NovelToon NovelToon
Cinta Anak SMA

Cinta Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Idola sekolah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: dinda.glow

Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?

Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?

"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.

____

"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.

Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.

____

"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.

"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.

-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --

Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Penentuan Kelas

Hari Senin pagi yang dinanti—sekaligus ditakuti—akhirnya tiba.

Udara pukul 06.30 WIB terasa begitu dingin, namun atmosfer di kompleks SMA Nusantara justru terasa membara oleh kecemasan ratusan siswa baru.

Tidak ada lagi atribut MPLS yang konyol.

Pagi itu, Rian berdiri di depan cermin datar di rumahnya, menatap dirinya yang kini mengenakan seragam putih abu-abu resmi lengkap dengan dasi berlogo sekolah dan sabuk hitam standar.

Deg.. deg.. deg.... (Suara debaran)

Ada rasa bangga yang aneh, namun juga ada debaran kencang yang menghantam dadanya.

Janji hari Jumat sore di bawah pohon peneduh masih terngiang jelas di telinganya.

“Mau sekelas atau tidak, kita harus tetap bersama.”

Kata-kata itu terdengar mudah diucapkan saat senja yang emosional, tetapi pagi ini, saat realitas pembagian kelas reguler sudah di depan mata, Rian menyadari betapa besarnya kemungkinan mereka berempat akan terpisah.

Sekolah ini memiliki sepuluh kelas untuk jalur reguler angkatan baru.

Secara matematis, peluang mereka untuk berada di satu ruangan yang sama sangatlah kecil.

Dengan tas ransel hitam yang tersampir di bahu kanan, Rian melangkah mantap memasuki gerbang sekolah.

Tap.. tap.. tap..

Kali ini, ia datang tiga puluh menit lebih awal yaitu pukul 06:20 WIB.

_________________

Di dekat mading (majalah dinding) utama, suasana sudah seperti pasar tumpah.

Ratusan siswa berdesakan, saling sikut dengan sopan, mencoba membaca barisan nama yang tercetak di atas lembar kertas ukuran A3 yang ditempel panitia.

Dari kejauhan, Rian melihat lambaian tangan yang sangat familier.

"Rian! Di sini!" Itu Amel.

Gadis itu mengenakan seragam yang sangat rapi, rambutnya diikat ekor kuda dengan jepit hitam sederhana.

Di sampingnya, berdiri Minda yang tampak mondar-mandir seperti setrikaan, wajahnya pucat dan tangannya terus-menerus meremas ujung seragamnya.

Sementara itu, Lyra berdiri bersedekap dengan punggung bersandar pada tiang koridor, tampak tenang secara lahiriah, namun ketukan ujung sepatunya yang cepat ke lantai semen menunjukkan bahwa dia juga tidak sepadan tenangnya.

"Bagaimana? Sudah melihat pengumumannya?" tanya Rian bergegas menghampiri mereka.

"Belum bisa mendekat, Rian!" keluh Minda dengan suara bergetar.

"Manusia di depan mading itu sudah seperti barisan semut berebut gula. Aku tadi mencoba menyelinap di bawah ketiak anak jangkung dari Gugus 1, tapi malah hampir terinjak!"

"Secara sosiologis, kerumunan ini tidak efisien," sahut Lyra datar, meskipun matanya terus menatap tajam ke arah mading.

"Panitia seharusnya membagikan berkas digital lewat grup angkatan atau memasang setidaknya tiga papan pengumuman di titik berbeda untuk memecah konsentrasi massa. Ini namanya penyiksaan psikologis di hari pertama."

Amel tertawa renyah untuk mencairkan suasana, meskipun Rian bisa melihat cengkeraman tangan Amel pada tali tasnya sangat erat.

"Sudahlah, Lyra, mengomeli sistem tidak akan membuat nama kita pindah ke lembar yang sama. Bagaimana kalau kita maju bersama? Rian, kamu yang paling tinggi di antara kita, kamu jadi tameng di depan!" Rian menarik napas dalam-dalam.

"Oke, rapatkan barisan. Pegang tas orang di depanmu. Kita tembus kerumunan ini.

"Minda langsung memegang jaket Rian, Amel memegang tas Minda, dan Lyra—meski sempat bergumam tentang betapa primitifnya metode ini—akhirnya memegang ujung tas Amel.

Seperti formasi kereta api mini, mereka berempat mulai membelah lautan siswa baru yang sedang panik.

__________________

Setelah berjuang selama lima menit di antara aroma minyak wangi yang bercampur dan riuhnya suara gumaman, mereka akhirnya berhasil mencapai baris kedua di depan mading utama.

Lembar pengumuman itu dibagi berdasarkan kelas: X-1 sampai X-10.

"Minda, cari namamu dulu di kelas-kelas awal!" seru Amel di tengah kebisingan.

"Aku cari dari X-1!" Minda berteriak, matanya bergerak cepat menyusuri kolom nama berawalan huruf 'M'. "M... M... Minda Ratu Cahya... Tidak ada di X-1! Tidak ada di X-2! Oh tidak, apakah aku tidak naik kelas sebelum kelas dimulai?!"

"Jangan konyol, Minda. Ini pembagian kelas, bukan kelulusan," tegur Lyra dari belakang, matanya yang tajam langsung memindai papan X-4 dan X-5.

"Rian, lihat X-3. Namamu ada di sana." Rian tersentak. Ia mengarahkan pandangannya ke papan kelas X-3. Di urutan nomor 24, tercetak jelas: Rian Aditya. Jantungnya mencelos.

"Aku di X-3," kata Rian, ada nada kekecewaan yang samar dalam suaranya.

Ia langsung mengalihkan pandangan ke kolom atas dan bawah namanya, mencari nama tiga sahabatnya.

"Amel... Minda... Lyra... Tidak ada di X-3."

"Aku ketemu namaku!" jerit Minda tiba-tiba, hampir melompat yang membuat seorang siswa di sebelahnya menoleh kaget.

"Aku di X-5! Baris nomor 15! Tapi... tapi sendirian? Di mana kalian?"

Suasana di antara mereka berempat mendadak menjadi hening di tengah riuhnya lapangan.

Rian di X-3, Minda di X-5. Kenyataan pahit bahwa mereka mulai terpisah mulai merayap masuk.

Amel masih terus mencari dengan gigih. Jari telunjuknya menyusuri lembar kelas X-3 tempat Rian berada sekali lagi, memastikan tidak ada yang terlewat, lalu berpindah ke X-4, dan akhirnya berhenti di lembar X-6.

"Aku... aku di X-6," kata Amel pelan, senyum yang biasanya menghiasi wajahnya kini sedikit meredup.

"Amelia maharani... X-6."

Sisa satu orang, Lyra.

Lyra tidak bersuara. Ia hanya menatap satu titik di papan kelas X-3 dengan tatapan lurus.

Rian yang menyadari arah pandang Lyra langsung mendekatkan wajahnya ke papan pengumuman X-3 sekali lagi. Di urutan nomor 18, beberapa baris di atas nama Rian, tertulis: Lyra Cahyani Putri.

"Lyra! Kamu di X-3!" seru Rian, setengah tidak percaya.

"Kita sekelas!" Lyra mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya, lalu senyum tipis yang sarat akan rasa lega.

"Setidaknya, probabilitas kelangsungan hidupku di kelas baru meningkat lima puluh persen karena tidak perlu beradaptasi dengan orang asing dari nol."

_________________

Meskipun ada kegembiraan karena Rian dan Lyra berada di kelas yang sama, atmosfer di antara mereka berempat terasa manis-pahit.

Minda tampak layu, kuncir kudanya tidak lagi bergoyang ceria.

Amel pun mencoba memaksakan senyum terbaiknya, meskipun matanya memancarkan rasa kehilangan yang kentara.

Janji hari Jumat sore itu kini benar-benar diuji oleh garis hitam di atas kertas pengumuman.

Mereka perlahan mundur dari kerumunan mading, berjalan menuju area selasar yang lebih sepi di dekat laboratorium biologi.

"Jadi... kita benar-benar dipisah ya," kata Minda, suaranya terdengar sangat kecil sambil menendang kerikil imajiner di lantai.

"Aku di X-5 sendirian. Bagaimana kalau anak-anak di kelas itu tidak menyukai yel-yelku? Bagaimana kalau mereka menganggapku aneh?" Amel langsung merangkul pundak Minda dengan erat.

"Hei, dengarkan aku. Siapa yang berani menganggap maskot Gugus 4 aneh? Hari pertama MPLS saja kamu bisa membuat satu aula tertawa. Di X-5 nanti, kamu pasti akan jadi bintang kelas dalam waktu tiga hari, percaya deh!"

"Tapi aku tidak punya kamu untuk diajak mengobrol saat guru menerangkan hal membosankan, Mel," rajuk Minda, bibirnya mengerucut.

"Kan masih ada jam istirahat," sahut Lyra, melangkah mendekat dan mengetuk dahi Minda pelan dengan ujung pena setianya.

"Jangan mendramatisasi keadaan, Minda. Secara geografis, kelas X-3, X-5, dan X-6 berada di koridor yang sama, hanya berjarak beberapa puluh meter. Anggap saja ini perluasan wilayah kekuasaan Gugus 4."

Rian menatap Amel, lalu ke Lyra dan Minda.

Ia menyadari bahwa perpisahan kelas ini adalah hal yang wajar di SMA, namun ikatan yang mereka bangun selama MPLS terlalu berharga untuk dibiarkan memudar begitu saja.

"Ingat aturan kedua yang kita buat hari Jumat kemarin?" Rian mengingatkan, membuat ketiga gadis itu menoleh ke arahnya.

"Makan siang di kantin harus tetap bersama di meja pojok dekat koperasi. Aturan itu tidak berubah hanya karena kita beda ruangan."

Amel tersenyum, rasa percaya dirinya kembali pulih sepenuhnya.

"Rian benar. Dan ingat aturan ketiga: kita harus saling jaga sampai lulus tiga tahun lagi. Mau di X-3, X-5, atau X-6, kalau ada yang berani mengganggu salah satu dari kita, mereka harus berurusan dengan seluruh alumni Gugus 4!"

Minda mulai tersenyum lagi, matanya yang sempat berkaca-kaca kini kembali berbinar jenaka.

"Benar! Aku akan mengawasi Rian dan Lyra dari kejauhan. Awas ya kalau kalian berdua membuat geng baru di X-3 tanpa aku!"

"Sama sekali tidak berniat," gumam Lyra, namun tangannya ikut terulur ke tengah.

Sebelum bel masuk kelas reguler berbunyi untuk pertama kalinya—suara bel yang menandakan dimulainya pelajaran matematika, sejarah, dan bahasa yang sesungguhnya—keempatnya kembali menyatukan tangan mereka dalam sebuah tos cepat yang tersembunyi di balik pilar selasar.

"Gugus 4?" bisik Amel.

"Satu hati, satu aksi, selalu berprestasi! Hoo-ray!" jawab mereka berempat dengan suara setengah berbisik namun penuh dengan penekanan kekuatan.

kriiiiiiinggg...........................

Saat bel berdering panjang, menandakan seluruh siswa harus masuk ke kelas masing-masing, Minda melambaikan tangan dengan heboh sebelum berlari kecil menuju koridor X-5.

Amel memberikan anggukan mantap kepada Rian dan Lyra sebelum melangkah anggun menuju kelas X-6.

Rian dan Lyra berbalik arah, berjalan berdampingan memasuki pintu kelas X-3.

Tap.. tap.. tap..

Saat melangkah melewati ambang pintu, Rian menatap deretan bangku yang masih kosong.

Langkahnya kini penuh keyakinan. Langkah baru di kelas reguler telah dimulai, dan meskipun jalurnya sedikit berbeda, mereka berempat berjalan di bawah langit komitmen yang sama.

Bersambung ~~~

Hallo gess!! semoga suka cerita nya ya!! 🤗

Jangan lupa follow akun ini, like, komen dan share cerita nya ya!! 😉

Instagram: @dinndaayu_64

Wattpad: @dinda.glow

See you~~

1
Jum😊
aku udah mampir kak semangat yaa💪🤭
dinda.glow: wah... maaci udah mampir 🤩🤩🤩✨
total 1 replies
MamiAmira
semangat kak makasih tadi udah mampir
dinda.glow: makasi juga udah beri support!! ✨🥳
total 1 replies
Waaaaaa_
Aku mampir jugaaa
dinda.glow: makasi sudah mampir ihihi
total 1 replies
Sandhyaruntala
Semangat kecilll🫶
dinda.glow: maaci akk 😍
total 1 replies
Firmahadi
izin mampir kak
dinda.glow: hay... makasi sudah mampir ^^
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!