Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.
Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3
Angela pura-pura tidak mendengar bisik-bisik para mahasiswi yang terus mengiringi langkahnya. Sejak kemarin, ia memang menjadi pusat perhatian. Meski berusaha bersikap biasa, tetap saja puluhan pasang mata yang menatapnya membuat tengkuknya terasa kaku.
"Ayo, May. Masuk kelas aja," ucap Angela sambil merapikan tali tas di bahunya.
"Iya, daripada makin banyak yang ngelihatin," sahut Maya pelan. Baru beberapa langkah berjalan, seseorang tiba-tiba berdiri menghadang mereka. Seorang mahasiswi berambut panjang dengan wajah cantik dan riasan tipis menatap Angela tanpa berkedip.
Clarissa.
Mahasiswi tingkat dua yang terkenal aktif di organisasi kampus. Selain itu, hampir semua orang tahu kalau ia sudah lama menaruh hati pada Raymond. Clarissa melipat kedua tangan di depan dada.
"Jadi... kamu Angela?" tanyanya tanpa basa basi. Angela menghentikan langkahnya lalu membalas senyum tipis dengan sopan.
"Iya." Kepalanya sedikit dimiringkan. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Nggak." Clarissa menggeleng pelan, tetapi sorot matanya tetap tajam. "Aku cuma penasaran." sambungnya.
"Penasaran soal apa?" Clarissa mengangkat dagunya ke arah mobil sport hitam yang masih terparkir di depan gedung fakultas.
"Soalnya..." ujarnya sambil menyipitkan mata. "Selama ini belum pernah ada cewek yang diantar Raymond sampai ke kampus."
Maya langsung menelan ludah kemudian, menyenggol pelan siku Angela.
"Ang..." bisiknya lirih. "Kayaknya dia nggak cuma penasaran deh." Angela hanya menoleh sekilas, lalu tersenyum kecil seolah ingin menenangkan sahabatnya.
"Oh... gitu." Clarissa mengernyit.
"Cuma 'gitu'?"
"Iya."
"Kamu nggak merasa spesial?" Angela hanya mengangkat kedua bahunya.
"Kenapa harus?"
"Karena Raymond." Clarissa melangkah setapak lebih dekat. "Dia nggak pernah memperlakukan perempuan lain seperti itu."
Angela menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Ah... mungkin kebetulan aja."
"Kebetulan?" ulang Clarissa dengan nada tidak percaya.
"Iya." Angela mengangguk santai.
"Rumah kami searah. Dia cuma nganterin gue."
Dalam hati, Clarissa mulai kesal. Gadis di depannya seolah tidak menyadari betapa banyak perempuan yang berharap bisa berada di posisi itu.
Atau... Jangan-jangan Angela memang sedang berpura-pura? Saat Clarissa hendak membuka mulut lagi—
"Siapa bilang?" Suara berat yang dingin membuat semua orang spontan menoleh.
Raymond.
Pria itu berjalan mendekat dengan langkah tenang. Kedua tangannya masuk ke saku celana, sementara tatapannya lurus ke arah Angela. Sesampainya di depan mereka, Raymond berhenti.
"Aku mengantar Angela," ucapnya tenang, "karena memang ingin mengantarnya."
Hening, beberapa mahasiswa yang sejak tadi diam-diam menguping langsung saling pandang. Maya membelalak.
"Ya ampun..." gumamnya pelan. Sementara Kevin yang berdiri tak jauh dari sana langsung menepuk dahinya.
"Ampun, Bos..." desisnya sambil geleng-geleng kepala. "Kalau ngomong emang nggak pernah disaring."
Angela memijat pelipisnya. "Raymond..."
"Hm?" Raymond menoleh santai.
"Lo ngapain balik lagi?" tanya Angela santai namun mengandung kekesalan.
Alih-alih menjawab, Raymond mengangkat sebuah kotak bekal berwarna biru.
"Ketinggalan." Raymond menyodorkan kotak bekal Angela. Angela langsung membulatkan mata.
"Astaga!" Ia buru-buru menepuk dahinya sendiri.
"Itu bekal gue."
"Tadi jatuh di kursi mobil." Raymond mengulurkan kotak itu. Angela menerimanya dengan kedua tangan.
"Untung lo balik."
"Habis ini dimakan."
"Iya, Pak." Angela memberi hormat bercanda.
Kevin yang berdiri di belakang Raymond langsung tertawa keras.
"Hahaha! Serius, Bos sekarang udah kayak bapak-bapak yang khawatir anaknya lupa makan." Beberapa mahasiswa ikut terkekeh.
Raymond hanya menggeleng pelan. Meski begitu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.Senyuman yang sangat jarang terlihat. Pemandangan itu membuat napas Clarissa tercekat. Selama ini, Ia bahkan belum pernah melihat Raymond tersenyum selembut itu kepadanya.
Tangannya perlahan mengepal di sisi tubuh.
Tak lama kemudian Raymond kembali masuk ke mobilnya. Sebelum pergi, ia sempat menatap Angela.
"Kalau pulang nanti kabarin." Angela mengangguk singkat.
"Iya." jawabnya tanpa sadar, setelah beberapa menit, dia pun tertegun. Mobil sport hitam itu pun melaju meninggalkan area fakultas.
Begitu suara mesinnya menghilang, Clarissa kembali menatap Angela.
"Angela."
"Hm?" Angela membalikkan badan.
Clarissa menarik napas pelan sebelum berkata,
"Aku cuma mau kasih saran."
"Saran apa?"
"Jangan terlalu dekat sama Raymond." Angela mengangkat sebelah alis.
"Kenapa memangnya?" Clarissa tersenyum tipis.
"Dunia dia beda sama dunia kita." Angela terdiam sesaat. Kemudian ia tersenyum ramah.
"Mungkin." Wajah Clarissa sedikit melunak.
Namun sedetik kemudian, "Tapi sampai sekarang..." Angela mengangkat kotak bekalnya sambil terkekeh kecil. "Justru Raymond yang terus datang nyari gue."
Maya spontan memejamkan mata.
"Ya Tuhan..." bisiknya putus asa. "Angela, rem dikit napa." Beberapa mahasiswa yang mendengar kalimat itu langsung saling berbisik.
"Nggak salah denger, kan?"
"Berani banget ngomongnya."
"Sakit sih kalau jadi Clarissa." Wajah Clarissa perlahan mengeras. Ia ingin membantah.
Namun kenyataannya semua orang baru saja melihat sendiri bagaimana Raymond kembali hanya demi mengembalikan bekal Angela.
Fakta itu tidak bisa disangkal.
Clarissa akhirnya mengembuskan napas panjang.
"Baiklah." Tanpa menoleh lagi, ia berbalik dan berjalan pergi. Begitu sosoknya menghilang, Maya langsung mencengkeram lengan Angela.
"Ang!"
"Apa lagi?"
"Lo tahu nggak siapa dia?" Angela menggeleng.
"Nggak."
"Itu Clarissa." Maya mendekatkan wajahnya sambil berbisik. "Banyak cowok ngejar dia. Tapi dia malah ngejar Raymond dari dulu."
Angela langsung meringis.
"Pantesan auranya serem banget."
"Iya." Maya mengangguk cepat.
"Makanya hati-hati." Angela menghela napas panjang.
"Gue beneran nggak ada niat cari musuh."
Maya tertawa hambar.
"Masalahnya..." katanya sambil menepuk pelan bahu Angela, "kadang musuh datang bukan karena kita nyari. Tapi karena kita terlalu dekat sama orang yang diincer banyak cewek."
Angela hanya bisa mengusap wajahnya pasrah.
****
Hari kedua kuliah bahkan belum memasuki jam pertama. Namun ia sudah mulai merasakan satu hal. Dekat dengan Raymond bukan hanya membuatnya menjadi pusat perhatian, tetapi juga membuka pintu bagi berbagai masalah yang sama sekali tidak pernah ia undang.
Mata kuliah pun berganti, suara riuh di koridor perlahan mereda. Para mahasiswa mulai berhamburan menuju kelas masing-masing.
"Ayo!" Maya menarik pelan lengan Angela. "Kalau telat lagi, dosen killer itu bisa langsung nyuruh kita berdiri di luar."
Angela terkekeh. "Iya, iya. Santai."
Mereka bergegas memasuki ruang kuliah. Beruntung dosen belum datang.
Ruangan yang semula ramai masih dipenuhi obrolan mahasiswa. Begitu Angela melangkah masuk, beberapa siswa langsung menoleh.
"Itu dia..."
"Cewek yang diantar Raymond."
"Duduknya di mana, ya?"
Bisik-bisik kembali terdengar.
Angela pura-pura tidak peduli. Ia memilih bangku di baris tengah dekat jendela, lalu meletakkan tasnya di atas meja.
"Huft..." Ia mengembuskan napas panjang. "Baru juga pagi." Maya duduk di sebelahnya sambil tertawa kecil.
"Lo sekarang udah terkenal, Ang."
"Terkenal apanya?"
"Belum sehari, nama lo udah keliling fakultas."
Angela hanya menggeleng pasrah.
"Aku pengin kuliah yang tenang."
"Sayangnya..." Maya mengangkat bahu. "Semesta kayaknya punya rencana lain."
Belum sempat Angela membalas, pintu kelas kembali terbuka. Seorang pria berkacamata masuk sambil membawa setumpuk buku.
"Itu ketua tingkat," bisik Maya. Pria itu berdiri di depan kelas lalu bertepuk tangan pelan.
"Teman-teman, sebelum dosen datang, saya mau mengumumkan sesuatu." Ruangan langsung sunyi. .
"Minggu depan kampus mengadakan program mentoring untuk mahasiswa baru. Nama mentor akan dipasangkan hari ini."
Beberapa mahasiswa langsung bersorak antusias.
"Wah, semoga mentorku kakak tingkat yang ganteng."
"Yang penting baik."
"Jangan yang galak." Ketua tingkat membuka lembar daftar di tangannya.
"Oke, saya mulai." Satu per satu nama dipanggil. Setiap mahasiswa langsung mengetahui siapa mentor mereka.
Angela tidak terlalu memikirkan hal itu. Baginya, siapa pun mentornya tidak masalah, hingga namanya pun di sebut.
"Angela Pratama."
"Iya?" Angela mengangkat tangan.
Ketua tingkat melihat kembali daftar di tangannya, lalu mengernyit seolah memastikan dirinya tidak salah baca.
"Mentormu adalah..." Ia berhenti sejenak, seluruh kelas ikut menunggu.
"...Raymond." Ruangan mendadak sunyi.
"Demi apa?"
"Serius?"
"Ini kebetulan atau gimana?"
Puluhan pasang mata langsung beralih kepada Angela. Angela sendiri tampak mematung.
"Hah?" Maya sampai menjatuhkan pulpennya.
"Ang... gue nggak salah denger, kan?" Angela masih belum percaya.
"Kayaknya... gue juga salah denger." Ketua tingkat berdeham.
"Nggak salah. Sesuai data yang saya terima."
Bisik-bisik kembali memenuhi kelas.
"Fix."
"Mereka emang dekat."
"Pantes diantar."
Angela buru-buru menggeleng.
"Nggak, ini pasti ada yang keliru."
"Tanya aja nanti ke bagian akademik," kata ketua tingkat sebelum melanjutkan pembagian nama lainnya.
Namun perhatian mahasiswa sudah telanjur buyar. Semua masih sibuk membicarakan Angela. Tak lama kemudian, dosen akhirnya datang.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi, Pak."
Perkuliahan pun dimulai.
Selama hampir dua jam, Angela berusaha fokus mencatat materi. Sesekali ia berhasil melupakan semua kejadian sejak pagi.
Hingga kelas selesai.
"Baik, minggu depan kita kuis," ucap dosen sebelum keluar ruangan.
Begitu dosen menghilang, suasana kembali ramai. Angela baru saja hendak memasukkan buku ke dalam tas ketika seseorang berdiri di samping mejanya. Ia mengangkat wajah.
Clarissa.
"Kamu." Angela tersenyum tipis.
"Ya?" Clarissa meletakkan secarik kertas di atas meja.
"Itu jadwal rapat mentor." Angela melirik kertas itu.
"Terima kasih." Clarissa tidak langsung pergi.
Tatapannya justru semakin tajam.
"Semoga kamu sadar."
"Sadar apa?" Clarissa menyilangkan kedua tangan.
"Di kampus ini... banyak orang yang ingin dekat dengan Raymond." Angela menatapnya tenang.
"Lalu?"
"Jangan sampai kamu menyakiti dia."
Angela tersenyum kecil.
"Kayaknya... yang lebih perlu dijaga justru jangan sampai dia menyakiti gue."
Jawaban itu membuat Maya spontan batuk karena menahan tawa. Clarissa terdiam beberapa detik.
Belum sempat ia membalas, terdengar suara langkah kaki dari arah pintu kelas.
Seluruh mahasiswa serempak menoleh.
Sesosok pria bertubuh tinggi berdiri di ambang pintu. Dengan wajah datar, Raymond menyapu isi kelas dengan tatapan tenangnya.
Lalu, tanpa sedikit pun ragu, ia mengucapkan satu kalimat yang membuat seisi ruangan kembali membeku.
"Angela."
"Iya?"
"Ayo pulang." Seisi kelas langsung terdiam.
Sementara Clarissa hanya mampu mengepalkan kedua tangannya, menyaksikan Raymond sama sekali tidak melirik ke arahnya. Ucapan Raymond membuat ruang kelas seketika diselimuti keheningan.
Semua kepala menoleh hampir bersamaan. Tatapan mereka bergantian berpindah dari Raymond ke Angela, seolah menunggu reaksi gadis itu.
Angela yang sedang memasukkan buku ke dalam tas pun berhenti. Tangannya menggantung di udara.
"Hah?" Ia mengerjapkan mata beberapa kali. "Pulang?"
"Iya." Raymond mengangguk singkat.
Angela melirik jam dinding yang tergantung di atas papan tulis.
"Masih siang."
"Aku tahu."
"Nah, terus kenapa buru-buru pulang?" Raymond menjawab tanpa ragu.
"Karena kita mau pulang."
Nada bicaranya tetap datar, seolah mengajak Angela pulang bersama adalah hal yang paling lumrah. Kevin, yang berdiri di belakang Raymond sambil membawa map, langsung mengusap wajahnya pelan.
"Astaga, Bos..." gumamnya lirih. "Bisa nggak sekali-kali ngomong yang lebih halus?" Raymond menoleh sekilas.
"Memangnya salah?" Kevin mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
"Nggak salah, sih." Ia terkekeh canggung. "Cuma... cara ngomong Bos itu bikin orang salah paham." Ucapan Kevin justru memancing bisik-bisik di seluruh kelas.
"Raymond nungguin Angela selesai kuliah?"
"Baru kali ini gue lihat dia masuk kelas mahasiswa baru."
"Clarissa pasti panas."
Angela mengembuskan napas pelan. Ia menutup ritsleting tasnya, lalu berdiri.
"Ray," panggilnya sambil menyampirkan tas ke bahu, "gue masih mau ke perpustakaan."
Raymond menatapnya tenang.
"Buat apa?"
"Pinjam beberapa buku."
"Aku antar." Angela langsung menggeleng.
"Nggak usah. Gue bisa sendiri." Raymond tidak langsung menjawab. Ia hanya memperhatikan wajah Angela beberapa saat, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Lalu?" tanya Angela, mulai heran karena Raymond hanya diam.
"Aku ikut." Angela menghela napas panjang.
"Lo ini kenapa, sih?"
"Bukannya tadi mau ke perpustakaan?"
"Iya."
"Berarti aku ikut." Jawaban polos itu membuat Maya spontan menutup mulutnya agar tidak tertawa.
"Ya ampun..." bisiknya sambil menyenggol bahu Angela. "Dia serius banget." Angela memijat pelipisnya.
"Ray, gue bukan anak kecil." Raymond mengangguk pelan.
"Aku tahu."
"Terus?"
"Temenin."
Satu kata itu kembali membuat seisi kelas terdiam. Maya menepuk dahinya.
"Fix." Ia menggeleng sambil tertawa pelan. "Hari ini gosip kampus bakal meledak."
Di sisi lain, Clarissa yang sejak tadi hanya menjadi penonton akhirnya melangkah mendekat.
Tangannya mengepal di sisi tubuh, tetapi senyumnya tetap dipaksakan.
"Raymond."
"Hm?"
"Kamu lupa?" tanyanya hati-hati. "Sore nanti ada rapat organisasi."
"Aku ingat."
"Kamu datang, kan?"
Raymond mengangguk.
"Datang."
Mata Clarissa langsung berbinar.
Namun sebelum ia sempat tersenyum lebih lebar, Raymond kembali melanjutkan ucapannya.
"Habis nganter Angela."
Senyum di wajah Clarissa perlahan memudar.
Jari-jarinya tanpa sadar mencengkeram tali tas hingga buku-buku jarinya memutih.
Di sudut kelas, beberapa mahasiswa mulai berbisik semakin heboh.
"Dia nolak ajakan Clarissa cuma buat nganter Angela?"
"Gila... ini udah bukan gosip lagi."
Maya menoleh ke arah Angela dengan wajah panik.
"Ang."
"Hm?"
"Tolong ngomong sesuatu."
Angela mengernyit.
"Ngomong apa?"
"Apalah! Biar suasananya nggak makin panas." Angela menarik napas, lalu menatap Raymond.
"Ray."
"Iya?"
"Gue naik motor sendiri."
"Nanti hujan."
Angela menoleh ke arah jendela.
Langit memang mulai dipenuhi awan kelabu, tetapi matahari masih terlihat malu-malu di balik sela-selanya.
"Belum hujan." Raymond tetap tenang.
"Nanti hujan."
"Kalaupun hujan, gue bisa neduh."
"Nggak usah." Raymond menggeleng pelan.
"Aku yang antar." Angela mengembuskan napas panjang sambil memijat tengkuknya.
"Lo keras kepala, ya." Raymond menatapnya tanpa mengubah ekspresi.
"Katanya begitu." Jawaban itu membuat Kevin terkekeh pelan.
"Nah, Bos sadar juga." Angela akhirnya menyerah. Ia mengangkat kedua tangan.
"Iya, iya. Terserah." Untuk pertama kalinya sejak masuk kelas, sudut bibir Raymond melengkung membentuk senyum tipis.
Maya yang melihatnya langsung membelalak.
"Demi apa..." bisiknya. "Dia senyum." Kevin ikut mengangguk.
"Rekor baru." Raymond berbalik menuju pintu.
"Ayo."
Angela hendak mengikutinya, tetapi baru dua langkah berjalan, suara Clarissa kembali menghentikannya.
"Angela." Angela menoleh.
"Iya?"
Clarissa menatapnya lekat-lekat.
"Aku belum selesai." Angela mengangkat sebelah alis.
"Maksudnya?"
Clarissa menarik napas dalam sebelum berkata pelan,
"Mulai hari ini..." Ia berhenti sejenak, lalu menatap Angela tanpa berkedip.
"...aku nggak akan tinggal diam."
Suasana kelas kembali sunyi.
Beberapa mahasiswa saling bertukar pandang, merasakan ketegangan yang mulai memanas. Angela belum sempat menjawab.
Raymond yang sudah berada di ambang pintu tiba-tiba berbalik. Tatapannya yang dingin langsung mengarah kepada Clarissa.
"Kalau ada masalah, bicara denganku."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Raymond melangkah mendekat ke arah Angela. Dengan gerakan alami, ia mengambil tas yang masih menggantung di bahu gadis itu.
"Eh!" Angela refleks menahan tali tasnya.
"Ray, tas gue!" Angela terkejut saat tasnya di ambil ol h Raymond.
"Aku bawakan." Angela memandang tasnya, lalu menatap Raymond dengan wajah bingung.
"Isinya cuma dua buku sama kotak bekal."
"Hm."
"Nggak berat." Raymond menatapnya sekilas.
"Kalau begitu..." ucapnya menggantung di udara, Ia mengangkat tas itu sedikit sambil berkata datar, " biar aku yang ngerasain." sambungnya. Kevin langsung menepuk dahinya sambil terkekeh.
"Bos, Bos... nggak sadar ya kalau kalimat barusan bikin cewek-cewek satu kampus susah move on."
Beberapa mahasiswa ikut tertawa kecil, sementara yang lain hanya bisa melongo.
Hari itu, tanpa perlu menyatakan apa pun secara terang-terangan, semua orang menyaksikan satu hal yang sulit dibantah.
Pangeran kampus yang dikenal dingin, sulit didekati, dan nyaris tak pernah peduli pada perempuan, kini justru dengan sukarela membawakan tas seorang mahasiswi baru.
Dan mahasiswi itu bernama Angela.
kalau bisa up nya di tambahin
padahal seru kenapa sepi komen nan y