NovelToon NovelToon
Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fahmishodiq Abdullah

Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

retak di layar hp

Tiga hari setelah klarifikasi resmi Kirana viral positif, seorang pria bernama Yoga—kenalan media yang selama ini diam-diam membantu Vania—mulai merasa gelisah.

Yoga bekerja sebagai kontributor lepas di beberapa media bisnis lokal, termasuk yang sempat memuat isu utang lama Cahaya Abadi Investama sebelum klarifikasi itu terbit. Sejak awal, ia sebenarnya ragu menerima permintaan Vania untuk "membantu menyebarkan" informasi yang belum sepenuhnya jelas konteksnya—tapi bayaran yang ditawarkan cukup besar untuk menutup mata sejenak dari etika jurnalistik yang seharusnya ia pegang.

Namun, setelah klarifikasi Kirana yang begitu rapi dan didukung bukti kuat, redaksi tempatnya bekerja mulai mempertanyakan sumber informasi awal yang ia berikan. Ia dipanggil pimpinan redaksi, diminta menjelaskan dari mana informasi itu ia dapatkan.

"Kalau sumbernya nggak jelas, nama kamu yang akan kena, Yoga," kata pimpinan redaksinya, nadanya serius. "Media ini bisa kena somasi kalau ternyata informasi itu memang sengaja disebar untuk menjatuhkan reputasi orang."

Malam itu, Yoga duduk gelisah di kamar kosnya, menimbang-nimbang risiko yang mulai terasa lebih besar dari bayaran yang ia terima.

Keesokan harinya, tanpa sepengetahuan Vania, Yoga menghubungi nomor kontak resmi PT Cahaya Abadi Investama yang tertera di situs perusahaan mereka—nomor yang selama ini dijawab langsung oleh Dimas.

"Saya... punya informasi yang mungkin penting soal isu utang kemarin," kata Yoga, suaranya ragu di telepon. "Tapi saya minta identitas saya nggak disebar ke publik."

Dimas segera melaporkan panggilan itu ke Kirana, yang langsung mengatur pertemuan tertutup di sebuah kafe kecil, jauh dari kantor maupun ruko, untuk menjaga privasi kedua belah pihak.

Yoga datang dengan wajah cemas, sesekali menoleh ke sekeliling seolah takut dikenali. "Saya nggak berniat jahat sebenarnya, Bu Kirana," katanya begitu duduk. "Tapi saya diminta seseorang untuk bantu sebarkan info itu. Saya nggak sepenuhnya tahu latar belakangnya, cuma dikasih dokumen dan diminta unggah lewat akun anonim."

"Siapa yang meminta Anda?" tanya Kirana, tenang meski jantungnya berdegup kencang.

Yoga terdiam lama, tangannya meremas gelas kopi di depannya. "Saya... nggak enak sebut namanya langsung. Tapi dia salah satu kenalan lama saya di dunia sosialita kota ini. Sering muncul di acara-acara bisnis dan pertunangan besar belakangan."

Kirana menatapnya lurus. "Vania?"

Yoga terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan, seperti mengakui sesuatu yang sudah lama ia pendam. "Saya nggak bisa konfirmasi seratus persen, Bu. Tapi... iya, itu namanya."

Kirana duduk diam sesaat, mencerna informasi itu meski di dalam hati ia sebenarnya sudah menduganya sejak beberapa hari lalu. Ada perasaan campur aduk—bukan kaget, lebih pada semacam kepastian yang akhirnya datang setelah firasat yang mengganjal.

"Kenapa Anda mau memberi tahu saya sekarang?" tanya Kirana.

"Karena saya takut kena masalah sendirian kalau ini terus dibiarkan," jawab Yoga jujur. "Dan karena setelah lihat klarifikasi Anda kemarin, saya sadar informasi yang saya sebarkan itu nggak sepenuhnya benar konteksnya. Saya cuma jadi alat, Bu. Saya minta maaf."

Kirana menghela napas panjang. "Saya menghargai keberanian Anda datang bicara langsung. Tapi saya butuh bukti tertulis—chat, email, apa pun—kalau Anda benar-benar ingin ini selesai dengan baik. Bukan untuk mempermalukan siapa pun di publik, tapi supaya saya tahu persis apa yang sedang saya hadapi."

Yoga terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. "Saya masih simpan chat kami. Saya akan kirimkan, Bu. Tapi tolong, nama saya jangan disebut kalau ini nanti dibawa ke ranah hukum."

"Saya nggak berencana membawa ini ke ranah hukum," jawab Kirana. "Setidaknya, belum. Saya cuma ingin tahu kebenarannya dulu."

Malam itu, di ruko yang sudah sepi, Kirana duduk bersama Pak Hadi dan Dimas, membuka bukti percakapan yang dikirim Yoga—tangkapan layar pesan yang cukup jelas menunjukkan permintaan eksplisit untuk "menyebarkan info yang bisa bikin nama K. Broto diragukan publik", lengkap dengan tanggal yang sama persis dengan waktu isu itu mulai muncul.

"Ini cukup jelas, Bu," kata Dimas, menatap layar dengan serius. "Tapi... apa yang akan kita lakukan dengan bukti ini?"

Kirana terdiam lama, menatap layar itu, memikirkan berbagai kemungkinan. Ada dorongan untuk segera membongkar semuanya ke publik, membalas serangan Vania dengan cara yang sama—tapi ada juga suara lain di kepalanya, suara ayahnya, yang selalu mengingatkan untuk tidak membiarkan amarah menentukan langkah.

"Belum saatnya kita gunakan ini," katanya akhirnya. "Kalau kita langsung serang balik ke publik, kita cuma akan terlihat sama saja seperti mereka—main fitnah, main serang personal. Saya nggak mau reputasi Cahaya Abadi Investama dibangun di atas cara seperti itu."

"Jadi kita diamkan saja?" tanya Pak Hadi, sedikit tidak percaya.

"Bukan diamkan," jawab Kirana. "Kita simpan bukti ini baik-baik. Kalau nanti Vania coba menyerang lagi, kita sudah siap. Tapi untuk sekarang, biar kerja kita yang terus bicara. Biar dia yang gelisah sendiri, bukan kita yang sibuk membalas."

Di sisi lain kota, Vania mondar-mandir di kamarnya, mencoba menghubungi Yoga berkali-kali tanpa jawaban. Firasat buruk mulai menghantuinya sejak siang tadi, ketika salah satu kenalannya di dunia media memberi tahu bahwa Yoga dipanggil pimpinan redaksinya, dan sejak itu ia menghilang, tidak membalas pesan siapa pun.

"Kenapa dia nggak balas-balas?" gumamnya frustrasi, melempar ponselnya ke atas kasur.

Rangga masuk ke kamar saat itu, mendapati Vania dengan wajah panik yang buru-buru ia sembunyikan.

"Kamu kenapa?" tanya Rangga, memperhatikan ekspresi Vania lebih dekat dari biasanya.

"Nggak apa-apa," jawab Vania cepat, tersenyum dipaksakan seperti biasa. "Cuma capek soal persiapan pernikahan."

Rangga mengangguk pelan, meski kali ini, kecurigaan yang selama beberapa hari terakhir mulai tumbuh di kepalanya terasa semakin sulit untuk ia abaikan.

Ia belum tahu detail apa pun soal Yoga, soal chat yang sudah tersimpan rapi di laptop Dimas, atau soal kunjungan Yoga ke kafe kecil bersama Kirana. Tapi ia tahu satu hal, semakin jelas dari hari ke hari: sesuatu yang tidak beres sedang disembunyikan Vania darinya, dan cepat atau lambat, kebenaran itu akan terungkap dengan sendirinya.

1
Kumbang di taman
semangat selalu 😍
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih atas kunjungannya
total 1 replies
Kumbang di taman
sukses selalu Author 👍
Adinda
toko utamanya Kirana atau dimas Dan alya,kalau bisa libatkan toko pemeran utamanya Dan tokoh yang jadi pendamping hidup Kirana,jadi ceritanya makin seru.
Fahmishodiq Abdullah: ok kak masukan saya terima kak,makasih atas masukan dan sarannya
total 1 replies
Detie Kurniawati
cerita yg tak aku pahami ahirnya??
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih kak kritiknya,saya akan mencoba memperbaruhinya
total 2 replies
Heny
Hadir thor
Fahmishodiq Abdullah: makasih bang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!