Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.
Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏
#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 : Benturan Besi dan Runtuhnya Impian Purba
Hantaman martil besi Marno yang tersepuh pendar pualam Bunga Kemuning Putih meluncur deras membelah pekatnya hawa racun malam. Di bawah naungan remang Candi Tua Ranubaya, benturan antara dua kekuatan raksasa tak terelakkan lagi. Kepala martil besi murni yang membawa dinginnya jiwa keteguhan seorang penempa bertabrakan telak dengan batu permata Kecubung Hitam yang sedang bernapas liar di ujung tongkat Kyai Brata!
CRACKKK!
BOMMMMM!
Dentuman dahsyat bergaung membahana melintasi ribuan rumpun bambu hitam. Gelombang tekanan udara yang tercipta melontarkan debu-debu kuno dan serpihan batu punden setinggi puluhan meter ke udara. Lingkaran cahaya ungu pekat bercampur pendar putih membara membakar kegelapan lembah, memancarkan bau belerang manis dan uap kemuning yang saling memusnahkan secara hebat.
Kyai Brata terbelalak penuh ketakutan saat menyaksikan retakan-retakan halus berwarna putih mulai menjalar cepat di permukaan batu permata Kecubung Hitam kesayangannya. Struktur ghaib pusaka purba yang tadinya tak tertandingi mendadak rapuh seketika saat bersentuhan dengan Bunga Kemuning Murni dan tempaan besi tanpa dendam!
"TIDAK! PUSAKAKU!" jerit Kyai Brata histeris, suaranya melengking sarat keputusasaan.
PRANGGG!
Batu permata Kecubung Hitam raksasa itu pecah berantakan menjadi jutaan serpihan kristal kecil yang langsung menguap menjadi asap hitam tak berguna! Energi racun purba yang terkunci selama seratus tahun di dalam tongkat mendadak meledak liar tanpa kendali, berbalik memakan tubuh Kyai Brata yang memegangnya secara langsung!
PSSSSSSST!
"AAAGH!"
Kyai Brata melengking kesakitan saat racun hitam pekat meresap balik menembus pori-pori kulitnya, meluluhkan ajian Tiga Kepala Naga di dadanya. Pria tua yang penuh ambisi itu terlempar ke belakang, menghantam dinding batu punden hingga ambruk, lalu tersungkur kaku di tanah tanpa mampu menggerakkan jemarinya lagi. Seluruh ilmu ghaib dan racun yang dihimpunnya puluhan tahun musnah total dalam hitungan detik.
Marno mendarat berat di atas dua kakinya, berlutut memegangi dadanya yang tersengal-sengal. Martil besinya terlepas dari genggaman, menancap di tanah dengan asap tipis yang masih mengepul dari kepalanya.
Sari berlari kencang menerjang kepulan uap, memeluk pundak Marno seraya meneteskan sisa racikan herbal ke mulut pande besi itu. "Kang Marno! Kang Marno tidak apa-apa?!"
Marno memuntahkan sedikit darah kehitaman, lalu menghembuskan napas panjang yang lega. Senyum tipis terukir di wajahnya yang berselimut jelaga. "Aku... aku masih bernapas, Sari. Permata racun itu... sudah hancur."
Uuk! Uuk-uuk!
Si Mbah melompat gembira dari balik reruntuhan pagar bambu, menepuk-nepuk dadanya lalu melingkarkan lengannya di leher Marno.
Sari mengusap air matanya, menoleh ke arah bawah tangga altar. Di sana, Nyai Ratih terbaring lemas, memandangi langit malam yang mulai membiaskan cahaya keemasan fajar di balik celah tebing. Sari melangkah mendekati wanita yang pernah menjadi musuhnya itu, menyiramkan beberapa tetes air penawar dingin ke luka di dada Nyai Ratih untuk meredakan rasa sakitnya.
Nyai Ratih menatap Sari dengan mata sayu yang berair. "Mengapa... mengapa kau masih menolongku, Gadis Soto? Aku hampir membinasakan desamu..."
Sari menggeleng pelan, mengusap dahi Nyai Ratih dengan kain bersih. "Bibiku—Nyai Seruni—dulu juga pernah tersesat karena terperdaya oleh janji manis ilmu racun. Tapi di akhir hidupnya, ia memilih menjadi penyembuh. Kau sudah membayar kesalahanmu dengan menahan langkah Kyai Brata malam ini."
Nyai Ratih memejamkan matanya, menghembuskan napas haru saat rasa panas di dadanya menghilang digantikan rasa sejuk yang menenangkan.
Guncangan hebat mendadak kembali bergetar dari dalam tanah Candi Ranubaya!
Hancurnya batu permata Kecubung Hitam memicu runtuhnya struktur bangunan punden tua yang memang sudah lapuk dimakan usia. Pilar-pilar batu raksasa mulai tumbang, dan tanah pelataran candi mulai ambles membentuk jurang dalam yang menelan seluruh sisa-sisa reruntuhan ilmu purba tersebut.
"Runtuhan! Punden ini mau ambles!" teriak Marno seraya bangkit berdiri, memikul martil besinya kembali ke pundak.
Marno dengan cepat membopong tubuh lemas Nyai Ratih di lengan kirinya, sementara tangan kanannya menggandeng erat jemari Sari. Bersama Si Mbah yang memandu di depan, mereka bertiga berlari kencang menerobos lorong tebing Hutan Bambu Hitam tepat saat fondasi Candi Ranubaya ambles sepenuhnya ke dalam perut bumi, mengubur Kyai Brata dan seluruh pusaka kejahatan masa lalu untuk selama-lamanya.
Saat kaki mereka berhasil melompati batas luar Hutan Bambu Hitam, sinar matahari pagi memancar terang menembus pucuk-pucuk pohon pinus. Cahaya hangat menghapus seluruh kegelapan dan sisa uap racun yang selama ini mencengkeram kawasan terlarang tersebut.
Di mulut hutan, Pak Karto RT bersama puluhan warga Desa Karang Tumpuk dan desa-desa tetangga telah berkumpul dengan membawa obor dan bambu runcing. Raut wajah cemas para warga seketika berubah menjadi sorak-sorai gembira saat melihat Marno, Sari, dan Si Mbah keluar dengan selamat!
"Mereka kembali! Sari dan Marno selamat!" jerit Pak Karto RT penuh haru.
Para petani yang tadinya sadar dari pengaruh racun penjerat jiwa berlari memeluk Marno dan Sari, menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga atas kebebasan jiwa mereka.
Mbok Sumi menangis bahagia sambil memeluk Sari erat-erat. "Mbah Jiwo Suro musnah, sekte barat dipukul mundur, dan kini Sekte Kecubung pun runtuh... Karang Tumpuk benar-benar telah merdeka dari racun jahat, Sari!"
Sari tersenyum manis, memandang wajah-wajah warga yang kini berseri-seri di bawah naungan fajar. Ia meraba ransel terpal di dadanya. Kitab Usada Tengger milik bibinya kini telah menyelesaikan tugas terberatnya—bukan lagi sebagai saksi bisu kejahatan ilmu racun, melainkan sebagai lambang penyelamatan dan penyembuhan bagi seluruh rakyat perbukitan Tengger.
Marno meletakkan martil besinya di tanah, menatap tanah Karang Tumpuk yang subur dan hijau meluas di bawah sana.
"Batu candi itu sudah dikubur bumi," ucap Marno dengan suara berat yang penuh kedamaian. "Mulai hari ini, tidak akan ada lagi senjata racun yang bisa mengancam anak-cucu kita di tanah ini."
Sari berdiri di samping Marno, menggenggam jemari pande besi itu dengan erat di bawah paparan sinar matahari pagi yang kian hangat. Sebuah babak pertualangan dan perjuangan berdarah telah usai, membuka celah bagi perjalanan baru yang menuntun mereka menuju kedamaian sejati di Pegunungan Tengger.