Theo adalah seorang laki laki yang baru saja menikah dengan perempuan bernama Tiara. keduanya adalah pasangan yang bahagia yang tinggal cukup sederhana di Kota. namun ketenangan mereka berubah ketika Thao mendapatkan warisan rumah dan tinggal di rumah tersebut.
keanehan demi keanehan ia alami selama tinggal di rumah tua yang memang sudah terkenal angker sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iephe Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Roda-roda SUV hitam itu berputar mulus membelah Tol Trans-Jawa, melaju stabil meninggalkan kepulan asap dan kesibukan ibu kota.
Di balik kemudi, Yayan tampak begitu bersemangat. Wajahnya yang biasa tenang kini memancarkan rasa syukur, berkali-kali ia melirik ke arah bagasi belakang—teringat akan set boneka Barbie dan buah tangan yang dibelikan Theo untuk istri dan anaknya.
Sementara itu, Theo duduk bersandar di kursi penumpang depan. Tatapannya menembus kaca jendela, menyaksikan pemandangan gedung-gedung tinggi yang perlahan berganti menjadi hamparan hijau persawahan dan pepohonan rindang. Pikiran Theo melayang, membayangkan senyum lega Tiara dan kehangatan sambutan Uti saat ia tiba di Desa Bojasari nanti.
Namun, di balik kerinduan itu, ada desir kewaspadaan yang tetap bertengger di benaknya. Cerita Rian semalam tentang intrik lama dan dendam keturunan Pak Burhan terus berputar di kepalanya.
Setelah menempuh perjalanan berjam-jam yang diselingi istirahat singkat di rest area, hawa dingin khas pegunungan mulai menyusup masuk melalui celah ventilasi mobil. Kabut tipis menyambut kedatangan mereka ketika roda kendaraan mulai melintasi jalanan menanjak dan berbelok-belok memasuki wilayah Wonosobo.
"Alhamdulillah, sebentar lagi sampai nih, Mas Theo. Hawanya sudah mulai sejuk begini," ujar Yayan membuka percakapan, tangannya dengan sigap mengendalikan kemudi melintasi jalanan desa yang mulai menyempit.
"Iya, Mas Yayan. Tolong pelan-pelan saja, jalanan di Wonosobo banyak belokan tajam," balas Theo tersenyum tipis seraya merapikan jaketnya.
Tak lama kemudian, gerbang desa dan deretan pepohonan bambu khas Bojasari menyapa mereka. Suasana sore yang temaram dan dinaungi langit mendung tipis memberi kesan tenang, namun juga menyimpan kedalaman misteri.
Mobil SUV hitam itu perlahan berbelok masuk ke pekarangan luas rumah peninggalan Pak Harto.
Suara raungan mesin mobil seketika memecah keheningan rumah besar itu. Belum sempat Theo membuka pintu, pintu depan rumah sudah terbuka lebar. Tiara keluar dengan wajah berbinar-binar, diikuti oleh Marni yang menggendong beberapa lipatan kain, serta Joko yang berjalan agak pincang sambil memegangi lututnya.
Dari arah samping, Jalu berlari kecil dengan wajah penasaran.
"Assalamu’alaikum, Mas Theo!" seru Tiara setengah berlari menyambut suaminya yang baru turun dari mobil.
"Wa'alaikumussalam, Sayang..." Theo menyambut istrinya dengan senyuman hangat, menggenggam erat tangan Tiara dan mencium keningnya lembut, meluapkan seluruh rasa rindu yang tertahan selama beberapa hari di Jakarta.
"Alhamdulillah... akhirnya Mas Theo sampai juga dengan selamat," gumam Tiara penuh lega, matanya berkaca-kaca menatap Theo.
"Matur nuwun gusti... Mas Theo sampun kondur," sahut Marni seraya menyatukan kedua telapak tangannya di dada dengan raut wajah penuh rasa syukur. "Mbak Tiara dari tadi siang sudah bolak-balik nengok jendela terus, Mas."
Theo tertawa pelan mendengarnya, lalu pandangannya beralih ke arah Joko yang berdiri sedikit membungkuk di belakang Marni.
"Wah, selamat sore, Mas Joko. Gimana kakinya? Katanya habis meluncur mulus semalam?" goda Theo dengan nada bercanda.
Muka Joko seketika memerah, ia meringis canggung seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aduh, Mas Theo ini... Mbak Tiara pasti sudah cerita ya? Niat saya itu mau mengamankan situasi, Mas. Malah karpetnya yang sengaja menjegal saya. Tapi tenang Mas, demi menjaga Mbak Tiara dan Uti, dengkul terkilir begini mah ndak ada apa-apanya!"
"Halah! Gaya toh bapakmu ini, Lu!" potong Marni sambil menepuk bahu suaminya. "Wong ditakut-takuti suara angin saja melompatnya kayak katak, kok bilang mengamankan situasi!"
Seketika tawa pecah di halaman rumah.
Yayan yang sedang menurunkan barang dari bagasi pun tak sanggup menahan senyumnya melihat tingkah polos Joko.
"Sudah-sudah, yang penting Mas Joko sama Mbak Marni sudah mau bantu menjaga rumah dan mendampingi Tiara. Saya betul-betul terima kasih," ucap Theo tulus. "O ya, ini ada sedikit oleh-oleh dari Jakarta buat Mas Joko, Mbak Marni, dan Jalu."
Theo menyerahkan beberapa kantong belanjaan besar. Mata Jalu seketika membulat lebar saat melihat kotak mainan dan camilan yang dikeluarkan Theo.
"Wah! Buat Jalu ini, Om Theo?" tanya Jalu dengan nada polos dan gembira.
"Iya, buat Jalu. Belajar yang rajin ya," balas Theo mengelus kepala anak kecil itu.
"Matur nuwun sanget, Mas Theo, Mbak Tiara... Aduh, jadi kerepotan begini," ujar Marni penuh rasa haru.
Joko pun ikut membungkuk berkali-kali mengucapkan terima kasih. Bagi mereka, meskipun Theo dan Tiara adalah majikan sekaligus pemilik seluruh aset peninggalan Pak Harto, sikap pasangan muda itu yang selalu menyapa dengan sebutan "Mas" dan "Mbak" serta memperlakukan para pekerja dengan sangat humanis membuat semua karyawan—baik di rumah, peternakan, maupun perkebunan—merasa sangat dihormati dan segan.
"Sama-sama, Mas Joko, Mbak Marni. Yuk, bawa masuk barang-barangnya. Saya mau sungkem dulu sama Uti," ajak Theo.
Theo berjalan masuk ke dalam rumah didampingi Tiara. Di ruang keluarga yang hangat, Bu Sri tampak sedang duduk di kursi goyangnya sambil memegang tasbih. Begitu melihat cucunya melangkah masuk, senyum bijak mengembang dari wajah senja wanita tua itu.
"Uti..." Theo berlutut dan mencium tangan neneknya dengan penuh takzim.
"Alhamdulillah, Le... Kowe wis tekan omah dengan selamat," bisik Bu Sri lembut seraya mengusap kepala Theo dengan penuh kasih sayang.
"Gimana urusanmu di Jakarta? Sudah rampung semua?"
"Sudah, Uti. Surat pengunduran diri Theo sudah selesai, barang-barang juga sebagian sudah diurus. Mulai sekarang, Theo akan fokus tinggal di sini, menjaga Uti, merawat rumah, dan mengelola peternakan serta sawah peninggalan Kakung," jawab Theo mantap.
Setelah semua barang dari bagasi selesai dipindahkan ke dalam rumah, Theo mengambil sebuah amplop cokelat tebal dari dalam tas selempangnya. Ia berjalan menghampiri Yayan yang sedang merapikan posisi parkir mobil di pekarangan.
"Mas Yayan," panggil Theo lembut seraya menyodorkan amplop tersebut.
"Ini ada sedikit rezeki buat Mas Yayan dan keluarga. Terima kasih banyak ya sudah menyetir dengan aman dan bantu-bantu selama perjalanan dari Jakarta."
Yayan sempat tertegun, lalu menerima amplop itu dengan segan.
"Waduh, Mas Theo... padahal dibelikan oleh-oleh sama boneka buat anak saya tadi saja sudah senang banget, kok malah direpotkan begini lagi."
"Nggak apa-apa, Mas, diterima saja. Itu haknya Mas Yayan," senyum Theo tulus.
Theo sama sekali tidak menyebutkan berapa nominal di dalamnya demi menjaga kesopanan.
Setelah berpamitan dan berjalan menuju area samping rumah untuk beristirahat sejenak, rasa penasaran Yayan tak terbendung. Ia mengintip ke dalam amplop cokelat tebal itu dan mengeluarkannya perlahan. Ketika dihitung lembar demi lembar pecahan seratus ribuan di tangannya, matanya seketika melebar, jumlahnya pas dua juta rupiah!
"Matur nuwun sanget, Mas Theo... Ya Allah, banyak banget ini," bisik Yayan dengan dada berdesir haru.
Ia kembali menghampiri Theo yang sedang berdiri di teras depan bersama Tiara, lalu membungkuk berkali-kali. "Mas Theo, terima kasih banyak... oh iya, karena sudah sore, saya izin pulang ya Mas, Mbak." Ucap Yayan.
Namun, sebelum Yayan beranjak pulang ke rumahnya, Theo menahan langkah sopirnya itu sejenak.
"O iya, Mas Yayan," potong Theo sambil menunjuk ke arah SUV hitamnya.
"Mobilnya mumpung kunci masih di Mas Yayan, sekalian dibawa pulang saja dulu ya. Besok pagi tolong dibawakan ke tempat cuci mobil, kasihan sudah kotor banget kena debu sama lumpur jalanan sepanjang perjalanan tadi."
"Siap, Mas Theo! Beres, besok pagi-pagi sekali langsung saya bawa ke salon cuci mobil biar kinclong lagi seperti baru," jawab Yayan dengan penuh semangat dan rasa hormat yang kian mendalam pada majikan mudanya itu.
Begitu raungan mesin SUV hitam yang dikemudikan Yayan perlahan memudar di kejauhan, suasana pekarangan rumah kembali diselimuti keheningan.
Theo menghela napas panjang,
"Yuk, masuk, Sayang.," bisik Theo lembut seraya merangkul pinggang Tiara.
"Iya, Mas. Kamu pasti capek banget seharian di jalan," sahut Tiara sembari menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Theo saat mereka berjalan masuk.
Setelah memastikan pintu depan terkunci rapat, keduanya melangkah melintasi ruang tengah yang tenang, lalu menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Suasana lantai atas terasa begitu tenang dan privat. Theo mendorong pintu kamarnya, menyalakan lampu, dan seketika nuansa hangat kamar berukuran luas itu menyambut mereka.
Theo berjalan melangkah mendekati tempat tidur berukuran king size di sudut ruangan. Tanpa membuang waktu, ia melepas jaket tebalnya, melemparkannya sembarangan ke atas kursi, lalu merebahkan tubuhnya telentang di atas kasur yang empuk.
"Aahhh... lega banget rasanya," gumam Theo seraya memejamkan mata, membiarkan rasa pegal di punggung dan lehernya perlahan mengendur setelah menempuh perjalanan ratusan kilometer dari Jakarta. Kedua tangannya terentang lebar di atas sprei.
Tiara yang melihat suaminya kelelahan hanya tersenyum tipis penuh kasih sayang. Ia berjalan mendekat ke tepi tempat tidur, lalu duduk perlahan di samping Theo.
Tangannya terulur, mengusap lembut dahi dan menyisir rambut suaminya yang sedikit acak-acakan.
"Istirahat dulu, Mas... Kalau mau mandi atau membersihkan badan, nanti saja kalau capeknya sudah agak berkuang," tutur Tiara dengan suara berbisik yang amat menenangkan.
Theo membuka matanya sedikit, menatap wajah cantik istrinya yang berada tepat di atasnya, lalu mengukir senyum tipis. "Makasih ya, Sayang... Bisa tiduran begini sambil ada kamu di sampingku saja rasanya semua capek langsung hilang."
Suasana kamar yang hangat dan tenang di lantai dua itu seketika diliputi keheningan yang intim. Tatapan mata Theo yang dalam bertemu dengan binar lembut dari netra Tiara. Rasa rindu yang membuncah setelah beberapa hari terpisah jarak kini melebur sepenuhnya dalam dekapan hangat di atas peraduan.
Sentuhan lembut Tiara di wajah Theo berganti menjadi usapan mesra, sementara kedua tangan Theo ......
Tiba-tiba hawanya dingin begitu...
🤨🤨🤨
Kira-kira, suara rintihan dari sosok siapa atau apa yang di denger sama neneknya Theo, ya???
🤨🤨🤨🤨🤨