NovelToon NovelToon
The Hidden Truth

The Hidden Truth

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana

Seperti pagi-pagi biasanya, Lyn menunggu bus di halte bersama dengan beberapa remaja yang ingin juga berangkat ke sekolah.

Hingga tak selang lama, bus telah tiba.

Lyn segera masuk ke dalam bus, lalu cari tempat duduk yang nyaman.

Sopir bus menatap kaca spion tengah, setelah seluruh penumpang sudah duduk dengan nyaman, ia pun perlahan menjalankan bus.

Sepuluh menit telah berlalu, bus telah sampai di tempat tujuan.

Lyn segera turun dari bus. Ia menatap sekolah, sambil menghela napas berat. Kejadian kemarin masih membekas di ingatannya.

"Aku harus balas mereka," tekadnya.

Lyn kembali menghembuskan napas pelan, lalu menguatkan tekadnya.

"Aku nggak boleh terus-terusan takut."

Lyn berjalan memasuki gerbang sekolah, hingga setelah beberapa saat ia sudah sampai di kelasnya.

Tatapan Geng Aster yang sinis menyambutnya.

"Kuat juga dia," ucap Selena sambil memutar rambutnya dengan jari, matanya menatap sinis, penuh ejekan.

"Masih berani juga lo yah, ke sekolah?" ledek Bianca.

"Atau jangan-jangan yang kemarin masih kurang puas?" ucap Selena.

Clarisa melipat kedua tangannya, sembari tersenyum miring.

Lyn menarik napas dalam, berusaha tak peduli dengan mereka. Ia berjalan ke bangkunya, berusaha menahan diri.

Kring! Kring!

Suara bel telah berbunyi, pelajaran pun dimulai.

"Gays, Pak Gilang suruh kumpul di lapangan, sekarang juga," ucap Riki—ketua kelas yang berdiri di depan pintu.

Semua langsung menuju ke loker untuk ganti baju olahraga.

Lyn membuka lokernya.

Kosong. Baju olahraganya tak ada di tempat. Ia menghela napas pelan, teringat temannya meminjamnya kemarin.

Geng Aster sudah berganti pakaian, mereka melewati Lyn dengan senyum mengejek seolah merencanakan sesuatu.

Lyn hanya membalasnya dengan tatapan datar, lalu menghubungi temannya.

"Aca, baju olahragaku mana?" tanya Lyn begitu sambungan telepon terhubung.

"Aku sudah simpan di meja kamu, Lyn," jawab Aca dengan suara memelas.

Lyn terdiam. Di mejanya, tak ada baju olahraganya sama sekali.

"Udah ya, Lyn, gue ngantuk."

Tanpa menunggu jawaban Lyn, Aca memutuskan panggilan.

Lyn segera masuk ke dalam kelasnya, lalu menggeledah mejanya.

Tetep saja, kosong. Baju olahraganya tidak ada sama sekali.

Saat Lyn ingin menghubungi kembali Aca, seseorang menepuk pundaknya.

Lyn menoleh.

"Apa?" ucapnya pada Reza—siswa yang dijuluki culun.

"Baju olahraga kamu ada di tempat sampah," ucap Reza lalu berlari meninggalkan Lyn, seolah takut ada yang melihatnya.

Lyn segera ke tempat sampah.

Benar saja, baju olahraganya sudah ada di tempat sampah.

Lyn mengambil bajunya, bau asam langsung tercium.

"Sialan, ini pasti ulah Geng sialan itu," kesalnya.

Prittt!

Suara peluit Pak Galang di lapangan menandakan semua murid harus berkumpul di lapangan.

Lyn berjalan keluar kelas. Di lapangan, teman-teman sekelasnya sudah berbaris rapi dengan baju olahraga, sementara dirinya masih mengenakan seragam biasa.

Di lapangan, Geng Aster menatapnya dengan senyum mengejek, membuat Lyn mengepalkan tangannya.

"Nih, buat lo," ucap seseorang melemparkan sesuatu ke arah Lyn membuatnya tersentak.

—•—

{Lapangan Sekolah Eldoria International School}

"Selamat pagi anak-anak," sapa Pak Galang, guru olahraga.

"Pagi, Pak," balas serampak para siswa.

"Sebelum pelajaran dimulai, Bapak akan absen terlebih dahulu.

"Baik, Pak!"

Pak Galang mulai mengecek kehadiran murid-muridnya, memanggil mereka satu persatu, sesuai daftar absen.

"Bianca Mahardika?"

"Hadir Pak," ucap Bianca dengan semangat.

"Clarisa Narendra?"

"Hadir Pak," balas Clarisa sambil mengibaskan rambutnya.

"Evelyn Rose Walker?"

"H-hadir Pak," ucap Lyn yang datang dengan napas tersengal-sengal.

"Maaf Pak, saya telat," sambungnya sambil menatap datar Geng Aster.

Pak Galang mengela napas pelan, samberi menggeleng kepala. "Hm, kali ini saya maafkan. Kembali ke barisan."

Lyn mengangguk patuh, lalu berjalan ke barisan yang kosong.

Saat berpapasan dengan Geng Aster, Lyn menatapnya dengan datar, dendamnya di hatinya kian membara.

"Cla, itu kan baju Alaric," ucap Selena menatap baju olahraga yang di kenakan Lyn.

"Iya, benar. Dari mana gembel itu dapat baju Alaric?" timpal Bianca.

Clara hanya terdiam, meski tangannya mengepal erat. Alaric adalah orang yang disukainya.

"Clara?" panggil Selena.

Clara tak menjawab, tatapannya tetap datar.

"Clara, ini nggak bisa dibiarkan," ucap Bianca.

Clara tersenyum miring, lalu menatap kedua sahabatnya. "Lo pikir gue akan diam?"

"Lo punya rencana buat gembel itu?" tanya Selena.

"Tentu saja!"

—•—

"Elea Victoria Walker!"

Suara itu begitu nyaring di telinga Elea saat sang sahabat memasuki rumahnya.

Elea menatap Vanesa dengan malas, lalu ia lanjut membersihkan kedainya yang sudah tutup.

Bibir Vanesa cemburut, di cuekin sahabatnya. Ia menghentakkan kakinya.

"Lo ya, gue datang bukannya disambut malah dicuekin," kesalnya lalu meletakkan bingkisan yang dia bawa ke atas meja.

Elea menghela napas pelan. "Maaf, gue lagi beres-beres nih."

Vanesa duduk di salah satu kursi kedai. "Bagaimana jualan lo hari ini, bestie?"

"Laris manis, semua kuenya habis," jawab Elea sambil tersenyum.

"Syukurlah, gue senang dengarnya," ucap Vanesa.

"Lo bawa apaan, sih? Wangi banget, kayaknya enak."

Elea melirik bingkisan yang ada di meja, hidungnya mengendus aroma masakan yang menggoda.

"Gue bawa ayam bakar kesuakaan Lo dan Lyn," jawab Vanesa.

"Lyn pasti suka, nih."

"Tentu saja, anak gue suka. Yang buat Bundanya dia," ucap Vanesa sembari mengibaskan rambutnya.

Elea terkekeh pelan. Baginya, Vanesa bukan sekadar sahabat—ia juga seperti keluarga, bahkan menyayangi putrinya seperti anaknya sendiri.

"Lyn, belum pulang?"

Elea menggeleng, lalu menatap jam di dinding.

"Mungkin satu jam lagi dia balik."

Dua sahabat itu terus mengobrol, hingga tanpa disadari, mereka menghabiskan waktu satu jam.

"Ya Tuhan! Gue harus jemput mertua gue!" ucap Vanesa dengan panik sambil buru-buru berdiri.

"Kalau udah ngobrol, kita memang suka lupa waktu."

"Iya, nih. Gue cabut dulu, ya. Jangan lupa ayam bakarnya dimakan sama Lyn."

"Iya-iya, makasih ya. Hati-hati, jangan ngebut lo."

Vanesa mengangguk. "Titip salam sama anak gue ya."

"Pasti."

Vanesa bergegas keluar kedai, tak lupa melambaikan tangan kepada sahabatnya.

Suara mesin mobil terdengar menjauh.

Elea kembali membereskan beberapa barang di kedai, lalu menyiapkan makan siang untuk putrinya yang sebentar lagi pulang.

"Ibu..."

Suara Lyn terdengar dari luar. Tak lama, gadis itu memasuki rumah.

"Sayang, kamu sudah pulang?"

"Iya, Bu," jawab Lyn, lalu mencium tangan ibunya.

"Wah ayam bakar!" seru Lyn antusias, matanya berbinar menatap ayam bakar di meja makan.

"Bunda Vanesa yang bawa, sayang."

"Bunda mampir?"

"Iya, sayang. Cepat ganti baju dulu, baru makan."

"Siap, Bu!"

—•—

Di sebuah rumah mewah, tiga gadis berkumpul di kamar yang bernuansa merah muda.

"Clara, lo serius dengan rencana lo?" ucap Selena sambil mengunyah keripik.

Clara yang sedang masker hanya mengangguk singkat.

"Tapi, Cla..."

"Lo nggak usah protes," potong Clara, menatap sinis Bianca. "Gembel itu harus diberi pelajaran yang setimpal, agar dia paham siapa yang dilawan sebenarnya!"

"Bi, lo nggak setuju ya?" ucap Selena.

"Bukan, gue nggak setuju. Tapi, rencana Clara kali ini agak ekstrim."

"Perasaan rencana Clara biasa saja, nggak perlu cemas gitu deh," ucap Selena dengan malas.

Clara melepas maskernya perlahan, matanya berkilat penuh perhitungan.

"Ekstrim? ini baru permulaan?"

"Wah, bakalan seru nih," ucap Selena dengan penuh semangat. "Gembel sialan itu harus diberi pelajaran!"

Selena menatap Bianca. "Bi, lo nggak lupa kan. Andai Clara nggak datang waktu itu, gembel itu sudah menyebarkan bukti rekaman kita ngerokok di toilet."

Bianca yang lemot ini, akhirnya tersadar. "Iya ya, kok gue lupa sih."

Selena menatapnya malas.

Clara beranjak dari ranjang, ia melangkah ke arah balkon kamarnya, lalu menghubungi seseorang.

"Pastikan ruangan itu kosong besok!"

1
Anne Rukpaida
smngat lyn 💪
Nona Jmn: Terima kasih
total 1 replies
Anne Rukpaida
akhirnya lyn ketemu juga 😇
Nona Jmn: Akhirnya🫰😁...
Ikutin terus yah... masih ada plot twist kebelakangnya🤭
total 1 replies
Anne Rukpaida
critanya luar biasa keren 😎
Nona Jmn: Terima kasih🫰🫰
total 1 replies
Anne Rukpaida
smangat ka, jadi smkin penasaran ma jln ceritanya asal muasal ortunya Lyn bisa punya keahlian bela diri gitu🔥
Nona Jmn: Sabar yah🤭🤭😁😁
total 1 replies
Anne Rukpaida
ceritanya bkin deg²n 🔥 smangat ka
Nona Jmn: Terima kasih kak😊😊🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!