Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Kecil dari Sang Suami Kontrak
Kehadiran Gavin Wijaya di kantor pusat Chen Corp kini bukan lagi sebuah pemandangan yang aneh.
Dari yang semula memicu kasak-kusuk luar biasa di lobi, para karyawan kini sudah terbiasa melihat pria tampan berjas rapi itu duduk santai di sofa ruang kerja CEO, atau berjalan-jalan ramah di koridor manajemen untuk menyapa staf dengan senyum manisnya.
Gavin benar-benar sudah terbiasa menemani Tiffany bekerja setiap hari.
Bahkan, beberapa karyawan mulai menganggap keberadaan Gavin sebagai bagian dari pemandangan rutin di lantai tertinggi gedung Chen Corp.
Jika pagi-pagi melihat Tiffany masuk ke kantor dengan wajah dingin seperti biasa, mereka juga tidak akan terkejut jika beberapa menit kemudian Gavin muncul sambil membawa dua gelas kopi atau sekadar menyapa mereka dengan santai.
Namun, hari ini ada yang berbeda.
Pukul empat sore, suasana di lantai tertinggi gedung Chen Corp tampak jauh lebih tenang. Beberapa laporan sudah selesai diperiksa, dan tidak ada jadwal rapat darurat dari dewan direksi. Pekerjaan hari ini tidak sesibuk biasanya, membuat Tiffany bisa menutup laptopnya jauh lebih cepat dari jadwal normal.
Klik.
Suara laptop yang ditutup itu langsung membuat Gavin yang sejak tadi duduk di sofa mengangkat kepala.
"Wah, keajaiban dunia! Tante sudah selesai kerja jam segini?"
Gavin langsung mematikan gim di ponselnya dan bangkit dari sofa dengan mata berbinar.
"Karena hari ini kita bisa pulang kantor lebih cepat, bagaimana kalau kita mampir jalan-jalan dulu, Tante?"
Tiffany merapikan beberapa berkas di atas mejanya dengan gerakan kaku. Wajahnya tampak kuyu setelah seharian berkutat dengan angka, laporan, dan berbagai urusan perusahaan.
"Aku capek, Gavin. Aku ingin cepat pulang untuk istirahat."
"Ayaaa, Tante ini..." Gavin berjalan mendekati meja kerja Tiffany sambil melipat tangan di dada. " Sekali-kali relaksasi, dong. Jangan hanya kerja terus sampai malam. Nanti stresnya menumpuk, encoknya bisa tambah parah, loh!"
Tiffany langsung berhenti merapikan berkas.
Tatapannya perlahan naik menatap Gavin.
"Siapa yang encok?"
Tiffany menyipitkan mata.
Gavin langsung pura-pura melihat langit-langit.
"Ayo, jalan-jalan sebentar saja. Tidak perlu lama. Makan, keliling mal sedikit, lalu pulang. Anggap saja ini... program pemeliharaan CEO."
"Program pemeliharaan CEO?"
"Iya. Kalau mesin perusahaan perlu dirawat, CEO juga perlu dirawat."
"kamu menyamakan aku dengan mesin?"
"Ah tidak ."
"Gavin."
"Baik. Aku diam."
Gavin mengangkat kedua tangannya menyerah.
Namun, senyum di wajahnya tetap bertahan.
Tiffany mengembuskan napas panjang. Melihat kegigihan Gavin di depannya dan menyadari bahwa tubuhnya memang membutuhkan sedikit udara segar di luar urusan saham dan laporan perusahaan, akhirnya Tiffany mengiyakan dengan dengusan pasrah yang khas.
"Sebentar saja."
Gavin langsung tersenyum penuh kemenangan.
"Siap, Nyonya CEO!"
"Jangan panggil aku begitu."
"Baik, Nyonya CEO."
"Gavin!"
"Hahaha!"
Tujuan pertama yang dipilih Gavin tentu saja sebuah mal mewah yang terhubung langsung dengan distrik bisnis Xinyi.
Gavin mengajak Tiffany mampir makan terlebih dahulu di salah satu restoran di dalam mal. Dia tahu Tiffany sudah sangat lapar karena sejak siang wanita itu hanya meminum teh dan menyantap sedikit camilan.
Begitu makanan tersaji, Tiffany bahkan tidak sempat mengeluh ketika Gavin mulai mengambil lauk dari piringnya sendiri.
Suasana restoran begitu nyaman, dipenuhi aroma hidangan hangat yang menggugah selera. Di sela-sela suapan mereka, Gavin yang memang tidak bisa diam mulai mengeluarkan keahliannya.
"Tante tahu tidak? Pegawai di lantai bawah kemarin bilang kalau senyumanku itu bisa meningkatkan produktivitas kerja mereka sampai dua puluh persen."
Gavin mengangkat dagu dengan penuh percaya diri.
"Hebat, kan? Investasimu padaku ini benar-benar membawa berkah."
Tiffany, dengan sifat sedingin es kutub , tetap mengunyah makanannya dengan tenang.
Dia hanya melirik Gavin sekilas.
"Meningkatkan produktivitas atau meningkatkan jumlah gosip di grup obrolan kantor?"
Gavin langsung terdiam selama dua detik.
Lalu terkekeh.
"Tante ini kalau membalas memang tidak pernah memberikan kesempatan untuk menang."
"Karena kamu memang tidak pernah masuk akal."
"Padahal aku sedang membangun citra positif sebagai suami CEO."
"Jangan terlalu percaya diri."
"Berarti citraku sudah bagus?"
"Aku bilang jangan percaya diri."
Gavin tertawa lagi.
Dia sudah sangat hafal bahwa di balik tanggapan dingin itu, Tiffany sebenarnya tetap mendengarkan setiap celotehannya.
Setelah selesai makan, sesuai rencana awal, Gavin mengajak Tiffany berjalan-jalan keliling mal sebentar saja.
Langkah mereka santai membelah keramaian pengunjung. Tiffany berjalan di samping Gavin dengan kedua tangan masuk ke dalam saku blazer, sementara Gavin sibuk melihat-lihat berbagai toko yang mereka lewati.
Hingga akhirnya mereka melewati sebuah stan terbuka yang menjual berbagai macam aksesori, pernak-pernik lucu, dan perhiasan kecil.
Mata Gavin mendadak terpaku pada stan tersebut.
"Tante, berhenti sebentar di sini."
Gavin bahkan menarik pelan ujung blazer Tiffany.
Tiffany menghentikan langkahnya.
Dengan sifat seperti biasa, dia melihat ke arah Gavin dengan tatapan menyipit curiga.
"Sudah, Gavin... barang aneh apa lagi yang mau kamu beli sekarang?"
Gavin mengerjapkan mata.
"Kenapa langsung menuduh?"
"Karena aku sudah mengenalmu."
Tiffany menunjuk stan di depan mereka.
"Apakah ini alasan sebenarnya kamu mengajakku jalan-jalan? Kamu mau dibelikan barang aneh apa lagi? Ingat, semua barang aneh yang tidak sesuai dengan kebutuhan penyamaran kontrak akan aku catat sebagai utang!"
Ancaman Tiffany yang biasanya langsung membuat Gavin lemas.
Namun, kali ini Gavin diam saja.
Tatapannya murni tertarik pada suatu benda yang tergantung di barisan depan stan aksesori tersebut.
"Aku hanya ingin beli barang murah saja kok, Tante. Tidak akan membuat limit kartumu jebol."
"Kalau murah, kenapa harus dibeli?"
"Karena murah bukan berarti tidak boleh dibeli."
"Itu logika orang yang suka membeli barang tidak berguna."
Gavin menghela napas.
"Tante benar-benar tidak memiliki jiwa seni."
"Aku memiliki banyak hal yang lebih penting daripada jiwa seni."
"Contohnya?"
"Perusahaan."
"Sudah kuduga."
Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut dari Tiffany yang masih kebingungan, Gavin langsung melangkah masuk ke dalam stan aksesori tersebut.
Dia mengambil benda yang sejak tadi menarik perhatiannya, lalu membawanya ke kasir.
Tiffany hanya berdiri beberapa langkah dari sana sambil memperhatikan dengan tatapan curiga.
Tidak sampai beberapa menit, Gavin sudah kembali.
"Sudah?"
"Sudah."
"Mana barangnya?"
Gavin memasukkan benda itu ke dalam saku jasnya.
"Rahasia."
Tiffany langsung mengernyit.
"Gavin."
"Kenapa?"
"Kalau kamu membeli sesuatu yang aneh—"
"Tenang. Aku bayar pakai uang sendiri."
Tiffany terdiam.
Entah kenapa, jawaban itu justru membuatnya sedikit kehilangan bahan untuk mengomel.
Mereka akhirnya melanjutkan langkah menuju basement dan langsung pulang menggunakan mobil jemputan.
Sesampainya di penthouse mewah mereka, suasana rumah kembali terasa tenang.
Tiffany baru saja meletakkan tas kerjanya di atas sofa dan hendak berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri ketika Gavin tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Pria itu menepuk dahinya sendiri, seolah baru saja teringat sesuatu.
"Eh, lupa!"
Tiffany menoleh.
"Lupa apa?"
Gavin merogoh saku jasnya.
"Ini. Hadiah buat Tante."
Gavin mengulurkan tangannya.
Tiffany menatap benda kecil yang berada di telapak tangan Gavin.
Ternyata benda yang dibeli Gavin tadi adalah sebuah gantungan kunci berbentuk karakter perempuan lucu.
Karakter tersebut dibuat dengan gaya chibi yang menggemaskan. Ia mengenakan setelan formal mini yang mirip pakaian seorang CEO, lengkap dengan kacamata bulat besar. Kedua tangan kecil karakter itu bahkan sedang memeluk sebuah laptop.
Yang paling menggelikan adalah ekspresinya.
Wajah karakter tersebut tampak cemberut, kaku, dan serius, tetapi justru terlihat sangat imut.
Tiffany menatapnya beberapa saat.
Kemudian menatap Gavin.
Kemudian kembali melihat gantungan kunci itu.
"Aku beli barang ini karena gantungan ini mirip sekali dengan Tante."
Gavin mulai tersenyum lebar.
"Kaku, suka pegang laptop, dan hobi cemberut. Jadi, ini sangat cocok untuk Tante."
Tiffany langsung memasang ekspresi kesal.
"Kamu..."
"Mirip, kan?"
"Tidak."
"Menurutku mirip."
"Tidak."
"Kalau Tante berdiri di samping gantungan ini, orang mungkin akan mengira kalian saudara kembar."
"Gavin."
"Baik, baik. Aku berhenti."
Namun, senyum jail di wajahnya sama sekali tidak menunjukkan penyesalan.
Tiffany merebut gantungan kunci itu dari tangan Gavin.
Dia sempat ingin mengomel panjang lebar. Bahkan sudah terlintas di kepalanya untuk mengatakan bahwa Gavin memang memiliki selera yang aneh.
Namun, entah kenapa, kata-kata itu tidak keluar.
"Konyol."
Hanya satu kata pendek yang akhirnya keluar dari bibirnya.
Setelah itu Tiffany berbalik dan melangkah menuju koridor kamarnya.
Gavin berdiri di tempat sambil memperhatikan punggung istrinya.
"Berarti suka, dong?"
Tiffany berhenti.
"Tidak."
"Kalau tidak suka, balikin."
Tangan Tiffany yang memegang gantungan kunci langsung mengepal sedikit.
"Sudah kubilang konyol."
"Tapi tidak dibalikin."
Tiffany menoleh setengah badan.
Tatapan dinginnya langsung membuat Gavin mengangkat kedua tangannya.
"Oke. Oke. Hadiah diterima."
Tiffany mendengus dan kembali berjalan.
Namun, Gavin sempat melihat sudut bibir wanita itu bergerak sedikit.
Dia tersenyum.
Di bawah pendar lampu koridor yang hangat, Tiffany akhirnya berhenti di depan pintu kamarnya.
Dia kembali menatap benda kecil di tangannya.
Karakter perempuan berkacamata itu tampak memeluk laptop dengan ekspresi cemberut. Bahkan setelan formal mininya dibuat sedemikian rupa sehingga benar-benar mengingatkan Tiffany pada dirinya sendiri ketika sedang bekerja.
Tiffany mengangkat gantungan itu sedikit lebih dekat ke wajahnya.
"Memangnya aku secemberut ini?"
Dia bergumam pelan.
Tidak ada siapa pun di sana yang menjawab.
Tiffany kembali memperhatikan gantungan tersebut.
Secara perlahan, benteng es di wajah kaku Tiffany runtuh.
Sudut bibirnya terangkat.
Senyum kecil muncul begitu saja.
Diam-diam, Tiffany tersenyum melihat gantungan kunci pemberian Gavin.
Ini mungkin adalah pertama kalinya dalam hidup Tiffany dia bisa tersenyum lepas karena sebuah hadiah sederhana.
Bukan karena mendapatkan perhiasan mahal.
Bukan pula karena menerima tas mewah dari desainer terkenal di Paris.
Dengan kekayaannya, Tiffany bisa membeli semua benda tersebut kapan saja dia mau.
Hadiah mahal tidak pernah menjadi sesuatu yang sulit didapatkan baginya.
Senyuman itu juga bukan karena dia baru saja memenangkan tender proyek besar bernilai miliaran.
Selama bertahun-tahun, pencapaian seperti itu sudah menjadi bagian dari kehidupan Tiffany.
Namun, kali ini berbeda.
Senyuman itu hadir karena sesuatu yang sederhana.
Sebuah gantungan kunci murah berbentuk karakter CEO kecil yang bahkan sengaja dipilih karena dianggap mirip dengannya.
Hadiah dari suami bayarannya.
Pria yang beberapa bulan lalu bahkan masih terasa seperti orang asing dalam kehidupannya.
Tiffany menatap gantungan itu lebih lama.
Aneh.
Dia sendiri tidak mengerti kenapa benda sekecil itu bisa membuat dadanya terasa sedikit hangat.
Padahal nilainya mungkin bahkan tidak sebanding dengan harga satu cangkir kopi di restoran tempat mereka makan tadi.
Dia berjalan masuk ke kamar.
Tangannya sudah hampir meletakkan gantungan itu di atas meja, tetapi berhenti di tengah jalan.
Tiffany menoleh ke arah tas kerjanya.
Kemudian melihat gantungan kunci di tangannya lagi.
Akhirnya, dia mengambil tas kerja tersebut dan menggantungkan benda kecil itu pada resleting bagian depannya.
Klik.
Gantungan karakter CEO kecil itu kini bergoyang pelan di sana.
Tiffany memperhatikannya.
Senyumnya muncul sekali lagi.
"Benar-benar konyol."
Kali ini, nada suaranya tidak terdengar kesal.
Justru terdengar seperti seseorang yang diam-diam menyukai sesuatu tetapi terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Di luar kamar, Gavin yang kebetulan sedang melewati koridor tidak sengaja melihat pemandangan itu dari pintu yang belum tertutup sempurna.
Dia berhenti.
Tatapannya tertuju pada gantungan kunci yang kini sudah terpasang di tas kerja Tiffany.
Lalu matanya naik ke wajah Tiffany yang sedang tersenyum kecil.
Gavin tidak mengatakan apa-apa.
Dia hanya tersenyum puas.
Setidaknya, kali ini dia berhasil membuat CEO sedingin es itu tersenyum hanya dengan sebuah gantungan kunci murah.
Bagi Gavin, itu sudah cukup menjadi kemenangan besar.
Dan bagi Tiffany...
Mungkin tanpa disadarinya, benda kecil itu baru saja menjadi salah satu barang paling berharga di dalam hidupnya.
Bukan karena harganya.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memberinya sesuatu bukan karena statusnya sebagai CEO Chen Corp, bukan karena kekayaannya, dan bukan karena mengharapkan sesuatu sebagai balasan.
Seseorang hanya melihat dirinya sebagai Tiffany.
Dan anehnya, perhatian sederhana seperti itu terasa jauh lebih berharga daripada hadiah mahal apa pun yang pernah diterimanya.