Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.
Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.
"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)
#CintaRomantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Bahkan salah seorang manajer sempat berkata, "Bu, kalau kita tidak ikut bermain, bagaimana kalau kalah?"
Dira menutup map di hadapannya. Lalu menatap seluruh tim. "Dengar baik-baik. Aku membangun perusahaan ini dari nol. Dari uang hasil berjualan skincare satu per satu. Aku tidak akan mengotori perjalanan itu hanya demi memenangkan satu proyek."
Ruangan menjadi hening.
Dira melanjutkan, "Kalau kita kalah karena memang proposal kita kurang baik, kita perbaiki. Kalau kita menang, aku ingin semua orang tahu bahwa kemenangan itu benar-benar hasil kerja keras kita. Bukan hasil suap."
Ucapan itu membakar semangat seluruh tim. Sejak hari itu, mereka bekerja lebih keras. Begadang menyempurnakan proposal. Memeriksa setiap angka. Menghitung setiap risiko. Tidak ada dokumen yang diserahkan tanpa melalui pemeriksaan berulang kali.
Beri yang ikut mendampingi proses tersebut tersenyum bangga. "Ini Dira yang aku kenal."
Dira mengangkat kepalanya dari tumpukan berkas. "Kalau harus mengorbankan integritas untuk menang....lebih baik aku tidak usah ikut tender."
Beri mengangguk pelan. "Itulah alasan kenapa aku yakin suatu hari nanti kamu akan berdiri sejajar dengan pengusaha-pengusaha terbesar. Bukan hanya karena perusahaanmu berkembang. Tapi karena orang akan percaya pada namamu."
Dira tersenyum kecil. Baginya, tender itu memang penting. Namun ada sesuatu yang lebih berharga daripada nilai proyek tersebut. Yaitu menjaga nama baik yang telah ia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun. Ia ingin suatu hari nanti, ketika orang mendengar nama Dira, yang mereka ingat bukan hanya seorang pengusaha sukses. Melainkan seorang pengusaha yang memenangkan setiap pencapaiannya dengan kerja keras, kemampuan, dan kejujuran.
***
Hari pengumuman hasil tender akhirnya tiba. Sejak pagi, aula tempat pengumuman dipenuhi para pimpinan perusahaan, investor, wartawan, dan pejabat terkait. Suasananya begitu menegangkan. Semua peserta menunggu satu nama yang akan diumumkan sebagai pemenang.
Di barisan depan, Adrian duduk dengan tenang. Tak jauh darinya, Mayang tampak menggenggam jemarinya erat. Bastian bersandar di kursinya dengan ekspresi penuh percaya diri. Sementara Dira hanya menarik napas panjang. Ia sudah memberikan yang terbaik. Apa pun hasilnya, ia siap menerimanya.
Perwakilan panitia naik ke atas panggung. "Setelah melalui proses evaluasi administrasi, teknis, finansial, serta kepatuhan terhadap seluruh persyaratan tender..." Seluruh ruangan mendadak hening. "...maka pemenang proyek nasional tahun ini adalah..." Jantung Dira berdegup semakin cepat. "...Dira Group."
Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan.
Dira membeku beberapa detik. Ia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Beri yang duduk di sampingnya tersenyum lebar. "Selamat, Dir. Kamu berhasil."
Barulah Dira berdiri. Matanya mulai berkaca-kaca. Bertahun-tahun lalu, ia hanyalah seorang gadis jalanan yang bahkan tidak tahu cara membaca. Kini, namanya diumumkan sebagai pemenang tender terbesar tahun itu. Langkahnya menuju panggung terasa begitu berat. Bukan karena lelah. Melainkan karena terlalu banyak kenangan yang tiba-tiba memenuhi pikirannya. Ia teringat Bu Emi yang mengajarinya membaca. Bu Monik yang memberinya pekerjaan pertama. Beri yang tanpa lelah membimbingnya membangun bisnis. Dan... Adrian. Lelaki yang pernah menyelamatkan hidupnya tanpa pernah meminta balasan.
Setelah menerima dokumen kemenangan, Dira menunduk sejenak. Tepuk tangan kembali menggema. Di bawah panggung, Adrian ikut bertepuk tangan dengan senyum tulus. Ia bangga. Bukan karena Dira adalah rekan bisnisnya. Melainkan karena ia tahu perempuan itu memang pantas memenangkan proyek tersebut.
Di sisi lain, wajah Mayang berubah pucat. Tangannya mengepal kuat. Bagaimana mungkin... Perusahaan yang beberapa tahun lalu bahkan belum diperhitungkan kini berhasil mengalahkan perusahaan-perusahaan raksasa, termasuk miliknya.
Bastian pun menggeleng pelan. "Hebat..." gumamnya. "Perempuan itu benar-benar monster dalam bisnis."
Saat sesi wawancara dimulai, seorang wartawan mengajukan pertanyaan. "Bu Dira, apa rahasia Anda bisa mengalahkan perusahaan-perusahaan sebesar ini?"
Dira tersenyum tenang. "Rahasianya sederhana. Saya tidak berusaha mengalahkan siapa pun. Saya hanya berusaha menjadi lebih baik daripada diri saya kemarin."
Ruangan kembali dipenuhi tepuk tangan. Ucapan itu segera menjadi kutipan yang menghiasi berbagai media bisnis.
Hari itu, Dira tidak hanya memenangkan tender terbesar tahun ini. Ia juga memenangkan pengakuan. Dari seorang gadis yang pernah dipandang sebelah mata... Menjadi pengusaha muda yang kini berdiri sejajar dengan nama-nama terbesar di dunia bisnis.
Usai acara pengumuman tender, para tamu mulai meninggalkan aula. Dira baru saja selesai melayani wawancara ketika seseorang menghentikan langkahnya. Mayang. Perempuan itu tersenyum anggun, tetapi tatapannya menyiratkan sesuatu yang sulit ditebak. "Selamat."
"Terima kasih."
Mayang mengangguk pelan. "Aku benar-benar salut dengan kehebatanmu."
Dira membalas dengan senyum yang sama tenangnya. "Terima kasih."
Mayang kemudian sedikit mendekat. "Hanya saja... Aku penasaran."
Dira mengangkat sebelah alisnya. "Penasaran apa?"
"Aku sudah berusaha mencari tahu tentangmu. Tapi aneh. Aku hampir tidak menemukan data keluargamu sedikit pun."
Senyum Dira tidak memudar. Sebaliknya, ia menatap Mayang dengan tenang. "Jadi...kamu yang mencari informasi tentangku sampai ke yayasan."
Wajah Mayang sedikit berubah. Ia tidak menyangka Dira mengetahui hal itu.
Dira melanjutkan dengan nada yang tetap ramah. "Kalau soal siapa yang mengajariku berbisnis...itu bukan rahasia. Mentorku adalah Kak Beri."
Mayang mengangguk kecil. Nama itu tentu tidak asing baginya.
Dira tersenyum tipis. "Mungkin kamu mengenalnya. Lagipula..." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "...kalau ingin tahu seperti apa Kak Beri, mungkin kamu bisa bertanya kepada Bastian."
Senyum Mayang langsung membeku. Nama itu menghantamnya seperti petir. Dira tidak menambahkan apa pun. Namun justru itulah yang membuat dadanya berdebar semakin kencang. "Apa Dira tahu sesuatu? Atau... dia hanya sedang mengujiku?" Untuk sesaat, Mayang merasa seolah seluruh rahasianya sedang dibaca oleh perempuan di hadapannya. Tangannya yang memegang tas tanpa sadar mengepal. Jantungnya berdegup tidak beraturan.
Sementara Dira tetap berdiri dengan ekspresi tenang. Ia tidak mengancam. Tidak meninggikan suara. Namun ketenangannya justru membuat Mayang merasa berada di bawah tekanan. "Permisi." Dira menganggukkan kepala dengan sopan. "Aku masih ada jadwal berikutnya." Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah pergi.
Mayang hanya mampu memandangi punggungnya. Untuk pertama kalinya sejak mengenal Dira, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan sekadar iri. Melainkan takut. Takut jika suatu hari nanti, rahasia yang selama ini ia sembunyikan benar-benar berada di tangan perempuan itu.
Mayang masih berdiri di sudut aula ketika langkah seseorang mendekat.
"Mayang."
Ia menoleh. Adrian. Lelaki itu baru selesai berbincang dengan beberapa tamu undangan. "Kamu tadi bicara dengan Dira?"
Mayang segera memasang senyum yang tampak tenang. "Iya."
"Ngomongin apa?"
Mayang mengangkat bahu ringan. "Tidak banyak. Hanya mengucapkan selamat dan membahas tender ini sebentar."
Adrian mengangguk. Tanpa menyadari perubahan ekspresi Mayang, ia tersenyum tipis. "Jujur saja... Aku benar-benar kagum pada Dira."
Mayang merasakan dadanya menegang.