NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Langitan

Pendekar Pedang Langitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Penyelamat
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: Heryando Palar Vinkoert

Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.

Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.

Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Rawa Tak Bertepi

Malam itu terasa lebih panjang. Semua orang bergembira. Adipati pangeran Muncak Gede berniat  untuk mengatur pembagian hasil rampasan.

"Saudara ku Bagaga. Aku berfikir akan jauh lebih baik bila kita membagikan hasil rampasan kita malam ini."

"Kenapa Pangeran ?"

"Aku tidak ingin muncul rasa iri dan berbagai perasaan lain dari mereka yang tidak ikut terlibat."

"Pemikiran yang bagus pangeran. Kalau begitu aku percaya Anda akan mampu melakukan semua itu." Bagaga Alam mengangguk dan tersenyum tulus.

"Pangeran Muncak, besok pagi aku bersama Danang Wesi dan Ni Kirana akan meninggalkan kadipaten Daeyuh Sundasebawa. Kami harus segera melanjutkan perjalanan."

Pangeran Muncak Gede kaget. Dia merasa tidak enak hati. Apakah Bagaga Alam kurang puas dengan pembagian hasil rampasan ?  Pikir Adipati pangeran Muncak Gede menatap Bagaga Alam. Wajah tampan Adipati muda itu penuh rasa tidak nyaman.

"Jangan berfikir begitu saudara ku Muncak Gede. Sebenarnya aku punya tugas besar yang harus bisa ku selesaikan dengan baik di wilayah ujung timur Jawa Dwipa ini."

Adipati pangeran Muncak Gede melihat kepada Danang Wesi dan Ni Kirana bergantian. Danang Wesi cukup memahami situasi dan segera berkata.

"Apa yang dikatakan Tuan Bagaga benar adanya gusti Pengeran. Aku dan adikku Ni Kirana memang dapat perintah langsung dari ayahanda ki Ageng. Kami harus mendampingi Tuan ku untuk bertemu dengan Maharesi Parwita di gunung Anakan Semeru."

"Apakah ki Ageng murid utama Maharesi Parwita benar ayah kalian berdua." Adipati pangeran Muncak Gede baru ngeh ketika Danang Wesi menyebut nama Maharesi Parwita.

Sebelumnya ketika Bagaga Alam mengenalkan Danang Wesi dan Ni Kirana sebagai putri dari ki Ageng. Adipati pangeran Muncak Gede tidak begitu ngeh. Dia melihat kepada Bagaga Alam dengan sorot mata bertanya. Bagaga Alam mengangguk tegas.

"Saudara Danang Wesi dan nona Ni Kirana. Aku mohon maaf karena tidak ngeh selama ini."

"Tidak apa-apa gusti Pengeran." Danang Wesi dan Ni Kirana bicara hampir bersamaan.

"Benar Gusti Pangeran."

Adipati pangeran Muncak Gede melihat kearah Bagaga Alam. Rasa kagum dan hormat terpancar jelas dimatanya.

"Saudara ku Bagaga. Bagaimana kau bisa mengenal Maharesi Parwita ?"

"Sejujurnya aku belum mengenal Maharesi Parwita. Kami hanya bertemu lewat mimpi. Beliau mendesak ku untuk segera bertemu."

Adipati Muncak Gede terdiam. Kening licinnya terlihat berlipat dalam. Lalu dengan mengambang dia berkata. Apakah ini terkait dengan ramalan kemelut tentang kelahiran bayi suci yang akan menjadi awal dari trah Raja Raja besar Jawa Dwipa ?

Danang Wesi dan Ni Kirana bertukar pandang. Keduanya mengangkat bahu tanda tidak mengerti. Pati Maung Sakti dan Pati Muda Rajung Malapir juga terdiam.

Bagaga Alam tidak menjawab. Dia dengan tenang lanjut bicara.

"Karena perjalanan yang sangat jauh. Itulah mengapa malam ini aku minta izin padamu saudara ku Muncak Gede."

Pangeran Muncak Gede sangat paham kenapa Bagaga Alam tidak menanggapi gumamannya. Rasa kagum dan hormat nya kepada Pandeka Pedang Suling Kumala tumbuh semakin besar. Dia menghela nafas panjang dan berat lalu berucap.

"Baiklah, meski aku masih ingin bersama mu untuk beberapa hari lagi. Tapi urusan dengan Maharesi Parwita memang tidak sebaiknya di tunda.

Hanya aku belum menyiapkan hadiah khusus untuk mu serta Danang dan Kirana, saudara ku Bagaga."

"Ha ha ha haa... Baru saja kau panggil aku sebagai saudara. Terus kau bicara hadiah...?"

"Maafkan aku saudara ku Bagaga." Ucap Adipati pangeran Muncak Gede.

 

Hari menjelang siang ketika tiga orang penunggang kuda memasuki hutan Tanah Merah. Mereka baru saja melewati kawasan pertanian penduduk yang sangat subur. Ini adalah hari kedua mereka meninggalkan kawasa kota Jayagiri.

Tiga orang penunggang kuda yang tidak lain adalah Bagaga Alam, Danang Wesi dan Ni Kirana terus memacu kuda mereka. Hutan rimba belantara yang merupakan hutan hujan tropis itu terasa lembab.

Bagaga Alam melepas persepsi nya sambil terus menunggang kuda. Danang Wesi berada paling depan, sedangkan Ni Kirana memacu lari kudanya disebelah Bagaga Alam.

"Kita sekarang berada di hutan Tanah Merah, Kang mas Bagaga."

Palimo Alam melihat kearah Ni Kirana dan berucap.

"Ceritakan tentang hutan Tanah Merah ini pada ku, Kirana."

"Hutan ini merupakan area terakhir yang masuk wilayah kadipaten Daeyuh Sundasebawa. Juga merupakan batas paling jauh dari kerajaan Sunda Galuh.

Wilayah hutan Tanah Merah ini sangat subur. Karena itulah dari waktu ke waktu, kawasa hutan ini banyak dibuka untuk menjadi area pertanian."

"Apakah ada kelompok penjahat yang mengakui kawasa hutan Tanah Merah ini sebagai wilayah kekuasaan mereka ?"

"Setahuku tidak ada Kang mas. Tapi kadang sekte menengah aliran hitam sekte Rawa Tak Bertepi  ada beroperasi di wilayah hutan Tanah Merah ini."

Bagaga Alam mengangguk. Lewat persepsi nya, dia telah mengetahui ada empat orang yang diam diam membayangi perjalanan mereka. Namun Bagaga Alam masih terus bersikap seperti orang tidak tahu. Dia kembali bertanya kepada Ni Kirana.

"Apakah engkau mempunyai informasi tentang sekte Rawa Tak Bertepi ada Patriak nya ?"

"Meski sekte menengah, namun sekte Rawa Tak Bertepi tidak memiliki banyak anggota. Mungkin hanya ada seratus anggota. Namun hanya ada sedikit anggota tingkat pendekar raja. Namun ada banyak pendekar bumi dan juga ada yang tingkat pendekar langit sekitar dua puluh orang. Hanya ada tiga orang tetua, dua diantaranya adalah tingkat pendekar suci awal setengah langkah dan satunya pendekar suci tengah. Patriak sekte Rawa Tak Bertepi adalah Ki Nyala Geni, dia terkenal sakti dan berada ditingkat pendekar suci puncak.

Ki Nyala Geni orangnya kecil, yang unik pria yang sudah berusia 40 an itu memiliki rambut berwarna merah menyala. Senjata yang dia gunakan adalah sebuah cambuk pusaka yang dikenal dengan pecut geni."

Bagaga Alam mengangguk. Dia tersenyum dan berkata dengan nada memuji.

"Aku tidak mengira sangat banyak yang engkau ketahui Kirana." Ni Kirana tersenyum manis mendengar ucapan Bagaga Alam. Namun dia menanggapi dengan setengah malu malu

"Tidak banyak Kang mas Bagaga. Hanya sebegitu saja."

"Apakah engkau juga tahu dimana markas mereka Kirana ?"

"Menurut informasi, markas mereka cukup jauh dari jalan yang akan kita lewati, di dekat Rawa Dengklok yang berada diarea paling Utara dari kawasan Rawa Tak Bertepi. Hanya pastinya aku kurang tahu."

Hampir lewat sore hari itu, mereka menemukan sebuah pondokan sebelum memasuki jalur di Rawa Tak Bertepi.

"Kita beristirahat di pondok singgah itu, untuk melewati malam Tuan." Danang Wesi memberi usulan.

"Kenapa Danang"

"Perlu seharian untuk melintasi rawa tak bertepi ini dengan kuda yang kuat. Juga terlalu berbahaya melintasi rawa tak bertepi ini di malam hari."

"Baiklah kalau begitu. Aku ikut keputusan mu saja Danang."

Mereka kemudian mengarahkan kuda mereka menuju pondok singgah.

Ternyata pondok singgah itu cukup besar. Sudah ada satu rombongan pedagang babelok yang berjumlah dua belas orang dan satu kelompok pendekar muda dari padepokan silat.

"Mereka mestinya dari padepokan silat yang cukup kuat, Tapak Watu  itu Kang mas." Ni Kirana berbisik kepada Bagaga Alam saat melangkah kedalam pondok singgah."

\=\=\=\=\=***\=©

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!