bangku sekolah TK yang tak seberapa jauh dari tempat ini. Setiap jam istirahat dia harus menjemput si kecil yang dititipkan pada guru mereka. Saya rasa nona Ayuna tidak memiliki waktu untuk menemui anda, nyonya?"
Hana tercengang dengan mulut terbuka. "Anak kecil? Dia sudah memiliki anak?"
Sofyan mengangguk. "Iya benar nyonya, nona Ayuna sudah memiliki anak, mereka kembar, dan usianya sekitar lima tahunan."
Terbesit ada rasa kecewa di hatinya. Niatnya ingin bertemu karena ada beberapa faktor yang menginginkannya untuk mencari tahu asal muasalnya, tapi mendengar Ayuna sudah memiliki anak, seketika harapannya pupus.
"Sudahlah, nggak ada yang perlu dibahas. Lebih baik tinggalkan saya sendiri."