Laluna Roselyn memiliki karier yang sempurna sebagai aktris terkenal, sampai sebuah pengkhianatan menghancurkan hidupnya. Ia memergoki kekasihnya berselingkuh dengan asistennya sendiri. Dalam amarah yang tak terkendali, Laluna menyerang keduanya hingga kejadian itu terekam dan tersebar luas.
Dalam sekejap, citranya hancur. Dunia hiburan berbalik meninggalkannya, dan karier yang ia bangun bertahun-tahun berada di ujung kehancuran karena skandal tersebut.
Saat tidak memiliki pilihan lain, Laluna menerima perjodohan dari ibunya dengan Nathan Adikara, seorang pengusaha kaya yang terkenal dingin, kejam, dan sulit didekati.
Pernikahan mereka seharusnya hanya menjadi kesepakatan untuk menyelamatkan nama Laluna. Namun, hidup bersama Nathan membuatnya menemukan sisi lain dari pria itu. Di balik sikap dinginnya, Nathan ternyata adalah satu-satunya orang yang berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menentangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Foto Prewedding
Mereka akhirnya sampai di depan studio foto yang cukup terkenal di kota mereka. Nathan segera turun lebih dahulu dan disusul oleh Laluna dibelakangnya. Laluna mencoba menutupi wajahnya, takut jika ada wartawan yang melihatnya. Karena ia tahu studio foto ini sering dipakai oleh aktris aktris untuk foto shoot.
"Tuan Nathan, kami sudah menyiapkan tempat untuk berfoto dengan kekasih anda," ujar salah satu pelayan disana.
Nathan hanya mengangguk, ia segera mencari cari Laluna yang masih berjalan menghampirinya. Tanpa lama lama, ia segera menggenggam tangan gadis yang merupakan istrinya untuk bisa mengikutinya. Karena ia tahu, gadis itu sangat lambat sekali berjalan.
Hingga sampailah ia di dalam ruangan dengan beberapa kamera yang suda terpasang, bahkan latarnya sudah di hias berbagai macam bunga dengan cantiknya.
Nathan membawa Laluna masuk ke dalam ruangan tersebut. Gadis itu masih terlihat canggung, matanya terus memperhatikan sekitar. Ia tidak menyangka bahwa hanya untuk sebuah foto, Nathan akan mempersiapkan tempat semewah ini.
"Kenapa harus di studio seperti ini?" bisik Laluna pelan.
Nathan yang mendengarnya menoleh. "Kenapa? Kamu tidak suka?"
"Bukan begitu," jawab Laluna cepat. "Tapi... tempat ini terlalu mencolok. Bagaimana kalau ada yang mengenali kita?"
Nathan menatap wajahnya yang masih berusaha menutupi diri. Sudut bibirnya sedikit terangkat melihat tingkah istrinya yang terlihat panik.
"Laluna, kamu lupa siapa saya?" tanyanya santai.
Gadis itu mengerutkan kening. Ia tahu Nathan adalah pria kaya dengan aset kekayaan yang banyak, tetapi tidak mungkin juga ia menewa studio foto yang dikenal sangat mahal ini. Bahkan untuk orang kaya sekalipun harus mengantri jika mau foto disini.
"Saya yang membawa kamu ke sini. Tidak akan ada wartawan yang bisa masuk tanpa izin dari saya."
Laluna terdiam. Ia baru menyadari bahwa studio ini memang sangat tertutup. Bahkan sejak mereka masuk, tidak ada satu pun orang asing yang terlihat selain para staf yang sudah menunggu mereka.
"Tapi tetap saja, lagi pula studio ini bukan milikmu! Banyak sekali yang mau foto disini, tidak mungkin pemiliknya menyetujui agar kamu saja yang me gunakan studio foto sebesar ini, " gumam Laluna.
"Kata siapa mereka tidak setuju, studio ini milikku, kamu tenang saja."
Mendengar perkataan itu Laluna membelalakkan matanya, ia tidak menyangka bahwa pria yang tengah menjadi suami kontraknya itu memiliki banyak sekali bisnis. Di berita bahkan hanya dikatakan pria itu pemilik bisnis kuliner dan keuangan, tetapi sekarang ia baru menyadari bahwa masih ada rahasia yang pasti di sembunyikan pria itu, dan sekarang ia baru tahu studio foto terbesar ini pun miliknya.
Nathan mendekat lalu mengambil penutup wajah yang masih dikenakan Laluna.
"Lepaskan. "
Mata Laluna langsung membesar. "Tuan Nathan!"
"Untuk apa menutup wajahmu?" tanyanya. "Hari ini kau bukan seorang aktris yang sedang bersembunyi. Kau adalah istriku dan kita akan berfoto bersama. "
Ucapan itu membuat Laluna terdiam seketika. Meski Nathan mengatakannya dengan nada biasa, entah kenapa kalimat sederhana itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Sang fotografer yang sejak tadi menunggu akhirnya mendekat dengan senyum ramah.
" Selamat datang tuan Nathan dan nona Laluna, silahkan bersiap. Beberapa gaun dan jas sudah kami siapkan di ruang ganti."
Nathan hanya mengangguk, ia melangkah lebih dahulu sedangkan Laluna tersenyum ke arah fotografer itu. Hingga sampailah mereka di bilik ruang ganti, ada dua staff yang tengah menunggu mereka.
" Tuan Nathan dan nona Laluna, kami akan membantu kalian bersiap," ujar salah satu staff.
Mereka akhirnya bersiap, Nathan lebih dahulu selesai karena hanya memakai jas dan makeup tipis di wajahnya. Sedangkan Althea masih dirias wajahnya, ia akan mengenakan dress mewah berwarna pink yang cukup menawan. Setelah selesai mengenakan dress mewah itu ia segera melangkah keluar dengan heels yang menghiasi kakinya. Namun, sialnya ia malah menginjak sesuatu yang membuat dirinya tidak seimbang.
Nathan yang melihat itu segera berlari dan menarik tubuh Laluna agar tidak terjatuh, pandangan mereka bertemu untuk beberapa menit. Hingga Laluna segera memalingkan wajahnya dan meminta Nathan untuk melepaskan cengkeraman tangannya.
"Saya tidak suka dengan gadis ceroboh sepertimu, lain kali kamu harus berhati hati agar tidak mempermalukan ku di hadapan keluargaku," ujar pria itu.
Laluna langsung menatap Nathan dengan kesal. Baru saja ia merasa sedikit tersentuh karena pria itu menyelamatkannya, tetapi ucapan Nathan kembali membuat perasaannya berubah.
"Aku juga tidak ingin jatuh di depan keluargamu," balas Laluna sambil merapikan dress yang dikenakannya. "Kau pikir aku sengaja menjadi ceroboh?"
Nathan hanya diam. Tatapannya masih tertuju pada wajah Laluna yang terlihat sedikit kesal.
"Saya hanya mengatakan agar kamu lebih berhati-hati,tidak baik kau selalu bertindak ceroboh, bukannya kamu sudah di nasehati oleh ibumu, " ujar Nathan datar.
"Kalau begitu tidak perlu mengatakan seolah-olah aku sengaja mempermalukanmu."
Laluna berjalan melewatinya dengan langkah hati-hati. Dalam hatinya ia merasa kesal karena Nathan selalu berhasil membuatnya bingung. Terkadang pria itu bersikap perhatian, bahkan membuat jantungnya berdebar, tetapi beberapa detik kemudian ia kembali bersikap dingin seperti biasanya.
Nathan memperhatikan punggung gadis itu yang menjauh. Entah kenapa ia merasa sedikit tidak nyaman melihat ekspresi kecewa Laluna. Namun, sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, fotografer sudah memanggil mereka.
"Tuan Nathan, Nona Laluna, silakan ke tempat pemotretan."
Laluna segera berjalan menuju area foto tanpa menoleh lagi. Di depan kamera, ia berdiri dengan senyum profesional yang biasa ia tunjukkan ketika berada di depan publik. Meskipun hatinya masih sedikit kesal, ia tidak ingin membiarkan perasaannya mengganggu pekerjaannya sebagai seorang aktris.
Fotografer mulai mengambil beberapa gambar.
"Bagus, Nona Laluna. Tatap ke arah Tuan Nathan."
Laluna menoleh. Tatapan mereka kembali bertemu. Untuk beberapa detik, suasana di antara mereka terasa berbeda. Nathan yang biasanya terlihat dingin, kini hanya menatap Laluna tanpa mengatakan apa pun.
"Bagus," ujar fotografer. "Sekarang lebih dekat."
Nathan melangkah mendekat seperti sebelumnya. Tangannya perlahan berada di pinggang Laluna untuk mengatur posisi mereka. Laluna kembali merasa gugup.
"Tuan Nathan, jangan terlalu dekat," bisiknya pelan.
"Kita sedang berfoto sebagai pasangan," jawab Nathan tanpa melihatnya.
"Tapi..."
"Tidak usah banyak berpikir, kita harus terlihat mesra di hadapan keluargaku," tegasnya.
Laluna hanya terdiam, ia segera menatap ke arah wajah Nathan, pria itu tampak menawan dengan rahang tegasnya. Sedangkan Nathan yang melihat wajah gadis itu lebih dekat, merasa bahwa gadis itu memang benar benar cantik. Bahkan jauh lebih cantik dari foto yang pernah ia lihat.
"Selesai, kalian begitu serasi," ujar fotografer itu.
Nathan segera melepaskan tangannya dari pinggang itu, sedangkan Laluna buru buru menjauh dari Nathan. Ia segera berlari ke arah bilik ganti, namun baru saja ia masuk. Langkah kaki pria itu terdengar masuk ke bilik itu.
"Aku dulu, bilik ini hanya satu. Lebih baik kamu mengalah, aku tidak suka berganti pakaian bersama orang lain," tegas Laluna yang melihat Nathan sudah melepas jas hitam yang membalut tubuhnya.